Posted by: Villam in Cerita, tags: Somniterra
Arena futsal empat lapangan itu sebentar lagi ditutup. Tinggal Faisal beserta teman-temannya pengunjung yang tersisa, dan tampaknya, dialah yang bakal menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat.
“Sal, pada mau cabut nih.” Seorang dari mereka, Ivan, menepuk bahunya. Semua yang lain sudah berdiri dengan tas tersampir di bahu.
“Okay. Thank you all, guys. Seneng bisa ketemu, dan maen lagi bareng kalian.” Faisal tersenyum lebar, menjabat tangan mereka satu per satu. Mereka memberi salam, lalu meninggalkan lapangan, menyisakan Ivan bersama Faisal.
“Besok jadi lo balik ke Seattle?” tanya Ivan.
Read the rest of this entry »
10 Comments »
Di bawah ini adalah tulisan dian k, yang dimuat di salah satu tret Pulau Penulis, mengenai sedikit pengalaman dalam membuat dan menyelesaikan sebuah novel kolaborasi. Semoga bermanfaat.
—–
Tahap pra-penulisan
1. Kenali mitra (skill, gaya tulisan, pribadi, mimpi, motivasinya); kalau bisa sebelum kita memilih seseorang menjadi mitra, kita sudah harus mengenalnya dengan baik. Ini sangat berguna pada saat sharing ide, karena penyampaiannya akan lebih mudah kalau kita sudah mengenal karakter mitra kita.
Read the rest of this entry »
16 Comments »
Zahra tak pernah mengira kalau Reno, tokoh khayalannya sendiri, ternyata menginginkan kematiannya. Ia berusaha lari dari pria itu, tetapi sia-sia. Sampai suatu saat ia masuk ke Somniterra, dan belajar bahwa satu-satunya cara mempertahankan hidupnya adalah dengan melawan. Masalahnya, untuk mengalahkan Reno, ia harus menghadapi dirinya sendiri.
Read the rest of this entry »
35 Comments »