Posts Tagged “Pulau Penulis”

meong kampungAcara kumpul-kumpul Pulau Penulis akhirnya terlaksana Sabtu tanggal 27 Juni di Istora Senayan bersamaan dengan Pesta Buku 2009. Saya bertemu dengan sesama rekan penulis: FA Purawan, Rey, Andry, Dian, Fred, Bonnie, Amru, Isti, Clara, dan yang lainnya. Kita berdiskusi dan saling bertukar hadiah (halah… naskah maksudnya), kemudian bersama-sama berburu buku sambil tertawa-tawa (menertawakan orang lain dan juga diri sendiri, kelihatannya…). Laporan pandangan mata dari beberapa peserta gathering bisa dilihat di sini:

Read the rest of this entry »

Comments 17 Comments »

traditional-elf

Poor little birdie teased, by Victorian era illustrator Richard Doyle depicts the traditional view of an elf from later English folklore as a diminutive woodland humanoid.

“waktu kecil di bandung, elf pertama yang gue tau adalah seperti ini: beroda empat, bisa memasukkan sampe lebih dari dua puluh penumpang, kalo jalan bener-bener ngeraja, dan jurusannya banyak, bisa ke lembang, ke pengalengan, atau ke soreang… dan lain-lain… yeah… begitulah…”

Jawaban saya ketika ada yang bertanya di forum Pulau Penulis – Fiksi Fantasi Dalam Negeri, seperti apa sosok elf yang kita tahu.

Elf menurut Wikipedia, lihat di sini.

Comments 46 Comments »

rab-katIni adalah sedikit pertanyaan yang ditujukan buat penulis atau calon penulis–saya kutip dari postingan seorang teman di forum Pulau Penulis–berikut jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Cukup menarik, dan suatu hari nanti, bertahun-tahun dari sekarang mungkin, saya akan tahu apa yang pernah saya cita-citakan hari ini pada akhirnya berhasil tercapai atau tidak. Barangkali, Teman-teman juga ingin mencobanya. Silakan.

1. Sebagai penulis, kalau kamu hanya bisa digolongkan pada satu genre saja, genre apakah itu?
Read the rest of this entry »

Comments 43 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XIII (23 Mei 2008 – 3 Jun 2008)

  • Bagaimana memulai adegan baru tanpa mengurangi mood pembaca
  • Tentang GunEye karya Ramaditya
  • Naskah Yang Memikat Editor oleh Anwar Holid
  • Tentang retire from writing fantasy

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:52:51 pm
________________________________________
padahal cuman iseng posting, eh langsung dibantai tanpa ampun, wuakakakak, seru2, TQ semua yg udah ngobok2 tulisan gw, realy appreciate that.. [thumbsup]
akhirnya, kena karma deh gw dari kemaren2 nyela naskah orang.. :-[

@clickdian,
iye disitu temponya terlalu cepet, eke juga baru nyadar :D
tapi sebetulnya alinea 1 settingnya udah pagi kok (walopun nyinggung kata 'malam', kan udah ada keterangan 'beranjak dari tempat', malah diperkuat juga dengan statement 'melalui malam pertama :-[' hueheheheh :ngeyel:)
hmm.. tapi emang lebih tepat kalo digabung aja dua alinea 'pagi' itu yak..

note: iyak, om pur bener, yg sesuai EYD itu malah 'kuatir', bukan khawatir, weeeee :P

@om pur,
justru ane baru tauk kalo 'Sierra' itu artinya gunung, wueleh.
hmmh.. 'Sierra Kuno' itu jadi nama tempat, emang kedenger agak2 gimana gitu, kurang pas yak? Justru ane ngambil 'Sierra' ini dari Sierra Nevada / Sierra Leonne.. dan ane malah kagak tauk itu dari bahasa spanyol T_T
Buku satu ane cuman ngambil terms French doank, niatnya sih. (gara2 tokoh Guillarde itu :D ).
kalo 'Kuno'nya itu nyolong dari Old Fangorn-nya LOtR (hutan tempat merry-pippin ketemu kaum Ent), tapi ane buat Sierra Kuno ini lebih merujuk ke suatu wilayah yang lebih luas daripada hutan.
deskripsinya dalam novel begini:
Sierra Kuno adalah nama untuk bentangan alam raksasa yang berada di region tengah Lemurés; suatu medan liar yang terdiri dari gelaran hutan hujan tropis maha luas, jajaran gunung dan perbukitan kapur, ratusan anak sungai dan ngarai air terjun, hingga spesies flora dan fauna endemik yang tak terbayangkan.

Oke TQ alternatif & sarannya, i'll fix it soon. :)

@fred,
paragraf pertama itu bukan joke oy, gaya penuturan LEMURES gw emang 'gak biasa' semacam begitu (kita beda aliran, tentu! :D )
Ttg 'beranjak dari tempat' itu, emang sebetulnya naskah gw pake aliran metafora (dan juga hiperbolis), jadi gw berusaha konsisten akan hal itu di sepanjang naskah..
melangkahi, menjejaki, itu arti luasnya sama aja dengan 'berjalan', 'bergerak ke'.. tapi ya itu tadi, naskah gw emang udah terikat dengan gaya bahasa yg gak biasa, jadi sebisa mungkin di setiap deskripsi/narasi gw memilih kata2 yang gak umum. gitu lho...

eniwei, yg 'pun' itu gw juga masih keder euy, eh yg betul itu dipisah ato sambung sih?
'meskipun', 'sekalipun', 'di manapun', 'apapun', atau 'meski pun', 'sekali pun', 'di mana pun', 'apa pun' nih?
sekalian dah (mumpung lu lagi megang kamus thesaurus :P ): 'mahaluas' ato 'maha luas'? 'kemana' atau 'ke mana'? 'tujuhpuluh' atau 'tujuh puluh'?
yang 'mahkluk', iye bener gw ngaco (baru buka kamus), huahahah dua orang protes dua kata satu bener satu salah :P

note:
gileee baru sepenggal gini ajah naskah gw udah banyak ngaconya, gimana kalo orang baca satu buku? T_T

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 24, 2008, 10:48:07 am
________________________________________
Quote from: fr3d on May 22, 2008, 11:44:02 am
Pertanyaan besarnya: Bagaimana cara efektif memulai bab/adegan baru tanpa menghilangkan mood pembaca?
(Mudah-mudahan belum pernah dibahas di tret yang lama, kalaupun udah, disinggung lagi ya, gpp kan? [rolleyes])

gw jawab juga deh, soalnya gw jg termasuk penulis yg suka motong adegan seenak perut [biggrin]
sebetulnya teknik Scene-Cutting semacam ini lebih banyak diadop penulis thriller (Dan Brown) dan Horror (RL Stine), daripada penulis fantasi sih.
Intinya, elu cuman kudu tauk bagaimana dan kapan harus mengakhiri adegan dengan pas. Misal, lo bisa tutup adegan itu dengan satu kalimat dialog/statement yg mencengangkan, ato bisa juga pake pertanyaan retoris.
Jawaban gw di atas kagak nyambung & kagak jelas? Emang. [biggrin]
tapi pertanyaan lo di atas serius emang kagak bisa dijawab, itu tergantung skill elu sebagai penulis dalam mengolah kata dan menjaga mood pembaca. Cara memulai adegan baru sama aja cara elu memulai adegan di scene pertama, IMO sih. :P
________________________________________
Post by: hege on May 24, 2008, 01:56:59 pm
________________________________________
Intinya, elu cuman kudu tauk bagaimana dan kapan harus mengakhiri adegan dengan pas. Misal, lo bisa tutup adegan itu dengan satu kalimat dialog/statement yg mencengangkan, ato bisa juga pake pertanyaan retoris.
mengakhiri bab (dan bahkan setiap scene) dengan formula* begitu membuat pembaca dahaga terus akan tulisanmu, it’ll works, yes, ofcors it does.
*kita sebut saja dengan formula RL Stine atau formula Dan Brown atau–ah whatever
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 24, 2008, 11:05:36 pm
________________________________________
Quote
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Setelah kubaca, sampai sekitar lima ratus halaman (dalam format LIT, mungkin setara 100-an halaman biasa, kali ye?). Sebenernya udah gatel ngeripyu. Tapi berhubung bukan terbitan publik, dan pengarangnya pun gak minta, gue cuma kasih komen pointers aja:
1. Tematik bagus, plot lancar, permainan tempo terjaga apik.
2. Manga-ish banget (curious,… katanya pengarangnya tuna netra, koq sepertinya pembaca manga banget? Apakah dulu sempat bisa melihat secara normal?). Secara,… how to convey manga picture to a blind person? Teknik berceritanya soo manga!
3. Penuh ketidak logisan, yang dapat dipahami sebagai gaya manga.
4. Latar belakang (terciptanya) universe tidak kuat
5. Universe kacau balau (just like Alexa Chimaera). Tapi kembali dapat dimaklumi karena ke-manga-annya.
6. Dialog nya TOP NOTCH (dalam hal kelancaran dan konektivitas terhadap plot)
7. Dialog nya LAME (dalam hal kepantasan terhadap situasi dan setting).
8. But, emang settingnya lemah juga anyway.
9. Action keren, dan sangat terinspirasi Game-game jepun.
10. Tema dan plotnya kuat dan workable, sebagai kerangka cerita cukup solid.

Kayaknya sih pengarang agak salah persepsi mengenai konsep Fantasy. Mungkin masih memegang definisi awam, bahwa fantasi adalah berkhayal/ just khayalan. Jadinya believability universenya nggak dipedulikan.

Cuma ada satu yang ENGGAK BANGET: Adegan Seks [drool]
Sorry, menurut gue adegan seksnya low taste, dan ngga pantes ada di novel yang melihat gaya penulisan dan konsep ceritanya, ditargetkan ke remaja SMA. Dan sorry kalo gue gak bisa terima. If we think we are writers, then we should think that it came with responsibilities. Gak maen-maen, man. Lo masuk ke dalam pikiran orang straight through. Don’t mess with it.

So, kalo minta saran gue (kalo mo denger,… hehehe):
1. Hilangin adegan seks ga jelas dan ga mutu itu, ganti jadi adegan yang lebih sesuai target pembaca.
2. Pertahankan kerangka/ plot, tokoh-tokoh (tapi relasinya harus lebih logis).
3. Diisi dengan perangkat universe yang lebih believable, kuat, terencana.
Ini materi bagus, sayang kalo gak diolah secara pantes, gichu,…. 8)

however, semua terserah pengarangnya, sih,….
Yuuuuk
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on May 26, 2008, 07:46:29 pm
________________________________________
@heg & fapur,
menanggapi komen ente orang ttg GunEye-nya ramaditya,
Sebetulnya ga bisa dibilang gada seninya juga, IMHO novel ini udah punya modal ide yg lumayan orisinil & kuat kok (yang didukung wawasan pengarang pulak), tapi emang sayang banged dieksekusi pake bahasa yg ala kadarnya gitu (pengarangnya kurang kreatif dalam berkata2).
Dialog yg ala anak jakarta, sementara di dalam novel bertaburan istilah2 IT dan pembangunan setting yg manga(/game/anime/tekno jepang) banged, bener2 bikin ilpil, gak banged dah.

Terus terang semenjak pertama kali buka file word-nya (yg baru dibaca memasuki halaman 3) bbrp hari yg lalu, gw kagak ada niat buka2 lagi, hueheheh (ampun bang rama, maafkan daku yg hina dina ini T_T), tapi gara2 ada satu poin dalam novel ini yang ENGGAK BANGED menurut om Pur di atas, gw jadi penasaran buka2 lagih, sengaja nyari part itu, tapi kagak ketemu2 :-[
alih2 gundam, kurasa novel GunEye ini lebih terinspirasi ke manga Chobits, ada karakter cewe polos yg selalu nurut sama tokoh utama, bener2 fantasi liar yang bakal 'menyenangkan' pembaca2 yg pikirannya kagak lurus kayak ane [biggrin]
Tapi gw lebih puas baca Chobits, ada gambar ceweknya jadi lebih asik buat diliatin :-[)
________________________________________
Post by: BloodSin on May 29, 2008, 07:46:01 am
________________________________________
@all,
nemu artikel bagus ttg penulisan (kemaren gw berusaha menghibur diri dengan mencari sebanyak2nya kisah2 penolakan, dari penolakan lamaran kerja sampe penolakan cinta :-[)
enjoy it! (sori copas)

NASKAH YANG MEMIKAT EDITOR

Category: Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author: Republika, Minggu, 30 Juli 2006

>> Anwar Holid

‘KAMI memang mencari permata,’ kata editor sebuah penerbitan tentang banyaknya naskah yang mereka tolak. Sebagai editor, dia harus betul-betul sabar menghadapi naskah yang ditawarkan ke penerbit tempatnya bekerja. Kondisi naskah macam-macam; ada yang masih mentah, tapi ternyata ditulis ratusan halaman; ada yang cara penyampaian ceritanya menarik, tapi di dalamnya mengandung banyak inkoherensi; ada yang cukup matang, tetapi berpotensi melahirkan kontroversi dan respons negative karena menyerang banyak institusi agama; sebagian gagal memancing rasa ingin tahu bahkan ketika sudah dibaca hingga setengah naskah.

Semua naskah yang jadi tanggung jawabnya dibaca, diberi catatan dan tanda---entah karena menarik perhatian atau justru kurang masuk akal dan merupakan kelemahan.

Editor punya banyak alasan kenapa harus menolak naskah, dan harus diakui, pertimbangan itu memang wajar, masuk akal. Dalam industri penerbitan, naskah yang ditolak itu memiliki kesamaan kesalahan umum---dalam istilah Inggris dinamai common flaw.

Kesalahan umum bisa terdiri banyak faktor, mulai dari keterampilan menulis, cara mengungkapkan tulisan (gaya bahasa), hingga masalah nonteknik yang menghambat kemajuan karir kepenulisan; yang paling kerap dilakukan ialah penulis tergesa-gesa mengirim naskah kasar, belum dipoles, belum dibaca ulang, dipikirkan masak-masak isi dan cara penulisannya. ‘Biarkan tulisan Anda mengendap sebentar, kemudian poleslah pelan-pelan. Edit dan revisi sendiri dulu. Sebelum bermaksud dikirim atau ditawarkan, minta orang dekat atau orang lain baca sejenak, mintai komentar mereka, dengar yang mereka rasakan,’ begitu saran editor lain.

FIKSI misalnya, memiliki sejumlah unsur pokok, antara lain tema, karakter (tokoh), plot (alur cerita), konflik, dialog, sudut pandang, setting (latar), peristiwa, struktur; tanpa kematangan unsur-unsur tersebut, sulit mengharapkan penulis bisa menghasilkan karya yang mampu memikat khalayak. Memang tidak semua karya mengandung seluruh syarat unsur, tapi setidaknya penulis tahu hendak mengedepankan unsur mana atau mengejar apa, misalnya apa mau bereksperimen, menekankan setting, atau mendahulukan penokohan. Ketika baca, idealnya editor tahu kekuatan dan kelemahan naskah, mana yang tercapai dengan baik, bagian apa yang justru bertele-tele atau bahkan inkoheren.

‘Terlalu banyak penulis mengorbankan tokoh di hadapan plot,’ kata Mark McLaughlin mengomentari soal plot. ‘Plot yang klise biasanya muncul dari karakter yang juga klise.’ Editor ternyata sering menemukan plot yang terlalu dibuat-buat, basi, lemah, mudah ditebak, bahkan terlalu banyak; sementara semua itu ditulis dengan dangkal, dengan bahasa kurang membangkitkan imajinatif, berdasar observasi klise.

‘Kadang-kadang penulis kurang menghargai karakter mereka sendiri; campur tangan pengarang di dalam cerita justru menyelewengkan karakter dan situasi menjadi akhir yang terlalu jelas,’ simpul editor Northwest Review, Janice McRae.

Ada banyak sebab kenapa karakter jadi klise, antara lain perkembangan emosi dan pikirannya kurang, lagian kekurangan aksi penting; sebagai tokoh, dia kurang terbangun, terlalu berlebihan, terlalu umum, stereotipe, dan datar, tak nyata, sulit dipercaya, tak punya perkembangan kuat dan orisinalitas sifat.

Dalam mengungkapkan kisah atau menuangkan gagasan pun, kadang-kadang penulis terlalu cepat puas. Ternyata ketika dibaca orang lain, apalagi editor, tulisan tersebut masih statis, kekurangan pemecahan masalah dan imajinasi.

Pembukaan yang kurang memancing, bertele-tele, lambat, melelahkan, berpanjang-panjang dengan kalimat berputar-putar dan mengumbar kata, terlalu menceramahi, sementara isi pemikiran kurang dipertimbangkan dengan matang, diperburuk akhiran yang dipaksakan, tulisan penuh tatabahasa berlepotan, salah menggunakan diksi, mengabaikan kaidah berbahasa, hanya akan membuat tulisan kehilangan fokus tema, bahkan bisa mementahkan, akhirnya melantur ke subjek lain yang lepas dari niat awal. Editor yang dari awal kehilangan kesabaran membaca naskah akan cepat menyerah, akhirnya memutuskan menolak naskah, karena setelah meraba raba, gagal menemukan subjek yang ingin diketengahkan penulis.

Ada kala penulis hanya menawarkan naskah, tanpa disertai book description (sinopsis), maksud penulisan, positioning, atau subjek yang ingin disampaikan. Padahal, dengan menyertakan keterangan selengkap mungkin, termasuk komentar jujur dari para pembaca awal, akan memudahkan editor mendapat gambaran utuh tentang naskah yang sedang dihadapi.

Fakta ini mengarah pada pandangan ternyata kerja editor, bahkan sebelum menyunting, sejak awal membutuhkan konsentrasi tinggi; dia dituntut baik oleh perusahaan dan calon pembaca agar menetaskan karya yang matang, memikat, disiapkan sebaik mungkin, membuat pembeli pantas membelanjakan sejumlah uang dan mendapat ganti setimpal. Karena ada banyak unsure penulisan yang harus terpenuhi, apa tampaknya ‘merayu’ editor agar mudah meloloskan karya terasa sulit? ‘Editor berpikir bagaimana agar buku laku dan terbit dengan baik,’ komentar Firman Venayaksa, seorang penulis. ‘Sementara penulis berpikir bagaimana cara karya itu diterima penerbit.’

Editor punya masalah dan dilema sendiri, meski keinginannya sederhana, yaitu mendapatkan naskah yang cocok buat penerbitan tempat dia bekerja. Kata Elbert Hubbard (1856 - 1915), editor adalah orang yang dipekerjakan penerbit untuk memisahkan gandum dari dedak dan memastikan bahwa dedak itu tercetak.

Satu hal patut diingat pula, editor tentu bukan segala-galanya, dia bisa juga luput (salah) membaca dan menilai naskah. Bukti dari ini ialah banyak juga naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, ternyata setelah terbit akhirnya jadi karya abadi, bisa diterima publik dengan sangat baik, dihargai dengan reputasi tinggi. Editor yang pernah menolak naskah tersebut tentu harus gigit jari. Baik penulis dan editor sama-sama punya peran penting---dalam kasus industri penerbitan luar negeri juga melibatkan literary agent.

Paham naskah seperti apa yang dikehendaki editor agar memudahkan pertimbangan sejak awal fase pertimbangan, mestinya penulis mau mengikuti ketentuan ini. Pastikan Anda menawarkan naskah pada penerbit yang tepat, dengan begitu Anda bisa menekan penolakan. Naskah yang disiapkan dengan sempurna, lengkap, dipertimbangkan masak-masak akan memudahkan editor menyerap, memahami upaya dan maksud penulis, membuka peluang diterima. Walhasil, penulis, editor, dan penerbit boleh berharap bisa menemukan ‘permata.’[]

PENGAKUAN: Kolom ini dipicu setelah aku baca artikel ’50 Best Short Story Markets’ dari majalah ‘Writer’s Digest’ yang kebetulan aku miliki. Karena keterbatasan ruang, ini tak aku ungkap di kolom; ditambah pengalaman pribadi sebagai editor.

Kontak Anwar Holid: Jalan Kapten Abdul Hamid,
Panorama II No. 26 B Bandung 40141 |
HP: 08156140621
| R: (022) 2037348 | e-mail: wartax@yahoo. com
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on May 30, 2008, 07:15:03 pm
________________________________________
Quote
Teteup harus diakui, dibalik kemiskinan penceritaannya, materi novel ini cukup kuat. Bahkan cukup berpotensi dilirik penerbit. Eh, bukannya ngejatohin orang-orang yg udah serius berfantasy termasuk elo, ya,…
Gue liat ada kecenderungan penerbit bergerak ke arah literasi ringan yang memiliki nuansa ‘masa kini’ (that is, karya-karya ala chiklit), dengan bahasa yg ringan dan pemikiran yg dangkal.

Jangan salah.
Menurut gw materi GunEye cenderung berat malah, alih-alih terhitung ‘literasi ringan’. Pemikiran pengarang dalam novel juga gak bisa dibilang dangkal, cukup dalam dan orisinil.
Penamaan ‘Lapis Lazuli’ & ‘Orihalcon’(nama2 jenis kristal) buat nama dua cewek super (GunEye), bagi gw terhitung keren dan gak bisa dibilang pasaran pun. Tapi apa daya dalam cerita malah muncul nama2 lainnya yg ‘tak senonoh’ semacam Ririn, Tari, Shinta. Gak nyambung banged. Kalo mau pake nama yg berbau2 RPG, kenapa gak semua diseragamin? Ato kalo mau pake nama lokal, kenapa GunEye-nya gak pake nama Euis, Inem, Ijah.. (kok gw malah nyebut nama2 pembokat ginih :D )

Quote
Mungkin mereka beranggapan pasar saat ini memang karakter pembacanya demikian, kagak mau dikasih yg berat-berat (dan gak ‘nyampe’ diajak mikir berat-berat,… hehehe).

Sekali lagi, ini semua masuk urusan teknik pendeskripsian sang pengarang. Bagi gue sih, gak peduli mau serumit apa tema yg diusung/segimana kompleksitas plotnya, kalo emang si pengarang udah piawai bertutur kata (dan memilih kata), memberikan analogi yg pas, dan berhasil membangkitkan mood pembaca, maka buku profesor setebel apapun pasti bakal cepet abis dilumat pembaca..
I experienced this on Da Vinci Code. :)
________________________________________
Post by: fr3d on June 02, 2008, 09:55:29 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on May 30, 2008, 07:15:03 pm
@heg,
Quote
bisakah seseorang membuat indeks atau list untuk semua buku fantasi lokal yang sudah terbit di halaman depan tret komplit dengan blog atau website untuk informasi buku yang dimaksud? Rey? Om Pur?

Malas, lagian kebanyakan fantasi lokal yang terbit gak punya website, seinget gw malah Janos doank satu2nya yg punya (itupun udah ilang skrg) :P

Ide hege bagus koq, rey. Kalau gak ada website-nya, ya ditulis aja judul buku dan pengarangnya/penerbitnya. Tapi, berhubung gw blom banyak baca fantasi lokal, gw juga gak tau ada apaan aja yang udah terbit. [rolleyes]
*buru-buru ngeles*

Quote from: bjvadis on June 01, 2008, 02:47:12 pm
Kalau pakai literary agent luar gila2an harganya oi. coba, untuk 1 item aja (copyright) feenya 300 poundsterling. Sementara ini nyoba di bbrp penerbit yang mau terima kiriman langsung tapi sejauh ini hampir semuanya nolak dan 1 kelihatannya cuekin. Skarang buku 2 udah selesai dan mau digeber lagi ke bbrp yang lain. Kalo JK Rowling aja ditolak 20 literary agent, masa’ gue gak bisa coba lebih keras?

Setau gw (dari pengalaman nelusurin web), lit agent yang bener gak akan minta fee awal, bukan?
Setelah mereka deal dengan si penulis, mereka bakal berjibaku nyariin publisher buat karya si penulis, lalu kalau udah dapet penerbit, barulah mereka minta fee (antara 10-20% dari royalti penulis –> emang lumayan gede sih, tapi bagi sejumlah penulis, yang penting bisa terbit :( ). Katanya juga sih kalau lewat lit agent, penerbit luar lebih prefer, soalnya karya itu udah sempat diuji “keampuhannya” sama lit agent itu dan minimal si lit agent juga udah berperan jadi editor awal buat karya itu. Gitu deh…
Kalau mengajukan copyright, urusannya memang lain lagi.

Oya, gw udah berkunjung ke fireheart.tk. Koq gw berasa navigasinya agak puyeng ya? :D
Mungkin karena udah banyak posting-an kali? Atau emang gw-nya yang gaptek… hehehe… ;D
Eniwei, gw baru sempat baca prolog-nya fireheart. Itu cerita lengkapnya ada semua di web?
Kalau dari prolog-nya sih interesting. Secara fantasi buatan lokal versi bahasa inggris yang pernah gw baca cuma the corruption, gw ngerasa fireheart gaya bahasa-nya lebih oke daripada buku itu. [thumbsup]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
________________________________________
@heg & clickdian,
lemures ternyata emang kagak bisa ikutan sayembara, selain gara2 pake setting luar & udah diposting sebagian (prolog dan sedikit bab 1) di kemudian.com, novelnya masih bersekuel pun, u’re quite rite dude hegenyet, lemures emang tak ada harapan :(

@om pur,
ohh yeah, i got it. Kalo begitu Lemures-ku emang jauh dari pakem kayak begitu, semua yg terjadi dalem novel kupastikan memiliki sebab-akibat. Dan emang novel ini alih-alih disebut fantasi medieval, gw lebih mengkategorikan sebagai sci-fi yang dibungkus epik fantasi.. Mungkin karena hal ini juga yg bikin susah masuk penerbit, penerbit bakal bingung mengkategorikan genrenya. Bungkusnya sih medieval, tapi isinya kayak gak niat jadi fantasi gitu.. ;D
Mau tanya donk om, penerbit Electric Girl & Para Penunggang Petir itu penerbit mana aja?

@All,
Sabtu kemaren gw kirim lagi naskah gw (yg udah ditolak 3 penerbit) ke 1 penerbit via email, dan hari Senen kemaren ke 3 penerbit via pos (Mahalll!). Di rumah masi ada 2 kopian naskah lagi, rencananya emang masih mau gw kirim lg sih.
Then I made a deal with myself, kalo dari sekian banyak kiriman ke penerbit itu gada satupun yg diterima, i’ll retire from writting fantasy. (dan kemungkinan gede naskah gw bakal gw bagiin gratis via yahoogroup kayak om Pur, heheheh :) )
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]
________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 09:23:03 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
Then I made a deal with myself, kalo dari sekian banyak kiriman ke penerbit itu gada satupun yg diterima, i’ll retire from writting fantasy. (dan kemungkinan gede naskah gw bakal gw bagiin gratis via yahoogroup kayak om Pur, heheheh :) )
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]

Ah, dirimu cemen, rey! [thumbsdown]
Baru ditolak beberapa penerbit aja udah lost hope… [hammer]
(adalah kata-kata dari seseorang yang bahkan belum pernah mengirimkan karyanya ke penerbit mana pun :D )
Penolakan itu artinya perbaikan, revisi, refleksi.
Kalau tak sanggup menghadapi itu semua, berarti memang tak layaklah kau menyebut dirimu sebagai seorang penulis! [tickedoff]
Tapi… kalau ada naskah yang dibagi-bagi gratis, gw juga mau sih… [shy]
________________________________________
Post by: clickdian on June 03, 2008, 10:15:48 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 06:59:22 am
@heg & clickdian,
lemures ternyata emang kagak bisa ikutan sayembara, selain gara2 pake setting luar & udah diposting sebagian (prolog dan sedikit bab 1) di kemudian.com, novelnya masih bersekuel pun, u’re quite rite dude hegenyet, lemures emang tak ada harapan :(

Rey,
Kayaknya setting nggak terlalu ngaruh. Liat aja Zauri, isinya negeri antah berantah tapi toh tetep bisa terbit. Masih diliat sama pengamat sastra (walopun nggak semua suka). Hozzo juga, bisa terbit. Narend, settingnya luar negeri, tapi bisa terbit di Indonesia. Bahkan Janos juga bisa.
JADI KENAPA LEMURES GAK BISA ? ? ?
Jujur, kalo dirimu nyerah sekarang, aq kecewa.
Kenapa gak mencoba terus? Kenapa gak simpen Lemures untuk beberapa saat, buat novel baru yang lebih baik, terbitin, dan setelah itu coba lagi Lemures? Kalo perlu dibenahin, benahin deh. May be it’s only a matter of time, Rey. All you have to do is be patient.
Sana, baca k.com. Cari dan baca style penulisan yang lain plus plot2 yang lebih bagus. Jangan gengsi bikin cerpen, karena ini ternyata sangat berguna. I’m doing it right now, dan someday, setelah skillku terasah lebih baik, aq bakal ngeluarin novel yang lebih bagus dari Zauri (yang banyak cacatnya itu), and I’ll proudly bring it to you.

Quote
I’m not a dreamer, I wont waste my time for sumthin not in place.. [yawn]

I am a dreamer.
And I will prove you that dream, no matter how absurd it is, always have possibility to come true.
Because being a author was my dream, and Zauri was my dream, and right now, I have obtained both of them.
Now is your turn.
Dream is hope, and without hope you won’t be able to live.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 03, 2008, 11:38:12 am
________________________________________
@fred,
Pertama kali lemures ditolak itu sekitar 2 tahun lalu. Waktu itu gw kirim 500 halaman, spasi 1, gaya tulisan masih mentah. Ke penerbit yg paling gede pulak. Serius, gw pikir waktu itu gw emang masih lugu dalam bidang penerbitan dan penulisan. Waktu itu gw menulis all out ajah, apa yg gw suka, seenak standar dan selera gw lha. Gw gak peduli sama sekali selera masyarakat luas, selera penerbit, tata bahasa, standar pertimbangan penerbitan suatu buku oleh penerbit. Dan sialnya, gw baru menyadari betapa bejibun hal ilpil dalam naskah gw setelah naskah gw terkirim. Jadi alih-alih berduka cita, waktu tauk naskah gw ditolak, gw malah seneng. Kalopun sampe terbit pasti bakal malu2in gw sebagai pengarangnya.
1 tahun kemudian (which means at this very present day), sewaktu gw pikir gaya bahasa gw udah cukup matang (dan naskah lama itu gw rombak sedemikian rupa sampe 10x lebih bagus dari naskah versi beta-nya, dari segi kualitas), gw kirim lagi ke satu penerbit yg gw pikir paling match sama spirit dalam naskah gw. Sampe bagian ini, semua orang di tret ini udah tauk persis gimana endingnya. [biggrin]

Sebetulnya ini bukan masalah gw cemen apa kagak, ini betulan ttg apa yg dulu si hegenyet pernah bilang, apakah seseorang berbakat/berjodoh/bertakdir pada suatu hal, ato kagak.
I put all my best di lemures: gaya bahasa, plot, karakterisasi, riset. Seumur2 gw gak pernah seserius ini dalam menggarap sesuatu, yang nantinya gw kira bakal bisa ditujukan untuk masyarakat luas.
Kisah penolakan gw agak berbeda dengan kisah penolakan naskah2 yang laen: gw bikin naskah ini 3 thn, editing setiap hari, dan berusaha sebisa mungkin meng-universal-kan materi dalam naskah itu.
Gw emang udah ditolak ‘beberapa’ penerbit, tapi gw belom lost hope ouy! Total, gw masih mau kirim ke 6 penerbit lain; dan tentu, sampe disitu udah gak bisa diitung sebagai ‘beberapa’ lagi. Nah, makanya, kalo sampe pada tahap ini gak satupun penerbit approve, barulah elo bisa nyebut gw lost hope..
Dalam The Alchemist, Coelho said all these thing as “Personal Legend”. Gw rasa, setelah 3 penolakan itu, wajar2 aja kalo gw memposisikan 6 penerbit terakhir ini sebagai judge untuk membantu gw menentukan, apakah menulis fantasi ini emang betul2 ‘Personal Legend’ gw, apa kagak. ;)

@sis dian,
Quote
Rey,
Kayaknya setting nggak terlalu ngaruh. Liat aja Zauri, isinya negeri antah berantah tapi toh tetep bisa terbit. Masih diliat sama pengamat sastra (walopun nggak semua suka). Hozzo juga, bisa terbit. Narend, settingnya luar negeri, tapi bisa terbit di Indonesia. Bahkan Janos juga bisa.
JADI KENAPA LEMURES GAK BISA ? ? ?

gak nyambung -.-”
itu ane ngomongin sayembara 20jt yg kemaren, bukan masalah penerbitan ouy.. omongan itu ttg ane ‘menyerah’ kirim lemures buat sayembara ituh ;D
Kalo ttg penerbitan, ane kan emang lg kirim ke penerbit2 laen.. rencananya sih ane mau nunggu skrg, biar waktu yg bakal menentukan apakah ane nanti betul2 bakal retire apa kagak.

Quote
Dream is hope, and without hope you won’t be able to live.

Ah, sis.. you dont know at all gimana isi pikiran ane untuk satu hal ini. :)
________________________________________
Post by: hege on June 03, 2008, 12:26:00 pm
________________________________________
@Reymur (Rey si Lemur),
Diriku mengerti perasaanmu. I knew you took all of your strengths to Lemures (we had this topic for almost a year). if you could make it more light and with a good mood, I am sure one of those editors will get interest. I didnt say Lemures is bad or something, it will be published eventually. :) pretty sure, remember the signs
Fred, mengenai Hozzo, sudah hege bahas jutaan kali sebelumnya di tret, tapi kurasa di tret fantasy yg telah ilang dulu. I will inform everybody when Hozzo get republish next time.
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on June 03, 2008, 01:03:01 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 03, 2008, 11:38:12 am

Gw rasa, setelah 3 penolakan itu, wajar2 aja kalo gw memposisikan 6 penerbit terakhir ini sebagai judge untuk membantu gw menentukan, apakah menulis fantasi ini emang betul2 ‘Personal Legend’ gw, apa kagak. ;)

Si Frank Herbert penulisnya Dune saga (salah satu serial science fiction paling terkenal di dunia) aja ditolak hampir 20 penerbit. :o Trus dia butuh 6 taon buat nyelesain naskahnya (beberapa bulan lagi, gw juga akan ulang tahun ke-6… :-[).
Jadi, ya, kita liat aja "ketahanan"-nya lemures dan pengarangnya.
Eniwei, rey, kalau ternyata nanti ditolak juga, maksud gw adalah seharusnya loe merevisi lagi, jangan langsung menyerah.
Kan sayang udah jungkir balik selama 3 taon, tapi lemures akhirnya gak pernah melihat penerbitan.
Guillarde dan para lemur bakalan pada nangis tuh! :'(
Dikau tak kasian sama mereka?
Untuk ngilangin jenuh dan nambah wawasan, coba aja sarannya mba dian.
Skarang lagi gak revisi kan? Mulai aja nulis2 sesuatu yang baru sambil nunggu kabar dari penerbit lain.
Yang gampang aja materinya, kalau bisa yang gak serumit lemures. [thumbsup]
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 03, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
ehm…
rey, ada apaan nih?
kok tiba-tiba berencana menyerah?
tunggu dulu deh sepuluh tahun, sampe seumur gua, baru memutuskan mau menyerah atau kagak. ente masih mudah ini… hahahah…
masih boleh mimpi macam-macam dan melakukan macam-macam.
gue coba ngerti deh, bahwa elu udah coba kasih segala2nya di lemuria. bahwa itu mungkin masterpiece lu. tapi… itu selalu bisa dibuat lebih bagus kok. seandainya proses perbaikan jalan terus, setahun lagi elu bakal bisa bilang bahwa ternyata lemuria emang bisa dibuat lebih bagus kok.

oh iya, jangan pernah gantungkan nasib lu pada satu buah karya doang. cobalah cari ide baru dan buat lagi cerita yang baru. dua, tiga, empat dan seterusnya. dan elu bakal heran nanti… eh… ‘ternyata gue juga bisa bikin cerita lain yang lebih bagus daripada lemuria’ dan pastinya lebih prospektif.
btw, soal jodoh-jodohan dengan penerbit, yeah… mungkin itu bener juga. tapi soal jodoh kan dah ada yang ngatur, ngapain kita musing mikirin? hihihi… bukan urusan kita…

setahuku pula sekarang emang masa-masa sulit juga buat penerbit, banyak tuh yang gulung tikar gara-gara harga2 naek. dan pastinya semua penerbit lagi selektif banget sekarang.
dan kalo emang mereka lagi puyeng sekarang, ya maklumi aja kali. mending kita melakukan apa yang bisa dilakukan sebagai penulis: menulis sajalah. menulis apapun, yang kita suka. entah itu fantasi atau bukan. gak perlu memaksakan diri nulis fantasi kalo kita gak suka. gue sendiri, karena dah kadung cinta, sampe sekarang ya tetep nulis fantasi itu, walau kadang diseling yang non-fantasi.
ah, cukuplah.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XII (19 Mei 2008 – 23 Mei 2008)

  • Penjelajahan FFDN oleh Fred
  • Cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 19, 2008, 09:47:10 pm
________________________________________
Boss Rey,
Keren sukeren. Thanks buat komplimen-nya, bikin gue yakin bahwa di part itu gue udah right on spot. Untuk kritikannya, mari kita bahas,….

1. Masalah tanda baca
Iye deh, ane beresin lagi semuanya,… hehehe,… terima kasih udah ditunjukkan kesalahan2.
Quote

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
Gue liat lagi deh, sebaiknya memang diperbaiki biar lebih kuat konsistensinya.

5. Pemilihan kata
Sekaligus untuk menjawab pertanyaan mengenai target market. Memang ditujukan ke level SMA s/d kuliahan, lah. Jadi kupikir kata-kata “keren” lebih bunyi di level mereka. Tadinya gue coba pakai kata “gagah”, tapi kesannya jadi tua,.. hahaha,… memang rada dilematis juga sih. Mungkin gue coba cari padanan lain: mengagumkan, jumawa, menggetarkan, etc.

Quote
-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.

Destiny guides them,…. kira-kira gitu konsepnya. Sebisa mungkin gue coba bikin ngga ada yg kebetulan di setting PG. Kutipannya kira-kira begini:
Seharusnya Jaka menyadari lebih dini. Persahabatan Jaka-Ratih-Rani sesungguhnya bukan cuma pertemuan kebetulan, ketiga anak itu sudah diarahkan oleh garis leluhurnya masing-masing untuk bertemu di sekolah yang sama, dan kecocokan di antara mereka bertiga juga merupakan warisan naluri dari persaudaraan di antara leluhur mereka. Sayang seribu sayang, kesadaran itu datang terlambat.
Emang sih, kurang logis,… hehehe. Kayak too convenient coincidence. Tapi harap diinget bahwa musuh merekapun udah mengikuti jejak mereka jauh sebelum mereka lahir.

Quote
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.

wah boleh juga idenya :) . Ntar gue musti tempatkan dulu kira-kira peran tokoh abu-abu ini apa dalam permainan dulu dan sekarang. Kebetulan memang belum ada motivasi yg kuat sih. Secara rel utama cerita ini sesungguhnya adalah pertarungan antara Kitab Putih (kitab lontar) versus Kitab Hitam dari jaman ke jaman, di mana masing-masing memiliki proponent-nya.
Tapi ide tokoh abu-abu ini kayaknya bakal bisa gue terapkan di sekuelnya :D

Quote
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.

Demikian kisah spin-off mengenai Rangga: Kira-kira lima belas tahun setelah peristiwa turunnya Utusan Iblis di era Sentika, Pendekar Garuda resmi membubarkan diri. Sentika dan Pramesti menetap di daerah yang kelak menjadi Demak, dan salah satu garis keturunannya memecah ke daerah yang nantinya menjadi Yogyakarta, yang menjadi garis silsilah (you know who). Widura menetap di daerah yang kelak menjadi Surakarta (Solo), sehingga keturunannya menjadi abdi kraton Mangkunegaran sampai ke garis keluarga Bun. Anggraini meneruskan petualangannya sampai ke pesisir Timur yang kelak menjadi Surabaya. Dari situlah ibunya Rani mendapatkan selera kuliner terbaiknya :) Sementara Rangga berkelana ke sampai Aceh serambi Mekah. Bila dari sana keturunannya ada yang nyangkut sama orang Medan, wajar aja dong,… hehehe.
Ah spoiler-spoiler bertebaran,… nih. Tapi jujur gue ngga terlalu risau. Soalnya buat gue membaca adalah seperti menikmati makanan. Masakannya gue udah tahu, rasanya pasti gue juga udah tahu, tapi bukankah kenikmatan utamanya ada di saat kita mengunyah makanan tersebut?

Untuk Jo, memang spesial kondisi dia, nih. Dia bisa ngga tidur dua bulanan berturut-turut. Dia bisa ngga napas lebih dari lima jam. Dia bisa telepati dalam kondisi kepepet. Sedikit banyak ‘ilmu’nya memang telah membantu tanpa dia sadari. Tapi kenapa dia gak worry? Kira-kira sistematika gue begini: pertama, gengsi Jo melebihi akal warasnya sendiri. Jadi buat dia lebih baik masuk situasi aneh dari pada dia harus menanggung malu (tentu saja, definisi malu anak ini memang rada gak waras juga). Kedua, sesuai juga dengan konstitusi dia: pecahkan masalah gue dulu, urusan lain belakangan. Jo takut sama mimpinya. Reaksi emosi dia menerima sinyal dari masa lalu itu lebih parah daripada yang lain. Maka bagi Jo, solusi “Ngga Mimpi” itu jauh lebih utama dibanding rational question. “Kenapa” buat dia nggak penting, tapi “Gimana supaya” jauh lebih penting. Dan memang jalan keluar yg dipercaya ama Jo juga gak waras, sih. Yah kalo dia waras, mana mungkin jadi preman sekolah, hehehe,…

Tapi gue memang punya proposisi yang menarik buat karakter Jo ini. Gue mencoba menggambarkan seorang manusia yang fitrahnya punya potensi luar biasa, tapi potensi itu terkunci di balik keterbatasan akal pikiran, status sosial, kecerdasan, kemalasan, igonrance, yang gitu-gitulah,…. Makanya salah satu perwujudan potensi luar biasa itu gue bikin ekstrim, di luar kewajaran normal.
Hmm,.. gimana caranya agar situasi ini bisa dibikin lebih believable, ya?

Quote
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

Ehm, tahun 1991, memasukkan adegan remaja merokok dalam sebuah karya Novel sangatlah tidak umum [rolleyes]. Kalo sekarang sih udah biasa, ya? Tapi honestly, gara-gara itu pula gue merasa punya tanggung-jawab moral untuk membuat keseimbangan dalam novel gue. Dalam hal ini ngambil perwujudan ideal seorang pendidik (pak Kepsek), gimana caranya sih melarang remaja merokok tanpa membuat mereka ngelawan. Sorry, emang sih kadang gue pikir,… ini too preachy gak ya? terus mending dipotong, gak ya? Tapi kembali, karena niatnya tanggung-jawab moral,… hehehe kayaknya akan tetap kupertahankan. Dan ntar gue bikin twist buat sekuel,… kenapa sepulang dari Kemping, si Tongpes jadi gak demen sama Rokok. Ha ha ha, temen-temennya bingung, dianya sendiri juga bingung!
Ngomongin “jo ngga mau tawuran lagi” juga gitu, tanggung-jawab moral juga. Tapi part itu memang bisa lebih dipendekin. Itu nantinya akan menjelaskan kenapa di sekuel, Jo nggak lagi mau ikut-ikutan tawuran pelajar, dan trouble yang dia alami gara-gara itu.

Anyway, thanks dua jempol ya atas repiu-nya :)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 01:21:12 pm
________________________________________
Pada suatu masa, di sebuah ruangan yang sepi nian dan damai…

Fr3d: “Eh, apaan nih? Kayaknya menarik!”

Open link in new window.

Fr3d: “Kayaknya asik nih! Ikutan ah! Tapi, harus tau dulu seluk beluk-nya dari awal nih biar paham…”

Klik.

Fr3d: “Ok! Mulai!”

Fr3d: (*melihat reply #1*) “Ayo smangat!!!” [letsdoit]
Reply #99: “Semuanya? Beneran yakin nih anak?”
Reply #1253: “HA-HA!”

Beberapa saat kemudian…

Fr3d: (*memijat kening dan mengerjap-ngerjapkan mata*) “Mungkin harus dipilah nih… Ada banyak tips-tips bagus dan pembicaraan berbobot, tapi yang OOT rupanya cukup banyak juga…”

Fr3d: “Mungkin BENAR-BENAR harus dipilah nih… Gak mungkin dibaca semua kata per kata…”

Reply #99: “Kasian banget sih, loe!?”
Reply #1253: “HA-HA!”
Reply #1379: “Dah, guys! Gw mau pergi makan dulu! Bu-bye!” [yawn]

Fr3d: “Selangkah… demi… selangkah… seperti keong yang dibahas panjang lebar…”
Reply #99: “Lho? Sial! Knapa jadi begini?! AAAAH!”
Fr3d: (*meng-klik tombol page 11*) “Yes!”
Reply #575: “Ah, biasalah newbie! Pasti masih semangat ’45. Liat bentar lagi aja, ntar juga keok…”
Reply #1253: “HA-HA!”

Dan waktu pun berlalu…

Fr3d: “Hmm… ternyata banyak juga ya yang suka nulis-nulis cerita fantasi.” (*kagum dan sedikit tercengang*)
Fr3d: “Slama ini ke mana aja daku? Terisolasi dari dunia luar dan menganggap fiksi fantasi dalam negeri perkembangannya cuma begitu aja…?”

Klik.

Reply #142: “OH, SH*T!” [buck] —-communication loss—-
Fr3d: “Ada gal yang menang penghargaan IKAPI & masuk nominee KLA juga! This tret must be really worth it!”

Reply #574: “Eh, Reply #575, kita harus melakukan sesuatu nih! Anak ini kayaknya malah tambah semangat tuh!”
Reply #575: (*menimbang-nimbang dengan serius*)
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Hei! Pemuda yang satu ini ternyata bener-bener bisa gambar! Artwork-artwork-nya keren!” [thumbsup]

Reply #574: “Launcher I dan II siap! Prepare bombing! Target’s locked!”
Reply #575: “3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Lho, ternyata banyak anggota baru juga ya di tret ini!” (*menunduk, melihat tanggal reply yang masih dalam hitungan kurang dari 6 bulan*)
Fr3d: “Gak cuma diriku saja! Senangnya!” [biggrin]

Reply #574: “Damn! Gak kena! Gimana nih?!” (*panik*)
Reply #575: “Dia cuma hoki aja! Coba lagi! 3! 2! 1!”
[bomb] [bomb] [bomb] [bomb]
Fr3d: “Tunggu sebentar…” (*berbalik dan memperhatikan lebih jelas*)
Fr3d: “Ada apaan nih antara TS dan sang penghuni huminiz?”

Reply #574: “AAARGH! Meleset lagi!”
Fr3d: “Kura-kura/KuRara? Mocca_chi = Mochi? Karisuma Ren? Ah… bingung! Maju lagi ah…”
Reply #575: “Tunggu! Tunggu! JANGAAAN!”
Reply #574: “MAMAAA—” [confus_55]
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Fr3d: :o “Hmm… Yang satu ini rasanya berpengalaman menulis banget nih! Pembahasan tekniknya dan tips-tipsnya oke juga!”

Reply #1596: “Bos, baru dapet kabar nih dari garrison guard #1000! Ada ancaman baru!”
Reply #1643: (*cool*) “Fufufu…”

Fr3d: “Penulis baru… Baru ditolak penerbit… Sedang diproses… Lagi kehilangan mood… ASL pliss…” (*mengelus-elus dagu*)
Fr3d: “Interesting!”

Reply #887: (*terbangun dari tidur*) “Udah lama nih gak mimpi indah… Senangnya… Buka jendela dulu ah biar udara seger masuk…”
Reply #887: (*berjalan ke jendela, mendorong frame jendela, sesaat terdiam…*) “OMG, apaan tuh?”

Klik. Klik.

Reply #907: “Run! Run! Catch me if u can!”
Fr3d: (*minum segelas air, kembali ke hadapan monitor*) “Ada rasa dingin… dingin… Lho?! Ini kan udah dibaca!”
Klik.
Reply #907: “What the f—”
Reply #1253: “HA-HA!”

Klik.

Reply #1000: “WARNING! WARNING! SECURITY BREACH ALERT! WARNING!”

Klik.

Fr3d: “Ada ribut-ribut apa nih?”
Reply #1066: “Anak ini progress-nya cepet juga! Amazing! Surrender aja ah…” [giveup]

Reply #1094: “Jeng, tau gak sih si anu itu ternyata gini-gono!”
Reply #1095: “Masa iya sih?! Ah, gak percaya aye!”
Sesuatu melesat cepat…
Reply #1094: (*termangu*) “I…i…i-tu…”
Reply #1095: (*merapikan rambut*) “ADUH! Padahal baru dari salon!!!”
Reply #1253: “HA-HA!”

Fr3d: “Sedih nih membaca orang saling berteriak dan menunjuk satu sama lain…” :(
Reply #1253: “HA—”
Fr3d: “HA!”

Klik.

Fr3d: “Eh, ada reviewer baru… Tapi… Lho?! Biawak?” :o

Reply #1379: (*baru pulang makan*) “Kenapa sepi nih? Pada ke mana yah reply-reply yang laen?”
Lampu mendadak mati.
Reply #1379: “Hei! Siapa yang matiin lampu?! Aduh, gelap! Takuuut…” :’(

Klik.

Reply #1596: (*mengambil perlengkapan perang dari gudang*) “Sial! Kenapa pada karatan gini? Maintenance-nya siapa sih?”
Reply #1501: “Awas! Awas!”
Reply #1596: (*berjalan ke luar*) “Ada apaan? Jangan berisik! Bos lagi tidur di atas!”
Reply #1501: “Gawat! Gawat!”
Reply #1534: “Itu dia datang!”
Reply #1596: “NO WAY!” (*menghunuskan pedang*)

Beberapa jurus kemudian…

Reply #1596: [stretcher]

Fr3d: “Dari Guang Zhou, melintasi pelangi sambil menunggangi petir, melewati terra eternia, masuk ke labirin, dan akhirnya tiba di titian ayat-ayat…”

Reply #1596: (*mengeluarkan ponsel dan mengetik sms*) “Bos, maafkan aku…” [sorry]
Sending…
Report: Delivered

Fr3d: “Satu reply lagi!” (*penuh tekad*)
Reply #1643: (*cool*) “Rupanya kaulah yang disebut-sebut yang lain… Fufufu…” (*perlahan-lahan berubah menjadi monster mengerikan!*)
Monster Reply #1643: “Waktumu sudah habis, Fr3d!”
Fr3d: “?!?” [rolleyes]
Monster Reply #1643: “CIAAAT!!!”
Fr3d: (*membuka notes*) “Semoga ini bisa menghentikannya…”
Monster Reply #1643: “18 TELAPAK NAGA!”
Fr3d: (*membacakan isi notes dengan lantang*) “Semenjak dahulu kala sampai sekarang, inilah yang telah terjadi…”

DAFTAR PEMBAGIAN KURSI DEWAN:

Reply #100: rd_villam
Reply #200: eniyorda
Reply #300: bloodsin
Reply #400: kura2
Reply #500: hege
Reply #600: mocca_chi
Reply #700: bloodsin
Reply #800: mocca_chi
Reply #900: euthalia_calisto
Reply #1000: clickdian
Reply #1100: euthalia_calisto
Reply #1200: apocrief
Reply #1300: alk
Reply #1400: kura2
Reply #1500: lich
Reply #1600: bloodsin
Reply #1700: …

Monster Reply #1643: “HAH?! APAAN TUH?”
Monster Reply #1643: (*tertawa mengejek*) “Ternyata gak ada efeknya! Saatnya serangan lagi! Terimalah serangan terakhir ini! METEOR PEGASUS!”

Fr3d: “Sotoy… Engga… Sotoy… Engga… Sotoy… Engga…”
Fr3d: (*memutuskan*) “Well, everything happens for a reason!” 8)

Klik.

Monster Reply #1643: “TIDAAAK!!!” (*menyusut, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya lenyap*)
Fr3d: “Phew! Akhirnya selesai juga ngebaca semua posting-an tret ini…” [winner]

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
________________________________________
#Fred
[lol] [lol] [lol]
hueahuahaaa
kocak! kocak!
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]
________________________________________
Post by: fr3d on May 21, 2008, 04:34:30 pm
________________________________________
Quote from: clickdian on May 21, 2008, 04:04:48 pm
aq jadi pengen tau tulisanmu. posting cuplikannya di sini dong, kalo gak keberatan [bigwink]

Tulisanku? Wah, malah lucu-lucunya jarang banget! Lebih banyak kisah tragis dan kejadian penuh ironinya…
Mungkin pelampiasannya ya nulis gila-gilaan di forum atau milis gini deh… ;D
Kalau di-posting blom boleh, mba dian… :-\
Untuk novelku ada “masa kadaluarsa” minta review-nya gitu… dan skarang udah habis masa kadaluarsa-nya itu… Memang udah kebiasaan dan ada aturannya gitu… Aku gak mau ngasih orang baca kalo ceritanya blom lengkap, soalnya kepengennya dapet penilaian secara keseluruhan –> ribet ya? yup! [rolleyes]
Versi review/editan trakhir, masa kadaluarsanya berakhir tahun 2006 lalu… (memang dah lama banget sih, maap ya… :-\)

Nah, skarang aku lagi ngerjain review trakhir nih (sebelum dikirim ke penerbit). Niatnya sih setelah review trakhir ini selesai barulah mau ditawarin lagi untuk dibaca orang lain (biasanya sih ditawarinnya full, gak boleh cuma secuplik, bentuknya hardcopy sebuku besar & berat, dan harus ada komentar/feed back-nya –> kami sebut kegiatannya “korespondensi”).
Kami? Yup, novelku memang ditulis sama dua orang.
Targetnya sih review trakhir ini selesai bulan juli. Mudah2an gak ada masalah…
Kalo udah slesai nanti, aku pengen nih minta pendapat dari rekan2 penulis laen di sini! :)
Boleh ya? (Beramai-ramai menjawab: “Boleh koq!” ;D ;D ;D)
Oya, genre-nya ya fantasi dong! ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on May 21, 2008, 05:02:48 pm
________________________________________
@fred,
you’re good. really good. [thumbsup]
salam kenal.
boleh juga deh nanti aku review draft novelmu. :)
pendapatku biasanya ga begitu bermutu sih, tapi gak masalah kan? :D :D :D
________________________________________
Post by: BloodSin on May 21, 2008, 08:12:21 pm
________________________________________
@fred,
this is EXTREMELY serious, ati2 kalo minta komen ke villam & clickdian, kedua member itu kritikus kelas buaya, sadis dan suka mengumbar kata2 kejam, mahajahat, tukang cela, dan jarang banged kasih komplimen.
saranku: untuk ukuran newbie, sebaiknya ente minta komen ke hege atau FA Pur saja, mereka ini reviewer2 baik hati, murah senyum, arif bijaksana, dan suka kasih pujian. Dijamin tokcer dah [thumbsup]
*ketawa setan [biggrin]*
________________________________________
Post by: BloodSin on May 22, 2008, 01:28:20 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on May 21, 2008, 11:43:01 am
@ All
Udah pada tau Ramaditya? Dia tuh tunanetra yang ikut bikin sontrek di game-na Nintendo. Dia juga bikin nopel Fantasy lho. Sekilas sih mirip Gundam gitu. Kalo mo donlot ada di sini http://www.ramaditya.com/novelrama.zip Kalo mo baca blog-na ada di sini http://ramaditya.multiply.com/

Amru, Thanks link-nya, dulu gw pernah liat orangnya, jadi tamu di empat mata, biar tunanetra gitu selera sarkasmenya sadis juga, tukul abis dikatain sama dia [biggrin]
Udah baca sekilas2 fantasi dia, idenya sih emang lumayan orisinil, dan tata bahasanya rapi ciamik pun, naming lumayan. [thumbsup]
Cuman somehow (gejala ini juga ditunjukkan naskah2 excel), walaupun rapi ciamik gitu, bahasa dia kurang bisa mengikat pembaca, gw langsung close begitu masuk baca halaman 3, entah kenapa. Mungkin nanti lanjut baca lagihh..
note: untuk ukuran tunanetra, fantasi dia bener2 lumayan banged, cuma cuma bermasalah di gaya bahasa IMO sih :-\
________________________________________
Post by: BloodSin on May 23, 2008, 01:11:46 am
________________________________________
Boleh posting cerita jg kan? Boleh? Boleh? Boleh… [biggrin]
cuplikan dari LEMURÉS: Surga yang Hilang, naskah fantasi gw yg lagi berjibaku VS penerbit :D

Kegelapan beranjak dari tempat, dan hari kembali bergulir di Sierra Kuno. Mereka berhasil melalui malam pertama di Sangkar Hantu tanpa sedikit pun gangguan berarti, kecuali serbuan dari koloni serangga malam yang mengusik tidur mereka sedemikian rupa: nyamuk tropis.

Pagi itu mereka sarapan dengan melahap pakis-pakisan hutan yang tumbuh di ketinggian; dan untuk itu mereka mengandalkan si bocah Sirat untuk memanjat pohon.

Ketika hari mulai terik, mereka kembali melakukan pencarian dengan menembus kerimbunan semakin dalam. Semua orang menyadari bahwa mereka semakin jauh melangkahi wilayah Sangkar Hantu.

Pada suatu wilayah di tempat itu, mereka melihat jajaran pohon aneh: kelompok pohon tinggi semampai dengan bagian atas yang amat rimbun, di mana mereka melihat sarang-sarang yang dibangun dari ranting kering dan tanah liat. Di wilayah itu ada lebih dari selusin barisan pohon aneh, dan setiap pohon memiliki lebih dari selusin sarang.

Dari semua anggota Rombongan, hanya Guillarde yang memiliki minat mendalam terhadap sarang-sarang itu; rupanya sang marquis dibakar oleh rasa penasaran terhadap rupa mahkluk penghuni sarang-sarang itu.

Ia melemparkan sebatang ranting jatuh ke arah sarang-sarang itu, namun tidak pernah bisa mencapainya, oleh karena ketinggian sarang-sarang itu. Kendati demikian, ia sudah cukup menimbulkan keberisikan untuk membangunkan apapun mahkluk yang tertidur dalam sarang-sarang itu.

Namun tak ada reaksi, tak ada balasan. Sarang-sarang itu tidak menampakkan penghuni-penghuninya; membuat orang-orang yang ada di situ menarik kesimpulan bahwa sarang-sarang itu kosong belaka.

Tidak mau berlama-lama mengalihkan perhatian pada sarang-sarang aneh itu, sang pemimpin meminta orang-orang kembali melangkahkan kaki. Jadi siang hari itu mereka terus berjalan hingga gelap menyentuh sisi barat cakrawala, menembus wilayah Sangkar Hantu yang memiliki pohon-pohon dengan sarang aneh.

Sarang-sarang itu masih ada di tempat perhentian mereka, namun tak seekor pun mahkluk penghuninya yang menunjukkan tanda keberadaan.

Sewaktu Kain memutuskan untuk bermalam di situ, si bocah Sirat menyuarakan kegelisahannya.

“Bagaimana dengan sarang-sarang itu?”

“Kosong,” jawab Kain sekenanya, terlihat tidak terlalu yakin. “Apapun mahkluk penghuninya, kukira sudah bermigrasi dari sini. Aku pernah mendengar tentang kawanan angsa yang bermigrasi dari tempat ke tempat.”

“Burung-burung yang bermigrasi tidak membangun sarang di atas pohon,” Guillarde berpendapat. “Dan burung-burung yang membangun sarang tidak akan bermigrasi kemana pun, pada umumnya.”

“Jadi,” Kain berkata, “apa idemu, Tuan de Lusignan?”

“Mempertimbangkan ukuran sarang-sarang itu, kukira mereka hanyalah satu koloni burung kecil atau tupai kerdil,” jawab Guillarde, tidak yakin. “Perlukah kita mengkuatirkannya?”
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on May 23, 2008, 09:52:12 am
________________________________________
Ok, karna rey juga udah komen, aku mau nutup aja topik review cuplikan novelku supaya tidak berpanjang lebar ria berhubung cuplikannya sendiri pendek sekali :D .
Thx u buat mba dian, villam, om pur, hege, dan rey yang udah membaca dan menyampaikan pendapat kalian.
Aku akan menyimpulkan aja ya:

1. Masalah plot yang masih jadi tanda tanya/tak jelas seperti yang dijabarkan villam memang tak bisa dibahas lebih jauh. Tapi, berhubung villam berhasil point out semua hal penting berhubungan dengan plot yang sengaja aku sebut sekilas di cuplikan itu (yakni: mimpi apa, kehilangan apa, persiapan apa, dua benda itu), berarti aku menganggap cuplikan itu sudah cukup dalam hal memberi input awal/pembukaan kepada pembaca mengenai hal-hal kunci tadi dan cukup pula memberi gambaran atau ekspektasi mengenai apa2 yang mungkin akan diceritakan/dijelaskan pada adegan2 berikutnya.

2. Om pur merasa cuplikan itu sebagai prolog dan temponya lambat. Dan itu tidak sepenuhnya salah, karena cuplikan itu memang “prolog” untuk masuk ke permasalahan utama kedua di dalam novelku. Temponya lambat karena memang sedang memulai lagi pembangunan kisah dari awal.

3. “Cerita yang kurang mengalir dan tak cukup ada tease yang mengundang” komentar hege ini juga aku memaklumi karena memang cuplikannya sendiri pendek, dan “tease” itu sebenarnya ada di balik pintu yang belum sempat dibuka oleh si tokoh di dalam cerita [rolleyes].

4. Feed back yang aku harapkan pada awalnya sebenarnya lebih ke arah gaya bahasa (seperti yang kukatakan di awal posting). Dan tentang gaya bahasa ini, aku dapat menyimpulkan beberapa hal dari komen2 yang ada:

a. Meski minim detil, mba dian berhasil menangkap tujuanku menulis adegan itu di dalam kamar (spesifik) itu, yaitu hanya sekedar untuk menunjukkan si tokoh adalah orang yang sangat penting di dalam dunianya. Ini sudah cukup membuatku puas. Kalau si tokoh tidur di kamar lain, misalnya nginep di rumah temannya, hasilnya pasti beda dari harapanku. ;D

b. Mba dian juga mengatakan: “belum menemukan sesuatu yang aneh”; dan rey mengatakan: “gaya dan tata bahasanya tak ada yang jelek dan tak ada yang spesial”. Dua komen ini juga cukup buatku, karena ini berarti tak ada yang salah dengan gaya dan tata bahasa itu sendiri. (*lega*)
Soal spesial atau gak, rey, gw memang menyimpan yang spesial2 untuk adegan lain yang lebih membutuhkan. Kalau semuanya ditulis dengan spesial, nanti malah jadinya berasa gak ada yang spesial sama sekali kan? [biggrin] (*buru-buru melarikan diri sebelum dirajam!*)

c. Tentang detil yang tampaknya jadi perhatian utama (rey bahkan mengaitkannya dengan “wawasan luas” dan “kreatif”; membuat diriku bertanya, apa memang ada hubungan sebab akibatnya antara kedua hal itu? ???); harus kuakui lagi, cukup sulit untuk memasukkan terlalu banyak detil ke dalam novelku yang punya banyak istilah, set, prop, tokoh, dan aspek pendukung world building lainnya, karena novelku sudah cukup tebal oleh plot yang rumit. Detil2 itu sebenarnya bukan tak ada sama sekali, tapi aku memilih memasukkannya ke lokasi2 yang lebih appropriate atau hal2 yang lebih membutuhkan. Hal ini semata-mata supaya tidak menyibukkan para pembaca ketika aku mengharapkan mereka disibukkan oleh plot. Ini cuma soal penempatan aja koq. ;)

Oya, soal membagi ke beberapa buku, sekarang memang tengah dilakukan koq! Tenang aja, rey, tiap “buku” itu sudah ada plot2 kecilnya yang punya awal dan ending, sekaligus tetap mempertahankan satu plot besar untuk keseluruhan cerita.
Rasanya itu sudah mencakup semuanya…
Skali lagi, thx u all! :D
Untuk mba dian dan villam yang sempet aku janjiin versi yang lebih panjang,
Setelah aku berdiskusi dengan co-author-ku, kami akhirnya sepakat untuk kembali ke peraturan semula, yaitu selesaikan dulu seluruh pengeditan sebelum meminta review dari orang lain supaya bisa dapat komentar yang lebih lengkap. Jadi, untuk sekarang, belum bisa men-japri apa pun. Maap ya, sudah menebar janji-janji palsu. ;D ;D ;D
Mudah-mudahan saja pengeditan terakhirku ini selesai pada waktunya. (*crossing finger*)
Ayo semuanya, kita smangat menulis/mengedit!!! [letsdoit]

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XI (12 Mei 2008 – 19 Mei 2008)

  • Model stereotip novel fantasi
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh clickdian
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 12, 2008, 12:47:30 am
________________________________________
@villam,
BTW ide ente buat novel fantasi terbaik tahunan asik juga, idealnya sih dikategoriin dua kelompok, fantasi indo & fantasi luar. ;)
Tapi payahnya ane selaku TS tret lebih intens beli fantasi2 lokal, fantasi luar mah jarang (tapi clickdian kayaknya sering ;D), lagian yg mau jadi juri siapa? Paling disini yg lumayan sering baca buku fantasi lokal secara rutin cuman ane ma om pur, masih kurang 1 mahkluk lg tuh buat bikin kelompok penjurian..
ada yg minat mendaptar?

@clickdian,
asik review-nya, sip dah. ;)
pertama ane suka namingnya, seperti biasa pengarang luar selalu punya nilai plus buat urusan naming.
kedua, buat idenya, sekilas kalo diliat dari gambaran ente, IMO sih yak masuk lajur klise ahh.. stereotip fantasi kan gak cuma seputar kisah heroik dunia peri-centaur-elf, tapi masuk juga yg model magic2an ala harpot (dengan spell2 yg kedengeran aneh n complicated, tentu)
Septimus masih berkutat di dunia per-magic-an (walo udah disamarin istilahnya jadi ‘magyc’ :D ), dan rasanya masih termasuk klise..
Tapi keklisean itu pun sama sekali bukan masalah, ane rasa cukup mustahil buat bikin fantasi yg idenya pure original buat hari gini mah.

Kalo diliat2 buat ukuran fantasi hari gini, keklisean itu bisa dikelompokkan jadi 6 stereoptipe IMHO:
-model fantasi epik petualangan
-model fantasi dunia sihir
-model fantasi kolosal
-model fantasi fabel
-model fantasi futuristik
-model fantasi RPN
ada tambahan? dan… yg mana tipe fantasi yg kita masing2 anut yak?
________________________________________
Post by: fr3d on May 14, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Alow, salam kenal semuanya! ;D
Di sini banyak rekan2 yang novel fantasinya udah diterbitin ya? Wah2, ok deh! Siapa aja ya & karyanya apa?
Fiksi fantasi dalam negeri? Hmm… lebih sering baca luar negeri…
Yang pernah kubaca cuma yang keluaran tahun 2005/2006: ledgard, pinissi, phoenix, dan corruption. Yang setelah itu, blom pernah lagi deh. Kalau liat di toko buku sih pengen beli, tapi takut kecewa karena kebanyakan harganya cukup mahal kan… :-\
Tapi, aku seneng di negeri kita tercinta ini ;D, perkembangan fiksi fantasi udah ke arah jalan yang bener. Mudah2an makin banyak aja terbitannya dan makin berkualitas seiring berjalannya waktu. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on May 16, 2008, 01:08:56 am
________________________________________
buat fr3d, welcome dude, udah baca 4 judul novel fantasi itu? gimana komen ente? puas tak sama fantasi2 karya penulis lokal itu? boleh donk gw minta review ente buat 4 novel itu :)
(wakakakak, baru nongol udah langsung gw palak nih orang ;D)
________________________________________
Post by: fr3d on May 16, 2008, 09:55:38 am
________________________________________
@rey (ini bloodsin kan ya?),
Empat novel fantasi lokal itu mengecewakan semua buat gw… (eh, gak ada para penulisnya kan ya? Kalo ada, maap, lho. Ini kan pendapat pribadi ;) )
Hmm… review ya… gak sanggup kayak om pur sampe ke masalah teknis deh… :D
Lagian udah rada-rada lupa juga sih. Jadi, komentar sebagai seorang pembaca aja ya. Seinget gw begini…

Ledgard
Kayaknya udah di-review banyak orang. Kecuali soal novel itu bagus banget, umumnya sih pendapat gw sama aja sama para reviewer itu, misalnya soal cover yang gak relevan sama isinya (meskipun bagus), tokoh antagonis yang muncul terlalu di akhir, dll. Kalaupun ada tambahan:
1. Sihir-sihirnya terlalu semaunya! Maksudnya, gak ada aturan jelasnya. Gw lupa kelompok apaan tuh yang dikunjungin para tokoh utama pas pertengahan cerita. Nah, kelompok itu (yang seolah-olah kumpulan para ahli sihir) kayaknya terlalu jago deh. Sama kaum ceweknya nash (siapa sih namanya? lupa juga!) kemampuannya juga hebat banget. Seharusnya dengan kemampuan yang mereka kuasai, mereka udah bisa menguasai seluruh dunia di ledgard tuh! Gak perlu takut sama serangan orang-orang asing. Gak masuk akal aja, apalagi sampe kewalahan pas perang terakhir…
2. Centaur yang cuma punya satu jenis kelamin? Awalnya sih menarik, tapi setelah ada penjelasan bagaimana cara reproduksinya… [rolleyes] Rasanya salah banget… Satu-satunya kaum yang sukses merebut hati ya memang cuma kaum felis itu.
3. Petanya! Aduh, bukannya membantu malah bikin puyeng… :o
4. Gambar karakternya oke dan keputusan untuk memasukkan list karakter di bagian awal itu juga oke! Karena jujur aja, waktu pertama kali ngeliat ledgard, gw tertarik beli karena liat list karakter itu. Jadi penasaran, kumpulan orang ini mengalami petualangan apa sih di dalam buku?
5. Gaya penulisan adegan/percakapan romance-nya juga terlalu… gak cocok :D . Kalimat-kalimatnya berasa sinetron/telenovela gitu.

Pinissi
Jujur dari keempat novel yg sudah gw baca itu, pinissi adalah yang idenya paling bagus 8). Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai yang gw harapkan.
1. Boros kertas banget tuh novel. Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste…
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga… (eh, bener kan ya analoginya begitu? ???)
2. Endingnya gak jelas. Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?
3. Artwork-nya lumayan. Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus…
4. Penyelesaian permasalahannya terlalu di-simplified.

Phoenix
1. Selain telah mengundang seluruh makhluk jejadian lokal ke dalam buku itu (yang merupakan keputusan yang kurang bijak, berhubung setting-nya sendiri masih ngambil-ngambil dunia barat), penulisnya juga tampaknya kurang memahami konsep ruang dan waktu di dalam ceritanya sendiri.
2. Trus si phoenix (manusia) lahirnya dari phoenix (burung) beneran, bukan? Melanggar aturan biologi banget! Kecuali ada penjelasan yang memuaskan, tapi ternyata gak ada tuh… [yawn]
3. Ide jam burung yang burungnya bisa dipanggil keluar itu sebenernya bagus, tapi sayang ketutup sama hal-hal aneh laennya.
4. Yang paling parah adalah filosofi di akhir bukunya ternyata kontradiksi sama seluruh filosofi yang udah dibangun di sepanjang cerita! Walah…

Corruption
1. Mungkin karena diterbitin sama keluarga sendiri kali ya, jadi kayaknya buku itu gak di-edit editor sama sekali. Berasa banget itu cuma suatu proyek yang dibuat si penulis buat tugas sekolahnya. Ya itu dia, karena gak di-edit, akhirnya cuma cocok buat dikumpulin ke gurunya aja. [bigwink]
2. Dari segi tema, dunia rekaan, karakter, dan plot, sebenernya corruption punya potensi besar untuk jadi sebuah series yang bagus, tapi penulisnya butuh critic group. Butuh banget, om dan tante! Jangan dimanja gitu dong anaknya! [annoyed]
3. Udah nerbitin sendiri, harganya mahal banget lagi! Memang niatnya laris atau cuma iseng doang sih?! [tickedoff]
4. Covernya jelek. Dan tulisan judul “The Corruption” model begitu niatnya apaan lagi?

Urutan penilaian gw terhadap keempat novel itu:
(Terbaik) 1. Ledgard; 2. Pinissi; 3. Corruption; 4. Phoenix (Terburuk)

Hmm… pasti pada ngerasa kesel kali ya kenapa gw dari tadi kerjanya protes melulu aja? [rolleyes]
Maap ya, kalo para penulisnya baca. Sebenernya itu karena gw punya ekspektasi besar buat penulis-penulis fantasi lokal. Gw percaya, Indonesia mampu juga koq melahirkan penulis sekaliber Tolkien, Rowling, Dahl, Pullman, Goodkind, Jordan, bahkan Frank Herbert!
Trus mana juga peran editornya? Yang jadi editor itu selama ini baca buku fantasi atau enggak sih? [ranting]
Peran penerbit buat publikasi/promosi juga kurang banget. Tapi, ini mungkin juga karena penerbit menilai kualitas bukunya kurang kali ya, jadi gak terlalu niat. Nah tuh jadi balik lagi kan, kalau memang rasanya kurang, kenapa gak ditahan dulu penerbitannya? Jadinya si penulis disuruh perbaikin novelnya sampe jadi bagus. Sekali lagi, editornya gimana sih?!

Satu hal yang membuat gw bertanya-tanya, keempat novel itu kan disebut-sebut baru buku pertama tuh, lalu mana lanjutannya sampe sekarang? Apa karena kurang laku, trus penerbit gak bersedia nerbitin lagi? Kasian dong… Berarti penerbit juga udah mengkhianati pembaca yang mungkin udah jadi fans karya-karya itu (tapi gw gak termasuk, lho [biggrin]). Kalau bener, model penerbit gitu yang gak konsisten tuh!

Jadi, itulah, kawan-kawan, alasannya kenapa gw gak belanja fantasi lokal lagi, karena takut kecewa… :’(
Kesimpulan uneg-uneg panjang lebar ini:
“Ayo, semangat memajukan fiksi fantasi dalam negeri!!!” (Lho?! :o [rolleyes] ;D)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 12:01:38 am
________________________________________
@fr3d,
asik reviewnya, ternyata emang banyak yg mengeluhkan gaya dialog metropop dalam ledgard, kesannya pan tokoh2nya jadi kayak ‘bule celup’ gitu, wakakakak…
Kalo Pinissi, emang kurang ada gregetnya dan gaya berceritanya muter2, gw juga gak suka sama kovernya (padahal ilustrasi di dalam bukunya cakep2 banged), ironis emang. Tapi mungkin karena emang sasaran pembacanya anak kecil, gaya berceritanya jadi diulang2 gitu yak :D
Kalo Phoenix emang cukup banyak pembaca yg udah komen negatif dimana2, gw sih belom baca.. Penasaran juga sih segimana parahnya :D
Kalo corruption, penasaran nih gw, ada yg bilang bagus, ada yg kagak kayak ente..
Tapi mungkin dia mahal karena kualitas kertas HVS, dan lagi kualitas kover-nya bagus banged pan?
BTW jangan salah, sebetulnya ada juga lho fantasi2 penulis lokal yg dahsyat, cobain deh baca Goran, Sang Penandai, ato Hozzo, 3 novel lokal itu masuk kategori the best dari semua yg pernah gw baca. Lagian fantasi indo semenjak era Ledgard-Pinissi-Phoenix itu, udah gak tebel2 n mahal2 amat lg kok, sekarang mah kisarannya 30-40rban.. tapi yak emang masih pada bersekuel sih ;D
________________________________________
Post by: fr3d on May 17, 2008, 12:45:17 am
________________________________________
Corruption idenya gak jelek, beneran deh. Tapi, ya sayang itu, kurang digali aja. (sotoy mode: on)
Jadinya, kayak cuma laporin resep masak-memasak gitu (analogi yang aneh nih… ;D). Itu kisah cuma dilaporin aja. Bet, bet, bet, eh… tamat… Gak ada perasaan apa-apa setelah ngebaca itu…
Karena banyak yang muji (mengapresiasi penulisnya yang masih muda), mungkin itu yang jadi sebabnya juga kenapa penulisnya begitu pede menerbitkan karyanya begitu aja (tanpa mengedit ulang kedalaman plot, unsur greget, deskripsi setting, dll. –> kalau gak salah di wawancaranya, dia pernah bilang cuma perbaikin grammar dan nambahin beberapa adegan ke proyek sekolahnya itu).
Hozzo masih di atas 50rb, bukan? (Kalo kualitasnya ok, gak pa-pa sih, hege ;) )
Kalau Sang Penandai emang waktu itu pernah tertarik beli karena baca gaya bahasanya. Hmm… ntar deh gw liat lagi di toko buku. Kalau Goran, pas baca sinopsis di cover bagian belakangnya, rasanya agak aneh gitu sama ceritanya, jadinya waktu itu udah megang, langsung dipulangin lagi ke rak…
________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 06:38:42 pm
________________________________________
@fred,
sebetulnya balik ke masalah selera ente dulu sih, ane pan baru aja nyebut stereotipe2 fantasi di halaman belakang, selera fantasi ente cenderung ke tipe yg mana?
Kalo Hozzo, mendingan authornya aja dah yg ngomong, gw udah gak berkepentingan lg disini :D
Kalo sang Penandai, cukup mengingatkan The Alchemist-nya Paulo Coelho, cuman yak kalo tema alkemis lebih oriented ke ‘kehidupan’, penandai lebih ke urusan ‘broken heart’ gitu lha, tapi kedua novel ini sama2 membahas penemuan jati diri, dan Sang Penandai alih2 disebut novel spiritual, dia malah lebih condong ke fantasi epik adventure (dan ada kolosal2nya dikid).
Sinopsis belakang kover Goran emang berkesan cupu (gw juga waktu pertama kali baca langsung jatuh ilpil pun, bayangin masa ada Pasukan Jas Hujan segala ;D), tapi serius novel ini tertolong oleh penyajian setting yg ciamik, karakter2 yg hidup, dan jokes yg gilak, gw gak pernah bosen bilang ini: Goran novel fantasi indo terbaik dari semua yg pernah gw baca (udah belasan judul), mungkin mengikuti ide Villam, nih novel bakal kunobatkan jadi best fantasy 2008 di tret ini.. [biggrin]
(dengan harapan pengarangnya kepancing masuk ke tret inih :-[)
________________________________________
Post by: clickdian on May 18, 2008, 05:07:58 pm
________________________________________
Mas Pur, ini janjiku.
Maaf makan waktu lama..

First of all, I gotta tell you that I’m not a prologue lover. Kebanyakan prolog yang aq temuin di novel2 biasanya aq skip, kecuali prolog yang cukup pendek untuk dibaca dalam waktu 10 menit, itu pun skimming. T_T sorry if I dissapoint you, but that’s me. Dari semua novelku, yang ada prolognya cuma Segara Wulan, itu pun cuma terdiri dari 100 kata.

Jadi, dengan kebiasaan jelek di atas, to find a prologue which has two sequels (all three), to be honest, aq harus baca dua kali karena yang pertama aq loncatin terus. Dan setelah kubaca aq tetep penasaran kenapa gak dibuat bab 1-3 aja? Atau kalo kisah Pendekar Garuda mau dibuat prolog, sebetulnya bisa dibuat singkat padat aja, mungkin satu sampai tiga halaman. Bukankah prolog berfungsi sebagai pengantar atau pengenalan cerita sebelum pembaca masuk ke cerita tersebut?

Ada opsi lain untuk prolognya. Kasih judul di depan, ‘PROLOG’, baru di baliknya, ‘Bagian 1, Pakulangit’, lalu kemudian, ‘Bagian 2’, dst. Kalo kuinget-inget salah satu novel seri Samurai modelnya kyk begini, prolog panjang banget sampe sepertiga novel, terus sepertiganya baru isi cerita, dan sepertiga lain epilog (novel tipe begini bikin aq mau gak mau baca prolognya, kalo nggak isinya sampe tujuh turunan gak bakal aq ngerti).
Muncul pertanyaan, “Bo, terus apa bedanya konsep prolog yang lo bilang dengan dengan konsep prolog Pendekar Garuda (PG) yang sekarang?”
Lebih rapi dan enak diliat yang jelas, dan mengurangi jumlah orang iseng semodel aq dan Rey yang melontarkan pertanyaan gak penting, ‘Prolognya kok panjang banget sih?’

Ato gini deh.. skip aja prolognya. Cerita para pendekar itu bisa dimasukkan ke mimpi Jaka, sekalian biar jadi ‘proses pembelajaran’ jaka menjadi seorang pendekar, biar dia gak langsung bleg aja jadi jagoan. (>.< duh, aq malah kegatelan ngubah2 novel orang. Punten, punten).

Okeh, gini aja. Daripada mengundang debat kusir gak jelas soal ini, mending loncat ke topik berikutnya yang jauh lebih penting. Forget whatever it was named, gak usah pikirin bab2 awal itu disebut prolog ato ngga. Kita jalan ke masalah teknis aja deh kalo gitu. Oh iya, FYI, aq lebih suka bikin review per bagian, karena dengan begitu bisa lebih menyeluruh. Mudah2an gak keberatan.

Prolog 1
Dari awal baca bagian ini, aq jadi ngerasa kangen sama buku2 yang aq baca waktu kecil. Rada laen dengan selera cewek kebanyakan, aq dulu gak cuma baca Lima Sekawan dan Malory Towers aja, tapi juga komik2 silat (kayak serial Gina-nya Gerdi WK), cerita pewayangan (bikinan Kosasih itu lho) dan Wiro Sableng (gara2 taman bacaan deket rumah buku2nya udah abis kulalap dan akhirnya serial WS ini ikut kupinjem juga, hehe). Gak cuma sekedar suka, lama2 jadi sengaja nyari, dan sempet beli beberapa, terutama komik2 wayang :P

PG punya gaya penuturan yang mirip dengan cerita2 lawas itu. Dari penggunaan bahasa sampe isilah2 baheula, kerasa banget. Dan mengingat udah jarang penulis sekarang yang menulis dengan gaya ini, kukasih jempol deh. Segara Wulan, walopun settingnya sama, gak berhasil kubuat dengan gaya ini. Selain emang gak bisa, gak pengen juga, hehehe..

Cuman... ada beberapa hal yang masih ngeganjel, yang sebenernya bisa dipertimbangkan lagi (kalo mau).

Yang pertama, karakterisasi yang kurang kegali. Aq lumayan sering koar-koar soal ini di banyak review yang aq buat, termasuk Rey dan Villam pernah jadi korban, hihihi. Hege aman, karena dia emang oke untuk hal yang satu ini.

Contoh simpel, aq masih belum bisa ngebayangin dengan jelas wujud fisik Sentika dkk itu kyk gimana. Cuma bisa kebayang samar2. Satu lagi, sifat-sifat karakter itu lebih kena kalau digambarkan dalam bahasa tubuh dan cara bicara, lho, bukan deskripsi panjang lebar dalam kalimat.

Hal lain yang lumayan ngeganggu adalah masalah tanda baca. Please tell me why did you have to put comma, dot, question mark and shout mark, all four in a row? Dan kadang-kadang tidak hanya masing-masing satu, tapi banyak.
Ada maksud tertentukah?

Next, kalimat-kalimat yang muncul dalam benak si tokoh, bercampur dengan kalimat deskripsi biasa dalam alinea. Ini harus dibedakan karena memusingkan pembaca. Kalo aq, biasanya membuat ‘suara hati’ dengan huruf miring. Di prolog 1 ini banyak sekali deskripsi, kalau bisa sebar informasi2 ini dalam percakapan singkat padat aja, jgn ditumpuk di alinea.

Hal berikutnya, alinea yang terlalu padat. Ini maksudnya bukan cuma font huruf yang besar atau halaman novel yang terlalu kecil, tapi kalimat-kalimat yang seharusnya terbagi dalam dua bagian disatukan dalam satu alinea. Jujur, aq sering pusing dengan huruf-huruf yang terlalu rapat dan kalimat2 deskripsi yang ‘berat’, akibatnya banyak bagian yang terpaksa aq skip (btw, ini bahkan aq temuin di Laskar Pelangi, dan novel sekaliber itu pun terpaksa ngalemin aq skip hiks.. maaph Bang Andrea..).

Efeknya, banyak informasi yang terlewat dan aq harus balik lagi untuk lebih memahami jalan cerita. Wasting time walopun salah sendiri. Masalah skip-skipan ini sebenernya tanggung jawab penulis. Mestinya dia bisa pake penuturan yang mengikat pembaca untuk keep reading sampe ke akhir (ini teori yang implementasinya susah bukan main >.<).

Kemudian, masalah flashback Sentika. Di awal lamunan dijelasin si kakek udah dalam kondisi sekarat dan nafasnya tinggal satu2, tapi aq heran dia masih bisa bicara sebanyak itu. Kalau dibuat kalimatnya pendek2 dan terputus2, efek misi misterius akan muncul, lho. Dan karena si kakek cuman cerita sepotong, ini akan memancing keingintahuan, ‘emang sebenernya ada apa dgn si Utusan Iblis?’. Kalo pembaca udah keiket kayak gini, dia akan terus membaca bagian berikutnya ;)

Satu lagi. Bagian flashback ini seharusnya bisa dibuat mencekam. Tapi sori, ini aq gak dapet sama sekali. Coba sisipkan deskripsi setting dan bahasa tubuh di bagian ini, dijamin kalo tau caranya, hasilnya bakal beda banget. Walopun jujur, if i were you, i will cut banyak adegan flashback yang sebetulnya gak perlu diceritakan terlalu detil, apalagi kalo ada repetisi. Or, may be I would cut them all, sorry.

Terus terang di bagian flashback ini aq rada bingung. Terlalu panjang. Tapi kalo nggak ada, sejarah terbentuknya kelompok pendekar ini bakal kegusur. Sori, aq gak punya ide gimana cara bikin bagian ini jadi lebih menarik T_T. Mungkin trik lama—menyebar info via dialog bisa membantu?

Berikutnya, masalah point of view. Di prolog jelas ada banyak pov; para tokoh plus sudut pandang si penulis itu sendiri. Untuk masalah pov ini, Villam jauh lebih baik dari aq, better ask him (#Villam, could you gimme a hand on this one?).

Bagian sajak, Cahayanya menerangi seisi limbah, gak salah? Limbah artinya sampah, kotoran, hasil pembuangan dari suatu proses. Sori, aq gak paham makna kalimat ini, baik konotasi atau denotasi.

Last, adegan akhir prolog 1 kurang menggigit. Rasanya lebih smooth kalo mereka melihat paku langit, tercengang, lalu Sentika teringat pada lontar, dan kembali ke percakapan antar pendekar garuda.

Prolog 2
You need footnote untuk kata ageman. Makna kata ini jangan simpan di alinea, it broke my continuity of reading, to be honest.

Tentang Ki Sangeti, deskripsi sifatnya udah kerasa, tapi fisiknya buatku masih blur. Hampir semua tokoh di dalam prolog, kecuali tokoh2 wanita dan gambaran Widura yang tambun, masih belum jelas buatku. Sepele banget kan? Tapi toh berperan besar dalam imajinasi pembaca.

Alinea yang terlalu panjang, sampai setengah halaman, mestinya masih bisa dibagi-bagi. Dan masalah kasta... gimana ya? Sejak awal aq dapet asumsi kalau latar dunia Sentika itu Islam, tapi tiba2 unsur kasta muncul—which is gak dikenal di Islam—dan ini bikin cerita jadi gak match. Memang hal ini dilontarkan oleh Ki Sangeti yang agamanya wallahu alam apa, tapi mestinya mereka hidup di dalam lingkungan budaya yang sama, kan? Kecuali, kalau Sentika dan isterinya awalnya Hindu, misalnya, kemudian memeluk Islam. Kalau begini, masih wajar. Mereka berdua awalnya punya kasta, tapi terhapus setelah memeluk Islam.

Prolog 3
Oke, now the battle.
Jujur aq kurang puas sama adegan battle ini. Kayak baru setengah, atau mungkin permasalahannya di penuturannya? Misal, bagian Sentika memberi isyarat teman2nya untuk menggempur si ratu lelembut, lebih bagus dimasukkan sebagai adegan dan bukannya deskripsi di alinea, karena ini membuat adegan lebih hidup.

Kemudian, tempo pertempuran, sangat cepat. Untuk ukuran Sentika (yang katanya pendekar kelas wahid masa itu) dan Ki Sangeti (yang katanya tokoh hitam yang lumayan punya pamor), cuma butuh tiga alinea sebelum jurus pamungkas Sentika keluar? Ini pun satu alinea hanya deskripsi kondisi kedua belah pihak, bukan gambaran pertempuran mereka berdua. Dan maksud kalimat ‘Tak banyak yang dapat diingat lagi setelah itu’—diingat sama siapa? Sebenarnya ini sudut pandang siapa?

Satu lagi, ‘Yang masih tergambar jelas adalah adegan terakhir saat matinya Ki Sangeti di tangan Sentika’. Kata ‘adegan’ di dalam paragraf make it sounds like watching movie or something, seperti di luar kisah. Kalau aq, kalimat ini nggak perlu. Langsung aja ceritain bagian matinya Ki Sangeti, tidak perlu repot-repot buat kalimat pengumuman seperti ini.

Toya Batara Guru, yang ada di bayanganku pedangnya Anakin di Star Wars, betul kayak gitu? Oke, permasalahan yang sebenarnya buatku ada di bagian penjelasan panjang lebar tentang senjata ini.

Belok bentar ya, soal kebiasaanku baca atau nonton Naruto (don’t get me wrong, di dalam Naruto banyak ilmu yang bisa kuambil untuk menulis. Makanya aq lumayan intens ngikutin serial ini). Kubilang secara plot, karakterisasi, battle story, Naruto bagus. Tapi ada kebiasaan OOT di saat battle, dan itu ngeganggu. Misal pas Sasuke lagi tempur seru ngelawan Orochimaru dan Orochimaru tiba2 nyebut soal Itachi (kakaknya Sasuke), adegan tiba2 aja flashback ke bagian Itachi dan Sasuke belajar ngelempar shuriken, terus Sasuke digendong pulang, terus keadaan makan pagi di rumah Sasuke kecil, terus Itachi diciduk petugas keamanan setempat, terus satu klan keluarga Sasuke dibunuh Itachi, terus kehidupan Sasuke kecil yang jadi sebatang kara, barulah setelah itu adegan kembali ke Sasuke yang berdiri terengah-engah kelelahan menatap Orochimaru yang sedang merapal jurus pamungkas. T__T

Dan ini aq dapetin di Toya Batara Guru. Mungkin penjelasannya nggak perlu panjang lebar dengan ‘versi sejarah’, akan lebih mencekam kalau langsung aja dipraktekkan oleh Sentika yang menebas sebatang pohon yang tumbuh di dekat mereka. Kan keliatan tuh dahsyatnya si toya. Kalo gini kan tinggal disebut Ki Sangeti jadi rada jiper juga tuh ngeliat kesaktiannya.

And btw, tentang Sentika yang mencari Ki Sangeti yang asli (dari klonnya yang bejibun itu), terus terang aq pengen tau gmn caranya. Kalo di Naruto ilmu membelah diri ini ada, dan cara mencari yang asli juga diceritain gimana, jadinya cerita absurd itu sounds make sense. Bukan maksudnya bandingin, hanya saja kalau kesaktian Sentika ini diceritakan lebih detil akan .?lebih meyakinkan, dan pembaca lebih respek sama dia

Muncul pertanyaan: “Hei, ini kan fiksi fantasi, terserah dong mau tulis apa aja!”
Masalahnya, fiksi fantasi sebenarnya bukan melogiskan yang tidak logis, tapi membuat hal yang tidak logis jadi terasa logis. Jadi hal-hal yang tidak penting dan sepintas nggak perlu kayak detil di atas, tetap dibutuhin dalam pembuatan novel fikfan. Siapa bilang bikin novel fikfan itu gampang? Ngayal aja gak cukup T_T

Terakhir, ending prolog 3. Kurang crunchy. Rasanya kayak ‘This is the end and that’s it’. Sebenarnya ini justru bagian yang paling penting, karena harus menghubungkan pembaca dengan isi novel yang sepintas kuliat udah pindah waktu. Ikatlah pembaca di bagian ini, sehingga dia penasaran untuk pindah dari prolog ke isi. Bukannya gak bagus, cuma kurang greget.

Inilah kenapa kubilang masukin aja bagian2 Sentika ini langsung ke bagian Jaka. Bakal lebih menarik, pinter2 aja raciknya.

Isi
Wadoh, Sentika dkk ternyata cuma mimpi Jaka, toh?

Di bab satu ini sejak awal udah keliatan ‘pindah dunia’ dengan pengubahan cara bertutur dari yang ala Wiro Sableng ke teenlit. Kalo boleh share pengalaman, sebetulnya ‘menulis ala teenlit’ cukup di bagian dialognya saja. Narasinya tetap pake bahasa EYD. Karena aq liat jadi nggak konsisten, ada narasi yang ala teenlit, dan ada yang ala EYD.

Masalah kedua, ini jadi bikin aq pengen tau, sebenernya Pendekar Garuda ini target pasarnya siapa, ya? Pembaca teenlit, atau pembaca dewasa? Karena dua gaya penuturan dalam satu novel membuat rancu mengenai segmentasi pasar.

Oke balik ke review. Di sini masih banyak alinea2 yang terlalu panjang dan masih bisa dipotong supaya lebih singkat dengan maksud yang sama. Deskripsi karakter lebih bagus jangan ditumpuk di awal, kecuali terpaksa. aq liat masih bisa diselip2kan di tengah cerita.

Satu hal yang aq liat agak aneh. Aq pernah ngalemin beberapa kali berada di tengah tawuran, dan setauku cewek gak pernah ikutan tawuran, walaupun dia yang jadi penyebabnya. Cewek secara naluriah akan menyingkir, gak peduli siapa dia dan apa jabatannya. Jadi ngeliat Rani, Ratih dan Siska tetep ada di ‘medan pertempuran’, jujur aq heran. Kalaupun terpaksa harus ada di sana (seperti yang pernah aq alamin), cowok2 di sekitarnya nggak nantangin dia. Tapi ya sudahlah, pengalaman tiap orang bisa beda.

Kemudian, masih banyak kalimat2 yang tidak efektif, spt 'Topo dilarikan ke UKS (sambil berlari sendiri)'. Kalau dia bisa berlari sendiri, kenapa dilarikan? Gimana kalo kalimatnya, ‘Mereka berlari membawa Topo ke UKS, yang untungnya masih bisa menggunakan kakinya’?

Lalu huruf italic di tengah tanda petik-->apa bedanya dengan yg di luar tanda petik?

Soal ‘alam lain’ yang dimasuki Jaka cs saat bertarung dengan lelembut, masih belum jelas di bab ini. Tapi satu hal, fact bahwa mereka adalah keturunan Pendekar Garuda terlalu mudah terungkap. Lebih pas kalau mereka tahu hal ini setelah ketemu Sentika dan dijelaskan olehnya—ini dengan mengabaikan kebetulan2 yang ada ya, bahwa tiga dari lima keturunan Pendekar Garuda ada di lingkungan yang sama dan bahkan Kitab Lontar tahu2 ada di tangan ibu Jaka.

Oke, overall, sebetulnya ceritanya sudah mengalir, hanya masih perlu ramuan yang tepat untuk menyajikannya. Masalahnya di cara penuturan. Oh satu lagi, sepele banget tapi menghambat proses membaca, EYD dan tanda baca. Walaupun ini sebenarnya akan dibantu editor, nggak ada salahnya kita penulis tahu, kan? :)

Mudah2an bermanfaat, dan mengeluarkan omong kosong panjang lebar ini nggak berarti tulisanku sendiri sempurna.
Btw, gandrik itu siapa ya? :D

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 18, 2008, 06:25:46 pm
________________________________________
Thankyou, thankyou, thankyou (sambil membungkuk bersoja tiga kali)
Kumplit, dan thorough. Akan butuh waktu untuk menyimak (pelan-pelan) dan mempelajari saran-saran kamu serta membandingkan dengan part yg sedang dibicarakan. Tapi, wow. Sungguh beruntung saya bisa dapat masukan ini. terima kasih.

Dalam rangka prolog, saya mulai paham maksud Dian, walau memang tak mudah untuk begitu saja merubah apa yg sudah ditorehkan bertahun-tahun, yg udah kubaca (kuedit) berkali-kali. Tapi seriously gue pertimbangkan untuk merubah angle Prolog ini semaksimal mungkin, mengingat komentar senada cukup signifikan. Great challenge, sih, aku tahu (merinding, bisa gak ya?). BTW, sudah baca versi alternate dimana Prolog dan bab diselang-seling? bagaimana komentar Dian? (eh kalo belum gue kirim by PM dah, sekaligus yg lengkap sampai the End).

EYD? :-[ hehehe malu deh. Harus kuperbaiki lagi. Hayuuk!!

LIMBAH? Typo kali ye,… maksudnya pasti LEMBAH. Emang, sewaktu diketik ulang oleh beberapa siswa SMK, cukup banyak typo terjadi di banding versi hardcopy. Tapi bisa mendigitalisasinya aja gw dah bersyukur banget. Sampai sekarang saya masih menyisiri seteliti mungkin, tetep aja masih ketemu 1-2 typo atau hilang kata.

Hmm,… Siska jelas akan berada di sana, sebab dialah Ketua geng keamanan, dan dia akan dengan senang hati berkelahi dengan siapapun yang menantangnya.
Rani, memang sifatnya berangasan dan gelap mata,… hehehe.
Ratih, kalo dia memang jauh lebih suka menyingkir,… cuma gimana dia lari kalau dua sahabatnya terlibat di sana?

Kenapa seperti kebetulan? Mestinya sih semuanya terungkap di akhir cerita. He he he,.. tapi point kamu clear. Mana ada yg bakal sampai ke akhir cerita kalau di bagian awalnya aja udah ngga engaging?
OK, time to rework.
Terima kasih Suci Dian telah berkenan memberi beberapa petunjuk kepada Teecu.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 19, 2008, 02:43:31 pm
________________________________________
@om pur.
Akhirnya beres juga ane baca PG full version pagi ini.. hehehe semalem begadang gak sanggup beresin :-[
Oke, ane gak bakal ngomongin masalah prolog, bilangan 666, dan gaya bahasa lagi dah. Kita concern ke hal2 yg belom dibahas aja yak (bahasan yg di review ane sebelomnya, tentu).
Dan tentu karena ini review, bakal ada bbrp poin yg jadi SPOILER.. so bagi pembaca lain, skip aja tambahan review ini kalo ada yg belom beres baca PG dan ada niat ngelanjutin baca.

1. Masalah tanda baca
Khusus yg ini ada dua macam yg mau ane komen:
*)Pengulangan tanda baca
Seperti yg pernah dibilang clikdian entah di mana, misal untuk kalimat pertanyaan, mau pake tanda tanya sekali (contoh: apa?) atau tiga kali (contoh: apa???), maknanya bakal sama aja. Kalo ente ingin menggambarkan betapa terkejut atau penasarannya si tokoh yg bertanya itu, kurasa akan lebih bagus kalo dibikin dia mengajukan pertanyaan beruntun/repetitif aja. (contoh: Apa? Kau yakin?)
Ini juga berlaku buat kalimat perintah/seruan (!).
**)overdosis tanda baca
“Eh,… makasih ya Bun,…”
PLAAAAAAAKK,…!!!
Jangan pernah bikin kalimat dengan dua/lebih tanda baca sekaligus kayak begini>_<
Yang paling sering itu orang bikin kalimat berakhiran ‘?!’ untuk pertanyaan dalam keadaan emosi tertentu, dan yg satu itu masih bisa diwajarkan karena emang udah jamak dipake.
Tapi untuk variasi-variasi dua/lebih penggunaan tanda baca dalam PG, kurasa itu cukup nyeleneh, at least clickdian juga protes beginian, heheheh.

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
“Gue mau tidur dulu sekarang. Eh kamu mau keluar kan? Aku boleh pesen beli sesuatu ke elu gak?”
Kalimat di atas gak ada di PG, tapi ada bbrp kalimat semacam itu di PG, banyak malah, heheheh..
Orang yg mengatasnamakan dirinya ‘Gue’, idealnya manggil temennya ‘lu’, dan orang yg mengatasnamakan dirinya ‘aku’, idealnya nyebut temennya ‘kamu/kau’. Jangan diputer2 yak, kurasa akhirnya ketemu juga letak kejanggalan gaya bahasa anak jakarta di setting Jaka, ya itulah menurutku :D
terus ada juga yg dikali pertama seorang tokoh pake ‘aku’, di lain kalimat pake ‘gw’.. ada juga yg nyebut ‘elo’, di lain kesempatan pake ‘kamu’, padahal masih ditujukan ke orang yg sama.. menurutku ketidakkonsistenan gw-elu-aku-kamu ini bakal cukup mengganggu pembaca.

3. Scene cutting
Kayaknya kita menganut aliran yg berbeda nih om, heheheh.. Kalo yg gw liat di PG, setiap scene2 peristiwa ‘seru’ yg berhubungan pasti terus dirangkai jadi satu kesatuan, sambung menyambung sampe pembaca terpuaskan pada satu titik jawaban. hmm.. sebetulnya ini prerogatif pengarang sih, tapi menurutku betapa asiknya kalo kita sebagai penulis, bisa ‘menyiksa’ pembaca dengan menyisipkan scene2 lain yg tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasan scene ‘seru’ sebelomnya. Jadi scene-nya dipotong2 ala genre suspense/thriller gitu lho. Kan asik aja bisa bikin pembaca gregetan, hehehehe
Tapi emang pilihan teknik memotong cerita ini gak gitu vital2 amat sih, cuman yak bagi pembaca yg udah terbiasa baca novel2 Dan Brown, pasti bakal ngerasa agak gimanaaa gitu sama gaya penceritaan yg ‘lempeng’ kayak begini..

5. Pemilihan kata
Mahisa Ganurawang segera melompat tinggi, dan dengan keren ia melayang bagaikan terbang menuju ke arah gelaran pasukan kerajaan lelembut.
‘Keren’-nya itu lho!
Entah di dialog, deskripsi, atau narasi, suka muncul kata2 ‘ajaib’ semacam itu. Dan ada juga beberapa judul bab nyeleneh semacam ‘Naik Kereta Api Tut Tut Tut’, ‘T.O.P. B.G.T’, dan beberapa lainnya yg ngebikin gimanaaa gitu.
Tidak begitu vital sih untuk keseluruhan bangunan cerita, tapi cukup mempengaruhi konsistensi bahasa dalam novel ini.
oke, cukuplah masalah teknik penulisan/EYD/tanda bacanya, hehehehe..

6. Sekarang kita masuk ke plot,
-)Plot bikinan ente mengingatkan ane ke plot Naruto, terutama pas konflik Penyerbuan Orochimaru ke Desa Konoha. Dan sejujurnya, walopun gw kagak berselera sama sekali sama settingnya, dan cukup tersiksa malah sama gaya teenlit-nya di awal-awal, hueheheh (ini subjektif sekali, tentu), akhirnya gw mesti mengakui, plot yg ente bikin cukup asik (dan kurasa, ‘keasyikan’ novel ini lebih cocok ditargetkan ke anak smp-sma). Terus terang setelah melewati gaya bahasa teenlit yg ‘parah’ di bab2 awal, gw mulai bisa mengikuti aliran ceritanya, dan bahkan sampe pada tahap menikmati karena ‘terikat’ pada plotnya. Yah karena itu tadi, mungkin karena sedikit banyak genre PG ini mirip2 genre Naruto, salah satu judul anime favorit ane.. :-[

sedikit OOT:
hehehe, gak usah malu sama umur om (istri dan anak pula ;D), tapi ane (dan ane percaya clickdian juga) mau suggest: ente coba simak anime/manga Naruto deh, serius, untuk genre silat yg ente usung ini, banyak ilmu yg bisa dipetik dari Naruto. Mumpung besok libur panjang… buruan cari dvd-nya di glodok gih! ;D
BTW, sedikit intepretasi iseng antara PG dengan Naruto:
(sengaja ngebandingin pake moyangnya biar gak spoiler)
Sentika – Sasuke/Naruto
Widura – Akimichi Chouji
Rangga – Hyugaa Neji
Anggraini – Tenten
Pramesti – Sakura
Ki Sangeti – Orochimaru banged (kepala copot-nya itu lho! :D )
Robbi – Garra
Okee, okee, cukup OOT-nya, lanjut ke PG. :P

-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.
(BTW, yg bikin ane tertarik (dan cukup menikmati) untuk terus lanjut baca Pendekar Garuda adalah aroma ‘detektip2an’–memprediksi siapa gerangan yg jadi keturunan tokoh2 masa lampau itu–itu bagus, walaupun sebetulnya semua tokoh bisa dengan gampang ane tebak keturunan2nya dari siapa aja, kecuali si Jo gara2 atribut bataknya ;D)
BTW, orang gak tidur selama seminggu aja dijamin koit om, 1000 jam? Yeah, walopun Jo keturunan pendekar sakti, at least ente jabarin fact itu supaya reasonable bagi pembaca.. Misal hal ini terungkap waktu si Jo (entah gimana caranya) kebetulan baca artikel dari internet yg nyebut daya tahan orang begadang sewajarnya adalah cuma beberapa hari, dan betapa ia tidak mengerti menemukan dirinya sanggup begadang jauh lebih lama dari yg sewajarnya: Kok gw bisa gak matik, dan masih seger sampe sekarang?
-) Kebalikan dari komen Clickdian, menurutku adegan2 battle di PG malah kepanjangan, terlalu detil (gileee bener adegan battle final-nya: dari Bun Vs Monster ijo, disambung Robby Vs Jo, Ratih Vs Ki Sangeti, terus yg paling panjang, Kelima pendekar garuda vs Ki Sangeti-Suromenjani-Utusan Iblis. What a long journey! :D )
Tapi emang sebetulnya ini wajar juga sih, secara tipe fantasi yg diusung silat.
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

OKeh.. i’ve finished for all of these inputs & critics, now lets talk about the positives. (yg ente tunggu2 nih ;D)
-)Sekali lagi, bangunan plotnya emang cukup kuat. Gw jadi ngerti kenapa ente mencak2 banged nanggepin plot Hozzo, hueheheheh. Perencanaan plot emang cukup matang, walaupun sebetulnya ini mengakibatkan beberapa adegan di depan jadi cukup mudah ketebak.
-)Begitupun karakterisasinya. Yahh, cukuplah. Jaka yang kadang bijak kadang dongo (ini istilah dari Rani, hahah gw suka!), Rani yang ceplas-ceplos dan beringas, Jo yang berandal tapi cool, Ratih yang lemah lembut dan cerdik, Bun yang kalem dan humoris (walo humor2nya cenderung garing bagiku): kelima tokoh itu emang udah keliatan perbedaan dasar sifat2nya. Cool, & good job.
-)DAN walaupun disini gw dapet kesan betapa Jaka begitu naif dan tolol (gampang banged dirayu Prasti), gw salut ente bisa menciptakan karakter2 yang ‘manusiawi’, maksudnya jauh dari titel sempurna gitu (Tapi ini cuma berlaku untuk keturunan2 kelima PG itu–Sentika malah keliatan too perfect). Gw selalu eneg baca novel dengan tokoh protagonis yang terlampau sempurna, untungnya PG gak ikut2an pakem itu.
-)Muncul juga tokoh2 baru semacam Mahisa Ganurawang untuk mengecoh pembaca memprediksi keturunan Rangga, dan Gagak Prabaketu untuk menjadi penolong pihak putih secara tak terduga-duga, itu bagus.
-Namingnya (baik untuk tokoh2, jurus2, tempat2), walaupun bukan selera gw, patut gw acungi dua jempol. Emang pas banged sama bangunan Setting Jawa Kuno-nya.
-)Adegan cinta monyet Siska-Jo, Tongpes-Olga, dan percekcokan geng Seksi Keamanan terhadap Olga juga lumayan asik diikuti.
-)Walaupun gw dapet kesan over-dramatis, adegan-adegan emosional kayak: Prasti ngecelein Jaka, Jaka ngusir Ratih, Olga ngusir Jo, persidangan Jo, cukup membangun aspek emosi pembaca dalam novel ini. Good job.
-)Beberapa Ide & Background, seperti teknik Mawar Kematian & Dewi Kebajikan itu boleh juga, cool. Ide Formasi Garuda-nya juga keren. Terus bagian di mana Bun menghadapi monster yang sengaja dirancang untuk menangkal kemampuan dirinya, dan betapa Rani kemudian dapat membinasakannya dengan mudah, itu juga keren. I like it.
-)Walaupun awal2 PG pake background Islam, gw menemukan content PG ini cukup universal, layak dibaca semua umat lha. Ada tokoh Johannes Pasaribu yang notabene Kristen, dan gimana ente dengan kocaknya mengungkapkan itu pas keadaan genting di mana kelima PG ingin mencoba merapal ayat Quran untuk mencegah Utusan Iblis turun ke bumi, itu menarik.
Dan tentu, gw seneng di sini ente kagak terjebak ego pengarang2 fanatik geblek dengan tidak mengkonvert agama yang dianut Jo di akhir cerita. Sip dah. Salut berat dari seorang pembaca Nasrani!

n.b:
OOT dikid, eh kalo ane liat2 keknya ente cukup tahu istilah2 perkempingan, sleeping bag, parafin, tenda peleton.. kurasa cuman orang yg pernah kemping aja yg tauk istilah2 itu, huheheheh.. emang ente pernah kemping dmn aja?
Desember 2007 kmrn ane kemping di kandang badak, tapi gak nyampe puncak gunung gede gara2 tepar duluan, kena ujan, becek, gada ojek… :-[

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi IX (5 Apr 2008 – 16 Apr 2008)

  • Bagaimana sebaiknya novel fantasi kita?
  • Tentang Candi Murca karya LKH
  • Lagi, tentang Prolog
  • Sedikit cuplikan Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 05, 2008, 08:18:57 pm
________________________________________
@Bloodsin, for the reviews,
Right on, bro. Thanks atas kadonya :)
I see our POV gak selalu sama, tapi kita kan bisa saling melengkapi (apa sih).

Untuk Ledgard, rasanya gue sangat setuju. “Bule Celup”,… hehehe,.. kena banget. Itu sebenernya mark yg sudah lama ingin ku-ekspresikan tapi lama gak nemu istilah yg pas,.. Novel Ledgard sebenernya promising, tapi dia punya suatu kekurangan yang menyebabkan ceritanya menjadi nggak terasa ‘ngek’, gitu. Untuk yg satu ini, gue bahkan berhenti baca di pertengahan buku dan ngga ada hasrat ngelanjutin lagi.
(Makanya Ledgard ga ada reviewnya di gue,.. heheheh. Tapi pikir-pikir jadi pengen buka lagi tuh buku)

Zauri, pengen baca, tapi koq rasanya ga pernah liat judul ini di toko buku ya? Sama kayak Cardan,.. ga pernah liat juga.

Untuk Cardan setelah liat covernya, tumben keren,…. ??? Sub judul Hinkal Core, juga menjanjikan sesuatu. Tapi review kamu udah obyektif bilang bahwa penamaan tokohnya kacau. Dan gua akan setuju banget kalau itu bakal menjadi letdown factor.

Lemuria,…?? Bisa dibeli dimana dong? ;) ;) ;)

OK, happy writing, semuanya.

FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 06, 2008, 07:48:20 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am

-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)

Sedikit koreksi mengenai Skinheald.
Sebagaimana udah kutulis juga di blog review gue, Skinheald 1 hardly called Buku 1, soalnya itu bener-bener hanya semacam prolog yang dicetak terpisah. Inget buku-buku Sapta Siaga? Nah, Skinhelad 1 cuma setebel itu aja, dengan konsep penceritaan yang juga belum utuh.

Tapi salutation tetap berhak disampaikan pada Ataka, sebab kalau buku 1 dan buku 2 digabung pun, akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang merupakan sebuah buku tebaaal,.. yang diselesaikan oleh seorang anak usia sebelas tahun. Gue yakin di antara kita aja yang nota bene udah lewat dari usia 11 tahun (bener gak?), pada usia yg sama belum ada yg mampu membuat sebuah cerita utuh dengan kualitas menyamai Ataka punya,… hehehe,….

Persoalan sekarang tinggal masalah produktivitas. Konon akan ada sekuelnya lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar (Ataka seperti tenggelam. Lagi sibuk ujian, kali?).

Tapi mungkin juga tema Fantasi panjang (tebal) merupakan tema berat buat ditulis oleh pengarang remaja (gak usah pengarang remaja, yg tua aja ngos-ngosan,.. :( ). Contoh seri Eragon, sampai sekarang buku 3 setelah the Eldest masih belum muncul. Padahal kalo bicara bisnis, terlalu lama jeda antara serial akan menyebabkan penerbit kehilangan momentum, dan pembaca keburu kehilangan excitement.

Kalo dipikir-pikir begitu, berarti emak JK Rowling emang bener-bener top ya? Bisa menyelesaikan 7 bukunya dalam rentang waktu yang cukup berdisiplin (setahun sekali), sementara seluruh dunia menunggu. (Kalo udah gitu, God,… gue bener-bener pengen bercita-cita serius jadi penulis sejak muda, hehehe).

FA Purawan

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
________________________________________
@villam,
haduh diposting disini lg review-nya kan malu bang, ada om FA Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
But eniwei TQ banged dah buat segala masukannya–terutama untuk adegan2 kemunculan Esther yg terpisah terlalu jauh–i’ll fix it.. ;)
sekali lagi, TQ, ente udah mau ngebacak versi lemuria yg masih superamburadul ituh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Gak usah dibaca ulang lg deh bang, secara, versi yang ente baca ama versi yg sekarang ada di kompie ane dah lumayan berubah n dipermak di mana2.. (hehe..contohnya, karakter Guillarde udah gw pecah jadi dua orang :D )
Judulnya aja udah bukan Lemuria lg :P
eniwei, ga ada komen buat review keji Cardan gw? ayo donk bantah satu-dua statement gw.. biar nih tret bermutu dikid :P

@clickdian,
ada yang nyari Zauri tuhh :P

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D
________________________________________
Post by: hege on April 06, 2008, 05:18:42 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 06, 2008, 08:11:14 am
Quote from: hege on April 05, 2008, 02:59:16 pm
temen-temen, (promosi) portfolio untuk artwork-artwork terbaru hege bisa dilihat di sini http://hege.cgsociety.org

Gambar-gambar Hege itu selalu dahsyat, Fantasy banget.
Heg, gue belum bisa angkat topi buat penulisan novel Sci Fi (whatever istilahnya, deh, hehehe) ente, improvement on the way, I believe, dan gue anxious to see them :) . Dalam hal ini gue berseberangan sama BloodSin, rupanya :p
Tapi gue takluk dan nyembah-nyembah untuk seni illustrasi elo, terutama yang baru-baru. :-*
Cocok banget buat ilustrasi Fantasy. Soalnya gambarnya gak sekedar gambar. Selalu ada aura kisah di dalamnya, sehingga bahkan dari ngeliat satu gambar aja udah bisa ‘keluar’ sebuku novel, atau setidaknya satu bab novel,… hehehe.
BTW, elo gambar pake Photoshop, berarti pakai tablet PC gitu dong? Kalau pake mouse,…. sakti banget, dah.
Salam,
FA Purawan

yeah begitulah, masih di bawah umur hege belum mentok lah tulisannya, masih mencari gaya tulisan yang pas, juga genre yg cocok, jadi improvement selalu akan dan sedang berlangsung, dan jelas hozzo bukan masterpiece-ku, tapi belum yakin juga akan menulis buku-buku keren di masa akan datang.

Mengenai ilustrasi, yak, itu salah satu kesibukan hege belakangan ini, sampai-sampai beberapa tulisan terlantar menyedihkan. Masih menunggu wahyu agung dari alam semesta raya yang bisa membuat semangat menulis membara lagi, heheheh. Btw, iyak hege make photoshop CS2, dan bermodal mouse kecil yang menyenangkan, jadi ga berharap bisa banyak brushing detil dengan aneka warna, dengan mouse hege hanya bisa memakai beberapa warna dengan setuhan-sentuhan brush ala kadarnya. Hasilnya tak begitu jelek kan? (jadi pengen pc tablet atau Wacom)

Oh ya mas, hege tak berhasil membaca ceritamu yang Pendekar Garuda, hege baca sedikit sih yang di group, tapi tak bisa melanjutkan baca karena beda selera jauh banget yak. sorry :)
Tapi sekarang masih nulis kan, mas? umur toh bukan masalah, kapanpun kita bisa menulis cerita, setidaknya sampai kita kehilangan akal sehat, heheheh.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: cheppy70 on April 07, 2008, 08:44:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm

@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. ;)

Done! PM aja berapa duit aku mesti tebus. Termasuk dengan ongkos kirim ke area Pancoran Jakarta Selatan dengan TIKI ONS (yg satu malem itu. Kalo yakin bisa sampai satu hari dengan TIKI biasa sih oke juga). Aku bisa transfer pakai BCA atau Mandiri. Kasih tahu no rek mu aja.

Tapi bukannya masih sampeyan baca?

Quote
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya :D ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D

Hmm,… let’s see, my friend, let’s see,….. :)

Quote
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?

Secara gue belum menyelesaikan Ledgard, maka komentar gue tentang Ledgard masih belum finish (kayaknya gue akan bikinin reviewnya aja deh sekalian). Tapi so far yang bisa aku katakan adalah kenapa gue baca Ledgard sampai segitu lama gak selesai-selesai.
(Biasanya gue termasuk gigih baca buku. Kalaupun dari sisi gaya atau cerita kurang cocok, tetep gue usahakan diselesaikan walaupun harus makan waktu berbulan-bulan. Makanya khusus Ledgard ini termasuk langka buat aku).

Sebenernya Ledgard itu, seperti gue sempat bilang, cukup menjanjikan. Perjalanan Plotnya so far sebenernya bagus dan terencana dengan baik. Beberapa konsep universe-nya sekali lagi cukup menjanjikan. Misalnya kapal kapal yang melayang (Kayak Final Fantasy series), Sihir 5 unsur, dll, sebenernya cukup membangun universe yang solid, lah. Detail juga patut dipuji. Kekurangan, seperti yg elo udah bilang, adalah unsur bule Celup-nya itu. Tapi kalo gue mau jujur, dalam naming convention Ledgard ini malah udah lebih baik dari Skinheald, atau mungkin juga Cardan. Aspek ilustrasi, standar lah, nggak terlalu mengesankan gue.

Satu kelemahan Ledgard buat gue adalah dalam manajemen tempo. Membaca novelnya adalah seperti mengayuh sepeda dari Cibubur sampai Ancol :’( Alias panjang, santai, dan mendatar. FLATLINER! (eh, asyik nih, kayaknya statemen ini bagus buat review,…hehe). Bukannya nggak ada action scenes, sih, tapi gimana ya? Kayaknya pengarang menganut falsafah seperti orang Jogja, alias jalan pelan-pelan dan biarkan problem datang ke saya bukan saya datang ke problem. Malah gue sebagai pembaca jadi gak sabar! hehehe,… (yg orang Jogja maap yak ;D)

Nah, kalao mau dibandingkan, maka Ataka justru lebih mahir mempertahankan tempo dan ritme. Dia bisa menciptakan ketegangan-ketegangan kecil dan klimaks-klimaks yang membuat pembaca betah membaca novelnya. Sebagai informasi, gue baca novel Ataka kira-kira dalam waktu seminggu. Baca Ledgard? Udah berapa tahun, yaks? Hehehe,……

Lain-lain mengenai Skinheald, aku rasa udah cukup terwakili dalam review gue:)

Quote
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. :D ;D ;D

Ha ha ha,.. ;D ;D ;D, Masa ente takut sama biawak?? lagian komentar gue mah gak perlu dipusingin. Komentar editor/ penerbit, kan bisa lain dan justru lebih ‘mematikan’, hehehe.
Satu filosofi biawak: Biawak cuma bisa makan nyamuk. Kalau ente memang Macan, maka biar biawak berkoak-koak kayak apa, juga, ente sejatinya tetap Macan. So, keep your faith with you (and ur writings!).
Moga-moga sukses!

FA Purawan

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 08, 2008, 12:30:32 pm
________________________________________
Ledgard emang sip aturan tata namingnya, tapi kalo buat selera naming dalam Ledgard, ane kurang suka.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Hmurrdar Jaar, Nraam, Himraur Darru
C’mon, seharusnya penulis fantasi bisa lebih baik dari itu bikin nama. Kebanyakan penulis fantasi indo (kayak penulis Cardan juga), bikin/milih nama lebih mengandalkan aroma ‘aneh bin ajaib’ daripada keindahan/’ketepatan’nya. Sejauh ini, dari semua fantasi lokal yang pernah ada, gw paling salut sama NAREND buat tata namingnya.. (yg ini ente juga udah baca tah, om? kok tak ada komen/review?)

Alur Ledgard emang lambat, gw juga sempet berhenti baca saking bosennya (baru tamat ampe berbulan2). Ini cukup aneh, secara tipe Ledgard itu RPN–genre fantasi yang amat bertendensi buat ngebut.
BTW gw baru tauk Ledgard ini edar lagi taon 2007 kemaren lho, keren juga eksis dari taon 2006…2 taun euy. BTW lagih kayaknya dari semua fantasi lokal, Ledgard ini yg paling populer.. mungkin karena cetakan pertamanya yang 5000 eks–CMIIMW. Ini ada bbrp link yg ngomongin ledgard,

http://www.goodreads.com/book/show/1396766.Ledgard_Musuh_Dari_Balik_Kabut

http://perca.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2005_m-12_d-30_y-2005_o-0.html

http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/

(yg ini saingan sama yahoogroupsnya si om FA Pur :D )

@om FA Pur lagih,
oom, ane yg notabene sejiwa sama ente (dalam bidang ‘pemburu’ & komentator novel2 fantasi lokal :D ), udah baca semua review2 maut ente–khususnya review novel2 fantasinya. :)
Hampir semua dibabat abis ma ente yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
untuk beberapa poin, ane bisa sepakat ama komen2 ente…hehehe.. ;)
tapi novel goran yg ane puji abis2an aja, kayaknya masi belum berhasil menaklukkan selera & standar fantasi ente yak…
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 08, 2008, 03:22:15 pm
________________________________________
Yaaah, kalo ada ditoko buku sih udah gue beli. So far belum nemu tuh? Udah ada budget khusus buat beli buku tiap bulan. Tapi berhubung novel Fantasy lokal jarang, ya yg kebeli kebanyakan novel2 terjemahan :(
Ya gue akan keep looking aja dah.

Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Memang gue juga kurang suka dengan hasil akhir (nama)nya. Terutama justru NASH, hehehe,.. gak mengesankan karakter apapun. Tapi di titik ini gue memuji prosesnya, bahwa pengarang menyadari perlu suatu konsistensi dalam penamaan tokoh dan tempat.

NAREND udah baca, agak lama sih berlalu, makanya gak kubikin review. Tapi Gue setuju juga bahwa tata naming Narend yang paling bagus, setidaknya paling natural. Tapi hal itu mungkin lebih disebabkan setting yang masih semi Fantasy, alias masih ada paralelnya dengan dunia nyata.
Satu hal di Narend yg gue nggak sreg, plot bagian depannya udah cukup memikat dan realistis, tapi endingnya jadi ngga terlalu believable. Udah gitu ngegantung, kan? Seinget gue para tokoh balik dari kuil harta itu, tapi perjalanan belum finish tapi cerita udah di finish-kan oleh pengarang. Jadinya seperti ending tidak pada tempatnya,… hehehe,…

Quote
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???

Wah gimana yah? Kalo ditanya gitu gue malah bingung. Secara gue lahir sebagai tukang cela sehingga apa-apa jauh lebih mudah mencela (ya toh?), daripada menyebutkan saran terbaik. Wong bikin (dengan tangan) sendiri aja hasilnya belum tentu seperti idealisme (di kepala) sendiri, ya gak?

Tapi yang gue ‘tuntut’ dari sebuah Novel (terutama Fantasy) sebenernye ‘sederhana’. “Jadikanlah aku larut dalam Duniamu!”. Jangan jadikan aku bertanya-tanya (karena ada yg nggak jelas atau nggak logis), mengerenyitkan kening (karena sesuatu yg terasa janggal), jangan ‘tarik’ aku keluar dari Duniamu karena justru untuk ‘hidup’ di dalamnya lah aku memilih buku Fantasy, bukannya Chiklit :D .

Dengan requirement sesederhana itu, mestinya sih beberapa sendi-sendi bangunan novel harus kuat, ya? Kalo plotnya ngga genah, gue akan sulit menikmati alasan-alasan tindakan maupun pikiran para tokoh. Kalau setting-nya nggak solid, gue akan sulit bertahan di dalam dunia yang diciptakan pengarang. Kalau tempo-nya ga ‘engaging’, mungkin gue akan sibuk bikin lagu sendiri :) . Kalo tata bahasanya ngga konsisten, bisa jadi gue akan terlempar dari alam fantasy ke dunia lain >:( Even becandaan (humor) yang ngga pada tempatnya pun akan mengalihkan mood dari seharusnya. Gue sendiri nggak akan memaksa pengarang untuk punya pikiran yang searah dengan gue. Kalo gitu berarti gue nggak akan bisa masuk ke dunia ciptaan pengarang ??? Tapi sebuah karangan yang baik tentunya punya satu kekuatan yang menyebabkan orang bersedia ‘masuk’ di dalamnya dengan sedikit atau tanpa resistensi sama sekali.

Kenapa dunia Harry Potter bisa dicintai orang banyak? Menurut gue ya kemampuan melarutkan pembaca itulah. Kenapa Laskar Pelangi bisa digandrungi orang banyak? (bukan novel Fantasy, sich. Tapi sekedar contoh mengenai novel yg booming, aja) karena orang bisa larut, terpesona, tertawa atau menangis bersamanya (Gue sangat ‘terbawa’ di bab Mahar mementaskan tarian Afrika dengan bubuk gatal itu,… dahsyat, man).

Kadang gue ‘mikir,…. apakah mungkin dunia kepengarangan kita masih eforia dengan genre fantasy, sehingga menyangka bahwa untuk bikin Fantasy cukup dengan mengarang nama-nama aneh? Sejatinya untuk bikin pembaca bener-bener percaya dan larut, itu gak mudah. Kuharap,… kita bisa sama-sama meraih keterlarutan ini (busyet jelimet) dalam karya-karya yang kita hasilkan!
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
________________________________________
@All,
Allow semuanya, selamat pagi :)
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

Pertanyaan saya adalah mengenai genre Novel ini, apakah bisa dimasukkan dalam genre Fantasy. Pertimbangannya, dia menggunakan setting era Singasari yang dimodifikasi, istilahnya di rekonstruksi kembali :) , sehingga menghasilkan universe yang berbeda dengan kondisi obyektif singasari yang dikenal melalui studi sejarah.

Seperti yg saya tahu, ciri khusus genre fantasy adalah pengarang menempatkan cerita novelnya dalam sebuah setting yang berbeda (setting imajinatif) dari Dunia yang kita kenal. Dalam praktik, dunia yg bukan dunia kita itu bisa saja berlandas pada planet atau negeri yang bener-bener antah berantah, atau bisa juga masih punya koneksi dengan dunia kita saat ini (seperti di Harry Potter, Stardust, Neverwhere, His Dark Materials dll). Koneksinya bisa temporal, ataupun spatial.

Candi Murca menggunakan setting tahun 2011 M serta delapan ratus tahun sebelumnya secara berganti-ganti. Plotnya bercampur antara kisa misteri dan kisah persilatan, seolah dua buku dijadikan satu jilid.
Apakah dengan kondisi-kondisi ini, Candi Murca layak dimasukkan genre Fantasy?
(Kalo iya, aku masukin di antrian review, nich,… hehehe)

FA Purawan

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
________________________________________
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Btw, kamu dah edit lagi lemurianya? That’s great. Tapi ati-ati ya, editing bisa jadi neverending process. Yeah… kamu tau lah… Kalo ntar butuh komen lagi, aku masih tetap bersedia.
Sip deh. Semoga sukses.

@fapur,
Kehadiranmu di ffdn benar-benar bermanfaat nih… hehe… terutama buatku yang masih perlu banyak belajar lagi dalam menulis. Salut.
Kapan-kapan review cerita-cerita amburadulku juga ya? Tapi jangan pingsan kalo nanti ngeliat banyak banget jeleknya. Hehehe…
Tentang candi murca, aku akan menyebutnya fantasi, yang menyodorkan dunia alternatif.
Kalo gak salah, salah satu nominator Hugo Award 2007 yaitu His Majesty Dragon karya Naomi Novik (huh, bener gak ya namanya?) juga bikin dunia alternatif untuk jaman Napoleon dulu.
Kalo gak salah ya… seperti biasa aku kan sok tau…
________________________________________
Post by: alk on April 09, 2008, 09:50:53 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan :o

:o 800 halaman 3 bulan? wew… pengen bisa gitu, 80 halaman 3 bulan aja ga pernah kesampaian gw. ;D
pengen punya, tapi… kalo tebelnya segitu, harga berapa tuh?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 10:01:45 pm
________________________________________
liat tuh LKH bikin 10 halaman per hari…
aku butuh 10 jam per hari buat dapet 10 halaman… gila ajah… kayak gak ada kerjaan laen…
dapet 2 halaman per hari udah alhamdulillah…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 10, 2008, 04:15:45 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…

Numeric Uno masih mendingan daripada Cardan, somehow.
But sabar lha, gw kan masi belom beres baca (sampe sekarang, setiap malem, gw masih nyicil baca entah satu paragraf-satu halaman), kalo nanti bagian setengah buku terakhir udah beres gw baca dan gw menemukan ada poin2 yg positif, ratingnya pasti gw naekin dah(walo emang gak bakalan kejadian ratingnya berubah jadi 3 ato 4 bintang, heheheh)
Tapi ya itu, untuk perbandingan ajah, Numeric Uno, walaupun novel ini plotnya cukup blakatak n ide cahaya Zeta-nya mirip banged sama cahaya Zarta MIB 2, gaya bahasanya masih jauh lebih gampang gw cerna daripada Cardan.
Seperti yg udah gw bilang, cardan punya 3 faktor yg ngebikin gw lama ngeberesinnya. And seriously, naming yg amburadul nian itu sebetulnya masih bisa tertolong kalo plotnya masih didukung tata bahasa yang j_e_l_a_s dan alur yang proporsional. Deskripsi-deskripsi dalam Cardan bagi gw burem banged, dialog2nya aneh, dan udah gitu miskin greget–yg berujung alurnya terasa lambat, itu semua faktor yg bikin dia cuman berating 1 di mata gw..
________________________________________
Post by: Yu-shiki on April 11, 2008, 06:59:27 pm
________________________________________
Eh maap keluar jalur bentar.. prolog itu maksudnya apa sih?
Apa setiap cerita novel harus disertakan prolog?
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 11, 2008, 10:28:02 pm
________________________________________
Prolog,…
Gue sih paling demen menggunakan prolog, secara prolog membuka kemungkinan pengarang menjelaskan suatu latar belakang lebih dulu. Umumnya suatu peristiwa yang kelak akan mempengaruhi jalannya cerita. It gives some ‘suspense’ (dalam artian apapun, tidak harus bermakna ketegangan) kepada pembaca, supaya baca novel itu sampe selesei :)
Selain itu prolog memberi keleluasaan bercerita tentang sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan tokoh protagonis. DI mana tokoh protagonis biasanya akan muncul di Bab I sebagai titik awal cerita.
Tapi emang ga setiap cerita akan efektif menggunakan prolog. Semua itu tergantung sama strategi penyusunan plot yang diinginkan oleh pengarang.
FA Purawan

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 12, 2008, 07:55:39 am
________________________________________
mengabaikan definisinya, prolog adalah bonus alias senjata sampingan buat penulis supaya ia bisa memulai cerita dari dua arah yang berbeda (satu di prolog, satu lagi di bab satu).
arah yang berbeda itu bisa berupa lokasi yang berbeda, waktu yang berbeda, tokoh yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja plot yang berbeda.
tidak semua cerita perlu prolog, apalagi kalau ceritanya sederhana. mau langsung masuk ke cerita/plot utama lewat bab satu juga oke-oke aja kok. tapi yang jelas, prolog adalah ‘advantage’ buat penulis, makanya aku bilangnya bonus.

pembahasan tentang prolog kayaknya udah banyak deh di halaman-halaman tret ini sebelumnya, termasuk jenis-jenis prolog yang biasa dipakai, dsb.

tapi yang penting sebenarnya memahami aja dulu apa sebenarnya fungsi prolog, yang kalo menurut pendapat bodohku adalah seperti ini:
- menarik pembaca dengan adegan2 yang memikat.
- memperkenalkan tokoh protagonis (di masa lalu, masa datang, atau masa kini)
- atau memperkenalkan tokoh lain (antagonis, korban)
- memperkenalkan setting (latar cerita: dunia, tempat, kasus)
- memperkenalkan suasana/nada cerita, apakah ini cerita ceria atau cerita gelap misalnya. pembaca tak ingin merasa ditipu nanti, mengira ini cerita aksi padahal isinya nanti bukan aksi, misalnya.
- memperkenalkan tema, inti cerita, masalah ‘hidup mati’ yang akan dijumpai dalam cerita, supaya pembaca merasa ‘ada pentingnya’ buat membaca terus.
- apa lagi ya? wkwkwkwkwk… halah… udahlah, aku ngasih teori-teori lagi…
________________________________________
Post by: clickdian on April 12, 2008, 10:28:55 am
________________________________________
Tambahan tentang prolog, be careful with this one, karena prolog yg ‘salah buat’ akan jadi seperti penyanyi yang salah milih lagu; bikin ilfil. Dan jangan salah, bikin prolog gak gampang, karena harus bisa ‘mengundang’ pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, tapi juga tidak keluar dari ‘tone’ cerita keseluruhan.
Personally, aq kurang suka pake prolog. Dari semua cerita yg aq buat, rasanya baru Segara Wulan yang pake prolog, itu pun belon kelar, hehe..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 11:56:11 am
________________________________________
ini nih gw post sedikit cuplikannya..

Kain membuat beberapa obor dari kayu-kayu bakar—sisa bakaran unggun semalam, dan segera memimpin penjelajahan menembus kegelapan. Lorong gua itu cukup luas pada beberapa langkah awal mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian mulai menyempit pada beberapa titik sehingga orang-orang harus berjalan dengan merapat ke dinding.

Ketika mereka telah memasuki lorong gua cukup dalam, mereka menemukan semacam lambung luas. Obor yang dibawa sang marquis menerangi permukaan dinding yang ada di situ, dan segera saja Guillarde berdecak karena terpukau.

“C’est intéressant,” ia berkata takjub. “Tempat ini memiliki banyak hieroglif!”

Semua orang menerangi permukaan dinding yang dilihat Guillarde, dan kemudian menemukan gambar-gambar primitif yang terukir di atas dinding. Mereka menjadi takjub karena menemukan hampir di seluruh sudut lambung luas itu memiliki ukiran-ukiran. Ada banyak gambar yang dilihat mereka di situ: kebanyakan adalah gambar hewan, manusia primitif, dan benda langit.

Langkah Larke terhenti pada suatu ukiran yang menampilkan gambar dari sekelompok mahkluk cebol yang berlari kocar-kacir dari sesuatu yang menukik di atas mereka—seekor burung besar, dan ia melihat pula ukiran bulan sabit dan matahari yang ada berdampingan dalam gambar itu; sebuah lukisan dinding yang amat menarik perhatiannya. Merasa mengenali bentuk burung itu, ia memanggil Fly untuk memastikan.

“Kurasa itu seekor enkidu,” Fly berkata. “Ukiran burung itu memiliki sepucuk bulu lancip di belakang kepalanya serupa jambul, mirip seperti enkidu jantan yang kita lihat di Israd.”

Lama memandang gambar itu, kedua bocah segera mengenali mahkluk-mahkluk cebol yang tampak seperti primata-primata kerdil itu. Mereka segera memanggil semua orang. Dan Guillarde adalah orang yang paling tertarik pada hieroglif temuan mereka.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 12:01:27 pm
________________________________________
@villam,
u bener, gw kayaknya terlalu keji ngasi Cardan poin satu, heheheh.. :D
Gw udah tamat baca (fiuhh akhirnya!), n ratingnya gw naekin jadi 2 bintang (sejajar Ledgard, Pinissi, Nightfall, n Numeric Uno), heheheheh..
Sepuluh bab terakhirnya lumayan kok, gak ‘separah’ bab2 awal sampe pertengahan buku–walopun emang masih tetep gw temukan bbrp hal negatif(contohnya si pengarang acapkali mabok nyebut Tolan sebagai ‘Kota’, padahal Kerajaan, ato mungkin adanya ‘kebetulan2 yang gak alamiah’–hehehe yg ini gw maklum deh, gw sendiri tipe penulis yg cukup berpegang sama pakem kebetulan :P ) .
Endingnya ya gituu deh, payah dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 15, 2008, 12:59:15 pm
________________________________________
endingnya ga ‘ending’, hehehe…
dan gak ada penjelasan kapan bakal muncul lanjutannya. jadi wajar jika muncul perasaan pembaca seperti ini : ‘aku terjebak!’
salah satu problem utama novel fantasi yang baru muncul, kurasa…
kalo mau bikin cerita yang bagus, otomatis seharusnya detil dan plotnya diperkaya dan diperhalus, yang berarti ceritanya bakal panjang banget.
masalahnya penerbit gak mau nerima / mengambil resiko cerita2 yang terlampau panjang. yeah… kita tau lah semua alasannya…
dan langkah penulis untuk menyiasatinya adalah dengan memotong ceritanya jadi dua atau berapapun. yang berarti sekuelnya tentu saja –> ‘ya udah nanti aja dipikirin kalo emang bukunya laku’.
jalan itu memang masih panjang…
tapi jalanin aja deh…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 16, 2008, 10:54:44 am
________________________________________
bukan knp2 sih villam, masalahnya di Cardan itu, jelas2 udah dikasi label TAMAT gitu sama penulisnya, sama kaya novel Narend…(which means elu tungguin sampe matik juga ga bakalan terbit sekuelnya) sementara perkara2 dalam plot Cardan masi jauh dari beres, payah dah. ini bener2 menjebak (dan amat mengesalkan) pembaca, i agree with u. :’(
Novel gw juga termasuk novel yg sarat perkara (elu tauk sendiri kan :D ), but at least, kalo satu perkara yg jadi perkara utama dalam novel gw udah diselesain di akhir cerita, masi bisa ditolerirkah? :-\
ato jangan2 naskah gw itu jenis yg ‘menjebak pembaca’ juga? :-[

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VII (14 Mar 2008 – 2 Apr 2008)

  • Fantasi identik dengan hiperbolis?
  • Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing? karya hege
  • Khael dan Marina oleh alk
  • Tentang macam-macam Prolog
  • Membuat greget cerita
  • Blog khusus mengulas novel-novel Fiksi Fantasi Indonesia

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
________________________________________
@Rey
Thanx buat reply-mu yang gondrong abis! ;D
Anyway, aku pikir ada beberapa hal yang emang bener dr apa yg kmu tulis.
Dari situ aku mikir2, ternyata emang bikin novel susah banget ya?
Selama ini aku slalu kesusahan dlm merangkai/mengolah kata.
Jadinya aku pake majas2 utk deskripsi suasana, dst.
Penggambaran tokoh juga pake majas2, kebanyakan majas hiperbolis sih! ;D

Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?
Coz, dulu aku pernah minta saran ke temanku yg udah pernah baca cuplikan critaku, dia bilang critaku kurang hiperbolis utk ukuran sebuah novel fantasy.
Aku ga tau apa maksudnya?
Mgkn yang dia maksudkan tuh semacem mengolah kata2 dgn imajinasi tinggi gitu ya?
Misal : di Narnia, ada Aslan, singa yang bisa ngomong.
Ato mungkin, ada mobil terbang di crita Harry Potter.
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)
________________________________________
Post by: alk on March 14, 2008, 11:49:58 pm
________________________________________
Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?

nggak.

Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… :)

nggak juga.

;D wkwkwkw… kependekan ya kalo dijawab gitu. oke deh, penjelasannya:
menurut gw…
novel fantasy bisa hiperbolis, tapi nggak selalu harus begitu. fantasy identik dengan imajinasi. kasarnya identik dengan membuat-buat bukannya melebih-lebihkan.
fantasy butuh imajinasi, memang. imajinasi yang tinggi memang bisa jadi potensi bagus, tapi bukan berarti itu cukup bagi sebuah novel fantasy. merangkai imajinasi menjadi suatu gambaran yang bisa diterima, dipahami dan dinikmati adalah hal yang dituntut seorang pembaca dari penulis novel fantasy, atau seorang penonton dari sutradara film fantasy. 8)
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 15, 2008, 12:02:24 am
________________________________________
Masalahnya gimana caranya agar imajinasi kita bisa diterima and dipahami ama pembaca tanpa mereka mikir kalo ni imajinasinya ketinggian?
Pernah lho ada kasus kaya gitu.
Kesannya jadi aneh and konyol. ???

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on March 17, 2008, 09:56:19 am
________________________________________
Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing?

Situbondo, 7 Januari 1996, seorang wanita setengah baya bernama Ningsih Prasetia (56) melaporkan penculikan atas kucingnya ‘Mayang’ ke kantor polisi. Dia mengaku dengan bersungguh-sungguh bahwa kucingnya telah diculik alien pada suatu sore yang terik di halaman belakang rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17.

“Wanita itu menerobos masuk tanpa menggedor pintu,” kata seorang petugas kepolisian yang—tampak dari wajahnya—merasa bahwa ini adalah lelucon yang menggelikan. “ Saya pikir dia orang gila karena berteriak-teriak histeris kepada kolega saya di divisi penculikan.”

Jelas sekali para polisi tak menanggapi kasus ini dengan cukup serius, sehingga kami berusaha mewawancarai Ny. Ningsih secara eksklusif di rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17. Wanita itu tampak pasrah dan menerima nasibnya yang malang.

“Saya sedang mengambil beberapa potong cucian yang telah kering sambil bersenandung,” narasumber mengaku dengan mata bengkak penuh air mata. “Mayang-ku (kucingnya-red) sedang makan biskuit di teras. Segalanya terasa normal dan menyenangkan.”

“Lalu apa yang anda lihat?” saya bertanya.

“Ini betul-betul terjadi dan saya tak peduli apa kata orang mengenai ini,” ia berkata, sepertinya bukan untuk pertanyaan saya. “Demi Tuhan, saya tidak gila, demi leluhur saya di atas sana, saya tidak mengarang atau bermaksud mencari sensasi.”

“Ya, saya tahu. Bisa anda ceritakan detil kejadiannya?” tanya saya tak sabar.

“Tentu,” ia berkata. “Tapi anda jangan berpikir saya sinting ya!”

“Saya tidak akan berpikir seperti itu,” saya berjanji. “Anda dan saya sama warasnya.”

“Segalanya berlangsung sangat cepat,” ia berkata, mengumpulkan segenap tenaga untuk menuturkan pengalamannya. “Mendadak muncul cahaya biru dari langit, lebih terang dari matahari. Saya pikir ada helikopter jatuh atau semacamnya, tapi suasana sangat hening, sungguh tidak wajar, seluruh tubuh saya terasa kaku dan dingin.

“Selama saya meringkuk di tanah, benda yang mirip loyang perak mendarat persis di samping saya, diameternya tak lebih dari enam meter. Tiga mahluk pendek kurus meluncur keluar perlahan-lahan dari dalam benda itu, memakai pakaian ketat sewarna aluminium. Kepala mereka bulat seperti buah pir, dengan lengan-lengan panjang mengerikan. Berikutnya, saya hanya bisa menyaksikan tanpa daya ketika mereka mencengkeram Mayang dan membawanya pergi.”

“Ada lagi yang mereka lakukan?” saya kembali bertanya.
“Sejauh ingatan saya hanya itu,” kata Ny. Ningsih serius. “Tapi saya yakin salah satu mahluk aneh itu menyicipi biskuit-nya sebelum masuk ke dalam pesawat.”

“Bagian itu sangat aneh,” komentar saya berjengit. Wanita itu mengangguk setuju.

“Dan anda tak mendengar kabar kucing itu lagi sampai sekarang?”

“Mayang-ku sayang,” ia bergumam, berlinang air mata. “Aku sangat mencemaskan dia. Anda takkan percaya apa yang biasa dilakukan alien pada korban-korban penculikannya. Mereka dikuliti dan diperkosa.”

Setelah cukup informasi yang kami perolah dari narasumber, kami pun mewancarai para tetangga Ny. Ningsih di sekitar jalan Gunung Merbabu—dan kami mendapat fakta yang cukup mengejutkan.

“Otaknya tidak beres, Ny. Ningsih itu,” kata pak Widodo (66) seorang lelaki dengan perut buncit kepada kami. Pria ini tinggal persis di samping rumah Ny. Ningsih. “Kalian tahu betul apa yang bisa dilakukan orang-orang untuk mendapatkan publisitas dan keuntungan. Ningsih jelas sekali pembual besar dengan otak miring. Tak ada sesuatu yg aneh di langit, percaya padaku. Satu-satunya cahaya yang saya lihat sore itu berasal dari matahari.”

Saat mewawancarai pria aneh ini kami mendapat kesan bahwa dia sangat membenci Ny. Ningsih bahkan sebelum kasus penculikan ini terjadi. Ada nada sentimen berlebihan setiap kali ia membicarakan tetangganya itu.

“Terimakasih atas waktu anda,” potong saya buru-buru ketika Pak Widodo mulai menjelaskan perselisihan turun-temurun antara nenek moyangnya dengan nenek moyang Ny. Ningsih puluhan tahun silam.

Namun kami menjumpai saksi mata yang jauh lebih menyenangkan, ia seorang pemuda yang kos di belakang rumah Ny. Ningsih ( tempat itu hanya dibatasi pagar kayu pendek) Ia bernama Rudi Sanjaya (20)

“Iya. Saya melihat cahaya biru,” katanya semangat. “Saya sedang mandi saat itu. Ketika mata saya terkena busa sampo, meram dan meraba-raba untuk mencari gayung mandi, cahaya biru itu menyorot dari jendela, begitu terang sampai saya lupa kalau mata saya perih. Lalu saya mendengar seseorang wanita berteriak keras di suatu tempat, tapi saya tak repot-repot keluar untuk memeriksa karena saya sedang telanjang dan berlumur sabun.”

“Saya selalu percaya ada mahluk-mahluk cerdas di luar sana sedang mengawasi Bumi,” ia melanjutkan. “Anda tak percaya kan kalau kita satu-satunya mahluk berakal yang menghuni galaksi yang sangat luas ini? Alien dan UFO bukan hanya fiksi yang ada di film-film, anda boleh memegang kata-kata saya. Tunggu lima belas atau dua puluh tahun lagi akan ada kapal induk raksasa yang mendarat secara resmi di bumi. Mereka datang dengan misi perdamaian.”

Pada saat yang sama saya melihat poster film Star Wars dan Men in Black yang besar sekali di tembok kamar kos pria itu, sehingga antusiasme saya akan ceritanya sedikit ternoda.

baca lanjutannya di sini http://kemudian.com/node/101942

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 17, 2008, 12:33:31 pm
________________________________________
payah banged nih.. gw nyambit banyak orang di postingan gw sebelomnya gak ada yg protes/ngomel2, padahal gw amat mengharapkan hal itu.. :P
beneran nih, gak ada yg mau berargumen? ya sudah, berarti eike menang ngelawan ente semua.. ;D

@euthalia,
gw sebagai pembaca novel2 fantasi lokal gak menuntut gaya bahasa yg hiperbolis/bermetafora indah, yg gw harapkan adalah gaya penceritaan yg ‘cerdas’ dan mengalir. Cerdas disini maksudnya gak bertele-tele, konsisten, dan cocok dengan tema yang diusungnya. Kalo yg ditulis tipe fantasi sadis yg mengumbar adegan2 berdarah, gunakanlah gaya bahasa yg ‘dingin’ dan suram. Kalo yg ditulis fantasi ringan, gunakanlah gaya bahasa yang dapat memancing tawa pembaca.
Sementara, gaya bahasa yg mengalir adalah gaya bahasa yang dapat menciptakan mood si pembaca untuk terus membaca sampai akhir. Disini keahlian penulis untuk memilih dan menyusun kata2 mutlak dibutuhkan.

Hmmm.. Gw ngomong begini bukan berarti gw bisa memenuhi dan melakukan hal-hal kayak begini, ini murni opini dan kemauan gw sebagai pembaca..
sebagai penulis, kita menghadapi tantangan yg sama.
________________________________________
Post by: alk on March 19, 2008, 11:30:19 pm
________________________________________
8) halo2 semua…

:-[ masukin sepotong cerita lagi yah, sekedar meramaikan thread ini. gw jarang bikin cerita romantis nih (ga ahli :'() tolong commentnya...

KHAEL DAN MARINA

Marina, sang putri duyung
Senja menjelang. Ufuk barat dihiasi semburat merah tatkala sang surya mulai turun dari singgasananya, hendak bersemayam kembali dalam peraduannya. Cahaya sore yang hangat memancar menerangi pantai sunyi itu, memperindah warna karang dan debur ombak, memikat hati sepasang insan yang dimabuk cinta.

Marina memandang sosok di depannya dengan pandangan memuja yang tak puas-puasnya. Hatinya dipenuhi dengan suasana indah yang berbunga-bunga. Selalu begitu jika mereka berdua bertemu. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa ia sedang jatuh cinta. Cinta yang mustahil untuk tergapai. Namun baginya juga mustahil untuk ditolak atau dienyahkan dari dalam sanubarinya.

“Bisakah kau nyanyikan lagi sepotong lagu untukku, Marina. Suara merdumu... tak pernah jemu aku mendengarnya.” Sosok memukau di depan gadis itu berucap. Suaranya yang tenang dan dalam menggetarkan hati Marina. Permintaannya tak pernah bisa ditolak putri duyung jelita ini.

Marina tersenyum dan mulai bersenandung, lagu merdu tentang kisah penantian Diane akan kembalinya sang kekasih hati Leandor, dua manusia duyung yang menjadi legenda karena cinta abadi mereka.

“Dalam samudra harapan selalu kunantikan,
kehadiranmu Leandor kekasihku.
Kau kan lindungi aku dalam dekapan lembutmu,
dan biarkan malam lewat denganku di pelukmu,
hingga esok waktu cahaya baru menjelang...”

Khael, sang malaikat bersayap hitam
Khael menatap sosok di depannya dengan rasa kasih sayang yang tak tersembunyikan. Ia jatuh cinta, itu tak hendak dipungkirinya. Meskipun mereka begitu berbeda, nada-nada asmara tak mampu diusirnya dari dasar sanubari. Seiring lantunan merdu lagu yang dibawakan sosok jelita di depannya itu, benih-benih cinta yang sudah kuat berakar dalam hatinya mulai tumbuh dan berkembang, tak bisa lagi dihentikan.

“...dan ketika langit semakin terang,
ku takkan jemu bertanya pada sang awan,
kapan Leandorku kan kembali pulang...”

Suara merdu sosok nan indah memukau di depan matanya itu seakan membawa Khael, sang pria bersayap hitam, terbang tinggi di awang-awang, membumbung bersama awan dan elang, menari dibawah sinar mentari.

Tak puas-puasnya mata pemuda perkasa ini memandangi sang pujaan hati. Memandangi rambut keemasannya yang berkilau jelita tanpa noda, mata birunya yang jernih laksana langit cerah di musim panas, hidung mancungnya yang mungil mempesona, bibir indahnya yang merah merona menyejukkan sanubari, kulit langsatnya yang indah tak bercela, dengan jalinan rumput laut sebagai pakaian yang kian memikat hati, dan bahkan sisik mengkilap kebiruan di bagian bawah tubuhnya yang demikian sempurna. Marina, dengan kelembutan hati dan ketulusannya, adalah wujud sempurna yang selalu diimpikannya.

Marina, sang putri duyung
Senandung Marina belum berhenti. Segenap isi sanubari putri duyung jelita ini tertumpah keluar lewat senandung merdu itu. Dan, dengan sosok pujaan hati berada tepat di depannya, hal itu mengalir secara sangat alami, seolah untuk hari inilah lagu yang dinyanyikannya tercipta.

“Kekasihku, pujaan hati...
senandungku kan slalu mengiringi jalanmu,
membawakan kasih sayang yang tertumpah dalam impian,
tentang hidup bahagia, bersama selamanya...”

Bahkan setelah senandungnya memudar habis, Marina tak berhenti menatap sang pujaan hati. Menikmati keindahan sosoknya; wajah yang demikian eloknya, dengan tatapan lembut mata hitamnya yang menenangkan sanubari, hidung kokoh yang tiada duanya, senyum tulus yang penuh kasih sayang, rambut gelap yang indah alami dimainkan angin lalu, tubuh tegap gagah sempurna, dan sayap hitam yang memukau... lembut sekaligus kokoh. Khael, dengan kasih sayang dan keberaniannya, adalah sosok sempurna yang tak pernah lekang dari benak Marina.

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 12:28:34 pm
________________________________________
@alk,
gw udah baca potongan cerita u.. hmm.. gmn yak. it doesnt work on me, actually. nice try buat kata-kata indahnya, tapi sejujurnya, it’s rather lame to me…

Begini Alk. Ada perbedaan antara gaya bahasa yang ‘dibuat-buat’ dengan gaya bahasa yang mengalir apa adanya… Dalam cuplikan naskah romance lu ini, terasa banged ‘dibuat-buat’nya.. gw sebagai pembaca ngerasa u menulis.. tidak dengan hati yang jujur..(halah :P )
sebagai penulis, kita punya masalah yg sama: mencoba bereksperimen dengan sastra dan hasilnya malah aneh… tapi lebih parah lagi, lu mencoba mengintegrasikan sastra dengan romance.. menurut pengalaman gw, mixing sastra x romance jauh lebih sulit daripada sastra x deskripsi umum/setting, sastra x humor, ato sastra x action..
kalo mau tahu gaya bahasa romance yg jujur (terasa alamiah/gak dibuat-buat), coba baca/tonton karya-karya yg melibatkan literatur shakespeare.. keren banged tuh romance-nya.
tapi dont worry lha, mungkin dalam kasus ini emang gw aja yg gak mengenal konsep romantisme… :P

oya, sekali lagi, gw mengatasnamakan komen gw sebagai seorang pembaca ya.. secara, sebagai penulis, gw ga yakin bisa nulis secakep ini. :D
yg jelas kalo menurut gw sih, nulis romance jauh lebih sulit dari bikin humor. jadi, berhati-hatilah… kita gak mau kan usaha keras kita malah ngebikin cacat naskah kita? ;)
________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 01:04:50 pm
________________________________________
@all,
new topic! new topic! (seperti biasa, orang bijak selalu muncul belakangan untuk menyelamatkan dunia(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif))
caranya sama kaya kemaren.. gw selaku pembuka topik mau mengemis pendapat ke setiap dari elu orang semua.. kali ini kita bakal ngomongin tentang kemungkinan opening/prolog dalam novel fantasi. (soalnya gw emang lg ngurusin beginian di proyek terbaru gw skrg :P )

ada banyak penulis fantasi yg mengawali kisahnya dengan memperkenalkan dunia rekaannya secara detail, tapi ada juga yg langsung masuk ke pokok permasalahan/action.
yang mau gw minta ke u orang buat dijawab, bukan prolog macam mana yg paling bagus, tapi tambahan opsi bagaimana kemungkinan2 untuk sebuah prolog:
ok, i’l go first.

Versi Prolog #1:
Penggambaran setting secara mendetail dari dunia rekaan/adopsi dalam novel, mencakup latar belakang sejarah, keadaan geografis, ras-ras yang ada, struktur masyarakat, dll..
Akan ada dua kemungkinan reaksi pembaca: terbosan-bosan dengan deskripsi yang menumpuk dalam dunia khayal kita, atau malah cenderung excited.
Contoh prolog semacam ini(sekalian mau pamer ke anak2 baru juga sih(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)):

http://kemudian.com/node/41181

Versi Prolog #2:
Penggambaran sisi dan sejarah kelam dari villain(tokoh/pihak antagonis) yang meneror dunia rekaan/adopsi kita. Keuntungan dari prolog semacam ini, pembaca akan langsung dapat melihat pokok permasalahan yang ada, dan what as master villam said, pembaca akan langsung terikat secara emosi terhadap naskah kita. Terlebih jika dalam prolog itu digambarkan kekejaman si antagonis.. denyut ‘hidup-mati’ dalam novel kita akan langsung terasa.. yah..kira-kira begitulah yg gw pelajari dari mr. villam pada jaman dahulu kala, barangkali yg bersangkutan mau menambahkan.. :)
Contoh prolog ini:
?? (ada yg mau memberi contoh?)

Versi Prolog #3:
Langsung masuk ke action! Penggambaran action bisa macam2: penggambaran sebuah duel sengit, jalannya sebuah perang, prosedur pembunuhan, penyerbuan, dll.
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/47324

Versi Prolog #4:
Prolog yang paling pasaran dan klise: penggambaran orang bangun tidur!
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):

http://kemudian.com/node/41217

Versi Prolog #5, #6, #7, dst:
Silakan ditambahkan..

n.b:
perlu gw tekankan, bbrp contoh prolog yg gw kasi di atas adalah bukan berarti jenis tulisan prolog yg benar/sempurna (mungkin yang ada malah cacat di sana-sini(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)), dari prolog2 itu gw cuma mau memberikan sedikit pendekatan dari teori2 yg sudah gw paparkan (sekalian sebagai ajang pamer juga sih (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)).. gitchu deh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
________________________________________
Post by: hege on March 21, 2008, 02:28:34 pm
________________________________________
Rey, topikmu kali ini agak membosankan. Prolog sudah dibahas jutaan kali sebelumnya. But, intinya, pikirkan baik-baik saja kalimat pertama yg akan kau tulis untuk memulai sebuah kisah. hal-hal klise, basi, kuno dan menyebalkan tak bisa ditolerir baik oleh editor penerbitan dan pembaca.

[tab:Hal 6]

________________________________________
Post by: rd_Villam on March 21, 2008, 03:39:29 pm
________________________________________
@rey,
aku belum punya pemikiran baru soal prolog, jadi kukutip saja dulu tulisan dari blogku. mudah-mudahan bisa sedikit menyegarkan kita, baik yang sudah pernah baca maupun yang belum sempat.
————————

Tentang Opening

Apakah kalimat pembuka novel sudah cukup menarik perhatian? Belum?
Kalo gitu apakah paragraf pertama sudah? Belum juga?
Halaman pertama? Belum juga?
Lima halaman pertama? Belum juga?
Prolog ataw bab pertama? Belum juga?
Heheh… berarti bencana ya… mesti dibongkar lagi dari awal.

Katanya sih prolog ataw bab pembuka yang bagus mengandung hal-hal sbb:
§ Menjadi pintu pembuka cerita, alias memberi gambaran pada pembaca jenis cerita macam apa yang bakal dibaca, dan sedikit petunjuk apa yang kira-kira bakal terjadi di akhir cerita. Jangan ngebohongin pembaca nih, misalnya ceritanya cinta-cintaan tapi bukanya kok pake model misteri atau action. Heheh… tone-nya beda kan?
§ Memperkenalkan karakter atau protagonis utama (ataw paling lambat di bab 3 harus sudah muncul. Di halaman berapa tuh? 20, 30 atau 50?). Tentu saja beserta problem (eksternal/internal) yang dihadapinya, jadi ya jangan cuma kenalan basa-basi doank. Lumayan buat bikin pembaca simpati sama protagonis sejak awal.
§ Memperkenalkan setting. Penting juga, tapi emang bakal banyak narasi deskriptif sih, makanya mesti diimbangin sama dialog dan action yang lebih banyak di awal. Heheh… ngomong sih gampang.

Pertanyaan lanjutan:
Apakah ceritanya memakai prolog sebagai opening?
Apakah ceritanya memang benar-benar butuh prolog? Atau cukup bab pertama ajah?

Buat ngejawab, tes ajah dua hal ini:
§ Kalo misalnya prolog itu dihapus, pengaruhnya signifikan gak terhadap plot?
§ Kalo misalnya prolog itu diubah namanya jadi bab pertama, kerasa bedanya gak di plot ataw suasana cerita?
Kalo kedua jawabannya ya, berarti prolognya emang udah berfungsi dengan benar.

Emang sih, keliatannya keren kalo cerita kita pake prolog (trus ada epilog juga di belakang), tapi jangan sampe prolog itu cuma jadi pemanis yang gak perlu. Maksudnya pemanis tuh cuma buat memperkenalkan suasana atau action buat memikat pembaca, tapi ternyata gak terlalu berkontribusi membuka plot utama cerita. Padahal yang terakhir itulah yang jadi tugas utama doi.
Hmm, pusing ya?

Heheh… yang jelas sih bikin prolog gak bisa sembarangan, dan sebagai seorang spesialis, doi emang punya tugas yang berbeda dibanding bab pertama, sesuai dengan empat buah tipenya, yaitu:
§ Memperkenalkan protagonis di masa datang. Ini model seorang anak yang udah jadi orang tua sekarang, trus menceritakan petualangan dia waktu kecil bersama teman-temannya, misalnya. Biasanya suasananya jadi kerasa reflektif, karena tentu saja si anak udah jadi orang bijak sekarang.
§ Memperkenalkan protagonis di masa lalu. Ini model cerita Batman yang membuka cerita dengan masuknya doi ke gua kelelawar di waktu kecil, buat memberi petunjuk pada pembaca mengenai asal mula karakternya, sebelon masuk ke cerita utama.
§ Memperkenalkan POV yang berbeda. Ini model korban penculikan yang bercerita gimana dia diculik, buat pengantar cerita utama dimana POVnya adalah sang detektif, yang nantinya pada tengah atau akhir cerita akan bertemu dengan korban penculikan tersebut.
§ Memperkenalkan background atau setting cerita. Sering ditemukan di cerita Scince Fiction ataw Fantasy, yang menceritakan sebuah kota atau negeri di bagian prolog. Biasanya sih paling susah, karena emang susah buat ngebikin narasi deskriptif yang panjang di awal tanpa membuat pembaca bosan.

Ya gitu deh, sementara… corat-coretnya.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 22, 2008, 10:01:53 am
________________________________________
Versi prolog #5:
Cerita diawali dengan pertanda-pertanda/mimpi janggal/kejadian penting/peristiwa aneh.. Keunggulan prolog semacam ini, pembaca akan langsung dibuat penasaran dan terikat pada awal cerita.
Contoh:
Prolog Hozzo: Ferres yang Hilang

Versi prolog #6:
Cerita dibuka dengan pendekatan filosofi yang nantinya filosopi tersebut sinkron dengan keseluruhan isi buku.
Contoh:
Prolog The Forgotten Heroes

Versi prolog #7:
Cerita dibuka dengan sebuah dongeng kecil yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan isi cerita secara keseluruhan. Prolog semacam ini cukup langka, dan jarang ditemui.
Contoh:
Prolog The Alchemist
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 24, 2008, 03:11:24 pm
________________________________________
@Kak Dian…
Kangen banget ni (Cielah…pura2 manja ni ;D)
Aku mau nanya boleh ga?
Cara bikin crita kita ada ‘greget’ itu gimana?
Ada kiat2nya ga?
Trus gimana cara menyelami emosi tokoh2 crita kita?
________________________________________
Post by: clickdian on March 24, 2008, 05:22:34 pm
________________________________________
Lia
Kangen? hehe.. jadi malu :P

Cerita greget? hmm.. ini relatif, ya. sangat tergantung dari keinginan dan keahlian (if you see what i mean) si penulis. intinya sih usahakan meninggalkan sesuatu yang akan berkesan bagi pembaca. entah membuat penasaran, atau yang mengaduk-aduk emosi, atau bisa aja detail dari kejadian sehari-hari biasa tapi karena si penulisnya jago merangkai kata-kata jadi terasa luar biasa.

maaf, lia, untuk yang satu ini aq ga bisa banyak bantu. ini tergantung jam terbang setiap orang, dan yang paling penting, aq juga masih tahap belajar, belum jago bikin greget. practice makes perfect (duh, klise banget, tapi bener).
Kalo menyelami emosi.. ini lebih gampang menurutku..
bayangin aja kalo kamu itu dia.
tapi jangan lupa, kamu harus punya personality sesuai dengan si tokoh yang kamu ceritakan itu; karena beda personality, tindakan yg diambil setiap tokoh akan beda. ini mirip akting, hanya diekspresikan dalam bentuk kata2, bukan visual. kalau kamu udah nguasain ini, karakter kamu akan lebih hidup :)
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 02, 2008, 03:27:58 pm
________________________________________
Rekans semuanya, salam kenal.
Sekaligus memperkenalkan blog pribadi saya yang khusus mengulas buku-buku Fiksi (ilmiah) dan Fantasi karya pengarang Indonesia.

http://fikfanindo.blogspot.com

monggo mampir,… :)

BTW, ada boss Hege di sini, toh. Buku ente ada di reviewku juga lho,.. iya yang dulu itu.

Salam,

Cheppy
aka: FA Purawan

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi VI (3 Mar 2008 – 14 Mar 2008)

  • Down ditolak penerbit?
  • Hal apa yang paling penting dalam novel fantasi?
  • Gaya Bahasa vs Plot

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: alk on March 03, 2008, 09:40:36 pm
________________________________________
@ didie-sy
sekedar comment…
gw juga udah baca GORAN, reviewnya om blood dah mantep kok,
plot bagus, gaya cerita menarik, karakterisasi hebat, ending… mengenaskan… :’(
yg ga puas sama GORAN gara2 endingnya kali, tapi…
judulnya GORAN – Sembilan Bintang Biru, bintang biru yang keluar di cerita baru 3,
logikanya… pasti ada kelanjutannya ntar :D
mungkin jadi trilogi, atau tetralogi, atau pentalogi.
liat aja nanti. ;D ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:14:48 pm
________________________________________
Quote from: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?

halo didie-sy, salam kenal juga :-* (lagi2 ketemu ama yg batangan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif), tp gpp deh, eke tetep welcome yey :-*)
gw udah baca review versi dia… yg ini kan:

http://www.kutubuku.com/review/kobo-chan/goran—sembilan-bintang-biru.html

?
kalo yg gw liat, dia protes (ane lg menggebu2 ngikutin eniyorda pas ngebelain hozzo ceritanya nih :P ):
1. knp tokohnya bukan orang indo?
2. terus… knp dalem planet vida, ada istilah2 bahasa inggris?

poin 1 bener2 subjektif sifatnya… dia menilai itu murni pake selera dia… payah banged dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. kalo dia terus pake standar ini buat menilai fantasy2 indo, gw jamin dia kagak bakalan ada puasnya, secara hampir semua fantasi lokal yg udah terbit bersetting non-indo. (cuman 1-2 doank setau gw yg settingnya indo, itupun cuman depan2nya aja, kayak hozzo/numeric uno :P )

yg poin 2, dia bener2 blunder tuh, gak ada orang/istilah vida yg pake bahasa Inggris!
justru disini gw salut sama pengarang bisa kepikiran bikin ‘bahasa ajaib’ dari bahasa inggris yg dibolak-balik.. :D
serius gw ngakak pas baca dialog2 ajaib Soil..
kalo gw bilang sih, review nih orang bahkan lebih nyebelin dari review si ‘FP’ (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

hmmm.. gw gak bisa nentuin ente bakal demen apa kaga sama novel ini, tapi kalo mengukur dari segi plot, setting, gaya bahasa, jokes, GORAN ini yg paling ‘fleksibel’ buat diterima semua kalangan dibanding novel2 fantasi lokal laennya..

maksud gw, ga peduli tuh orang dari aliran RPN/LOTR/HarPot, harusnya bisa dapet mood kalo baca GORAN.. novel ini gak seserius novel fantasi kebanyakan, tapi juga gak seenteng novel2 tenlit.. pokoknya ‘seimbang’ dah. jadi harusnya target pembacanya cukup luas.. makanya gw sebut dia ‘the best novel fantasy indo’ dari semua yg pernah gw baca..
tapi tergantung selera juga sih :P

[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 03:37:31 pm
________________________________________
btw, rey, penjelasan lanjutan lu tentang goran cukup obyektif nih. salut.
tapi memang, namanya pembaca pasti akan menilai berdasarkan selera masing-masing. dan pasti akan ada yang positif dan negatif. bahkan seorang kritikus yang katanya mumpuni pun sebenarnya menilai berdasarkan seleranya pula.
jadi jika ada yang berbeda pendapat, ya nikmati sajalah… heheheheh…
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:48:53 pm
________________________________________
bukannya gw gak mau menerima beda pendapat bang.. :D
gw paling sebel kalo ada orang yg nge-review novel udah kaya pemain sepakbola ngomentarin pemain basket..
dia protes kenapa pemaen basket boleh megang bola, jumlah pemainnya cuman lima, ga ada kiper, dll..
kalo menurut gw sih kurang bisa berpikir luas tuh orang :P
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 04:01:25 pm
________________________________________
tapi ya.. sebetulnya wajar juga sih ada juga orang-orang yg protes kalo ada penulis indo yg nulis pake setting asing..
sebetulnya sih, ini tergantung dulu.
kita liat dulu gmn si penulis mendeskripsikan setting asing dalam ceritanya, ‘berhasil’ apa kagak?
kalo yg gw liat di GORAN, penulis udah cukup berhasil ngebawain setting jepang sama tiongkok dengan kebudayaan2nya.
buat contoh, di GORAN tokoh aniki dikejar2 ama cewe..
secara statistik ini valid, di jepang emang lebih banyak cowo yg ditembak cewe daripada sebaliknya.
gw justru ilpill kalo ada penulis yg berani bikin setting barat, tapi gaya idup/kebudayaan yg berlaku di settingnya itu malah mirip ama gaya anak jakarta.. kalo nemuin yg kayak begitu, gw jadi ngerasa kayak nyaksiin adegan2 yg diperanin ama ‘bule celup’ :P
ada beberapa novel fantasy indo yg kayak begitu. dan emang justru setting luar-nya itu malah jadi kecacatan..
tapi ada juga novel2 fantasi indo bersetting luar yg sukses nampilin setting luar-nya, dan mestinya, yg kayak begini udah ga bisa dihujat lg dari segi settingnya..
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 04:15:52 pm
________________________________________
yeah…
elu bener lagi…
apalagi kalo liat cerita bersetting barat tapi dengan gaya bahasa ‘elu-gue’. duh duh duh…
mbok ya gaya bahasa itu disesuaikan dengan setting dan karakternya…
btw, kalo aku pribadi sih, bagus kalo kita bisa bikin fantasy yang bersetting lokal. tapi kalo emang kita merasa lebih cocok membuat setting barat, timur, utara, selatan atau bahkan antah berantah, dan ini lebih nyaman buat kita, ini lebih bagus. apalagi jika riset kita soal setting ini juga bagus, hasilnya tentu dijamin bagus pula dah.
________________________________________
Post by: clickdian on March 06, 2008, 12:43:00 pm
________________________________________
# Lia
What’s on you?
Bener down karena ditolak penerbit?
Hmm.. itu mah biasa.. ga perlu malu, ga usah mundur, apalagi sampe kehilangan kepercayaan diri.

Gini lho.. naskah ditolak bukan berarti naskah jelek atau penulisnya tidak berbakat. Seringkali karena rule dan kondisi dari penerbitnya.
Misal… penerbit hanya mau menerbitkan genre tertentu, smntara kita ga tau itu dan mreka ga publish mngenai rule ini.. maka karya di luar genre tsb otomatis dieliminasi.

atau, naskah bagus tapi setelah dipertimbangkan ternyata diprediksi tidak sesuai/ tidak akan banyak permintaan pasar. ini mah ilmu ekonomi ikut bicara, aq ga banyak tau soal ini.

atau…. selera editor, seperti yg kita ketahui setiap org kan seleranya beda2 (contoh nyata deh, Rey bilang Goran bagus, tapi aq–walopun emang ngejogrok di genre fiksi fantasi–ampe sekarang belum punya keinginan untuk baca sama sekali). editor penerbit A bisa jadi akan mengatakan hal yang sebaliknya dengan editor penerbit B untuk naskah yang sama.

kalau naskah kamu ditolak, bisa jadi karena ketiga hal ini, atau hal lain yg aq belum mention di atas.
but anyway, mundur bukan jalan terbaik, menurut aq, ya. kamu cuma belum dapet jalannya aja. tunggulah, semua akan indah pada waktunya…

ngomong2 soal ditolak.. aq pernah tuh, masukin naskah ke gramed, dan ditolak dengan sukses ;D
naskah itu terus aq masukin ke penerbit lain, yang editornya bilang sebenernya bagus, cuman dia bingung mau masukin ke genre mana, walhasil tu naskah setaun lebih nangkring di meja dia detik reply ini diposting! T_T
digantung, tuh, bageuuussss… :D

mending ditolak, kan, ada kepastian iya ato nggaknya ;D
tinggal kirim ke penerbit lain, berdoa, menunggu, beres.

So, kembalilah.. *duh, telenovela banget yah? :D *
Kita discuss lagi, poles lagi, dan jadi lebih baik. Dan someday, kalo kamu inget pernah ditolak, kesuksesan kamu akan lebih terasa nikmatnya ;)

[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 10, 2008, 07:39:37 am
________________________________________
belakangan ini gw suka bingung kalo masuk sini mau posting apaan :P
lagi keabisan topik diskusi yak.. :D
hmm.. gw selaku TS bikin bahasan baru dech.. :-* :D

menurut kalian para penulis fantasi, mana yg lebih penting antara:
-plot
-karakterisasi
-gaya bahasa
-setting
-jokes
dalem sebuah novel fantasi?
hmm.. gw mau liat proporsi selera lu orang berdasarkan prioritas (urut dari prioritas 1 sampe 4)..

kalo gw pribadi sih:
1. plot
2. setting
3. karakterisasi
4. gaya bahasa
5. jokes (gw gak pinter bikin jokes :P )
hmm.. ato mungkin yg laen mau nambah elemen2 lainnya? ???
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 10, 2008, 08:42:34 am
________________________________________
refrensi rey..
itu penting banget.

sekalian deh,

buat penulis Hozzo

sebelumnya, makasih udah memberikan pinjaman bersyarat atas buku anda. selain itu, saya sebagai pembaca berterimakasih atas “KERAMAHAN” anda atas komplain saya beberapa waktu lalu atas betapa jeleknya sebenarnya sosok hege yang sebenarnya :P .

nah memasuki hal inti, sebelumnya mohon maaf karena ini adalah tanggapan pribadi atas apa yang saya baca. jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafin :P

buku itu beneran deh, kek perpustakaan berjalan. bikin pala pusing kala dibaca malam2, tapi akan sangat menyenangkan jika dibaca pagi-pagi buta. perjalanan yang aneh, butuh konsentrasi untuk ikut serta dalam perjalanannya. nah berhubung bacanya tak selalu konsen jadi bagian perjalanan ke Tudag ga bisa ngebayangin jenis pulaunya begimana. tapi saat berkendara dengan pla-veos, hee… keren oe..

nah, terlalu banyak hal baru yang ada di buku ini, jadinya semua hal-hal fantasinya terasa datar. mungkin karena diceritakannya secara umum kali ya, tapi ada beberapa detail yang tak bisa aku bayangkan penggambarannya, seperti semangka bergerigi ataupun pintu yang membuka dengan gerakan silang (saat di ruang inkubasi)

yang menarik juga yaitu, tentang kehidupan para alien di planet huminiz. ternyata, biarpun penulisnya mau membuat setting tempat yang berbeda, tapi kesan bumi masih melekat. tentang sebutan rumah sakit, dokter dan tukang kebun. kenapa tak dibuatkan sebutan yang lain, untuk menghilangkan kesan kalau mereka masih di bumi?

selain itu, ALIEN, merupakan sebutan orang-ornag bumi pada makhluk luar angkasa, tapi kenapa sih para makhluk luar angkasa masih juga menyebut sesama mereka dengan sebutan alien.sekali lagi, kenapa mereka tak punya merk untuk jenis mereka,

untuk tokoh utamanya, entah karena aku yang kurang konsen atau emang tak disebut, aku tak tahu umur Alan berapa ya? hee… maaf kalau di buku udha disebut ya
tapi pembicaraan dan pola pikir mereka sedikit terllau dewasa untuk anak remaja seumuran mereka.

pemakaian sebuah istilah yang tak konsisten.
WANITA ALIEN dan ALIEN WANITA timbul bergantian.
Nah kepada bang Villam, master bahasa, coba mana sih diantara istilah itu yang tepat untuk menunjukkan alien yang berjenis kelamin wanita?

secara umum, buku ini hebat. refrensinya komplit dan benar-benar mendukung. tak salah plotnya disusun dalam dua tahun (plotna aja mbo.. apalagi bukunya coba ;D). aku maish nungguin buku lanjutannya yang entah kapan nyusul terbit (tentunya minjem gratisan lagi yak. hee ;D)

dan mungkin seperti seseornag yang disebu penulis, buku ini ngebuat aku minder sendiri. huu… :’(
________________________________________
Post by: hege on March 10, 2008, 10:24:42 am
________________________________________
Terimakasih untuk TS kita tercinta untuk bahasan barunya, mari tingkatkan kualitas thread tersayang ini. Post seperlunya dengan topik bermutu dan memang pantas didiskusikan.

Semua itu penting, semua mendukung kualitas cerita, tapi kadang kala beberapa lebih menonjol dari yang lainnya.

Menurut hege Gaya Bahasa atau bentuk tulisan menduduki peringkat pertama, karena itu love-at-the-first-sight, apalagi untuk editor, paragraf2 pertama novel adalah harga mati, gak peduli sekeren apa ceritanya di dalam, atau seganteng apa karakternya di dalam. Bentuk tulisan sangat menentukan betah-tidaknya pembaca untuk melanjutkan.

berikutnya dengan porsi baik, pas dan seimbang: plot, setting, karakterisasi dan humor sense (hege tak menyebutnya jokes, karena kadang kala humor sense itu ga mesti jokes yg bikin ngakak, tapi kalimat-kalimat yang membuat pembaca antusias, takjub dan terbius)

@arik
terimakasih atas reviewnya. Sangat kuhargai. Mengenai istilah dan sebutan di planet Huminiz, oh tentu hege sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa bumi, dan itu penting untuk pemahaman dalam membaca (well tentu saja kan?). Jika arik penasaran, zooke adalah sebutan tukang kebun dalam bahasa Humin, Var adalah sebutan dokter, dan banyak lagi yg lain. Tapi itu akan semakin memusingkan pembaca bukan? (ada ratusan istilah baru yg telah kuciptakan di novel ini ;D)

mengenai sebutan alien, oh pls rik, penggunaannya hanya untuk pemahaman pembaca saja, sekali lagi, terlalu banyak ras yang ada di planet luar sana untuk hege ciptakan sebutan, hehehe. Lagipula Wet dalam bahasa bumi menerjemahkannya seperti itu.

Tentang semangka bergerigi dan pintu terbuka dengan gerakan menyilang. Come on, anak SD pun bisa membayangkan itu ;D

but once again thanks so much for your review, rik (ini review pertamamu bukan?) semua review pembaca (lewat buku pinjaman atau beli) sangat berharga untuk saya.
—-

[tab:Hal 5]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 10, 2008, 01:44:17 pm
________________________________________
1. Klo aku setuju ama Hege, gaya bahasa tuh paling penting dlm sebuah karya.
Coz gaya bahasa nunjukin keunikan and ciri khas dr seorang penulis itu.
Mgkn bisa dibilang seperti identitas gitu dech!
2. Truz Setting, membangun suasana negeri fantasy tuh sulit, jd penting banget klo ini diprioritasin.
Semakin oke setting, bakal lebih mudah membuat pembaca seakan bisa ikut ‘tersedot’ di dlm dunia fantasy itu.
3.Plot.
4. Karakterisasi, semakin baik penggambaran karakternya maka pembaca bisa kenal lebih deket ama para tokoh.
Asyik banget kalo pembaca bisa menyelami kepribadian tokoh2 kita and seakan2 pembaca kenal baik ama para tokoh.
5. Jokes? wah, selera humorku ga bagus. jadi kayanya ni kelemahanku.
Ada solusi?
Btw, ni smua pendapatku lho!
Gimana pendapat yg laennya?
________________________________________
Post by: alk on March 10, 2008, 08:55:37 pm
________________________________________
bagiku:
1. plot (gaya bahasa penting buat first impression, tapi tetep aja kalo plotnya nggak mengesankan, sebentar juga dah lupa ceritanya)
2. gaya bahasa + jokes (menurutku sih, jokes masuk dalam gaya bahasa juga)
3. karakterisasi (nggak seru kalo karakternya nggak bisa dibayangin ;D)
4. setting (biarpun urutannya bawah gini, ga berarti ga penting nih >:()
5. referensi (kalo ada bagus banget, kalo ga ada… ya diadain lah ;D)
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: hege on March 12, 2008, 11:19:10 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on March 11, 2008, 07:53:20 am
>Quote from: hege on March 10, 2008, 02:16:56 pm
>baca novel2 dengan selera humor layak akan membantu
>Rowling, RL Stine, Roald Dahl, Tolkien’s Hobbit
RL Stine gada lucu2 om, serem mah iya :P
Hmm.. setelah gw pertimbangkan secara mendalam, selera humor sama sekali gak bisa diukur.
Penulis fantasi ga bakal bisa ngerti/ngakak baca humor2 ala teenlit, dan begitupun sebaliknya. Jadi, sebetulnya kita gak bisa menjudge suatu bacaan kocak mampus/jayus kronis tanpa mengatasnamakan “menurut gw/aku/ane/eike”.
kalaupun ada pengecualian di mana ada pembaca yg ngakak baca teenlit maupun fantasy maupun jenis2 bacaan lainnya, berarti sang pembaca itu emang memiliki selera humor yang fleksibel.

Jadi yang susah adalah, bagaimana menciptakan humor yang diselerai masyarakat luas (dari berbagai kalangan pembaca)?

Selera humornya RL Stine agak-agak miring dan mengerikan, but I really really liked it… oh hege itu penggemar berat RL Stine. Phil itu karakter yg dipengaruhi banyak karakter di Goosebumps (buku-buku karangan Stine terjual lebih dari 300 juta eksemplar ke seluruh dunia dan terjemahkan ke dalam 28 bahasa)

Once again rey, hege menyebutnya Humor sense, bukan sekedar isi jokes atau lelucon atau hal-hal gokil lain yang bikin ngakak. Humor sense itu terkandung dalam tulisan, dan itu sangat mempengaruhi betah tidaknya pembaca. Hege membaca beberapa teenlit-nya Meg cabot, serius keren kok (meski beberapa penerjemah gramed mengacaukan beberapa novel beliau) dan hege impress akan humorsense-nya doi. dari banyak buku2 best seller lain yg hege baca, kuambil kesimpulan, humor sense yg baik akan menarik lebih banyak pembaca.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
________________________________________
halo semuanya…
apa kabar?
proyek menulisnya masih berjalan semua kan?

bagus-bagus nih pembahasan di beberapa halaman terakhir, tentang mana yang paling penting dalam sebuah novel fantasi. aku bisa banyak belajar. :-)

tentang gaya bahasa, hege benar, itu penting buat menumbuhkan ‘cinta pertama’. serius, ini memang sangat penting. walau sebenarnya, istilah ‘gaya bahasa’ ini terlalu sempit, yang lebih luas dan cocok sebenarnya adalah ‘cara menyampaikan cerita lewat jalinan kata dan kalimat’ (halah…).

tapi, menurutku pribadi sebagai pembaca, bukan gaya bahasa yang bisa bikin aku bertahan baca novel sampai akhir, melainkan ceritanya, yang berisi plot n karakter.
udah banyak kasusnya, cerita dan novel yang kututup di tengah jalan atau bahkan di dua halaman pertama, yang walaupun bergaya bahasa bagus dan mengalir, tapi karena aku gak sreg sama plot dan karakternya, ya udah gak kubaca lagi. apa boleh buat. yeah… tentu saja ini hanya menurutku…

mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

sementara untuk setting, itu bagus untuk menambah suasana dan masuk ke dalam cerita. yeah… penting juga, terutama untuk menegaskan bahwa cerita kita adalah cerita fantasi. tapi di urutan berikutnya deh…
sedangkan jokes, menurutku bisa disetarakan dengan romance, action, atau sex scene. semuanya adalah bumbu untuk menarik perhatian pembaca. umumnya hal-hal ini disukai pembaca, dan berarti penting juga. tapi aku pribadi menempatkannya di bawah faktor-faktor lainnya yang telah disebutkan.
yeah… hanya pendapat bodohku saja…
mari menulis lagi.
________________________________________
Post by: kokonoka on March 12, 2008, 03:32:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk

Point yang bagus buat dipikirkan!
mau nanya kecepatan menulis orang kan beda2. Dari sudut pandang pembaca, mending “my pace” tapi jadinya puas atau rilis berkala yang cepet tapi kurang puas?
Abisnya kadang mood dateng pas lagi sibuk2nya.. eh pas lagi senggang idenya belum keluar..
Selain itu gimana mengakali supaya pembaca ga bosen? terutama kalo Act yang kita tulis panjang sampe beberapa bab (dengan perubahan setting yang minim dan karakter yang itu2 aja)

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: hege on March 12, 2008, 04:10:16 pm
________________________________________
Koko,
biar ga bosen? gimana bisa bosen sih? kalau ga ada greget di dalam tulisan/ceritanya sih mau sependek apa juga pembaca bisa jadi bosen. Artinya, setelah rangkaian karakter,plot, penulisan, setting dengan kadar dan posisi pas, apik, rapi dan jali, ceritanya takkan pernah mengebosenin, trust me! ::)

All,
beberapa tips memancing minat pembaca untuk membaca tulisan kita sampai selesai dan takjub.
1. Twist di akhir bab, ini sangat menyenangkan, it works for me, actually, hehehe..
2. pakai atau selipkan tokoh2 yg ekstraordinari dalam cerita, ini pasti berhasil, pasti! (masalahnya, karakter2 ekstraordinari sulit sekali dibuat, bahkan oleh penulis yg jam terbangnya tinggi)
3. stop cliche things, oh please guys! buatlah sesuatu yg gak sering dibuat orang, dengan begini ceritamu lebih cepat melejit.
4. Terakhir, (ini bukan untuk mematahkan semangat siapa2 yak, heheheh) kalau ceritamu terus-menerus jelek dan tidak enak dibaca, segimanapun usahamu, bahkan setelah menulis jutaan kali dengan usaha sekeras-kerasnya, bahkan sampai berguru dan belajar nulis ke mana-mana. menyerah saja, mungkin hoki dan bakatmu tidak disitu.
nb. kalau belum nyerah juga, teruslah berusaha dan berdoa, cita-cita dan mimpi itu milik semua insan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 05:23:34 pm
________________________________________
1. bagus, kokon. silakan dipikirkan ya… heheheh…
2. saranku, buat dirimu lebih puas lebih dulu, baru puaskan orang lain. (dalam konteks ini ya… dalam soal lain, lebih indah memuaskan orang lain terlebih dulu. hehe…)
3. hmm… mungkin harus ada kejutan di setiap 5 halaman. sesuatu yang baru dan bikin orang penasaran. jadi kepikir juga cerita Robinson Crusoe atau film Cast Away-nya Tom Hanks, kok gak bosen ya walaupun tokohnya cuma satu, dan di satu pulau lagi…

@all,
ada yang sudi menyerah sekarang?
hihihihi…

oya tambahan…
di halaman berapa tuh arik pernah nanya mana yang bener:
‘Wanita Alien’ atau ‘Alien Wanita’.
kalo dianalogikan dengan : ‘Wanita Indonesia’, ‘Wanita Jawa’ ataw ‘Wanita Jepang’,
mungkin ‘Wanita Alien’ benar.
tapi kalo dibandingkan dengan : ‘Manusia Wanita’, ‘Jin Perempuan’ ataw ‘Singa Betina’,
mungkin ‘Alien Wanita’ juga benar.
jadi… bingung juga sih… hehehe…
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 13, 2008, 08:07:01 am
________________________________________
Villam, setelah kupikir, jika ditinjau dari segi Menerangkan Diterangkan,
Wanita Alien ==> lebih menekankan pada wanita, dengan alien sebagai unsur menerangkan spesifikasi jenis wanitanya.
Alien Wanita ==> lebih menekankan pada alien, dengan wanita menjelaskan jenis kelaminnya.

tapi dari buku hozzo, istilah alien wanita cuma seklai muncul (ini penulisnya rasanya ge-er deh aku ngebahas istilahnya dia). yah jika disesuaikan dnegan telinga, kekna aku lebih menarik jika memakai alien wanita. karena kedengarannya wanita hantu itu agak aneh… ;D
but, sudahlah, toh juga revisi udah dikirim dan menunggu penolakan enam bulan lagi. wkwkwk .. peace… ;D

gus, aku ga ngerti poin2na, jangan pke bahasa inggris atu….
yah, tapi jadi penikmat juga kadang menyenangkan. :)
________________________________________
Post by: hege on March 13, 2008, 10:01:36 am
________________________________________
minimal 3 bulan untuk keputusannya, jangan libatkan pengalaman pribadi yak ;D. hege pasrah saja pun jika ditolak. masih ada penerbit-penerbit cadangan ::)
btw, hege lebih suka menggunakan istilah Wanita alien (contoh: wanita alien Hezezoic), and its NOT a big deal, demi langit dan bumi. Banyak hal yg bisa dikritik dan didiskusikan selain hal-hal sepele gini.
Rik, poin-poin mana yg tak berhasil dicerna otakmu? Tips itu? I dont explain thing twice, thank you.

[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 14, 2008, 11:48:43 am
________________________________________
hayah gw tinggal dua hari nih tret udah cukup banyak postingan berbobotnya (walo ada jg dua orang yg keliatan banged mesra2annya :P ), elu orang emang keren semua dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

Udah gw duga, berdasarkan tulisan2 elu orang yg pernah gw baca, jawaban dari setiap orang disini bakalan beda2 buat pertanyaan priority itu.
Bisa gw ambil konklusinya, ada dua pendapat dominan disini:

Gaya Bahasa VS Plot

Sepakat sama Villam, terus terang gw pribadi lebih condong ke plot, karena bagaimanapun juga, yg kita bikin itu novel, bukan katalog lelucon/kuliner/wisata jalan2(i poin no finger, i name no name :P , tapi kalo ada yg ngerasa kesambit, (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif) aja deh). Harus ada suatu ide dasar yang kuat untuk plot yg ditulis, yg syukur2 plot itu bisa dibikin secerdas mungkin, gak bertele2, dan gak klise.
Cerdas disini maksudnya adalah menciptakan rangkaian logika dalam plot.

Kalo ada tokoh antagonis setengah dewa yang kekuatannya tak terkira (yg udah digembar-gemborin dari awal sampe akhir cerita), ya konsistenlah thp karakter itu. Jangan nantinya ada tokoh protagonis yg mendadak dengan kekuatan bulannya, malah bisa ngebabat tuh si antagonis… ini gak asik sama sekali. Harus ada solusi yg logis untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Di lain sisi, karena yg dibikin itu novel, dan bukanlah film/komik/anime/lagu/karya seni lainnya, keahlian merangkai kata-kata juga gak kalah penting. Dalam hal ini gw sepakat sama Hege. Ketika kita beli sebuah buku, apa yang kita dapat? Cuma lembaran-lembaran kertas dan hamparan kata-kata..(halah..–ngikutin gaya bang villam :P )

Film, komik, novel, semuanya sama2 menampilkan cerita. Tapi novel hanya berisi kata-kata, gak ada sound, gambar, atau video untuk mendukung cerita yg ditampilkan. Satu-satunya yang akan ditemui pembaca cuma kata-kata, dan mau gak mau kita mesti menyajikan kata-kata itu sespesial mungkin buat menggantikan sound, gambar, video yang gak ada itu.

Menurut gw, menulis novel dengan gaya bahasa (dan dialog) datar* sama aja kaya mencoba menyajikan nasi goreng tanpa bumbu. Nasi goreng itu emang bisa diabisin, sesendok demi sesendok, tapi itu akan menyiksa si pelahap nasi goreng itu.

Dengarlah kawan, yang kita tulis itu novel, bukan berita surat kabar ato daftar belanjaan! :)

*)’Bahasa datar’ yg gw maksud disini gaya bahasa orang tamatan SD.

Jadi, thanks to hege and villam, dimensi plot dan gaya bahasa sama2 vital, dan gak boleh keteteran satupun dari keduanya. ;)

Selain dua hal itu, ada hal lain yg mau gw sorot, karena cukup banyak fantasi lokal yg udah pernah gw baca miskin atau bahkan gak memiliki satu hal ini: greget–thanks to hege.
Betapapun orisinil/apik/keren sebuah jalinan plot, kalo ga ada greget, pembaca akan mudah sekali bosan. Kecakapan menulis dialog, mendeskripsikan kronologi antar peristiwa, menyusun dan memotong scene2, amat diperlukan disini… ga peduli mau novel genre apa, yg namanya greget itu penting, novel tanpa greget ibarat orang ga ada semangat.

Udah ah, gw bukan senior apalagi master, tapi udah ngebacot panjang kek begini… jadi malu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

Salam Dangdut
(Aiih gw emang TS yg ganteng dan bijak..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif) eh kalo kek gini gw netral ato menikam semua orang yak?)
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 14, 2008, 12:46:10 pm
________________________________________
jadi kesimpulannya, menulis itu memerlukan seni dnegan beragamn faktor yang mempengaruhi. bukankah itu artinya semuanya penting rey, cuma tergantung kemampuan kita untuk menambal faktor mana yang kita bolong dengan meninggikan faktor lain yang dimana kita ahli.

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sesi V (8 Feb 2008 – 3 Mar 2008)

  • Review Goran oleh BloodSin
  • Frogs karya hege
  • Fantasi tetap harus logis
  • Tentang science fiction
  • Cahaya Bulan karya clickdian
  • Konferensi Hantu Sedunia karya alk
  • Tanggapan atas review Goran

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:43:50 pm
________________________________________
Gw udah beres baca GORAN, dalam hitungan 4-5 hari.

Dan inilah repiu yg udah gw janjikan (Karena buku ini ‘berkesan’ banged buat gw, gw bikin repiu-nya rada beda ama yg kemaren2 ;) ):

Judul buku: GORAN-Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Genre: Fiksi Fantasi
Tebal: 335 halaman

Secara general, GORAN adalah sebuah novel dengan plot kompleks yang dieksekusi dengan gaya bahasa sederhana namun cerdas (paragraf antar paragraf gampang dimengerti, plus disisipi lelucon2 ringan yang menghibur). Mengambil setting 3 dunia, dengan 3 tokoh utama, Goran rasanya punya 3 anak plot, yang baru dipertengahan buku melebur jadi 1 plot raksasa.

Nah, sekarang kita masuk ke elemen2 detailnya:

Opening, dibuka dengan plot Aniki Kodama, tokoh utama pertama dengan sifat-sifat ajaibnya. Opening ini lumayan manis, walau di sini pengarang belum terlalu kelihatan gilanya.

Plot. Ide utamanya adalah tentang perpindahan portal waktu dan dimensi ala Chrono Trigger dan Chrono Cross, dengan medium orang sakti. Makin masuk ke dalam cerita, makin gila si pengarang bercerita. Beberapa scene terasa kacau nian, tapi tetap saja kreatif dan masih masuk jalur logika. Pokoknya seru dah.

Setting. Inilah kelebihan utama novel ini: settingnya ada 3 dunia. Setting dunia hari ini, dunia ‘futuristik’, dan dunia masa lalu. Gw terutama salut sama pengetahuan dan kreatifitas pengarang yang notabene cewek tentang dunia persilatan Cina Kuno, yang digambarkan cukup detail dan realistik.
Satu2nya setting karangan dia mungkin adalah setting ‘futuristik’ planet Vida. Kehidupan barbar para Theft Ryder digambarkan dengan baik sekali, ide advanced technology-nya keren dan unik, plus penggambaran yang matang untuk kesenjangan sosial antara Theft Ryder dan kaum borguic yang jadi ide utama settingnya.

Karakterisasi. Ada 3 tokoh utama (dan beberapa tokoh pendukung favorit gw):
-Aniki Kodama, si tukang tidur yang cuek abis, disini gw rasa pengarangnya kepengaruh berat dari manga2 jepang. Dia mewakili setting dunia hari ini, dieksekusi dalam kehidupan remaja jepang. (mirip cerita2 si kokonoka)
-Orphann, theft ryder barbar yang punya pemikiran-pemikiran aneh. Dia mewakili setting dunia ‘futuristik’, planet vida.
-Xin Ai, cewek gendut manja yang jago silat dan strategi. Dia mewakili setting masa lampau di Cina, yang masih terkondisi sebagai dunia persilatan dan perjodohan :D .
-Panglima Sam, ini karakter favorit gw! Karakter antagonis yang selalu bernasib malang.. gw selalu ngakak kalo baca scene2 dia..
-Guru Besar, yang ini kebagian porsi kecil di plot, tapi emang berkesan banged bagi gw. Salut berat buat pengarang yang udah ngebikin tokoh seantik begini. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
-Soil, cewek botak (yang semula gw kira cowok) temennya Orphann yang cerdas.
-Onatsu, emaknya Aniki yang punya karakter keibuan banged…
-dan sebetulnya masih banyak lagi karakter pendukung, yang emang diperlukan dalam cerita..(maksudnya keberadaannya bukan asal tempel)

P.O.V (kalau gak tau ini apaan, belajar dulu sana sama bang Villam!)
Tereksekusi dengan sempurna! Villam, i think u’ll love this book, karena emang ‘ente banged’. ;)

Endingnya, parah. Tega nian, padahal di sepanjang jalan cerita, sama sekali gak ketebak endingnya bakal begitu..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Apakah Serambi mensyaratkan ending model begitu untuk naskah2 yang masuk ke meja redaksi? (Endingnya sama persis sama ending Sang Penandai(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif) )
Tapi gw salut banged, emang mendingan ending kaya begitu daripada ‘ending bagus’ tapi tidak berkesan sama sekali. Makna endingnya lumayan dalam, dan ngebikin gw berpikir ngejelimet di akhir kalimat ending. :D

Kekurangan novel ini mungkin terletak pada masalah editing; ada banyak struktur kalimat rancu n ‘semau gue’ si pengarang. Tapi gaya bahasanya emang kreatif, gokil, dan simple. Ada beberapa ‘kalimat berbahasa gaul’ yang tau2 muncul di tengah2 kalimat formal, mungkin pengarangnya lagi mabok pas ngetik di situ. Tapi berhubung plotnya sendiri udah gila dan mengalir banged, rasanya kerancuan-kerancuan yang ada bisa ditolerir..

Menuruti standar gw, GORAN dapet poin 5 dari 5, dan menjadi yang terbagus dari lebih dari 10 judul fantasi lokal yang pernah gw baca. Highly recomended buat semua anak sini, yang mau belajar bahwa sebetulnya genre fantasi bisa dieksekusi segokil mungkin tanpa harus keluar dari kekuatan fantasi itu sendiri. Salut berat buat pengarangnya*!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

*)Setelah baca Goran gw jadi naksir berat sama pengarangnya** nihh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif) (serius, pengarangnya gokil mampus (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), tapi apa daya yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak apapun di buku selain namanya..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif) Mau donk kenalan..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

**)Pengarangnya cewek***, entah udah tante2 ato masih ABG.. yang jelas gaya bahasa novelnya mengingatkan gw sama gaya bahasa satu member sini (dulu)..

***)Namanya Imelda A. Sanjaya…. dari namanya kayanya cewek cakep nihh****(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

*****) Oke deh, kayaknya gw kudu berhenti sampe sini, sebelom ngelantur terlalu jauh..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:45:19 pm
________________________________________
Guys n Gals, selain GORAN, kemaren gw ngebaca satu judul fantasi lokal laennya di kemudian.. yg kayaknya masih ditulis oleh penulis pemula sama kaya kita. Judulnya The Rohriant (id penulisnya: codenameKEY), yg ngebikin gw kecele mampus karena skill menulis gw gak ada apa2nya dibanding skill dia.. The same case terjadi waktu gw baca CO** (M.S), Sang Penandai(Tere Liye) n Goran (Imelda Sanjaya).. gw merasa begitu kerdil, tulisan gw cupu nian, dangkal, gak berbobot.. kalo dibandingkan sama karya2 mereka. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)

Sial, ada banyak penulis fantasi lokal berbakat di luar sana, yg bahkan mungkin sekaliber Rowling/Tolkien. Personally, gw frustasi berat karena gw nyadar seorang diri gw ibarat kecebong di tengah2 samudera yang berisi ikan2 predator gede (gw selalu demen pake metafora ini, walaupun pada faktanya gak ada kecebong yang idup di laut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))

But secara nasionalis (dalam dunia fantasi lokal maksudnya :P ), gw seneng karena genre fantasi mulai berkembang di sini.. Hmmm.. gw percaya genre fantasi punya masa depan cerah di indonesia berkat penulis2 berbakat kayak mereka.. Apa daya kalaupun gw gak bisa berdiri sejajar di antara mereka, at least naskah gw bisa terbit buat berpartisipasi aja di dalam wadah yang sama… itulah tekad gw sebagai penulis fantasi lokal nan cupu.. how about u, friends? ;)
________________________________________
Post by: hege on February 27, 2008, 10:39:01 am
________________________________________
F.R.O.G.S.

Tiga ekor kodok sehat dengan pipi merona merah sedang bersantai selonjoran di pinggir kolam. Mereka adalah kodok-kodok yang luar biasa beruntung, kalian pasti tahu kenapa—ada banyak sekali saudara-saudara, kawan, bekas tetangga, buyut, kerabat atau sepupu jauh mereka sedang dibedah dan dikuliti di luar sana.

Mereka adalah sahabat karib, masing-masing bernama Rodi, Joni dan Sam. Rodi dan Joni bersaudara beda ayah (ibu mereka punya banyak sekali suami sehingga tak ada yang tahu persis yang mana ayah untuk anak-anaknya). Sementara Sam dulunya tinggal di rawa-rawa di selatan Inggris sebelum angin topan atlantik mengangkatnya tinggi-tinggi ke atmosfir dan melontarkannya ke Asia.

“Kalian lihatlah ke langit!” seru Rodi, dialah kodok yang paling gemuk dan paling berotot di antara ketiganya, di depan mereka tersedia seloyang besar lalat dan nyamuk goreng balado. Joni menjulurkan lidahnya dan menyambar seekor lalat yang kaki-kakinya mencuat kaku ke udara.

“What in the world I must look at the sky!” protes Sam, meski dia sudah belajar bahasa Indonesia selama dua tahun dari para sahabatnya, dia masih sangat bangga menjadi warga negara Inggris dan sedang mencari-cari cara untuk kembali ke negerinya.

“Ada awan berbentuk donat!” seru Rodi berbinar-binar. “Kalian pasti terpesona.”

“Itu tidak mungkin!” koak Joni, lalu ia mendongak ke langit, matanya melebar. “Tidak pernah ada awan berbentuk donat sebelumnya. Awan itu bentuknya selalu tidak karuan. Tapi yang satu ini merupakan keajaiban alam.”

“Menakjubkan!” kata Rodi.

“Fantastic! Terrifically marvelous,” gumam Sam, yang akhirnya mendongak.

“Bentuknya mulai berubah, wahai saudaraku!” jerit Joni beberapa saat kemudian. “Menurutmu kenapa awan donat sempurna tadi berubah bentuk? Sekarang mulai tak begitu seperti donat.”

“Itu karena ada raksasa yang memakannya,” ujar Rodi yakin. “Kita tak bisa melihat raksasa yang kumaksud, kata ibu, raksasa yang tak nampak ini memakan awan-awan dan memuntahkannya kembali menjadi hujan dan petir.”

“Oh that’s full of nonsense!” kata Sam menggeleng. “Itu karena angin yang membuatnya berubah bentuk, it always be that way. Angin di langit sangat kencang, lebih kencang dari apa yang kalian bayangkan. You knew exactly what the hell happened with me, didn’t you? Angin serupa membuatku melayang-layang di stratosfer!”

“Aku heran kenapa kau tidak mati saja saat itu,” kata Rodi, “kau mulai meracau lagi!”

“Otaknya tidak beres,” sahut Joni, mendukung saudaranya.

“Whatever!” gumam Sam kalem.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/94838

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 28, 2008, 09:11:18 am
________________________________________
Kalo di fantasy, makin ga logis makin bagus. Tapi yang susah tuh daya khayalnya kudu kemana-mana.
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 28, 2008, 09:18:56 am
________________________________________
hehe…
biarpun fantasi tetap harus logis dunk…
maksudnya, harus ada alasan atas setiap kejadian, juga harus ada alasan untuk setiap tingkah laku karakternya, betapapun anehnya itu.
alasan2 itulah yang dimaksud logis, yang kudu dibedakan dengan imajinatif/tidak imajinatif.
setiap cerita, apakah itu teenlit ataupun fantasi, tetap harus logis dan sekaligus juga imajinatif (membuat pembaca terbayang-bayang… halah).
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 29, 2008, 11:31:52 am
________________________________________
Ngomong2, aku masi agak bingung ama definisi scie-fi ama fiksi fantasy.
Aku udah baca reply yang di depan tapi aku butuh contoh konkritnya.
Kebetulan crita baruku ini agak mirip city of angel gitu dech (udah pada nonton kan? ;) )
Jadi ntar ada sosok tokoh yang bukan manusia tapi diturunkan di dunia untuk nolong dua orang tokoh utamaku. Ntar mereka bakal mengarungi alam pikiran manusia and cari tahu problem psikis apa yang diderita ama dua tokoh utamaku ini.
Btw, ni termasuk apa ya?
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 29, 2008, 02:02:41 pm
________________________________________
thalia,
ceritamu itu bisa dimasukkan ke dalam genre fantasi. fantasi tentang dunia alternatif yang kita diami sekarang.
sementara kalo science fiction, menurutku adalah merupakan bagian juga dari genre fantasi, yang menitikberatkan pada spekulasi penulisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi di masa kini atau masa datang.

Nah untuk membuat ceritanya dapat dipercaya maka penulis itu melakukan riset mendalam terhadap ilmu pengetahuan / teknologi tersebut (misal : genetika, komputer, kendaraan, persenjataan, ruang angkasa, bawah laut, dsb), dan hasil spekulasinya dipamerkan pada pembaca, entah berupa science fiction murni, atau bisa juga digabungkan dengan jenis fantasi lainnya, seperti fantasi dunia alternatif ceritamu, atau fantasi dunia lain yang penuh dengan makhluk-makhluk menakjubkan dan lain-lain.

kalo buatku, penulis science fiction yang paling kusuka tetaplah Jules Verne (1828-1905), yang menulis : Journey to the Center of the Earth, From the Earth to the Moon, 20000 Leagues Under the Sea, Around the World in 80 Days, Mysterious Island.
dan film science fiction yang paling kusuka adalah trilogi Back to the Future.
hehehe…

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: clickdian on March 01, 2008, 03:47:31 pm
________________________________________
Guys…
Aq post sebagian dari cerpenku ya.. tolong komennya, kalau berkenan, dan mohon dimaklum kekurangannya karena penulisnya masih belajar. :)
Buat yang udah baca Zauri, pasti familiar dengan scene ini, walau dari point of view yang berbeda. Dan oh, maaf cuma sebagian. Kalo terlalu banyak kasian yang nggak minat baca, liat postingan yg kepanjangan ;D

Cahaya Bulan

Rasanya baru saja kurebahkan tubuhku ketika tiba-tiba saja aku terbangun lagi. Langit-langit kamar hampir tidak terlihat karena kristal cahaya dimatikan, tetapi sinar bulan masuk lewat jendela sehingga di sekitar lantai—terutama di tempat tidur Regia—masih terlihat walaupun remang. Aku sendiri bercahaya, tetapi tidak seberapa.

Aku memutar tubuhku di atas bantal yang kugunakan sebagai alas tidur. Dari tempatku sekarang—di atas bupet kayu di tepi ruangan. Kulihat Regia tertidur menghadap ke jendela, dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya di sana, tertimpa temaram sinar rembulan.

Setelah sekian lama menjadi temannya, sejak dari kami masih di istana sampai sekarang kami berkelana, baru kusadari kalau Regia benar-benar cantik. Di luar dugaan, kristal mungil yang menempel di keningnya membuatnya bertambah cantik, terutama sekarang. Kristal berwarna ungu muda transparan itu berkilauan. Aku bangkit dengan susah payah dan duduk. Debu-debu cahayaku bertaburan di atas bantal seiring gerakanku, lalu jatuh dan menghilang.

Tubuhku masih sakit sekali rasanya, sejak pertempuran kami dengan Mario. Awalnya seluruh tubuhku terasa sakit karena hangus terkena api Mario, dan tak bisa digerakkan untuk waktu yang sangat lama. Setelah beberapa minggu, pada malam hari, aku bisa duduk seperti ini, walaupun masih terasa nyeri dan kaku. Entah mengapa aku lebih nyaman bergerak setelah matahari terbenam. Apakah itu karena aku peri, aku tidak tahu. Aku belum lama jadi peri, jadi tak punya jawaban untuk ini.

Hmm.. sayapku agak terlipat di tepinya. Aku memutar badanku untuk membetulkan ujung sayapku. Tidak terlalu sulit, ini sering terjadi dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Tiba-tiba aku mendengar suara lirih dari arah tempat tidur.

“Dios…”

Aku menoleh ke arah Regia. Lagi-lagi ia mengigau. Sudah berapa lama sejak kepergian pemuda itu, ya? Satu bulan? Atau lebih? Aku sering sekali melihat Regia melamun sejak Dios pergi—yah, kami semua seperti itu, tapi ialah yang paling sering melamun. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi.

Sebutir air mata meluncur di pipi Regia.

next…. on http://www.kemudian.com/node/96104

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: alk on March 02, 2008, 02:42:24 pm
________________________________________
8) ehem… satu tambahan post lagi dari cerita Ghost vs Aliensku…
buat yang ga ada kerjaan, silakan menebak hantu-hantu apa sih yang deskrispinya aku kasih ‘italic’…
;D ;D ;D
KONFERENSI HANTU SEDUNIA

Zephyr melayang, menembus dinding, memasuki bangunan tua itu tanpa semangat. Ia hantu, itu jelas terlihat dari ektoplasma keperakan yang merupakan wujud tubuhnya. Sosoknya yang berwujud anak-anak membuat banyak hantu lain melecehkan atau tak mempedulikannya. Namun, satu dua hantu yang mengenalnya tampak mengangguk hormat kepadanya. Ia membalas anggukan hormat itu dengan lambaian tangan acuh.

Zephyr hidup jauh lebih lama dari kebanyakan hantu di bangunan itu. Ia sudah hidup lebih dari delapan ratus tahun, hampir sembilan ratus tahun malah.

Betapapun, ada beberapa hal yang tak pernah berubah tentang Zephyr. Ia masih tetap berwujud roh bocah kecil, sama seperti delapan ratus tahun yang lalu. Ia juga masih tak bisa mengingat bagaimana ia menjadi hantu, atau bagaimana ia hidup sebelum menjadi hantu.

Nama Zephyr sendiri adalah pemberian dari seorang hantu kuno yang ditemuinya di Athena. Nama itu berarti angin dari barat. Tapi Zephyr sendiri tidak tahu apakah ia sebenarnya berasal dari barat, atau dari timur, atau malah dari selatan. Ia tak pernah bisa mengingatnya.

Zephyr terus melayang perlahan, melewati beberapa kelompok hantu, menembus dinding, menjelajahi bangunan itu tanpa arah.

Bangunan itu adalah sebuah bangunan kuno di Transylvania, tempat yang memunculkan kisah Count Dracula, sang vampir penghisap darah. Malam ini, bangunan itu adalah bangunan paling berhantu di seluruh penjuru dunia. Ribuan hantu berada di sekitar bangunan itu, sebagian kecil di dalam, sebagian besar di luar.

Malam ini adalah sebuah peristiwa luar biasa bagi para hantu. Selama sebulan lebih, energi aneh menarik mereka dari segenap penjuru dunia untuk datang ke tempat itu. Para hantu yang sudah berusia lebih dari limaratus tahun, termasuk Zephyr, tahu apa artinya itu, undangan untuk Konferensi Hantu. Hantu-hantu yang berusia di bawah itu kebanyakan datang mengikuti nalurinya saja. Tentu saja ada juga banyak hantu yang tegas-tegas tidak mengindahkan hal itu, entah karena ragu, terlalu angkuh, atau karena takut akan jebakan.

Zephyr sendiri datang, jauh-jauh dari pedalaman hutan di Zaire, meninggalkan penelitiannya tentang suku Afrika disana, karena tertarik pada aura yang dikeluarkan untuk memanggil mereka. Jelas sekali baginya bahwa yang mengeluarkan undangan itu memiliki energi hantu yang sangat kuat, jauh lebih kuat darinya, dan juga mungkin jauh lebih tua darinya. Ia melayang-layang mencari sumber energi ini tapi belum juga berhasil menemukannya.

Menjelang tengah malam…

“Saudara-saudariku, para hantu dari seluruh pelosok dunia.” Tiba-tiba terdengar suara bergetar aneh. Bahasa hantu. Bahasa yang secara alami langsung dipahami oleh semua hantu di dunia.

“Selamat datang di Konferensi Hantu Dunia yang ke tujuh. Akulah, Asmodeus, yang mengundang kalian semua kemari.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini para hantu yang berada di luar bisa dengan mudah menemukan sumbernya. Asmodeus, sang pembicara, berada di puncak kastil kuno itu, menjulang tinggi, tegap dan berpendar keemasan.

Nama Asmodeus yang disebutkan sosok itu menimbulkan bisik-bisik riuh dari para hantu yang berada di situ. Ratusan hantu yang berada di dalam bangunan segera melesat keluar dan bergabung dengan mereka yang sudah di luar.

“Asmodeus, harusnya aku sudah menduganya,” Zephyr menggumam. Ia mengenal nama itu. Nama sesosok hantu yang berusia sudah lebih dari dua ribu tahun. Hantu yang lebih sering dikenal dengan sebutan Lord. Hantu terkuat yang posisinya disejajarkan dengan Mephisto, sang Raja Iblis.

“Malam ini, ditempat ini akan diadakan Konferensi Ketujuh Hantu Sedunia. Adapun hal yang akan dibicarakan disini adalah situasi kita yang semakin memburuk akibat ulah manusia,” Asmodeus berseru lantang.

Zephyr langsung mendengus sinis. Tak punya kreatifitas para hantu ini, begitu pikirnya. Hal yang dibicarakan dalam Rapat Besar malam ini dan Rapat Besar limaratus tahun yang lalu sama saja. Limaratus tahun tanpa perkembangan sama sekali.

“Benar. Ulah manusia membuat situasi hidup kita jadi semakin sulit!” Sesosok hantu berucap. Ia sangat jelek. Bulu panjang tebal menutupi sekujur tubuhnya dan mulutnya tebal dipenuhi gigi-gigi besar.

“Sekarang ini sulit sekali bagi kita untuk menunjukkan kebanggaan diri kita sebagai hantu. Kita harus terus menerus menyembunyikan diri. Kalau tidak, segerombolan pendeta sialan pasti akan datang dan langsung mengeksorsis kita,” ucap hantu itu.

Zephyr menyeringai. Sejak dulu, eksorsisme atau pemusnahan hantu adalah hal yang paling menjadi momok bagi para hantu. Bangsa manusia dalam hal satu ini sama tidak kreatifnya dengan para hantu ini. Sejak dulu cara eksorsisme yang mereka lakukan ya itu-itu saja, tak ada perkembangannya.

“Juga pabrik-pabrik sialan bangsa manusia itu,” sambung sesosok hantu cantik berjubah kelabu yang suaranya melengking, menyayat menyeramkan. “Asap dan limbah pabrik sialan itu mengacaukan fungsi rohku ini. Polusi yang mereka ciptakan tak baik bagi kesehatan kita, bangsa hantu.”

Zephyr mendengus meremehkan. Kesehatan? Hantu mengeluhkan kesehatan? Mereka itu sudah mati, apanya yang punya kesehatan.

“Sejak dulu sudah ditentukan kalau terangnya siang adalah bagian manusia sementara kegelapan malam adalah bagian kita. Tapi sekarang, cahaya memenuhi segenap penjuru kota sekalipun sudah tengah malam. Bangsa manusia yang kemaruk itu telah menjajah hak kita,” tambah sesosok hantu kuno Mesir yang entah kenapa sepertinya terjebak dalam balutan panjang kain kafan.

Kembali Zephyr mendengus meremehkan. Siang buat manusia, malam buat hantu? Sejak kapan hal itu diputuskan. Ia tahu bahwa banyak hantu yang karena begitu tololnya telah mengikuti jejak para iblis, sangat takut dengan cahaya matahari dan selalu menyembunyikan diri waktu siang. Hal yang sangat bodoh. Sinar matahari sama tidak berbahayanya dengan sinar bintang bagi para hantu.

“Kita harus bertindak untuk mengatasi hal ini saudara-saudara!” Sesosok hantu kecil berkepala botak plontos dan cuma memakai cawat berkata. “Kita lawan bangsa manusia! Kita rebut hak kita!” serunya bersemangat.

“Dan bagaimana caramu untuk melawan manusia?” Suara tenang sesosok hantu dari Jepang yang berjubah pendeta dan berhidung sangat panjang menanggapi, mendinginkan semangat mereka yang mendengarnya.

“Manusia sudah berkembang biak terlalu banyak. Mungkin berjuta-juta kali lebih banyak dari jumlah kita semua dikumpulkan. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal cara-cara eksorsisme. Melawan mereka adalah bunuh diri yang sia-sia belaka,” ucap hantu itu dengan lagak bijak.

Zephyr menyeringai setengah setuju. Ia menyetujui seluruh perkataan pria tua itu kecuali bagian ‘bunuh diri’nya. Hantu sudah mati, mana bisa bunuh diri. Melenyapkan diri mungkin lebih tepat.

“Kita bisa mulai dengan bersatu lalu menyerang, merasuki dan menghantui satu kota. Merubah kota itu menjadi milik kita.” Si hantu botak tak mau menyerah begitu saja. “Kita bisa merebut satu kota dalam satu malam.”

“Ya. Dan malam berikutnya kita semua musnah karena bangsa manusia pasti akan langsung mengirim pasukan pendeta pemburu hantunya untuk menghancurkan kita,” cemooh sesosok hantu penunggang kuda yang menjinjing kepalanya sendiri.

Dan satu jam berikutnya dipenuhi debat yang tak beraturan dan tak berkesudahan tentang hal itu. Tempat itu dipenuhi riuh suara para hantu, semuanya berbicara bersamaan. Zephyr merengut sebal. Ia sudah berniat untuk beranjak pergi saja dari tempat itu. Sama saja dengan limaratus tahun lalu, pikirnya kesal. Pasti akan berakhir mengambang lagi.

Tapi tebakan Zephyr itu ternyata salah besar. Tepat sebelum ia beranjak pergi, Asmodeus yang dari tadi diam saja mendadak membuka suara…

“Perhatian saudara-saudariku kaum hantu…!!” Suara menggelegar ini langsung membungkam suara semua hantu di situ.

“Aku mengusulkan suatu pemecahan masalah bagi kita,” Asmodeus berkata lagi, tegas dan angkuh. “Ada sebuah dunia lain yang tidak dihuni satu hantupun. Dunia itu jauh lebih nyaman dari dunia kita sekarang ini. Usulku, kita semua berpindah masuk ke dunia itu.”

Sesaat suasana hening…

“Anda tidak sedang membicarakan dunia akhirat kan?” Sesosok hantu wanita dari pulau Jawa memberanikan diri bertanya. Ia berambut riap-riap, perutnya berlubang dan baju putihnya dipenuhi bercak darah.

“Bukan, bukan akhirat,” Asmodeus langsung menjawab tegas. “Dunia yang kusebut itu nyata dan benar ada. Aku sudah melihatnya sendiri. Ada yang tidak mempercayaiku?”

Semua hantu terdiam. Meragukan Asmodeus tak pernah terlintas di pikiran sebagian besar dari mereka. Bagi sebagian kecil yang ragu, mereka tahu bahwa tidak bijaksana mengemukakan hal itu terang-terangan pada hantu sekaliber dia.

“Di dunia itu ada manusia?” Sesosok hantu bertanya, memecah kesunyian. Sosoknya yang mengenakan topeng ice-hockey dan memegang gergaji mesin, tampak sangat menyeramkan.

“Tidak ada manusia dan tidak ada hantu,” Asmodeus menjawab tegas.

“Tapi ada makhluk lain?” Zephyr akhirnya membuka suara, menyimpulkan.

Asmodeus menatap Zephyr dengan tajam selama beberapa saat. “Ya,” akhirnya ia menjawab. “Ada makhluk-makhluk aneh yang di dunia ini dianggap dongeng di dunia itu. Tapi mereka sama sekali bukan masalah bagi kita.”

“Jadi kau berpikir kita bisa kesana, menginvasi dunia itu dan merebutnya untuk kita kaum hantu?” Zephyr berkata lagi.

“Itu memang tujuanku,” Asmodeus menjawab tegas. Kharisma yang dipancarkan hantu ini bisa membuat ciut nyali semua hantu lain, tapi tampak tak berpengaruh sedikitpun pada Zephyr.

“Kaubilang disana tak ada hantu kan? Apakah kau yakin bahwa itu tidak disebabkan karena semua hantu disana telah dieksorsis?” Zephyr dengan kalem bertanya lagi.

“Aku yakin,” Asmodeus berkata. “Sudah dua bulan aku meneliti disana. Aku sudah memperlihatkan wujud di depan banyak makhluk. Tak ada satupun yang mengenaliku sebagai hantu. Aku sudah menangkap, menyiksa dan memaksa seorang peri untuk menceritakan sejarah dunia itu. Tak ada satupun legenda yang menyebutkan tentang eksorsisme hantu.”

Zephyr mengerutkan kening. Ia tahu bahwa hantu itu tak berbohong. Beberapa hantu yang sudah cukup tua, termasuk dia sendiri, bisa memadatkan ektoplasmanya dan memegang benda benda. Tentu saja itu juga berarti mereka bisa memukul dan menyakiti makhluk lain. Walaupun begitu, Zephyr tak menyukai kekerasan. Siksaan jelas-jelas bertentangan dengan sifatnya. Namun ia menahan diri dari keinginan untuk berkomentar sinis. Ia malah terus bertanya, “Kalau begitu, apa rencanamu dengan makhluk-makhluk yang tinggal disana?”

“Sudah jelas kan? Kita akan mengusir mereka,” Asmodeus menjawab sinis. “Kalau perlu kita akan memusnahkan mereka. Kita tak bisa mengambil resiko mereka berkembak biak seperti manusia dan menghancurkan kita dengan eksorsisme.”

Terdengar suara riuh menyambut ucapan itu. Sebagian setuju, sebagian lagi menentang.

“Diam semua…!!” Asmodeus membentak. Wajahnya berubah jadi beringas dan menakutkan.

“Aku mengajak kalian ke sana demi kepentingan kita juga. Yang setuju denganku dan bersedia mengikuti keinginanku silahkan tetap disini. Yang tidak setuju, silahkan menyingkir dari sini dan membusuk di dunia ini.” Asmodeus berkata dengan ketegasan tak terbantahkan.

Zephyr mendesah sedih. Ia sangat ingin melihat dunia yang disebutkan Asmodeus itu. Tapi, ia benar-benar anti kekerasan. Merampas dunia lain dan mengusir atau memusnahkan penghuninya sama sekali tidak sesuai dengan gayanya.

Dengan muram Zephyr melayang meninggalkan tempat itu diikuti sejumlah hantu lainnya. Tapi mereka yang masih tinggal ada banyak, sangat sangat banyak.

[tab:Hal 7]

________________________________________
Post by: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
________________________________________
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 03:51:38 pm
________________________________________
@didie sy, teman baruku…
kok malah mempertanyakan apakah om blood membaca buku GORAN ataw tidak? hehehe…
aku sendiri belum baca, tapi menurutku wajar jika ada pembaca yang pendapatnya berseberangan, satu positif, satu negatif.
gak mungkin semua suka, atau sebaliknya semua gak suka. harry potter aja ada yang gak suka dan yang gak suka, apalagi buku yang lain.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 04:09:02 pm
________________________________________
Quote from: yuzuriha on March 03, 2008, 02:58:02 pm
lia……………
gak tau kanapa tiba2 aku jadi capek banget nulis dan berpikir………
padahal semua masih terangkum rapi di otakku padahal deadline novellet nyata tgl 29 maret……. :’(
aku gak bakat kali yah?????
hehe…
yuzu, jika masalahmu adalah capek, ya beristirahatlah.
jika masalahmu karena tiba2 gak bisa nulis padahal semua udah ada di otak, mungkin coba dengan lebih fokus, jangan mikirin hal lainnya.
tapi jangan sampai menyalahkan si ‘bakat’ ya… hehehe…
Tuhan sudah menganugerahkan ‘bakat’, pasti ada tujuannya. tapi sebenernya ada yang lebih penting daripada bakat, yaitu ‘usaha’.
barangkali ‘usaha’ kita buat belajar dan menulis belum terlalu kuat. masalah yang sama selalu dihadapi setiap penulis kok, tapi sebenarnya kita udah tau jawabannya. cuma melakukannya yang sulit.

Comments No Comments »