Posts Tagged “septimus heap”

[tab:Hal 1]Sesi X (18 Apr 2008 – 11 Mei 2008

  • Heart of Desperado karya BloodSin
  • Tentang Para Penunggang Petir
  • Lagi, tentang novel fantasi lokal dan peran editor
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin
  • Review Septimus Heap: Flyte oleh clickdian

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on April 18, 2008, 02:23:57 pm
________________________________________
Heart of Desperado: Prolog

Siang itu, sewaktu matahari mengintip dari awan tebal di langit barat El Banderas, orang-orang berkuda hitam menuruni bukit di sebelah utara desaku. Mereka memacu tunggangannya sambil mengacung-acungkan Colt hitam yang digenggam tangan kanan mereka, menarik pelatuk dan meletuskan tembakan berulangkali ke udara.

Selama sesaat aku mengira iring-iringan ribut itu adalah Cicero bersaudara yang baru pulang dari perantauan—mereka memang eksentrik dan biang ribut—yang ingin mengejutkan kampungnya seolah tengah diserbu penjarah-penjarah dari gurun Sierra Nevada.

Tapi aku segera menyadari kekeliruanku: para pendatang ini mengenakan segala sesuatunya serba hitam, tidak seperti Cicero bersaudara yang selalu berpenampilan mencolok dan agak norak. Mereka bukanlah orang-orang dari desa kami, El Banderas, yang memiliki sepuluh keluarga petani dan limapuluh hewan ternak yang digembalakan di balik bukit selatan El Banderas.

Mereka adalah iring-iringan asing yang menunggangi sepuluh kuda hitam, bercadar hitam, dan ber hitam-hitam. Aku dan Piedro tidak mengenali mereka.

Aku terhenyak tatkala iring-iringan sepuluh orang itu melompati pagar kawat berduri yang menghalangi jalur mereka dengan lentingan sempurna; menerjang jalanan utama desa dengan penampilan dan sikap yang mengintimidasi. Detik berikutnya aku melihat gigil gelisah dari bibir Piedro yang mengintip di sampingku; ia menggumamkan sesuatu, tapi perhatianku teralih pada pemandangan yang ada di luar istal kuda, tempat kami membenamkan diri dalam ilalang kering.

Aku menyadari bahwa mereka seutuhnya adalah para perompak yang menyerbu desa kami, sewaktu pemimpin mereka meletuskan tembakan ke dada Eduardo tua yang malang. Para lelaki desa kami melakukan perlawanan dengan mengambil revolver-revolver berkarat yang sudah bertahun-tahun tak digunakan, bersembunyi untuk membidik para penyerbu dari balik drum-drum anggur di gudang suatu bar kumuh.

Tapi iring-iringan itu bergerak lebih cepat dari mata, lebih lihai dari tembakan, dan lebih tajam dari bidikan. Para pelawan dari desa kami tak pernah dapat menumbangkan bahkan hanya seorang dalam iring-iringan itu. Peluru-peluru selalu meleset seperti ditiup setan yang bersekutu dengan mereka.

Tampaknya mereka bukan perompak sembarangan.

“Mereka adalah Las Mephisto,” Piedro mendesis gentar dekat telingaku. “Perompak legendaris yang tak bisa mati oleh peluru,”
………………………………..
………………………………..

http://kemudian.com/node/117151

________________________________________
Post by: BloodSin on April 28, 2008, 12:54:10 pm
________________________________________
@om pur,
poin pertama (yg ini murni cuman cuap2 selera pribadi gw aja–boleh langsung di-skip masuk poin kedua kok, heheheh), gw kagak demen novel fantasi anak2 ‘tertentu’.
makanya dari hexalogi(eh apa oktalogi yak?) chronicle of narnia, gw cuman tamat baca buku pertamanya doank (padahal dulu gw dipinjemin komplit semua seri-nya ma temen lho). ini berlaku juga buat harpot–buku satunya bahkan tak tamat kubaca pun>_<
tak peduli mau dalam bentuk buku/film, ane kurang excited sama narnia/harpot/golden compass, somehow. (padahal waktu jaman sd-smp dulu ane freak sama seri goosebump n bahkan langganan majalah bobo jg lho!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif))
umur memang menentukan selera bacaan.
tapi emang ada juga sih fantasi anak2 tertentu laennya yg gw demen, kayak bridge to terabhytia & hozzo contohnya. yg ini gw gak tau knp, barangkali ada faktor x tertentu dalam cerita yg bersinggungan sama selera gw, makanya gw bisa takluk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)

kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?

ketiga, emang yg namanya ‘kerjaan’ editor buat novel2 fantasi lokal tertentu dari bbrp yg pernah gw baca, suka bikin gw gregetan.
Gak usah musingin sampe tahap isi & logika dalam cerita dah, untuk urusan EYD, tanda baca, struktur kalimat baku, & ‘ketelitian mata’ aja masih sering kebablasan tuh. suer, ini pengalaman gw untuk belasan fantasi lokal yg pernah gw lumat sampe tamat(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
yaahh.. begitulah kira2 yg terjadi IMO.

note:
eh gw ngomong begini bukannya mau ngejepret penulis & editor teenlit/chicklit sini lho…jangan sampe salah paham yak, demi sejuta jemuran kolor.
*ngikutin gaya ngomong si hegenyet(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)*
Tapi ini kenyataan: umumnya, orang yg telah terbiasa berkecimpung dalam dunia teenlit gak bakal pernah bisa memahami dunia fantasi seutuhnya, dan begitupun sebaliknya.
dan gw selalu suka pake analogi ini: orang yg udah terbiasa & demen musik dangdut sampe mengakar di otaknya gak bakalan bisa memahami sepenuhnya konsep musik jazz, dan begitupun sebaliknya…kecuali mungkin kalo musikalitas orang itu tinggi banged & emang fleksibel (si orakarik pernah gw jelasin panjang lebar beginian(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))

jadi… sekedar masukan dari gw (seorang penulis fantasi mahacupu gak tauk diri yg sotoy akut dan doyan mencela karya orang(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)), ditujukan buat penerbit2 yg ada niat nerbitin naskah fantasi: rekrutlah editor2 yg berkapasitas menguasai betul tata bahasa & EYD indonesia (secara naskah bergenre fantasi umumnya menggunakan bahasa baku) dan benar2 berwawasan sebagaimana sejatinya editor fantasi–maksudnya, minimal familiar sama berbagai mitologi & literatur fantasi dunia lha (secara mayoritas naskah fantasi indo bertendensi mengambil setting luar).
Segitu aja sih, cuap2 TS thread inih di hari senen yg suntuk & membosankan, yg barangkali malah menambah suntuk pikiran semua yg baca tulisan ini skrg.. hehehe :D
Salam Dangdut,
Rey L

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on April 29, 2008, 12:07:44 pm
________________________________________
Quote
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
Memang, itulah kelemahan apabila pengarang kurang mengestablish universe secara komplit. Kalo ‘males’ bikin universe yg lengkap, jatuh-jatuhnya jadi mirip Fan-Fic.

Quote
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.

Bisa setuju dengan sinyalemen lo, bro. Tapi kalo menurut gue sih, perhatian terhadap ‘universe’ harusnya merupakan sesuatu yang sudah standar ada dalam pemikiran seorang editor. Biarpun ‘hanya’ untuk cerita Chiklit sekalipun, sebuah dunia rekaan yang lengkap dan masuk akal seyogyanya tetap menjadi perhatian.
Makanya yg gue sorot mungkin bukan sekadar ilmunya. Tapi ‘attention’ terhadap kebutuhan pengarang. Kalo editornya gak menguasai medan cerita, dia kan masih bisa belajar. Tapi kalo editornya gak peka terhadap kebutuhan pengarang, dia dapat ‘menjerumuskan’ pengarang sebab yg punya otoritas ke hasil akhir adalah sang editor.

Tapi emang menurut gue sih, terkait kompleksitasnya, nggak pernah ada salahnya bila editor/ pengarang mau menshare tulisannya (terutama sehubungan dengan pembangunan universe cerita) ke dalam suatu forum diskusi para antusias. Soalnya universe itu memang harus berkali-kali mengalami pengujian dan perbaikan, sampai bener-bener didapatkan universe yang solid dan kokoh sebagai fondasi dimana cerita akan dihidupkan.

Kalo ‘dibenturkan’ pada komunitas, kan nantinya akan ada kritik dan perbaikan. Soalnya kepala banyak orang kan beda-beda, masing-masing bisa memberikan wawasan fresh yang bisa melengkapi pembentukan suatu universe.
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
Salam,
FA PUrawan

________________________________________
Post by: BloodSin on May 01, 2008, 12:27:06 pm
________________________________________
@om pur lagih,
(belakangan ini gw lg demen posting panjang gak kira2 buat musingin orang yg buka tret ini ;D)
Quote
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
sebetulnya ane udah join milis enthe dari lama, email kukumerah_id (dulu gara2 penasaran setengah koid pengen tahu mahakarya penulis yg berani mencela Hozzo abis2an, hehehehe ;D), cuman yak senasip sama si hege, selera ane kebentur sama selera ente yg ibarat langit dan bumi ;D
but at least let me tell you panjang x lebar apa yg ngebikinku tak kuasa bacak sampe abis, rasanya tak adil juga kalau ane yg udah ‘minta’ novel ente gak ‘bayar’ apa2, heheheh :D
(eniwei serius ini penilaian yg subjektif banged, karena emang udah masuk urusan selera pribadi sih, jadi kalo terasa nyelekit harusnya gak jadi pikiran kan?)

pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya. Ane entah kenapa kurang bisa tahan sama gaya bahasa anak jakarte, tapi sebetulnya ini gak gitu masalah juga kalo emang dalam gaya bahasa itu betul2 mengandung selera humor yg bisa mengocok perut ane (novel Jomblo-nya aditya mulya sukses bikin ane ngakak gilak n baca tiada henti)

tapi di luar itu, gaya bahasa dialog anak jakarte dalam Pendekar Garuda tetap terasa gimanaaa gitu, kayak kurang natural. tapi yg satu ini mungkin karena novel ente ditulis taun 90an, makanya waktu dibaca ane taon skrg, jadi ada sedikit pergeseran gaya dialog, heheheh, bukan salah ente juga sih.

Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho :P ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka. Kalau sebelumnya pas prolog adegan Sentika pake gaya bahasa yg aduhai, agak nyastra, dan cenderung bermetafora (istilahnya, ‘bahasa rapih’ gitu lha), ehh pas masuk dunia jakarte langsung berubah drastis ke bahasa Teenlit, baik dari segi bahasa deskripsi, narasi, sampe dialognya. (yg dua pertama gak terlalu teenlit sih, malah cenderung berbahasa baku–tp bbrp segmen digambarkan secara ‘teenlit’ nian, dan itu bener2 ngebikin gw terlempar keluar dari bangunan plot)

Gw tauk kok maksud ente gimana, biar terkesan lebih natural kan? Gak mungkin banged donk gaya bahasa dialog si jaka sama kayak gaya dialog Sentika, heheheh.. Tapi sebagai pembaca, gw mau pengarang setidaknya menunjukkan daya upaya untuk menjadikan keseluruhan universe novelnya selaras & tampak konsisten, daripada ‘berpasrah’ mendeskripsikan dua universe yg emang bener2 berbeda itu secara kontras.
(btw sebagai penulis, konsistensi gaya bahasa gw sendiri acakadul nian, Villam know it well :P )
ambil contoh novel goran yg menyajikan 3 dunia, tapi gw ngerasa gaya bahasanya konsisten, dan ajaibnya seperti yg udah ente sebut dalam review ente, pembangunan setting ketiga dunianya cukup believable.

menurutku gaya bahasa dialog Jaka masih boleh pake teenlit-style, tapi deskripsi & narasi yg sebelomnya terkesan rapi banged, jangan ikut2an jadi teenlit donk.. at least kalo tak dimungkinkan pake gaya bahasa yg rapih itu, tampilkan saja bahasa baku yg lugas. Paragraf2 awal bab satu udah good di mataku, masih acceptable, tapi makin ke dalem cenderung ber-teenlit ria–apalagi kalo udah narasi ttg ‘kekonyolan’ anak2 sma seputar si jaka.. dan sebetulnya itu yg ngebuatku merasa kurang nyaman untuk terus ngelahap tulisan ente.

Terus kalo ane boleh memberi sedikit pendapat lain ttg idenya (yg tentunya sotoy akut padahal gak tahu apa2–seperti biasa bukan gw namanya kalo gak sotoy :D ),
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
tapi sebetulnya ane juga rada bingung membedakan arti titisan sama reinkarnasi, sama tak? kalo beda, berarti pendapat di atas totally absurd(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))

terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu :D ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.

ambil contoh lagi novel goran, heheheh… pas aniki pelan2 menguasai bakatnya, pertama kan dia suka ga sengaja ledakin benda2, sampe akhirnya bakatnya itu bisa dikuasai sepenuhnya, ato pernah nonton kungfu hustle? disitu tokoh utamanya nemuin bakatnya pas akhir2 cerita sih, sebelomnya dia malah digambarin cupu banged, namun di balik kecupuannya itu ada tanda2 ‘sepele’ yg menunjukkan kalo dia sebetulnya berbakat atas sesuatu (kalo formula ini diterapin di plot Pendekar Garuda rasanya gak mungkin juga sih, nanti satu buku malah abis cuman buat begituan doank ;D)

itu saja sih sedikit pendapat mahakonyol dari penerawangan serampangan ane, tak adil? iya banged! hahahah, harap dimaklumi yak.. TS sinih emang suka geblek, semua orang disini udah tauk, bahkan ekek pun suka gregetan sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
Salam Dangdut

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 02, 2008, 11:07:38 am
________________________________________
Halagh!!,….. SATU komentar aja, gue tunggu-tunggu,… lama banget. Hehehehe,.. inget kan di milis cuma 1 member yang berkenan kasih input. Padahal yg join udah 40-an, hehehe.
So,… apapun yang akan elo katakan, gue hargai banget! Santai aja, bro. Setiap masukan adalah buah pikiran orang, dan setiap buah pikiran adalah permata buat gue. Kadang justru kritik lah yg membuat gue tahu ke arah mana gue harus melangkah. Pujian emang asik, tapi gue gak pernah tahu bagian mana yg harus gue perbaiki kalo dasarnya adalah pujian.
Komen ente aku tanggapin, bukan buat ngebela diri, ya? Aku sekedar ingin share latar belakang pilihan yg aku lakukan aja. Bagaimanapun, bikin karya tulis memang nggak terlepas dari menentukan pilihan-pilihan, hehehe,…
BTW, berkenan memposting komentar ente di milis? Silakan lho,…. (tapi gue hanya akan diskusiin di sini aja, soalnya di forum ini kan kita bisa jadikan pembelajaran)

Quote
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T

OK, noted. Gue memang pernah bimbang apakah akan bikin prolog ini dalam satu BAB aja (jujur, awalnya satu bab. Tapi kemudian dengan pengembangan detail dst, tiba-tiba satu bab jadi terasa awkwardly kebanyakan halaman.) Makanya terus gue bagi tiga bab aja. Tapi missi gue adalah membabar konflik utama di awal, supaya pembaca udah punya bekal cukup untuk melanjutkan cerita ke belakang.
Di milis kemarin pernah ada saran untuk menyelang-nyeling prolog dengan Bab. Nah, itu yg sekarang lagi aku coba lakukan, apakah flownya masih enak :)

Quote
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya.

Masih gak natural ya? Hmm,… rasanya gue udah cukup mentok di sini :-\ Naskah 1991 jauh lebih jayus dari yg ini,.. hehehe,…. waktu 2005 ditulis ulang, aku sempetin minta pendapat anak-anak SMA, kebetulan mereka gak komplain. Tapi saya coba perbaikin lagi sebisanya sesuai gaya mutakhir mereka.
Tapi gaya itu memang saya pilih untuk mengkontraskan perbedaan jaman, harapannya agar konflik batin Jaka bisa lebih muncul, bahwa masalah yg dia hadapi itu bener-bener diluar ‘dunia’ anak-anak itu, gitu seh. Ceritanya gue pengen bikin pembaca ‘mikir’ bahwa, giiila anak SMA dihadapkan pada masalah seperti itu,….

Quote

Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho :P ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka.

Gue juga ‘dapet’ concern elo. Bener juga sih. Elo belum baca Part 3, ya? Sebenernya dua kontras itu akhirnya memang akan ‘menyatu’, terutama di Part 3. Di Part 1 (di luar prolog) Dunianya masih Dunia Jaka (SMA Masa Kini), Part 2 mulai masuk ada pengaruh-pengaruh dari Dunia Mistik ke Dunia Jaka (aku buat suasana perkemahan kacau balau, dan peserta mulai ngalamin keanehan-keanehan secara di depan mata, tapi belum 100% realized), dan di Part 3, anak-anak SMA itu bener-bener masuk dalam dunia mistik. Pada saat itu, gaya bahasanya udah lebih kurang kembali ke warna gaya bahasa Sentika.
Terus terang rancangan proses ini membuat gue excited juga, cuma untuk eksekusinya, ya masih perlu dikritik oleh temen-temen,… :)

Quote
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh

Well, sebenernya novel ini pun gak menggunakan ajaran Islam sebagai landasan, koq. Islam hanya sekedar menjadi dudukan setting aja, terkait sama perkiraan jaman saat konflik pertama berlangsung (enam ratus tahun yg lalu, kerajaan yg dominan di Jawa kan kerajaan islam, hehehe).
Terus konsep gue bukan titisan, melainkan ‘keturunan’. Yg menurun juga ilmu-ilmu silat dari para pendekar itu. Ceritanya diilhami dari temuan ilmiah yang ga ilmiah-ilmiah juga :) bahwa ilmu pun dapat imprint di DNA. Tapi sengaja gue bikin kabur hal-hal ilmiah, soalnya mau lebih pake pendekatan mistik,.. hehehe,…
Jadi kalo pun novel ini mau dibilang punya spirit ajaran Islam, kayaknya sih lebih ke konsep islam jawa, yang masih sinkretis dengan Hinduisme, sebagaimana kondisi setting di Jaman Sentika seharusnya.

Quote
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))

hehehe,… bener banget, bro. di Islam konsep ini ga ada. kenapa gue pilih? Soalnya ide 666 udah sangat populer sebagai sesuai yang ‘evil’. Terutama sejak muncul film Damien Omen, :) Nah ceritanya gue mau memanfaatkan ‘pemahaman bawah sadar’ pembaca tentang suatu ‘evil’ yang sangat ‘tradisional’, ya konsep 666 itu.
Tapi emang gue gak berani memunculkan konsep ini terlalu sering, takut jadi benturan. Makanya gue lebih banyak ngomong “enam ratus tahun yg lalu etc”.

Quote
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu :D ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.

Hmm,.. agak susah. Soalnya konsep gue memang ilmu itu udah ‘ada’ di dalam diri Jaka sejak lahir, tapi baru keluar hanya di saat keadaan amat berbahaya. Kondisi-kondisi berbahaya kan dialami oleh dua tokoh, Jaka dan Rani, dua-duanya sempat sekelebat ‘muncul’ ilmunya. Ini juga alasannya karena mereka memang ‘dilindungi’ oleh Sentika, terutama dari ancaman musuh2 Sentika di jaman ini.
Kalo konsepnya semacam ‘pertumbuhan’ ilmu, berarti ada akumulasi, makin lama makin jago, gitu. Susahnya, gue harus mempertahankan kondisi Jaka sebagai orang yg ngga ngerti ada apa dengan dirinya, makanya ilmunya ngedadak muncul, tapi ngedadak juga hilang lagi. Buat gue Jaka tetep jadi orang biasa adalah penting, sebab gue mau bikin misteri itu tersingkap di depan mata Jaka satu persatu, sampe bikin dia ngeri sendiri :) hehehe.
Baru saat akhir Part 1, melalui sebuah proses ‘klimaks’ kecil, akhirnya Jaka bener-bener mewarisi ilmu itu, diajar langsung oleh Sentika (part ini udah baca, belum?)

Quote
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))

;D ;D ;D mahakarya! ;D ;D ;D
Seriously, yg pengen gue anggep sebagai mahakarya adalah sekuelnya! Cuma belum start bikin! hwkakakak
This time, I’ll let you live,…!!!
Beribu thanks,……

FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: rd_Villam on May 05, 2008, 01:20:47 pm
________________________________________
halo semuanya…
rey, dian, hege, fapur, vadis, kokon, arik, clara, cil, lich, eniyorda, dan semuanya dan semuanya (<–ciri khas penulis malas yang enggan berdeskripsi ria… hehe…)
apa kabar?
gimana proyek novel kalian semua?
udah berapa persen? dah pada dikirim lagi ke penerbit belon? tetap semangat ya…
lama gak masuk ternyata banyak pembahasan menarik, terutama pembahasan om fapur dan rey.
hmm… jika melihat review2 ente, aku kok optimis suatu hari nanti bakalan ada FFDN Award, buat novel fantasi terbaik Indonesia setiap tahunnya. hehehe… siapa tau jadi ajang yang ngetop nanti. coba aja bikin mulai tahun 2008 ini.
buat om fapur, aku belum baca draft novelmu, tapi aku penasaran dengan konsep 666 tahun itu. bukan soal arti angka itu, tapi soal penanggalannya. itu berarti pake penanggalan jawa, hindu atau islam ya? yang jelas jaman dulu belon ada penanggalan masehi ya. (berhubung 666 tahun yang lalu di tanah jawa masih jaman majapahit, budaya islam belum masuk. pelaut belanda juga baru dateng 400-an tahun yang lalu)
hmm… menarik juga neh… coba deh ntar kubaca… (belon baca udah cerewet duluan. hihihi… sori…)
ciao.
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 05, 2008, 03:14:24 pm
________________________________________
Ya pakai penanggalan masehi aja, lah biar gak usah pusing-pusing, hehehe,…. Kan sekedar sebagai referensi waktu aja, enam ratus tahun sebelum jaman sekarang.
Dengan setting 1990-an (ngga tahu deh apakah tetep aplicable dengan setting 2000-an), maka peristiwa dalam prolog novelku akan berada di sekitar tahun 1300-an.
Di tahun-tahun segitu, Islam sudah masuk Indonesia, misalnya kerajaan Samudra Pasai aja udah ada sejak tahun 1000-an. Di Jawa sendiri masih sekitar menjelang akhir dinasti majapahit (Dinasti Mataram baru ada tahun 1500-an). Aku merekonstruksikan kondisi masyarakat waktu itu sebagai peralihan antara budaya Hindu dengan budaya Islam. Maka konflik yg terjadi di dalam prolog, mungkin bisa juga diinterpretasikan sebagai pertentangan pandangan antara pandangan lama vs pandangan baru di jaman itu. Oh iya, ini juga untuk mengoreksi statemen gue di posting sebeumnya, ternyata memang di tahun-tahun itu kerajaan islam belum dominan,… hehehe,… :-[
Monggo dibaca.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: clickdian on May 11, 2008, 04:56:26 pm
________________________________________
Oke guys, ini review buku kedua Septimus Heap, Flyte.

To be honest, yang pertama kali narik aq untuk baca buku pertamanya adalah endorsement dari Kirkus Review, “Awas Harry… Ada penyihir muda baru yang sedang naik daun.” Secara gak langsung review ini menyejajarkan karya Angie Sage ini dengan Harry Potter, dan aq pengen tau kenapa.

Buku pertamanya, Magyk, nggak terlalu menarik buatku karena pengaruh endorsement tadi, yang bikin aq bandingin kisah Septimus Heap dengan Harry Potter (hey, don’t blame me, that’s what you’ll get with endorsement like that!). Rowling lebih sukses menghidupkan tokoh2nya dengan dunia yang lebih mendekati natural, deskripsi khayalan yang lebih nyata, joke yang lebih kena, dan emosi yang lebih menyentuh. Angie lebih dingin, dunianya lebih asing dan tanpa pengenalan di awal, joke2nya datar—please, deh, masa setelah halaman tiga ratus sekian aq baru nyengir, sih?—dan langka, lebih banyak kerut di kening karena belum menangkap isi cerita, dan spell2 yang membingungkan. Di akhir cerita barulah aq ngerasa ada something di buku karya Angie ini, dan aq baca ulang dari awal sekali lagi untuk nemuin apa yang hilang. Yang aq temuin, dia punya originalitas, terutama di sisi spell words, dan plot yang beda dengan tipikal kingdom-fantasy stories yang biasanya. But still, aq kurang puas.

Baru di buku kedua aq nemu apa yang salah. Si endorsement itu tadi! Mestinya gak usah ada, karena bikin sugesti Harry Potter syndrom duluan, dan sejak awal karena aq udah mikirin Harry, udah sebel duluan karena mengira Septimus salah satu buku peniru Harry Potter, duh! Penilaiannya jadi subyektif. Pas buku kedua, aq skip sinopsis di belakang bukunya dan langsung baca, and I feel comfortable with the story. Pertama tentu saja karena udah tau gimana cara magyc spells bekerja di dunia Septimus—puluhan spell berserakan di setiap lembarnya dan awalnya mengganggu karena ditulis dengan huruf2 bold, kedua karena segunung tokoh2 di dalamnya udah kukenal sebelumnya, dan ketiga karena aq gak keingetan soal ‘membandingkan serial ini dgn Harry Potter’—sehubungan dengan endorsement tadi.
Oke, OOT-nya udah kelewat jauh, back to the topic.

Oh, btw, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas dan Sarah Heap. Anak2 yang lain tinggal di hutan karena merasa kehidupan hutan lebih fun: Sam, Edd, Erik, dan Jo-Jo. Nicko, yang menggemari kapal dan dunia perairan, lebih suka berada di pelabuhan. Simon sendiri sudah setahun menghilang, sejak pengangkatan Septimus menjadi Murid. Jenna, sang Puteri, sejak bayi sudah tinggal sebagai anak di keluarga Heap yang menemukannya ditelantarkan di tengah salju dan tidak mengetahui fakta kalau ia seorang Puteri sampai ulang tahunnya yang kesepuluh.

Yang jadi pokok permasalahan adalah, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas—yang juga anak ketujuh dari Benji Heap (kakek Sep telah berubah menjadi pohon dan membaur di hutan bersama pohon2 lain). Nah, putra ketujuh dari putra ketujuh diyakini memiliki kekuatan Magyc yang luar biasa, karena itulah Marcia mengangkat Sep menjadi Muridnya padahal waktu itu Sep baru sepuluh tahun.

Beda dengan buku pertama, buku kedua lumayan enak diikuti. Cerita berawal dari kehidupan Septimus setelah jadi Murid dari Marcia Overstrand, Penyihir Luar Biasa—orang yang sangat dihormati di dunia Septimus—dan tinggal di apartemen Marcia di Menara Penyihir. Tiba-tiba Jenna, calon Ratu, diculik oleh Simon Heap, kakak sulung Septimus yang iri setengah mati pada Septimus yang diangkat menjadi Murid Marcia.
Sep yang menjadi saksi penculikan menceritakan pada orang2 kalau Simon telah membawa Jenna, tapi tak seorang pun yang percaya kecuali Nicko, dan mereka berdua pergi mencari Jenna. Agak aneh, memang dari banyak sekali orang di sekitar mereka tak satu pun orang dewasa yang cukup wise untuk mengkonfirmasi berita ini, dan sebagai akibatnya dua anak di bawah umur harus menyelamatkan adik angkat mereka.

Jenna sendiri akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan usaha yang bisa dibilang terlalu mudah, mengingat ia tidak mengenal Magyc sebaik Heap bersaudara, dan Simon telah lekat dengan Magyc Gelap. Duh, seharusnya Simon lebih kuat dari yang diceritakan. Kok bisa anak perempuan lolos dari pengawasannya begitu mudah T_T. Sep dan Nicko menemukan Jenna di pelabuhan (Jenna pergi ke sana naik kuda yang dicurinya dari Simon)—which is too coincidental, dan agak aneh karena lumayan hebat juga Jenna bisa pergi ke pelabuhan dari tempat tinggal Simon nun jauh di utara (kalo dilihat di peta). Ada Stanley si tikus dari Dinas Rahasia Tikus memang, tapi tanpa makanan yang cukup dan peta sama sekali, dua jempol buat Jenna deh, bisa sampe di pelabuhan tanpa mengalami pingsan di jalan.

Dan Marcia sendiri, sebagai petinggi di kerajaan ini, tidak cocok dengan tipe orang-kepercayaan-rakyat yang biasanya. Dia pemarah, kadang egois, sedikit ceroboh, sering tidak mau kalah walaupun sebenarnya salah, agak mudah tertipu dan yang tadi itu—kurang wise. Pertimbangan2 Marcia masih kalah dari Alther, hantu gurunya yang masih keluyuran di dunia, bahkan untuk urusan penjagaan Istana pun Alther yang bertanggungjawab (karena ibu Jenna sudah meninggal, ayahnya entah ke mana dan Jenna masih terlalu muda untuk jadi Ratu). Walaupun demikian, dia sakti, penyayang (tapi jaim), dan bisa diandalkan. Tapi terus terang, dalam banyak hal, Sep yang baru sebelas tahun lebih baik darinya (semoga Septimus cepat dewasa dan menggantikan Marcia sebagai Penyihir Luar Biasa, amin). Dan di buku kedua ini bahkan Nicko jauh lebih berguna dari Marcia. :(

Flyte sendiri adalah sebuah jimat kuno yang bisa menerbangkan orang, yang telah lama hilang, dan terdiri dari dua bagian. Ternyata bagian pertama ada di dalam buku yang dipegang oleh Marcia, dan bagian yang satu lagi juga dimiliki Marcia, tapi diberikan pada Sep setahun lalu. Sampai sini aq mikir, KOK BISA Marcia nggak nyadar dua potongan jimat itu ada di tangannya selama ini, sih? Yang satu malah sampai jatuh ke tangan musuh segala. >:(

Masih ada kebetulan-kebetulan dan aturan2 lain yang sebenernya agak mengganggu, seperti garis matrilineal yang mengangkat anak perempuan jadi Ratu tapi suaminya bisa bebas keluyuran sebagai pengelana tanpa terikat dengan urusan kerajaan (jadi, tokoh raja di cerita ini murni hanya untuk urusan reproduksi). Tapi aq putusin udahlah, mending nikmatin aja ceritanya, dan ternyata not bad. Aq suka originalitas Angie dalam serial ini, dia gak kejebak sama stereotype fiksi fantasi yang kalo nggak seputar kisah heroik ya dunia peri-centaur-elf dan mitos2 lainnya. Di dunia Septimus Heap bener2 banyak hal baru.

Dan akhirnya, setelah baca dua buku pertama, I finally admit that Septimus Heap series is worth to read :) .

Note:
Reading Instruction
1.Singkirkan hal-hal yang berbau Harry Potter, LOTR, Artemis Fowl, dan Zauri
(hehehe ;D) out of your mind before reading Septimus Heap. It’s a brand new
thing.
2.Disarankan baca buku pertama, di situlah semua masalah berawal. Kalo
nekat juga skip dan ngerasa bego pas baca buku kedua, resiko ditanggung sendiri,
ya! ;D
3.Baca pelan-pelan kalo ketemu huruf tebal atau italic, kata-kata yang diperlakukan
dengan bentuk huruf demikian bisa sangat mempengaruhi jalan cerita—yang bold
adalah spell yang dikeluarkan para tokoh, dan yang italic biasanya hint atau clue
atau nama sesuatu. Dan, spell yang berbeda bisa menghasilkan efek magyc yang
sama. Selamat pusing, hihihi. :o
4.Ukuran novelnya nggak enak buat dipegang T_T, nanggung. Cari posisi yang enak
aja deh kalo baca, mudah2an nggak ngalemin pegel2. :D
5. Buat yang pusing liat postingan ini, sori dori mori yah :D :D :D

Comments No Comments »

[tab: Hal 1]Sesi IV (22 Jan 2008 – 3 Feb 2008)

  • Review KLA 2008 oleh clickdian
  • Terra Mater Aftermath karya clickdian
  • Monster’s Tales karya hege
  • Tentang tampilan cover
  • Hati-hati posting naskah ke publik
  • Lagi, tentang Fans Fiction dan Fantasy Fiction
  • Review Septimus Heap: Magyk oleh clickdian

[tab: Hal 2]

________________________________________

Post by: clickdian on January 22, 2008, 08:48:21 am ________________________________________

Hi guys… I’d like to report the ceremony of Khatulistiwa Literary Award 2006-2007 event, held on 18th January 2008 at Plaza Senayan. Semua orang bisa dateng dan ngeliat, dari lantai dasar ampe atas, jadi center of attention banget.

Acaranya oke… straight to the point dan ga bertele-tele, everything went quite fast. I loved it karena acaranya malem dan aq ga terlalu enjoy keluyuran malem di Jakarta, soalnya ga apal jalan dan nggak banget deh kalo harus nyasar malem-malem, hehe.. Dan band-nya kerennn!! Akustik! Tiga gitar dan satu gendang (kayaknya sih gendang, dari tempat aq duduk ga terlalu jelas)—i like accoustic. Lagunya asing, tapi aq enjoy.. the voices blended nicely with the music.

Banyak orang hebat yang dateng ke sana… Richard Oh, . Djenar, ah, kalo tau dia?penggagas award ini—of course he’d come bakal dateng aq bawa deh novel Nayla. Andrea Hirata, he’s a nice man.. sangat ramah.. sayang ngobrolnya ga bisa lama-lama, udah kemaleman for all of us.. Mbak Dianing Widya, very grounded and full of smile. Happy Salma, ga sempet ngobrol, dia pulang cepet. Rieke Diah Pitaloka—face to face banget, tapi aq speechless dan cuma bisa tukeran senyum doang sama dia, hehe.. Adilla Anggraeni, blon sempet ngobrol juga padahal duduk sebaris. Farida Susanty, wah dia mah emang udah lama kenal, gara2 dia buka thread untuk Run! di FI ini jaman belon direvisi dulu. Dan kayaknya aq ngeliat Moammar Emka, tapi pas dicari lagi udah ngilang. And last but not least, para finalis lain—walopun ga ngobrol langsung—they’re all great. Hebat-hebat semua… waaa… dan aq bukan siapa-siapa… ga ada yang kenal, hehe..

I am so lucky to have opportunity to join this event. Banyak praktisi sastra yang hadir—penulis, pembaca, pemerhati… sekelompok orang dengan minat yang sama: writing. I am not the best on it, but to be in the same room with people with the same interest makes me feel like home.

Satu hal yang bikin aq seneng banget.. walopun nggak menang, tapi Zauri salah satu finalis yang di-sort dari seratus-an buku2 lain, and it means, genre fiksi fantasi juga dihargai sekali lagi sebagai karya sastra di negeri kita tercinta ini, setelah penghargaan Adikarya IKAPI. I’m very thankful for that, alhamdulillah… akhirnya kita dapet tempat juga, teman-teman, dan nggak dipandang sebelah mata. Bahwa Zauri tidak berhasil jadi pemenang, itu berarti Allah udah punya jalan sendiri untuk Zauri, yang insya Allah lebih baik. Mungkin tempat utama itu kelak akan diperoleh oleh salah satu dari mereka yang bergabung di thread ini? I hope so… Mari terus berkarya, teman-teman. Ayo kita buat paling tidak satu dari finalis award ini tahun-tahun yang akan datang adalah novel dengan genre fiksi fantasi, dunia kita.

Note: The winner for prose category is Gus tf Sakai (Perantau). The winner for poetry category is Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi..) The winner for young writer category is Farida Susanty (Dan Hujan Pun Berhenti) ?Congratulations!

[tab: Hal 3]

________________________________________

Post by: clickdian on January 23, 2008, 08:57:58 am ________________________________________

Terra Mater, Aftermath

Felicity menatap jendela. Wajah cantiknya menyiratkan kesedihan. Biasanya, ia melihat pemandangan yang sama dari jendelanya setiap hari. Tetapi kali ini berbeda. Setelah merasakan hari-hari alami di Bumi, jendela kamarnya terasa sangat asing, walaupun ia sudah menatapnya selama dua puluh enam tahun hidupnya. Ada perasaan aneh yang membuatnya ingat pada Bumi. Sinar matahari alami yang menembus sela gorden pada pagi hari, senyapnya senja yang perlahan-lahan membawakan malam, hembusan angin yang meniup pelan rambutnya…

Perasaan aneh itu bernama rindu.

Ia membuka jendela dan mendapati jalanan di sini jauh lebih tenang dari biasanya. Menyesap kopinya yang masih mengepul, Felicity mendapati dirinya lagi-lagi teringat ketika masih di Bumi. Hari-hari di mana ia harus menenggak berliter-liter cairan kopi untuk membuatnya tetap terjaga dan menyelesaikan misi.

Bahkan meminum kopi pun terasa lain, pikirnya sedih. Terlalu banyak hal-hal alami di Bumi yang takkan pernah diperoleh di sini. Harga yang amat-sangat mahal yang harus dibayar manusia sebagai upah dari keserakahannya. Tidak hanya itu. Bahkan nyawa pun menghilang untuk memperoleh hal-hal berharga itu kembali. Sia-siakah? Atau berusaha memperoleh surga itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat? Aku tidak hanya kehilangan banyak teman, aku juga kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri atas kegagalan ini. Ah, mungkin belum waktunya aku menyebut kegagalan. Masih ada harapan, seperti yang Dewa katakan padaku. Walaupun harus menghabiskan banyak waktu untuk melihat harapan itu menjadi kenyataan atau tidak.

Menghela nafas, Felicity membuka genggaman tangan kirinya. Sebuah tabung kaca, berisi sepotong jari telunjuk di dalam cairan pengawet—satu-satunya yang tersisa dari pria yang ternyata ayah biologisnya. Tes DNA telah membuktikannya. Ia harus membuat pegawai Lab Biologi bersumpah untuk tidak membocorkan hal ini pada siapa pun. Dewa, Nathan dan Chen Li telah berjanji untuk menyimpan rahasia ini sampai mati. Dan Azusa… yah, untungnya dia tidak mengetahuinya, jadi rasanya bukan masalah. Walaupun rahasia ini mungkin terbuka juga suatu hari nanti, setidaknya untuk saat ini biarlah publik buta tentangnya.

Benda yang mengerikan untuk dijadikan kenang-kenangan, batinnya. Tapi setidaknya ada yang tersisa untuk dibawa pulang…

Malam semakin larut. Kopi di cangkirnya sudah hampir habis. Udara kotanya yang datar, sungguh berbeda dengan Bumi, dan lagi-lagi Felicity menelan kenyataan kalau ia sangat ingin untuk kembali ke Bumi.

Felicity menelengkan kepala menatap taman buatan di bawahnya. Hanya ada beberapa orang di sana, dan perhatiannya tertambat pada sepasang kekasih yang sedang berdiri di bawah pohon. Matanya langsung memanas. Hatinya langsung teringat pada sebuah nama.

”Ian,” bisiknya lirih, tanpa sadar.

Dan matanya basah. Kehilangan Ian adalah pukulan telak baginya. Dan ironisnya, beberapa saat sebelum shuttle itu meledak, ketika pandangan mata mereka terikat, dan Ian mengucapkan selamat tinggal untuknya, barulah Felicity menyadarinya.

Ian adalah satu-satunya orang yang dicintainya. * * *

Taman buatan itu adalah satu-satunya tempat di Fasilitas Riset Luar Angkasa yang memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan cukup lengkap. Semua tumbuhan di sini adalah hasil dari kultur jaringan dan rekayasa genetika, itulah sebabnya disebut taman buatan.

Tidak banyak orang yang ada di taman malam ini. Tetapi tempat ini tetap saja terang benderang, hasil dari puluhan lampu yang dipasang secara artistik di segala penjuru. Lebih tepatnya, lampu-lampu itu melayang di berbagai tempat dan ketinggian, yang secara berkala berpindah-pindah membentuk formasi-formasi tertentu. Dari kejauhan lampu-lampu yang berwarna-warni itu membuat taman terlihat indah. Azusa menarik Dewa ke satu pohon; pohon ek besar dengan lubang di bawahnya.

“Dewa, kau ingat dulu kita sering menyembunyikan barang di situ waktu kecil?” Azusa menunjuk ke dalam lubang.

“Tentu saja! Kau menyembunyikan barang-barangku di sana,” Dewa mulai menghitung. “Mulai dari robot rakitan pertamaku, lalu pena elektrik hadiah dari Damian kakakku, kemudian benda-benda lain entah apa saja. Jadi sebenarnya kau yang suka menyembunyikan barang, bukan ‘kita’.” Dewa menyeringai.

Azusa tersipu. “Kusembunyikan robotmu karena kau tidak mengajakku dalam kompetisi itu. Lalu pena elektrikmu—karena kau menjodohkanku dengan Ian Bright, si bengal itu. Aku dulu tidak suka padanya.”

“Oh, jadi itu caramu membalas dendam—menyembunyikan barang?” goda Dewa.

“Bukan begitu…”

Azusa baru saja akan membela diri ketika Dewa berkata lagi, “Tapi aku heran, kenapa kausembunyikan juga coklat valentine yang kuterima dari Sakura?”

Wajah Azusa kontan memerah, membuat Dewa semakin bersemangat menggodanya.

“Itu..”

“Kau tidak cemburu kan?” Dewa menundukkan kepala ke arah Azusa.

“Aku?” balas Azusa cepat. “Tentu saja tidak! Kenapa aku harus cemburu? Terserah Sakura mau memberi coklat pada siapa!”

“Lalu kenapa kausembunyikan?”

Azusa terdiam, kehabisan kata-kata. Ia langsung kikuk dan Dewa tertawa melihatnya. Mereka sama-sama tahu apa alasan Azusa melakukan hal itu, dan alasan itu sudah tidak penting lagi untuk diutarakan.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kausembunyikan barang milikku. Kita sekarang sudah dewasa, Azusa.”

Azusa mengangguk. “Benar. Dan aku sudah tidak berminat lagi pada barang-barangmu, Dewa. Jadi kalau ada barangmu yang hilang, jangan tuduh aku, ya.”

Dewa mengerucutkan bibirnya, berpikir sejenak. Setelah yakin ia lantas menoleh ke arah Azusa sambil berkata, “Kalau pada pemiliknya, kau berminat atau tidak?”

“Hah?” Azusa tersentak mendengar pertanyaan Dewa.

Atmosfer di antara mereka langsung berubah. Pertama kalinya sejak Dewa mengenal Azusa selama bertahun-tahun, ia tidak ingin lagi mengenal Azusa sebagai teman.

Dewa menatap Azusa lekat-lekat. Ada bekas luka memanjang di kening gadis itu. Bekas operasi. Terlihat jelas berkat sinar lampu taman yang kebetulan salah satunya melintas di atas mereka.

”Jangan tatap aku seperti itu,” keluh Azusa, memalingkan wajahnya dari Dewa.

”Mengapa?”

”Kau pasti menatap keningku lagi. Bekas lukaku ini…” Azusa menunduk, tidak menyelesaikan kalimatnya. ”Aku… aku malu.”

Dewa menaikkan sebelah alisnya. ”Malu?”

Azusa semakin menunduk.

Dewa menyadari bibirnya membentuk seulas senyum. ”Kenapa? Karena kau telah ikut misi Casero dan mengawali perjuangan untuk Bumi? Atau karena kau mendapatkan luka yang telah menyelamatkan teman-temanmu?”

Azusa mendongak mendengar kata-kata Dewa. Teman kecilnya itu, baru disadarinya kini, telah berubah menjadi laki-laki dewasa. Dewa yang ia kenal biasnya tidak berkata seserius ini. Ataukah selama ini ia tidak memperhatikan?

”Chen Li telah mengambil chip itu dari tubuhku. Kalau tak ada dia, mungkin aku sekarang sudah…” Azusa terdiam, lalu menoleh ke arah sebuah gedung tak jauh dari situ, bentuknya seperti setengah bola dengan banyak jendela yang lampunya menyala.

”Jenius, memang, dia,” Dewa ikut-ikutan menatap gedung itu. Merasakan kehangatan menyelimuti hatinya karena tahu sahabatnya itu ada di situ. Chen Li telah menyelamatkan banyak nyawa, termasuk Azusa, walaupun beberapa orang yang sempat ditolong olehnya pada akhirnya tidak dapat bertahan hidup.

”Azusa,” panggil Dewa kemudian.

”Ya?” jawab Azusa, memberanikan diri untuk menatap Dewa.

”Kau harus bangga pada bekas lukamu itu. Itu luka kehormatan.”

”Tapi aku jadi diperhatikan banyak orang karenanya.”

”Biarkan saja mereka!”

”Tapi aku jadi jelek,” protes Azusa keras kepala. ”Mungkin aku operasi ulang saja supaya bekas ini hilang dan…”

Dewa meraih kepala Azusa dengan sebelah tangannya, lalu dengan sangat lembut, ia menyentuh bekas luka di kening Azusa itu dengan ibu jarinya. Gadis berambut hitam panjang itu tersentak. Tapi ia tidak melepaskan dirinya dari Dewa, hanya menatap matanya dengan pandangan bertanya.

Dewa tersenyum. ”Jangan dihilangkan. Kau tetap cantik dengannya.”

Pipi Azusa bersemu merah.

”Sungguh?”

Dewa mengangguk. Mereka bertatapan dalam diam.

”Ngomong-ngomong, Azusa. Kau belum menjawab pernyataanku dulu..”

”Memangnya kau butuh jawaban?” Azusa membuat senyum terindah yang pernah diberikannya pada Dewa. * * *

”Ngapain di sini?”

Chen Li melirik ke jendela. Lalu tanpa menoleh, ia menjawab, ”Memangnya siapa yang melarang? Kau pikir gara-gara siapa kau masih hidup dan bisa masuk ke sini?”

Nathan langsung menumbuknya. ”Dasar! Masih tetap pede, kau, hah? Bukannya Felicity yang menyelamatkan kita semua?”

”Mungkin Dewa. Atau mungkin Azusa, atau mungkin malah kau. Kita saling menyelamatkan, kau tahu?” jawab Chen Li tanpa fokus. Matanya masih melirik ke arah taman. ”Sialan dua makhluk itu,” gerutunya, membuat Nathan ikut melihat ke jendela. ”Bikin iri saja!”

Menyadari siapa yang sedang berdiri, Nathan langsung tertawa. ”Iri? Pantas saja, memangnya ada yang mau padamu, Blondie? Di dalam otakmu kan hanya ada komputer dan program?”

”Enak saja,” Chen Li tersenyum sinis. ”Aku tidak ada waktu, dan bukan aku tidak ada yang mau. Bisa saja aku pacaran dengan semua gadis di sini kalau aku mau. Mana ada sih yang tidak terkagum-kagum padaku, Chen Li The Invisible?!”

Nathan pura-pura menguap sebagai jawaban. Dia sudah hafal sifat narsis Chen Li yang sudah pada taraf akut itu.

“Basi, kau,” katanya singkat, dan Chen Li balas menumbuknya. “Cepatlah berburu sebelum jadi kakek tua!”

“Bah! Lihat siapa yang bicara! Kau sendiri ‘masih tersangkut di Bumi, bukannya mengejar Bidadari’mu itu!” Chen Li menggedikkan kepala ke arah flat Felicity di seberang taman. “Gadis secantik dia, cuma ada seribu tahun sekali!”

Nathan tidak menjawab. Kalimat Chen Li membuatnya teringat pada dua hal. Felicity Adams adalah yang pertama. Makhluk terindah yang pernah dilihatnya. Nathan tahu meraih gadis itu akan sulit sekali. Tetapi, sulit bukan berarti mustahil, kan? Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Masih ada harapan, katanya dalam hati. Selama aku masih hidup, akan kukejar dia.

“Ngapain cengar-cengir?” Chen Li menaikkan alisnya ketika menanyakan hal ini, membuat Nathan memutuskan untuk tidak mengatakan isi kepalanya pada Chen Li. Itu hanya akan membuat Chen Li semakin punya alasan untuk meledeknya.

Nathan mengalihkan pembicaraan, pada hal yang kedua.

“Rasanya baru kemarin kita pergi, ya? Tahu-tahu sudah di sini lagi.”

Chen Li mengangguk. “Tahu, tidak, misi Casero membuatku takut mati.”

Dengan sebelah alis terangkat, Nathan berujar, “Hei, aku tidak pernah mengira seorang Chen Li akan takut mati!”

Tadinya Nathan mengharapkan jawaban asal khas Chen Li, tapi ia keliru.

“Sungguh, aku jadi takut mati. Terlalu banyak kematian yang berhubungan dengan Bumi. Teman-temanku. Benda-benda ciptaanku. Aku takut ketika aku mati nanti, tak ada orang yang bisa aku warisi. Rasanya aku perlu menikah dan punya banyak anak.”

Nathan ternganga.

“Hei… kau tak apa-apa?” tanyanya prihatin.

Chen Li menggeleng. Diletakkannya kotak kaca mungil berisi prototipe robot mikro yang sedari tadi digenggamnya. Robot ini adalah karya Chen Li terbaru, akan berguna untuk mendeteksi penyakit pada organ dalam manusia—robot ini akan bisa menjelajahi tubuh manusia dengan mudah. Kemudian ia beranjak menuju pintu.

“Aku mau pulang,” kata Chen Li.

Nathan tidak mencegahnya. Ia hanya melambai asal pada sahabatnya itu.

Sebelum pintu menutup, Chen Li berbalik sekejap. “Tapi aku serius mau punya anak banyak,” katanya, menutup pembicaraan, meninggalkan Nathan yang masih terheran-heran mendengar kalimatnya.

Nathan masih terdiam lama setelah pintu itu tertutup. Terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia, seperti juga Chen Li, ikut dalam misi Casero. Dan ia tahu seberapa besar pesona Bumi bisa menarik hati. Bumi telah mengubah banyak orang. Bahkan Chen Li sekalipun.

Ia melirik hologram Bumi yang terpampang di sudut ruangan, berputar anggun dengan gerakan pelan. Satu-satunya benda yang baginya, tidak hanya lebih indah dari Felicity Adams. Tetapi juga jauh, jauh lebih agung.

Keagungan yang masih jauh untuk dapat diraih. * * *

[tab: Hal 4]

________________________________________

Post by: hege on January 26, 2008, 11:33:51 am ________________________________________

MONSTER’S TALES

To Celebrate Monster’s Day – 26 January

Pada suatu hari di negeri para monster, dua monster gemuk bersaudara memasuki pintu berukuran raksasa. Boks neon besar bercahaya pucat dengan tulisan “Monster’s Bar, Just for Monsters!” bertengger miring di atasnya. Kedua monster ini berjalan serampangan menuju sudut ruangan, meninggalkan jejak kaki berlendir di lantai.

Bar-bar dan diskotik di manapun di negeri itu sedang sepi pengunjung. Di Monster’s bar hari ini hanya ada enam atau tujuh monster bertanduk. Kebanyakan rakyat sipil negeri monster bersembunyi di rumah atau gua saat malam hari tiba, negeri mereka sedang dilanda krisis multidimensi.

“Ini sungguh mengenaskan, Zchuib,” gumam salah satu monster yang baru saja memilih tempat duduk, ia memandang ke sekeliling, ruangan bercahaya remang-remang itu terasa sunyi sekali. Kawannya mengerjapkan ketiga matanya bersamaan dan bersendawa.

Kedua monster ini adalah monster bertampang paling menjijikkan yang pernah ada. Kulit mereka seperti terbuat dari lilin hijau yang hampir mencair berikut duri-duri gemuk di sekujur punggung. Mereka memiliki kepala besar tak proporsional dengan posisi mata, mulut dan hidung berantakan. Dua lengan mereka yang gempal pendek dan kaku berukuran tak sama di kiri-kanan. Jari-jari mereka pun hanya empat saja di setiap tangan, beberapa jari itu buntung dan lengket.

Salah satu pelayan monster dengan wujud yang tak kalah menyedihkannya datang kepada mereka, membawakan pesanan dua gelas kayu berukuran besar yang dipenuhi minuman gobra (merupakan hasil fermentasi darah kerbau)

“Kita semua mengenaskan, ZeZe,” gerung Zchuib meraih gelasnya dan minum, sebagian isinya tumpah ke badannya yang bengkak penuh bisul. “Aku rindu masa-masa di mana HAM (Hak Asasi Monster) ditegakkan seadil-adilnya. Belum pernah jalanan di malam hari bisa sampai selengang ini.”

“Iya,” sahut kawannya pelan, minum gobra-nya habis sekali tenggak. “Tapi bisa kau pelankan suaramu sedikit! Mereka ada di mana-mana, para mata-mata itu!”

“Ah sejak kapan kau takut sama mereka,” ujar Zchuib santai. “Mahluk-mahluk kecil menjijikkan yang disebut manusia itu. Kau lihat cara mereka makan? Aku heran bagaimana mereka melahap daging hewan dengan merebus atau menggorengnya. Yang aku tahu semestinya mereka memakan rumput mentah.”

“Manusia banyak sekali saat ini, Zchuib sayang. Ada di mana-mana dengan senjata yang meledak-ledak di ujungnya. Kita harus hati-hati!” kata ZeZe melirik ke sana ke mari. “Izib bahkan sulit menemukan kerbau di manapun di gunung, para manusia menangkap mereka semua dan mengurungnya di semacam tempat, mereka menyebutnya kandang, kurasa.”

“Kandang?” tanya Zchuib menggeleng, tak percaya mendengar kabar ini. “Para manusia itu tak hanya saja mencuri makanan kita, tapi juga kebudayaan kita.” (kandang adalah sebutan untuk bangunan istana di negeri para monster, dahulu kala, lama berselang—sebelum para manusia datang dan merebut kekuasaan)

“Raja kita, Perzekouloth, kira-kira bagaimana nasibnya?” tanya ZeZe hati-hati.

“Para manusia pasti telah mengulitinya dan mengubahnya menjadi dendeng,” ujar Zchuib yakin. “Perzekouloth yang malang, salahnya mau menandatangani surat kerja sama dengan manusia—mahluk-mahluk yang sulit dipercaya, tengil dan licik.”

“Iya benar, sekarang rakyat sipil menjadi korban,” kata ZeZe sedih. “Aku mau membakar diri saja sebelum para manusia memasak dagingku menjadi sup.”

“Jangan putus asa begitu, ZeZe!” geram Zchuib tajam. “Kita akan melakukan gerilya, inilah yang disebut perang sipil, kita akan menegakkan keadilan. Manusia harus dimusnahkan dari negeri tercinta ini, jangan biarkan mereka membuat lebih banyak kandang lagi! Kita harus melakukan tindakan nyata.”

“Tunggu sebentar, Zchuib sayang!” bisik ZeZe mengingatkan. “Kurasa tak bijaksana merencanakan hal-hal seperti ini di ruang publik, para manusia bisa mendengar, dan celakalah kita!”

“Diamlah kau, ZeZe! Jangan paranoid seperti itu!” geram Zchuib. “Apa kau sudah kehilangan instingmu seperti kebanyakan monster belakangan ini? Monster sejati dilahirkan untuk tidak takut terhadap apapun!”

“Kita ditetaskan, Zchuib sayang!” protes ZeZe buru-buru.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/79357 dont forget to leave any comment.

[tab: Hal 5]

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 07:55:41 am ________________________________________

kemaren gw ke gramed n melakukan sedikit riset iseng2: ngeliat2 judul semua novel yg ada.. hmm.. kalo diliat2, hampir semuanya punya judul memikat n bisa bikin orang penasaran.. ini ngebikin gw bertanya: apakah judul novel gw udah mantep? dan jawaban gw, belom.. :( gimana dengan temen2? ??? ada yg bilang yg penting isi, bukan judul/kover dari suatu buku.. tapi kalo menurut gw judul cukup mempengaruhi penjualan di pasar.. soalnya dari judul sedikit banyak bisa merepresentasikan isi sebuah buku, satu frase/kalimat yg mewakili ribuan kata dalam 1 buku (halah, gw ngomong apa sih?) temen2, coba dilist donk ente2 pada udah ngebikin cerita dengan judul apa aja, kita sekalian bisa share nihh.. :)

oya, kemaren gw ngeliat novel GORAN.. hmm.. ngeliat ringkasan plotnya di belakang buku sih cukup menjanjikan.. tapi ‘Pasukan Jas Hujan Putih’-nya itu lho :-\.. bikin ilpil. :P

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 04:01:50 pm ________________________________________

Quote from: rd_Villam on January 28, 2008, 03:27:06 pm hehe… TFH itu kerjaan bertahun-tahun, rik… itu ambisiku yang paling gede, yang gak kelar-kelar, dan gak tau kapan bakal kelar… yang di k.com itu baru prolog dan 6 bab awal dari buku 1.

ati2….. jangan terlalu banyak posting naskah kalo emang diniatin buat terbit nantinya, bang…. kadang ada penerbit yg gak mau naskah yg diterbitinnya terlalu beredar luas, lagipula kalopun ada penulis yg mau mempromosikan naskahnya yg udah terbit, dia pasti cuman ngasih sebagian kecil halaman2nya…….. itu yg ngebikin gw setop posting lemuria n tangerine di kemudian, soalnya karena emang naskah gw cuman 2 itu, dan gw ada niat ngerampungin untuk dikirim ke penerbit, someday ;)

eh keknya gw pernah diajarin teori beginian ama seseorang disini yak.. :D ________________________________________

Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 04:36:12 pm ________________________________________

that’s why, rey… aku mungkin ga bakal ngepost lanjutan cerita-cerita tersebut di sana… tapi yang sudah telanjur, ya sudah biarkan saja…

________________________________________

Post by: mocca_chi on January 28, 2008, 04:42:01 pm ________________________________________

iyah.. villam banyak bgt post naskahnya. biarpun nda dibajak orang, takutna kan idenya dicuri orang (kalau nda bisa dibilang menginspirasi) kan nda banget liat ide kita di naskah karya orang lain, mending jika lebih jelek, klo lebih bagus ketimbang naskah kita kan keki juga…

[tab: Hal 6]

________________________________________

Post by: blue_amaranthine on January 28, 2008, 06:00:02 pm ________________________________________

Kawand, berdasarkan saran Villiam, so aku nimbrung di sini dech. Hehe.. baru sich, jadi belom taw apa-apa. Bout fiksi fantasi, emangnya apa-apa aja sih yang perlu dimunculin dalam fiksi fantasi, hingga orang-orang bisa bilang, “Jadi, ini novel fanfic” sualnya banyak bget temen-temen yang ngeidentikin ama science fiction. Apa jangan-jangan fanfic itu salah satu science fiction?

________________________________________

Post by: BloodSin on January 28, 2008, 06:31:22 pm ________________________________________

istilah fanfic itu bukan mengacu ke genre fantasy bro, tapi ke suatu genre buat wadah para fans fiksi tertentu. nah bingung kan? jadi misal ente penggemar LOTR, n terus saking cinta matinya ente ma LOTR, ente ngarang cerita gmn kehidupan frodo setelah one ring ancur… nah cerita yg ente bikin itu, dikategoriin fan-fic. hmmm sebetulnya gampang kok ngebedain fantasi ama science fiction, kalo fantasy lebih menitikberatkan pada kekuatan imajinasi/fantasi si pengarang, sci-fi cenderung mengandalkan riset buat landasan cerita.. jadi antara fantasi ama sci-fi itu kayak antara imajinasi dan fakta lapangan… beuh, ini cuman pendapat ngasal dari eke sahaja, mungkin master2 fantasy disini mau menambahkan, hege n villam espesially. :-*

________________________________________

Post by: rd_Villam on January 28, 2008, 11:00:11 pm ________________________________________

@blue, welcome to the club! :) jadikan ini rumah keduamu, ya… heheh… penjelasan mengenai perbedaan antara ‘fans fiction’ dan ‘fantasy fiction’ dapat dilihat pula di halaman pertama thread ini. sementara kalo menurut gue sih, science fiction itu termasuk bagian dari fantasy juga. (star wars atau star trek itu fantasi juga kan?) soalnya kalo bicara fantasy, itu luas banget sebenernya, seluas imajinasi para pengarangnya. ada yang jenis sci-fi kayak contoh tadi, ada jenis high fantasy macam LOTR yang bikin dunia sendiri, ada jenis Harry Potter yang menonjolkan dunia sihir, ada jenis Bartimaeus yang bikin dunia alternatif, dll dsb. trus kalo yang dibilang rey, bahwa sci-fi cenderung mengandalkan riset, mungkin kudu diperjelas bahwa riset yang dimaksud di sini adalah riset teknologi. soalnya riset kan macem2, ada riset sejarah, riset geografi, riset budaya dan bahasa, riset tokoh, dan segala macam lainnya. dan segala macam riset itu wajar pula muncul di genre-genre lainnya.

[tab: Hal 7]

________________________________________

Post by: clickdian on February 03, 2008, 04:43:52 pm ________________________________________

Septimus Heap: Magyk

Angie Sage

Buku yang baru terbit seri pertamanya ini meng-klaim dirinya sebagai pengganti Harry Potter. Ini salah satu alasan kenapa aq beli (duh, strategi pasarnya jitu juga! korban nih, korban). Sayangnya, aq agak kecele setelah baca. Jalan ceritanya mudah ditebak.

Magyk adalah plesetan dari ‘magic’, sama dengan istilah ‘magick’ di FF12 yang sebenernya ‘magic’ juga. Semua orang di dalam cerita ini akan memiliki mata berwarna hijau begitu mulai mempelajari Magyk. Dan ada satu posisi terhormat di dunia Magyk yaitu Penyihir Luar Biasa, yaitu pemimpin para penyihir yg bekerja untuk kerajaan, tinggal dalam menara khusus di dalam istana.

Kisah ini berawal dari saat kelahiran Septimus Heap. Cerita magyk ini berpusat pada sebuah kota imajiner (settingnya jaman dahulu) yang dikelilingi benteng tinggi berbataskan sungai melingkari kota. Pemimpin kota (ato negeri) ini adalah seorang Ratu, dengan garis matrilineal, yang otomatis membuat kekuasaan diturunkan pada para perempuan. Nah.. keluarga Heap tinggal di dalam satu kamar di dalam sebuah rumah besar di dalam benteng tersebut.

Ada sebuah legenda (yg semakin jauh aq mengikuti cerita ternyata benar adanya) bahwa keturunan ketujuh dari anak ketujuh keluarga penyihir akan memiliki kekuatan magyk yang luar biasa. Dalam kasus ini, Silas Heap–ayah Septimus–adalah anak ketujuh. sementara septimus sendiri juga anak ketujuh di dalam keluarganya.

Jadi, pada saat bayi, Septimus diincar oleh penyihir jahat, dikabarkan sudah mati dan diculik. pada saat bersamaan Ratu dibunuh dan bayi perempuannya diselamatkan Penyihir Luar Biasa dan dimasukkan ke keluarga Heap. Intinya, keluarga Heap kemudian merawat sang putri sementara anak mereka sendiri–yang dianggap sudah mati–sebenarnya masih hidup dan berada di tempat lain. Cerita kemudian bergulir ke saat sepuluh tahun kemudian, di mana anak2 tersebut sudah berkenalan dengan magyk dan mulai dikejar2 penyihir jahat lantaran si putri ketahuan tinggal bersama mereka.

Dalam buku ini, u will find different kind of magic. ga ada wand sama sekali, semua penyihir bisa menyihir begitu saja, selama mereka punya spell. power dan jenis sihir sangat tergantung pada mantera ini, tapi penyihir bisa membuat spell sendiri, walaupun masih banyak tergantung buku mantera.

Overall… aq masih ngerasa kurang greget. mungkin krn lebih suka cerita yg ngelibatin emosi yang kuat, sementara style-nya Angie justru lebih di story daripada emosi. selama mengikuti cerita rasanya datar2 aja, dan aq ketawa karena joke baru di halaman 315 (kalo ga salah). Kalau mau dibilang pengganti Harry Potter, menurut aq, mending tunggu buku kedua dulu. mungkin lebih menarik. Tapi kalo kamu suka fantasi dengan dunia yang benar-benar baru, novel ini bisa jadi pilihan. Angie cukup kreatif dan imajinatif dalam meramu yang satu itu.

Comments No Comments »