Posts Tagged “stereotip fantasi”

[tab:Hal 1]Sesi XI (12 Mei 2008 – 19 Mei 2008)

  • Model stereotip novel fantasi
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh clickdian
  • Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 12, 2008, 12:47:30 am
________________________________________
@villam,
BTW ide ente buat novel fantasi terbaik tahunan asik juga, idealnya sih dikategoriin dua kelompok, fantasi indo & fantasi luar. ;)
Tapi payahnya ane selaku TS tret lebih intens beli fantasi2 lokal, fantasi luar mah jarang (tapi clickdian kayaknya sering ;D), lagian yg mau jadi juri siapa? Paling disini yg lumayan sering baca buku fantasi lokal secara rutin cuman ane ma om pur, masih kurang 1 mahkluk lg tuh buat bikin kelompok penjurian..
ada yg minat mendaptar?

@clickdian,
asik review-nya, sip dah. ;)
pertama ane suka namingnya, seperti biasa pengarang luar selalu punya nilai plus buat urusan naming.
kedua, buat idenya, sekilas kalo diliat dari gambaran ente, IMO sih yak masuk lajur klise ahh.. stereotip fantasi kan gak cuma seputar kisah heroik dunia peri-centaur-elf, tapi masuk juga yg model magic2an ala harpot (dengan spell2 yg kedengeran aneh n complicated, tentu)
Septimus masih berkutat di dunia per-magic-an (walo udah disamarin istilahnya jadi ‘magyc’ :D ), dan rasanya masih termasuk klise..
Tapi keklisean itu pun sama sekali bukan masalah, ane rasa cukup mustahil buat bikin fantasi yg idenya pure original buat hari gini mah.

Kalo diliat2 buat ukuran fantasi hari gini, keklisean itu bisa dikelompokkan jadi 6 stereoptipe IMHO:
-model fantasi epik petualangan
-model fantasi dunia sihir
-model fantasi kolosal
-model fantasi fabel
-model fantasi futuristik
-model fantasi RPN
ada tambahan? dan… yg mana tipe fantasi yg kita masing2 anut yak?
________________________________________
Post by: fr3d on May 14, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Alow, salam kenal semuanya! ;D
Di sini banyak rekan2 yang novel fantasinya udah diterbitin ya? Wah2, ok deh! Siapa aja ya & karyanya apa?
Fiksi fantasi dalam negeri? Hmm… lebih sering baca luar negeri…
Yang pernah kubaca cuma yang keluaran tahun 2005/2006: ledgard, pinissi, phoenix, dan corruption. Yang setelah itu, blom pernah lagi deh. Kalau liat di toko buku sih pengen beli, tapi takut kecewa karena kebanyakan harganya cukup mahal kan… :-\
Tapi, aku seneng di negeri kita tercinta ini ;D, perkembangan fiksi fantasi udah ke arah jalan yang bener. Mudah2an makin banyak aja terbitannya dan makin berkualitas seiring berjalannya waktu. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on May 16, 2008, 01:08:56 am
________________________________________
buat fr3d, welcome dude, udah baca 4 judul novel fantasi itu? gimana komen ente? puas tak sama fantasi2 karya penulis lokal itu? boleh donk gw minta review ente buat 4 novel itu :)
(wakakakak, baru nongol udah langsung gw palak nih orang ;D)
________________________________________
Post by: fr3d on May 16, 2008, 09:55:38 am
________________________________________
@rey (ini bloodsin kan ya?),
Empat novel fantasi lokal itu mengecewakan semua buat gw… (eh, gak ada para penulisnya kan ya? Kalo ada, maap, lho. Ini kan pendapat pribadi ;) )
Hmm… review ya… gak sanggup kayak om pur sampe ke masalah teknis deh… :D
Lagian udah rada-rada lupa juga sih. Jadi, komentar sebagai seorang pembaca aja ya. Seinget gw begini…

Ledgard
Kayaknya udah di-review banyak orang. Kecuali soal novel itu bagus banget, umumnya sih pendapat gw sama aja sama para reviewer itu, misalnya soal cover yang gak relevan sama isinya (meskipun bagus), tokoh antagonis yang muncul terlalu di akhir, dll. Kalaupun ada tambahan:
1. Sihir-sihirnya terlalu semaunya! Maksudnya, gak ada aturan jelasnya. Gw lupa kelompok apaan tuh yang dikunjungin para tokoh utama pas pertengahan cerita. Nah, kelompok itu (yang seolah-olah kumpulan para ahli sihir) kayaknya terlalu jago deh. Sama kaum ceweknya nash (siapa sih namanya? lupa juga!) kemampuannya juga hebat banget. Seharusnya dengan kemampuan yang mereka kuasai, mereka udah bisa menguasai seluruh dunia di ledgard tuh! Gak perlu takut sama serangan orang-orang asing. Gak masuk akal aja, apalagi sampe kewalahan pas perang terakhir…
2. Centaur yang cuma punya satu jenis kelamin? Awalnya sih menarik, tapi setelah ada penjelasan bagaimana cara reproduksinya… [rolleyes] Rasanya salah banget… Satu-satunya kaum yang sukses merebut hati ya memang cuma kaum felis itu.
3. Petanya! Aduh, bukannya membantu malah bikin puyeng… :o
4. Gambar karakternya oke dan keputusan untuk memasukkan list karakter di bagian awal itu juga oke! Karena jujur aja, waktu pertama kali ngeliat ledgard, gw tertarik beli karena liat list karakter itu. Jadi penasaran, kumpulan orang ini mengalami petualangan apa sih di dalam buku?
5. Gaya penulisan adegan/percakapan romance-nya juga terlalu… gak cocok :D . Kalimat-kalimatnya berasa sinetron/telenovela gitu.

Pinissi
Jujur dari keempat novel yg sudah gw baca itu, pinissi adalah yang idenya paling bagus 8). Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai yang gw harapkan.
1. Boros kertas banget tuh novel. Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste…
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga… (eh, bener kan ya analoginya begitu? ???)
2. Endingnya gak jelas. Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?
3. Artwork-nya lumayan. Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus…
4. Penyelesaian permasalahannya terlalu di-simplified.

Phoenix
1. Selain telah mengundang seluruh makhluk jejadian lokal ke dalam buku itu (yang merupakan keputusan yang kurang bijak, berhubung setting-nya sendiri masih ngambil-ngambil dunia barat), penulisnya juga tampaknya kurang memahami konsep ruang dan waktu di dalam ceritanya sendiri.
2. Trus si phoenix (manusia) lahirnya dari phoenix (burung) beneran, bukan? Melanggar aturan biologi banget! Kecuali ada penjelasan yang memuaskan, tapi ternyata gak ada tuh… [yawn]
3. Ide jam burung yang burungnya bisa dipanggil keluar itu sebenernya bagus, tapi sayang ketutup sama hal-hal aneh laennya.
4. Yang paling parah adalah filosofi di akhir bukunya ternyata kontradiksi sama seluruh filosofi yang udah dibangun di sepanjang cerita! Walah…

Corruption
1. Mungkin karena diterbitin sama keluarga sendiri kali ya, jadi kayaknya buku itu gak di-edit editor sama sekali. Berasa banget itu cuma suatu proyek yang dibuat si penulis buat tugas sekolahnya. Ya itu dia, karena gak di-edit, akhirnya cuma cocok buat dikumpulin ke gurunya aja. [bigwink]
2. Dari segi tema, dunia rekaan, karakter, dan plot, sebenernya corruption punya potensi besar untuk jadi sebuah series yang bagus, tapi penulisnya butuh critic group. Butuh banget, om dan tante! Jangan dimanja gitu dong anaknya! [annoyed]
3. Udah nerbitin sendiri, harganya mahal banget lagi! Memang niatnya laris atau cuma iseng doang sih?! [tickedoff]
4. Covernya jelek. Dan tulisan judul “The Corruption” model begitu niatnya apaan lagi?

Urutan penilaian gw terhadap keempat novel itu:
(Terbaik) 1. Ledgard; 2. Pinissi; 3. Corruption; 4. Phoenix (Terburuk)

Hmm… pasti pada ngerasa kesel kali ya kenapa gw dari tadi kerjanya protes melulu aja? [rolleyes]
Maap ya, kalo para penulisnya baca. Sebenernya itu karena gw punya ekspektasi besar buat penulis-penulis fantasi lokal. Gw percaya, Indonesia mampu juga koq melahirkan penulis sekaliber Tolkien, Rowling, Dahl, Pullman, Goodkind, Jordan, bahkan Frank Herbert!
Trus mana juga peran editornya? Yang jadi editor itu selama ini baca buku fantasi atau enggak sih? [ranting]
Peran penerbit buat publikasi/promosi juga kurang banget. Tapi, ini mungkin juga karena penerbit menilai kualitas bukunya kurang kali ya, jadi gak terlalu niat. Nah tuh jadi balik lagi kan, kalau memang rasanya kurang, kenapa gak ditahan dulu penerbitannya? Jadinya si penulis disuruh perbaikin novelnya sampe jadi bagus. Sekali lagi, editornya gimana sih?!

Satu hal yang membuat gw bertanya-tanya, keempat novel itu kan disebut-sebut baru buku pertama tuh, lalu mana lanjutannya sampe sekarang? Apa karena kurang laku, trus penerbit gak bersedia nerbitin lagi? Kasian dong… Berarti penerbit juga udah mengkhianati pembaca yang mungkin udah jadi fans karya-karya itu (tapi gw gak termasuk, lho [biggrin]). Kalau bener, model penerbit gitu yang gak konsisten tuh!

Jadi, itulah, kawan-kawan, alasannya kenapa gw gak belanja fantasi lokal lagi, karena takut kecewa… :’(
Kesimpulan uneg-uneg panjang lebar ini:
“Ayo, semangat memajukan fiksi fantasi dalam negeri!!!” (Lho?! :o [rolleyes] ;D)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 12:01:38 am
________________________________________
@fr3d,
asik reviewnya, ternyata emang banyak yg mengeluhkan gaya dialog metropop dalam ledgard, kesannya pan tokoh2nya jadi kayak ‘bule celup’ gitu, wakakakak…
Kalo Pinissi, emang kurang ada gregetnya dan gaya berceritanya muter2, gw juga gak suka sama kovernya (padahal ilustrasi di dalam bukunya cakep2 banged), ironis emang. Tapi mungkin karena emang sasaran pembacanya anak kecil, gaya berceritanya jadi diulang2 gitu yak :D
Kalo Phoenix emang cukup banyak pembaca yg udah komen negatif dimana2, gw sih belom baca.. Penasaran juga sih segimana parahnya :D
Kalo corruption, penasaran nih gw, ada yg bilang bagus, ada yg kagak kayak ente..
Tapi mungkin dia mahal karena kualitas kertas HVS, dan lagi kualitas kover-nya bagus banged pan?
BTW jangan salah, sebetulnya ada juga lho fantasi2 penulis lokal yg dahsyat, cobain deh baca Goran, Sang Penandai, ato Hozzo, 3 novel lokal itu masuk kategori the best dari semua yg pernah gw baca. Lagian fantasi indo semenjak era Ledgard-Pinissi-Phoenix itu, udah gak tebel2 n mahal2 amat lg kok, sekarang mah kisarannya 30-40rban.. tapi yak emang masih pada bersekuel sih ;D
________________________________________
Post by: fr3d on May 17, 2008, 12:45:17 am
________________________________________
Corruption idenya gak jelek, beneran deh. Tapi, ya sayang itu, kurang digali aja. (sotoy mode: on)
Jadinya, kayak cuma laporin resep masak-memasak gitu (analogi yang aneh nih… ;D). Itu kisah cuma dilaporin aja. Bet, bet, bet, eh… tamat… Gak ada perasaan apa-apa setelah ngebaca itu…
Karena banyak yang muji (mengapresiasi penulisnya yang masih muda), mungkin itu yang jadi sebabnya juga kenapa penulisnya begitu pede menerbitkan karyanya begitu aja (tanpa mengedit ulang kedalaman plot, unsur greget, deskripsi setting, dll. –> kalau gak salah di wawancaranya, dia pernah bilang cuma perbaikin grammar dan nambahin beberapa adegan ke proyek sekolahnya itu).
Hozzo masih di atas 50rb, bukan? (Kalo kualitasnya ok, gak pa-pa sih, hege ;) )
Kalau Sang Penandai emang waktu itu pernah tertarik beli karena baca gaya bahasanya. Hmm… ntar deh gw liat lagi di toko buku. Kalau Goran, pas baca sinopsis di cover bagian belakangnya, rasanya agak aneh gitu sama ceritanya, jadinya waktu itu udah megang, langsung dipulangin lagi ke rak…
________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 06:38:42 pm
________________________________________
@fred,
sebetulnya balik ke masalah selera ente dulu sih, ane pan baru aja nyebut stereotipe2 fantasi di halaman belakang, selera fantasi ente cenderung ke tipe yg mana?
Kalo Hozzo, mendingan authornya aja dah yg ngomong, gw udah gak berkepentingan lg disini :D
Kalo sang Penandai, cukup mengingatkan The Alchemist-nya Paulo Coelho, cuman yak kalo tema alkemis lebih oriented ke ‘kehidupan’, penandai lebih ke urusan ‘broken heart’ gitu lha, tapi kedua novel ini sama2 membahas penemuan jati diri, dan Sang Penandai alih2 disebut novel spiritual, dia malah lebih condong ke fantasi epik adventure (dan ada kolosal2nya dikid).
Sinopsis belakang kover Goran emang berkesan cupu (gw juga waktu pertama kali baca langsung jatuh ilpil pun, bayangin masa ada Pasukan Jas Hujan segala ;D), tapi serius novel ini tertolong oleh penyajian setting yg ciamik, karakter2 yg hidup, dan jokes yg gilak, gw gak pernah bosen bilang ini: Goran novel fantasi indo terbaik dari semua yg pernah gw baca (udah belasan judul), mungkin mengikuti ide Villam, nih novel bakal kunobatkan jadi best fantasy 2008 di tret ini.. [biggrin]
(dengan harapan pengarangnya kepancing masuk ke tret inih :-[)
________________________________________
Post by: clickdian on May 18, 2008, 05:07:58 pm
________________________________________
Mas Pur, ini janjiku.
Maaf makan waktu lama..

First of all, I gotta tell you that I’m not a prologue lover. Kebanyakan prolog yang aq temuin di novel2 biasanya aq skip, kecuali prolog yang cukup pendek untuk dibaca dalam waktu 10 menit, itu pun skimming. T_T sorry if I dissapoint you, but that’s me. Dari semua novelku, yang ada prolognya cuma Segara Wulan, itu pun cuma terdiri dari 100 kata.

Jadi, dengan kebiasaan jelek di atas, to find a prologue which has two sequels (all three), to be honest, aq harus baca dua kali karena yang pertama aq loncatin terus. Dan setelah kubaca aq tetep penasaran kenapa gak dibuat bab 1-3 aja? Atau kalo kisah Pendekar Garuda mau dibuat prolog, sebetulnya bisa dibuat singkat padat aja, mungkin satu sampai tiga halaman. Bukankah prolog berfungsi sebagai pengantar atau pengenalan cerita sebelum pembaca masuk ke cerita tersebut?

Ada opsi lain untuk prolognya. Kasih judul di depan, ‘PROLOG’, baru di baliknya, ‘Bagian 1, Pakulangit’, lalu kemudian, ‘Bagian 2’, dst. Kalo kuinget-inget salah satu novel seri Samurai modelnya kyk begini, prolog panjang banget sampe sepertiga novel, terus sepertiganya baru isi cerita, dan sepertiga lain epilog (novel tipe begini bikin aq mau gak mau baca prolognya, kalo nggak isinya sampe tujuh turunan gak bakal aq ngerti).
Muncul pertanyaan, “Bo, terus apa bedanya konsep prolog yang lo bilang dengan dengan konsep prolog Pendekar Garuda (PG) yang sekarang?”
Lebih rapi dan enak diliat yang jelas, dan mengurangi jumlah orang iseng semodel aq dan Rey yang melontarkan pertanyaan gak penting, ‘Prolognya kok panjang banget sih?’

Ato gini deh.. skip aja prolognya. Cerita para pendekar itu bisa dimasukkan ke mimpi Jaka, sekalian biar jadi ‘proses pembelajaran’ jaka menjadi seorang pendekar, biar dia gak langsung bleg aja jadi jagoan. (>.< duh, aq malah kegatelan ngubah2 novel orang. Punten, punten).

Okeh, gini aja. Daripada mengundang debat kusir gak jelas soal ini, mending loncat ke topik berikutnya yang jauh lebih penting. Forget whatever it was named, gak usah pikirin bab2 awal itu disebut prolog ato ngga. Kita jalan ke masalah teknis aja deh kalo gitu. Oh iya, FYI, aq lebih suka bikin review per bagian, karena dengan begitu bisa lebih menyeluruh. Mudah2an gak keberatan.

Prolog 1
Dari awal baca bagian ini, aq jadi ngerasa kangen sama buku2 yang aq baca waktu kecil. Rada laen dengan selera cewek kebanyakan, aq dulu gak cuma baca Lima Sekawan dan Malory Towers aja, tapi juga komik2 silat (kayak serial Gina-nya Gerdi WK), cerita pewayangan (bikinan Kosasih itu lho) dan Wiro Sableng (gara2 taman bacaan deket rumah buku2nya udah abis kulalap dan akhirnya serial WS ini ikut kupinjem juga, hehe). Gak cuma sekedar suka, lama2 jadi sengaja nyari, dan sempet beli beberapa, terutama komik2 wayang :P

PG punya gaya penuturan yang mirip dengan cerita2 lawas itu. Dari penggunaan bahasa sampe isilah2 baheula, kerasa banget. Dan mengingat udah jarang penulis sekarang yang menulis dengan gaya ini, kukasih jempol deh. Segara Wulan, walopun settingnya sama, gak berhasil kubuat dengan gaya ini. Selain emang gak bisa, gak pengen juga, hehehe..

Cuman... ada beberapa hal yang masih ngeganjel, yang sebenernya bisa dipertimbangkan lagi (kalo mau).

Yang pertama, karakterisasi yang kurang kegali. Aq lumayan sering koar-koar soal ini di banyak review yang aq buat, termasuk Rey dan Villam pernah jadi korban, hihihi. Hege aman, karena dia emang oke untuk hal yang satu ini.

Contoh simpel, aq masih belum bisa ngebayangin dengan jelas wujud fisik Sentika dkk itu kyk gimana. Cuma bisa kebayang samar2. Satu lagi, sifat-sifat karakter itu lebih kena kalau digambarkan dalam bahasa tubuh dan cara bicara, lho, bukan deskripsi panjang lebar dalam kalimat.

Hal lain yang lumayan ngeganggu adalah masalah tanda baca. Please tell me why did you have to put comma, dot, question mark and shout mark, all four in a row? Dan kadang-kadang tidak hanya masing-masing satu, tapi banyak.
Ada maksud tertentukah?

Next, kalimat-kalimat yang muncul dalam benak si tokoh, bercampur dengan kalimat deskripsi biasa dalam alinea. Ini harus dibedakan karena memusingkan pembaca. Kalo aq, biasanya membuat ‘suara hati’ dengan huruf miring. Di prolog 1 ini banyak sekali deskripsi, kalau bisa sebar informasi2 ini dalam percakapan singkat padat aja, jgn ditumpuk di alinea.

Hal berikutnya, alinea yang terlalu padat. Ini maksudnya bukan cuma font huruf yang besar atau halaman novel yang terlalu kecil, tapi kalimat-kalimat yang seharusnya terbagi dalam dua bagian disatukan dalam satu alinea. Jujur, aq sering pusing dengan huruf-huruf yang terlalu rapat dan kalimat2 deskripsi yang ‘berat’, akibatnya banyak bagian yang terpaksa aq skip (btw, ini bahkan aq temuin di Laskar Pelangi, dan novel sekaliber itu pun terpaksa ngalemin aq skip hiks.. maaph Bang Andrea..).

Efeknya, banyak informasi yang terlewat dan aq harus balik lagi untuk lebih memahami jalan cerita. Wasting time walopun salah sendiri. Masalah skip-skipan ini sebenernya tanggung jawab penulis. Mestinya dia bisa pake penuturan yang mengikat pembaca untuk keep reading sampe ke akhir (ini teori yang implementasinya susah bukan main >.<).

Kemudian, masalah flashback Sentika. Di awal lamunan dijelasin si kakek udah dalam kondisi sekarat dan nafasnya tinggal satu2, tapi aq heran dia masih bisa bicara sebanyak itu. Kalau dibuat kalimatnya pendek2 dan terputus2, efek misi misterius akan muncul, lho. Dan karena si kakek cuman cerita sepotong, ini akan memancing keingintahuan, ‘emang sebenernya ada apa dgn si Utusan Iblis?’. Kalo pembaca udah keiket kayak gini, dia akan terus membaca bagian berikutnya ;)

Satu lagi. Bagian flashback ini seharusnya bisa dibuat mencekam. Tapi sori, ini aq gak dapet sama sekali. Coba sisipkan deskripsi setting dan bahasa tubuh di bagian ini, dijamin kalo tau caranya, hasilnya bakal beda banget. Walopun jujur, if i were you, i will cut banyak adegan flashback yang sebetulnya gak perlu diceritakan terlalu detil, apalagi kalo ada repetisi. Or, may be I would cut them all, sorry.

Terus terang di bagian flashback ini aq rada bingung. Terlalu panjang. Tapi kalo nggak ada, sejarah terbentuknya kelompok pendekar ini bakal kegusur. Sori, aq gak punya ide gimana cara bikin bagian ini jadi lebih menarik T_T. Mungkin trik lama—menyebar info via dialog bisa membantu?

Berikutnya, masalah point of view. Di prolog jelas ada banyak pov; para tokoh plus sudut pandang si penulis itu sendiri. Untuk masalah pov ini, Villam jauh lebih baik dari aq, better ask him (#Villam, could you gimme a hand on this one?).

Bagian sajak, Cahayanya menerangi seisi limbah, gak salah? Limbah artinya sampah, kotoran, hasil pembuangan dari suatu proses. Sori, aq gak paham makna kalimat ini, baik konotasi atau denotasi.

Last, adegan akhir prolog 1 kurang menggigit. Rasanya lebih smooth kalo mereka melihat paku langit, tercengang, lalu Sentika teringat pada lontar, dan kembali ke percakapan antar pendekar garuda.

Prolog 2
You need footnote untuk kata ageman. Makna kata ini jangan simpan di alinea, it broke my continuity of reading, to be honest.

Tentang Ki Sangeti, deskripsi sifatnya udah kerasa, tapi fisiknya buatku masih blur. Hampir semua tokoh di dalam prolog, kecuali tokoh2 wanita dan gambaran Widura yang tambun, masih belum jelas buatku. Sepele banget kan? Tapi toh berperan besar dalam imajinasi pembaca.

Alinea yang terlalu panjang, sampai setengah halaman, mestinya masih bisa dibagi-bagi. Dan masalah kasta... gimana ya? Sejak awal aq dapet asumsi kalau latar dunia Sentika itu Islam, tapi tiba2 unsur kasta muncul—which is gak dikenal di Islam—dan ini bikin cerita jadi gak match. Memang hal ini dilontarkan oleh Ki Sangeti yang agamanya wallahu alam apa, tapi mestinya mereka hidup di dalam lingkungan budaya yang sama, kan? Kecuali, kalau Sentika dan isterinya awalnya Hindu, misalnya, kemudian memeluk Islam. Kalau begini, masih wajar. Mereka berdua awalnya punya kasta, tapi terhapus setelah memeluk Islam.

Prolog 3
Oke, now the battle.
Jujur aq kurang puas sama adegan battle ini. Kayak baru setengah, atau mungkin permasalahannya di penuturannya? Misal, bagian Sentika memberi isyarat teman2nya untuk menggempur si ratu lelembut, lebih bagus dimasukkan sebagai adegan dan bukannya deskripsi di alinea, karena ini membuat adegan lebih hidup.

Kemudian, tempo pertempuran, sangat cepat. Untuk ukuran Sentika (yang katanya pendekar kelas wahid masa itu) dan Ki Sangeti (yang katanya tokoh hitam yang lumayan punya pamor), cuma butuh tiga alinea sebelum jurus pamungkas Sentika keluar? Ini pun satu alinea hanya deskripsi kondisi kedua belah pihak, bukan gambaran pertempuran mereka berdua. Dan maksud kalimat ‘Tak banyak yang dapat diingat lagi setelah itu’—diingat sama siapa? Sebenarnya ini sudut pandang siapa?

Satu lagi, ‘Yang masih tergambar jelas adalah adegan terakhir saat matinya Ki Sangeti di tangan Sentika’. Kata ‘adegan’ di dalam paragraf make it sounds like watching movie or something, seperti di luar kisah. Kalau aq, kalimat ini nggak perlu. Langsung aja ceritain bagian matinya Ki Sangeti, tidak perlu repot-repot buat kalimat pengumuman seperti ini.

Toya Batara Guru, yang ada di bayanganku pedangnya Anakin di Star Wars, betul kayak gitu? Oke, permasalahan yang sebenarnya buatku ada di bagian penjelasan panjang lebar tentang senjata ini.

Belok bentar ya, soal kebiasaanku baca atau nonton Naruto (don’t get me wrong, di dalam Naruto banyak ilmu yang bisa kuambil untuk menulis. Makanya aq lumayan intens ngikutin serial ini). Kubilang secara plot, karakterisasi, battle story, Naruto bagus. Tapi ada kebiasaan OOT di saat battle, dan itu ngeganggu. Misal pas Sasuke lagi tempur seru ngelawan Orochimaru dan Orochimaru tiba2 nyebut soal Itachi (kakaknya Sasuke), adegan tiba2 aja flashback ke bagian Itachi dan Sasuke belajar ngelempar shuriken, terus Sasuke digendong pulang, terus keadaan makan pagi di rumah Sasuke kecil, terus Itachi diciduk petugas keamanan setempat, terus satu klan keluarga Sasuke dibunuh Itachi, terus kehidupan Sasuke kecil yang jadi sebatang kara, barulah setelah itu adegan kembali ke Sasuke yang berdiri terengah-engah kelelahan menatap Orochimaru yang sedang merapal jurus pamungkas. T__T

Dan ini aq dapetin di Toya Batara Guru. Mungkin penjelasannya nggak perlu panjang lebar dengan ‘versi sejarah’, akan lebih mencekam kalau langsung aja dipraktekkan oleh Sentika yang menebas sebatang pohon yang tumbuh di dekat mereka. Kan keliatan tuh dahsyatnya si toya. Kalo gini kan tinggal disebut Ki Sangeti jadi rada jiper juga tuh ngeliat kesaktiannya.

And btw, tentang Sentika yang mencari Ki Sangeti yang asli (dari klonnya yang bejibun itu), terus terang aq pengen tau gmn caranya. Kalo di Naruto ilmu membelah diri ini ada, dan cara mencari yang asli juga diceritain gimana, jadinya cerita absurd itu sounds make sense. Bukan maksudnya bandingin, hanya saja kalau kesaktian Sentika ini diceritakan lebih detil akan .?lebih meyakinkan, dan pembaca lebih respek sama dia

Muncul pertanyaan: “Hei, ini kan fiksi fantasi, terserah dong mau tulis apa aja!”
Masalahnya, fiksi fantasi sebenarnya bukan melogiskan yang tidak logis, tapi membuat hal yang tidak logis jadi terasa logis. Jadi hal-hal yang tidak penting dan sepintas nggak perlu kayak detil di atas, tetap dibutuhin dalam pembuatan novel fikfan. Siapa bilang bikin novel fikfan itu gampang? Ngayal aja gak cukup T_T

Terakhir, ending prolog 3. Kurang crunchy. Rasanya kayak ‘This is the end and that’s it’. Sebenarnya ini justru bagian yang paling penting, karena harus menghubungkan pembaca dengan isi novel yang sepintas kuliat udah pindah waktu. Ikatlah pembaca di bagian ini, sehingga dia penasaran untuk pindah dari prolog ke isi. Bukannya gak bagus, cuma kurang greget.

Inilah kenapa kubilang masukin aja bagian2 Sentika ini langsung ke bagian Jaka. Bakal lebih menarik, pinter2 aja raciknya.

Isi
Wadoh, Sentika dkk ternyata cuma mimpi Jaka, toh?

Di bab satu ini sejak awal udah keliatan ‘pindah dunia’ dengan pengubahan cara bertutur dari yang ala Wiro Sableng ke teenlit. Kalo boleh share pengalaman, sebetulnya ‘menulis ala teenlit’ cukup di bagian dialognya saja. Narasinya tetap pake bahasa EYD. Karena aq liat jadi nggak konsisten, ada narasi yang ala teenlit, dan ada yang ala EYD.

Masalah kedua, ini jadi bikin aq pengen tau, sebenernya Pendekar Garuda ini target pasarnya siapa, ya? Pembaca teenlit, atau pembaca dewasa? Karena dua gaya penuturan dalam satu novel membuat rancu mengenai segmentasi pasar.

Oke balik ke review. Di sini masih banyak alinea2 yang terlalu panjang dan masih bisa dipotong supaya lebih singkat dengan maksud yang sama. Deskripsi karakter lebih bagus jangan ditumpuk di awal, kecuali terpaksa. aq liat masih bisa diselip2kan di tengah cerita.

Satu hal yang aq liat agak aneh. Aq pernah ngalemin beberapa kali berada di tengah tawuran, dan setauku cewek gak pernah ikutan tawuran, walaupun dia yang jadi penyebabnya. Cewek secara naluriah akan menyingkir, gak peduli siapa dia dan apa jabatannya. Jadi ngeliat Rani, Ratih dan Siska tetep ada di ‘medan pertempuran’, jujur aq heran. Kalaupun terpaksa harus ada di sana (seperti yang pernah aq alamin), cowok2 di sekitarnya nggak nantangin dia. Tapi ya sudahlah, pengalaman tiap orang bisa beda.

Kemudian, masih banyak kalimat2 yang tidak efektif, spt 'Topo dilarikan ke UKS (sambil berlari sendiri)'. Kalau dia bisa berlari sendiri, kenapa dilarikan? Gimana kalo kalimatnya, ‘Mereka berlari membawa Topo ke UKS, yang untungnya masih bisa menggunakan kakinya’?

Lalu huruf italic di tengah tanda petik-->apa bedanya dengan yg di luar tanda petik?

Soal ‘alam lain’ yang dimasuki Jaka cs saat bertarung dengan lelembut, masih belum jelas di bab ini. Tapi satu hal, fact bahwa mereka adalah keturunan Pendekar Garuda terlalu mudah terungkap. Lebih pas kalau mereka tahu hal ini setelah ketemu Sentika dan dijelaskan olehnya—ini dengan mengabaikan kebetulan2 yang ada ya, bahwa tiga dari lima keturunan Pendekar Garuda ada di lingkungan yang sama dan bahkan Kitab Lontar tahu2 ada di tangan ibu Jaka.

Oke, overall, sebetulnya ceritanya sudah mengalir, hanya masih perlu ramuan yang tepat untuk menyajikannya. Masalahnya di cara penuturan. Oh satu lagi, sepele banget tapi menghambat proses membaca, EYD dan tanda baca. Walaupun ini sebenarnya akan dibantu editor, nggak ada salahnya kita penulis tahu, kan? :)

Mudah2an bermanfaat, dan mengeluarkan omong kosong panjang lebar ini nggak berarti tulisanku sendiri sempurna.
Btw, gandrik itu siapa ya? :D

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 18, 2008, 06:25:46 pm
________________________________________
Thankyou, thankyou, thankyou (sambil membungkuk bersoja tiga kali)
Kumplit, dan thorough. Akan butuh waktu untuk menyimak (pelan-pelan) dan mempelajari saran-saran kamu serta membandingkan dengan part yg sedang dibicarakan. Tapi, wow. Sungguh beruntung saya bisa dapat masukan ini. terima kasih.

Dalam rangka prolog, saya mulai paham maksud Dian, walau memang tak mudah untuk begitu saja merubah apa yg sudah ditorehkan bertahun-tahun, yg udah kubaca (kuedit) berkali-kali. Tapi seriously gue pertimbangkan untuk merubah angle Prolog ini semaksimal mungkin, mengingat komentar senada cukup signifikan. Great challenge, sih, aku tahu (merinding, bisa gak ya?). BTW, sudah baca versi alternate dimana Prolog dan bab diselang-seling? bagaimana komentar Dian? (eh kalo belum gue kirim by PM dah, sekaligus yg lengkap sampai the End).

EYD? :-[ hehehe malu deh. Harus kuperbaiki lagi. Hayuuk!!

LIMBAH? Typo kali ye,… maksudnya pasti LEMBAH. Emang, sewaktu diketik ulang oleh beberapa siswa SMK, cukup banyak typo terjadi di banding versi hardcopy. Tapi bisa mendigitalisasinya aja gw dah bersyukur banget. Sampai sekarang saya masih menyisiri seteliti mungkin, tetep aja masih ketemu 1-2 typo atau hilang kata.

Hmm,… Siska jelas akan berada di sana, sebab dialah Ketua geng keamanan, dan dia akan dengan senang hati berkelahi dengan siapapun yang menantangnya.
Rani, memang sifatnya berangasan dan gelap mata,… hehehe.
Ratih, kalo dia memang jauh lebih suka menyingkir,… cuma gimana dia lari kalau dua sahabatnya terlibat di sana?

Kenapa seperti kebetulan? Mestinya sih semuanya terungkap di akhir cerita. He he he,.. tapi point kamu clear. Mana ada yg bakal sampai ke akhir cerita kalau di bagian awalnya aja udah ngga engaging?
OK, time to rework.
Terima kasih Suci Dian telah berkenan memberi beberapa petunjuk kepada Teecu.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 19, 2008, 02:43:31 pm
________________________________________
@om pur.
Akhirnya beres juga ane baca PG full version pagi ini.. hehehe semalem begadang gak sanggup beresin :-[
Oke, ane gak bakal ngomongin masalah prolog, bilangan 666, dan gaya bahasa lagi dah. Kita concern ke hal2 yg belom dibahas aja yak (bahasan yg di review ane sebelomnya, tentu).
Dan tentu karena ini review, bakal ada bbrp poin yg jadi SPOILER.. so bagi pembaca lain, skip aja tambahan review ini kalo ada yg belom beres baca PG dan ada niat ngelanjutin baca.

1. Masalah tanda baca
Khusus yg ini ada dua macam yg mau ane komen:
*)Pengulangan tanda baca
Seperti yg pernah dibilang clikdian entah di mana, misal untuk kalimat pertanyaan, mau pake tanda tanya sekali (contoh: apa?) atau tiga kali (contoh: apa???), maknanya bakal sama aja. Kalo ente ingin menggambarkan betapa terkejut atau penasarannya si tokoh yg bertanya itu, kurasa akan lebih bagus kalo dibikin dia mengajukan pertanyaan beruntun/repetitif aja. (contoh: Apa? Kau yakin?)
Ini juga berlaku buat kalimat perintah/seruan (!).
**)overdosis tanda baca
“Eh,… makasih ya Bun,…”
PLAAAAAAAKK,…!!!
Jangan pernah bikin kalimat dengan dua/lebih tanda baca sekaligus kayak begini>_<
Yang paling sering itu orang bikin kalimat berakhiran ‘?!’ untuk pertanyaan dalam keadaan emosi tertentu, dan yg satu itu masih bisa diwajarkan karena emang udah jamak dipake.
Tapi untuk variasi-variasi dua/lebih penggunaan tanda baca dalam PG, kurasa itu cukup nyeleneh, at least clickdian juga protes beginian, heheheh.

2. Ketidakkonsistenan kata panggil
“Gue mau tidur dulu sekarang. Eh kamu mau keluar kan? Aku boleh pesen beli sesuatu ke elu gak?”
Kalimat di atas gak ada di PG, tapi ada bbrp kalimat semacam itu di PG, banyak malah, heheheh..
Orang yg mengatasnamakan dirinya ‘Gue’, idealnya manggil temennya ‘lu’, dan orang yg mengatasnamakan dirinya ‘aku’, idealnya nyebut temennya ‘kamu/kau’. Jangan diputer2 yak, kurasa akhirnya ketemu juga letak kejanggalan gaya bahasa anak jakarta di setting Jaka, ya itulah menurutku :D
terus ada juga yg dikali pertama seorang tokoh pake ‘aku’, di lain kalimat pake ‘gw’.. ada juga yg nyebut ‘elo’, di lain kesempatan pake ‘kamu’, padahal masih ditujukan ke orang yg sama.. menurutku ketidakkonsistenan gw-elu-aku-kamu ini bakal cukup mengganggu pembaca.

3. Scene cutting
Kayaknya kita menganut aliran yg berbeda nih om, heheheh.. Kalo yg gw liat di PG, setiap scene2 peristiwa ‘seru’ yg berhubungan pasti terus dirangkai jadi satu kesatuan, sambung menyambung sampe pembaca terpuaskan pada satu titik jawaban. hmm.. sebetulnya ini prerogatif pengarang sih, tapi menurutku betapa asiknya kalo kita sebagai penulis, bisa ‘menyiksa’ pembaca dengan menyisipkan scene2 lain yg tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasan scene ‘seru’ sebelomnya. Jadi scene-nya dipotong2 ala genre suspense/thriller gitu lho. Kan asik aja bisa bikin pembaca gregetan, hehehehe
Tapi emang pilihan teknik memotong cerita ini gak gitu vital2 amat sih, cuman yak bagi pembaca yg udah terbiasa baca novel2 Dan Brown, pasti bakal ngerasa agak gimanaaa gitu sama gaya penceritaan yg ‘lempeng’ kayak begini..

5. Pemilihan kata
Mahisa Ganurawang segera melompat tinggi, dan dengan keren ia melayang bagaikan terbang menuju ke arah gelaran pasukan kerajaan lelembut.
‘Keren’-nya itu lho!
Entah di dialog, deskripsi, atau narasi, suka muncul kata2 ‘ajaib’ semacam itu. Dan ada juga beberapa judul bab nyeleneh semacam ‘Naik Kereta Api Tut Tut Tut’, ‘T.O.P. B.G.T’, dan beberapa lainnya yg ngebikin gimanaaa gitu.
Tidak begitu vital sih untuk keseluruhan bangunan cerita, tapi cukup mempengaruhi konsistensi bahasa dalam novel ini.
oke, cukuplah masalah teknik penulisan/EYD/tanda bacanya, hehehehe..

6. Sekarang kita masuk ke plot,
-)Plot bikinan ente mengingatkan ane ke plot Naruto, terutama pas konflik Penyerbuan Orochimaru ke Desa Konoha. Dan sejujurnya, walopun gw kagak berselera sama sekali sama settingnya, dan cukup tersiksa malah sama gaya teenlit-nya di awal-awal, hueheheh (ini subjektif sekali, tentu), akhirnya gw mesti mengakui, plot yg ente bikin cukup asik (dan kurasa, ‘keasyikan’ novel ini lebih cocok ditargetkan ke anak smp-sma). Terus terang setelah melewati gaya bahasa teenlit yg ‘parah’ di bab2 awal, gw mulai bisa mengikuti aliran ceritanya, dan bahkan sampe pada tahap menikmati karena ‘terikat’ pada plotnya. Yah karena itu tadi, mungkin karena sedikit banyak genre PG ini mirip2 genre Naruto, salah satu judul anime favorit ane.. :-[

sedikit OOT:
hehehe, gak usah malu sama umur om (istri dan anak pula ;D), tapi ane (dan ane percaya clickdian juga) mau suggest: ente coba simak anime/manga Naruto deh, serius, untuk genre silat yg ente usung ini, banyak ilmu yg bisa dipetik dari Naruto. Mumpung besok libur panjang… buruan cari dvd-nya di glodok gih! ;D
BTW, sedikit intepretasi iseng antara PG dengan Naruto:
(sengaja ngebandingin pake moyangnya biar gak spoiler)
Sentika – Sasuke/Naruto
Widura – Akimichi Chouji
Rangga – Hyugaa Neji
Anggraini – Tenten
Pramesti – Sakura
Ki Sangeti – Orochimaru banged (kepala copot-nya itu lho! :D )
Robbi – Garra
Okee, okee, cukup OOT-nya, lanjut ke PG. :P

-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.
(BTW, yg bikin ane tertarik (dan cukup menikmati) untuk terus lanjut baca Pendekar Garuda adalah aroma ‘detektip2an’–memprediksi siapa gerangan yg jadi keturunan tokoh2 masa lampau itu–itu bagus, walaupun sebetulnya semua tokoh bisa dengan gampang ane tebak keturunan2nya dari siapa aja, kecuali si Jo gara2 atribut bataknya ;D)
BTW, orang gak tidur selama seminggu aja dijamin koit om, 1000 jam? Yeah, walopun Jo keturunan pendekar sakti, at least ente jabarin fact itu supaya reasonable bagi pembaca.. Misal hal ini terungkap waktu si Jo (entah gimana caranya) kebetulan baca artikel dari internet yg nyebut daya tahan orang begadang sewajarnya adalah cuma beberapa hari, dan betapa ia tidak mengerti menemukan dirinya sanggup begadang jauh lebih lama dari yg sewajarnya: Kok gw bisa gak matik, dan masih seger sampe sekarang?
-) Kebalikan dari komen Clickdian, menurutku adegan2 battle di PG malah kepanjangan, terlalu detil (gileee bener adegan battle final-nya: dari Bun Vs Monster ijo, disambung Robby Vs Jo, Ratih Vs Ki Sangeti, terus yg paling panjang, Kelima pendekar garuda vs Ki Sangeti-Suromenjani-Utusan Iblis. What a long journey! :D )
Tapi emang sebetulnya ini wajar juga sih, secara tipe fantasi yg diusung silat.
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?

OKeh.. i’ve finished for all of these inputs & critics, now lets talk about the positives. (yg ente tunggu2 nih ;D)
-)Sekali lagi, bangunan plotnya emang cukup kuat. Gw jadi ngerti kenapa ente mencak2 banged nanggepin plot Hozzo, hueheheheh. Perencanaan plot emang cukup matang, walaupun sebetulnya ini mengakibatkan beberapa adegan di depan jadi cukup mudah ketebak.
-)Begitupun karakterisasinya. Yahh, cukuplah. Jaka yang kadang bijak kadang dongo (ini istilah dari Rani, hahah gw suka!), Rani yang ceplas-ceplos dan beringas, Jo yang berandal tapi cool, Ratih yang lemah lembut dan cerdik, Bun yang kalem dan humoris (walo humor2nya cenderung garing bagiku): kelima tokoh itu emang udah keliatan perbedaan dasar sifat2nya. Cool, & good job.
-)DAN walaupun disini gw dapet kesan betapa Jaka begitu naif dan tolol (gampang banged dirayu Prasti), gw salut ente bisa menciptakan karakter2 yang ‘manusiawi’, maksudnya jauh dari titel sempurna gitu (Tapi ini cuma berlaku untuk keturunan2 kelima PG itu–Sentika malah keliatan too perfect). Gw selalu eneg baca novel dengan tokoh protagonis yang terlampau sempurna, untungnya PG gak ikut2an pakem itu.
-)Muncul juga tokoh2 baru semacam Mahisa Ganurawang untuk mengecoh pembaca memprediksi keturunan Rangga, dan Gagak Prabaketu untuk menjadi penolong pihak putih secara tak terduga-duga, itu bagus.
-Namingnya (baik untuk tokoh2, jurus2, tempat2), walaupun bukan selera gw, patut gw acungi dua jempol. Emang pas banged sama bangunan Setting Jawa Kuno-nya.
-)Adegan cinta monyet Siska-Jo, Tongpes-Olga, dan percekcokan geng Seksi Keamanan terhadap Olga juga lumayan asik diikuti.
-)Walaupun gw dapet kesan over-dramatis, adegan-adegan emosional kayak: Prasti ngecelein Jaka, Jaka ngusir Ratih, Olga ngusir Jo, persidangan Jo, cukup membangun aspek emosi pembaca dalam novel ini. Good job.
-)Beberapa Ide & Background, seperti teknik Mawar Kematian & Dewi Kebajikan itu boleh juga, cool. Ide Formasi Garuda-nya juga keren. Terus bagian di mana Bun menghadapi monster yang sengaja dirancang untuk menangkal kemampuan dirinya, dan betapa Rani kemudian dapat membinasakannya dengan mudah, itu juga keren. I like it.
-)Walaupun awal2 PG pake background Islam, gw menemukan content PG ini cukup universal, layak dibaca semua umat lha. Ada tokoh Johannes Pasaribu yang notabene Kristen, dan gimana ente dengan kocaknya mengungkapkan itu pas keadaan genting di mana kelima PG ingin mencoba merapal ayat Quran untuk mencegah Utusan Iblis turun ke bumi, itu menarik.
Dan tentu, gw seneng di sini ente kagak terjebak ego pengarang2 fanatik geblek dengan tidak mengkonvert agama yang dianut Jo di akhir cerita. Sip dah. Salut berat dari seorang pembaca Nasrani!

n.b:
OOT dikid, eh kalo ane liat2 keknya ente cukup tahu istilah2 perkempingan, sleeping bag, parafin, tenda peleton.. kurasa cuman orang yg pernah kemping aja yg tauk istilah2 itu, huheheheh.. emang ente pernah kemping dmn aja?
Desember 2007 kmrn ane kemping di kandang badak, tapi gak nyampe puncak gunung gede gara2 tepar duluan, kena ujan, becek, gada ojek… :-[

Comments No Comments »