Posts Tagged “The Forgotten Heroes”
Di samping ini adalah gambar (sebagian) peta dunia kisah The Forgotten Heroes, yang baru saja selesai digores langsung di komputer melalui software Corel Draw 11. Memang masih sangat sederhana, tapi sementara ini cukuplah untuk disisipkan ke hardcopy Buku Satu yang akan coba saya lempar lagi ke penerbit awal tahun depan.
Dengan peta ini semoga para pembaca bisa lebih membayangkan dimana Elniri, negeri asal sang penakluk. Lalu negeri Terran, Melbrond, Haston, dan Maltan. Juga tempat Fabien membangun desanya di utara, letak Kuil Ksatria di Gunung Hohn, dan tanah para penyihir di Lembah Heiszl.
Tapi memang, peta ini belum mencakup lebih jauh lagi ke utara (tempat asal muasal Vilnar dan William), dan jauh ke barat, ke tanah mistis tempat berkeliaran hewan-hewan mitologi, dan juga tempat perang dunia yang sesungguhnya, yang nanti bakal diceritakan di buku-buku selanjutnya.
23 Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXIX (10 Ags 2008 – 20 Ags 2008)
• Tentang koleksi novel-novel fantasi lokal
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh BloodSin
• Definisi kisah Fantasi
• Tentang waktu tampil novel fantasi lokal di toko-toko buku
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 11:05:06 pm
________________________________________
Quote
Rey, member2 lama (yg gw gak kenal) koq gak muncul2 lagi ya?
Diajak maen2 lagi ke sini dong biar bisa kenalan juga sama member2 baru yang keren2 ini!
Kebanyakan keknya udah pada ‘mokad’ deh as writer.
Kayak Midnight Sun (di vgi nicknya Nataku Yue), ini member cewek yang luar biasa jago dan wise, loe bayangin deh sosok om pur, tapi buang atribut: ‘batangan’, jadul, dan sotoynya heuheuheu ;D, replace dengan atribut: cewek umur 20an, open-minded, berpikiran luas, tapi rada cold-blooded juga sih -_-”
Postingan-postingannya enak dibaca, subjektif, mencerahkan kalbu (halah! ;D), dan berbobot [thumbsup]
Beliau kayaknya telah disibukkan dengan pekerjaan, soalnya ngilang pas dia baru aja lulus kuliah dan masuk kerja
Kalo Excel, La Mer, Whiteheaven, ngilang pas peralihan FFDN II ke FFDN III, kayaknya pada males register ulang bikin id baru deh
Kalo si Lich, pernah nongol kan di sini? Dia jugak termasuk yg posting di halaman pertama thread FFDN I, wuah udah lama sekali ituh
oke, gw ada:
1. Janos–Legend of Arctic Empire, tipe ‘sci-fi’–tanda kutip di sini merepresentasikan banyak hal ;D (Hadiyanto, kalo belum dicopot sekarang beliau ini masih kepala asslab binus lho [thumbsup])
2. Nightfall–The Element Location, tipe RPN (Rizky YS, jebolan Trisakti)
3. Numeric Uno–Legenda Sang Cahaya Zeta, tipe petualangan luar angkasa, mirip hozzoh (DewiS)
4. Ledgard–Musuh dari Balik Kabut, tipe RPN-kolosal (WD Yoga)
5. Negara Kelima, novel sejarah (Es Ito)
Pinissi (Mama Piyo) sebenernya termasuk buku yang mau gw ‘buang’ jugak, tapi gw cinta mati ama gambar-gambar ilustrasinya. Jadi I’ll keep it.
Kalo Cardan, walau jumlah halamannya masih utuh, dan bisa dibilang gw benci mati karena gak ada satupun aspek yg positif dari buku ini (selain kovernya ), kayaknya gw gak cukup ati buat ngebarter, secara bukunya udah compang-camping, halamannya pada copot (kualitas jilidnya jelek banged!)
gw berminat dengan:
1. Phoenix–Mahkota dalam Negeri Azura
2. Corruption
3. Reinhart
4. Cincin Oleodeo
6. Para Penunggang Petir
7. dan fantasi-fantasi lokal lain dengan setting non-lokal, dan bukan semi teenlit >_<
sebenernya ada dua judul lagi yg gw penasaran & ngebet banget pengen baca, tapi gak enak hati ama pengarang-pengarangnya yang suka nongol disini heuhueheuheu ;D
well, kalo ada yang minat.. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on August 11, 2008, 09:30:44 am
________________________________________
Sang Penandai dibarter (baca: jual murah) aja tuh ke om pur atau si piet! [rolleyes]
Btw, phoenix dan corruption yang gw pernah baca itu punya co-author gw, rey.
Dia sih gak mungkin ngebarter corruption (buku ini kayaknya masih dijual loh di beberapa toko buku gramedia, tapi kudu rajin nyarinya, soalnya ditaruhnya ngasal, kadang di fiksi lokal, kadang di fiksi asing, atau malah di buku impor ).
Nah, kalo phoenix, ntar gw coba tanyain deh. Dia kayaknya rela2 aja tuh ngebuang jauh2 buku itu… Wkwkwk! ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on August 11, 2008, 09:55:12 am
________________________________________
Yang jelas, buku-buku lokal yg mau gw simpen ampe akhir hayat itu:
goran, sang penandai, hozzo, narend ama zauri [biggrin]
yodah kapan-kapan kalo ada gathering, tinggal dibarter lha tuh phoenix-nya [biggrin]
[tab::Hal 3]________________________________________
Post by: clickdian on August 15, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Guys, ada buku baru nih, Magician Guild. Harganya skitar 70-an, naga2nya sih bagus 
Ada yg udah pernah denger? Kyknya isinya pure fantasy.
________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 03:48:09 pm
________________________________________
Magician Guild itu novel lokal atau terjemahan, mba dian?
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 15, 2008, 05:10:45 pm
________________________________________
kayaknya terjemahan tuh.
gue belon liat sih, udah lama gak ke gramedia.
belakangan rada depresi kalo ke toko buku soalnya. sebegitu banyak buku, gak ada satupun tulisan gue. ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 05:15:28 pm
________________________________________
Rasanya kepengen banget nyalain korek, trus dilempar deh ke salah satu tumpukan! 
Apalagi kalau ngerasa buku2 lain lebih jelek daripada buku kita, ya nggak, villam? ^-^
;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 10:42:15 am
________________________________________
Hmm… kalau Supernova dan komik Tony Wong ada yang menganggap fantasi, jadi sekarang definisi karya fantasi sebenernya apa dong? ???
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
________________________________________
Villam, semalam gw baru beres baca TFH loe, itu terhitung dari tiga hari terakhir ini gw fokus ngabisin TFH heuheu [biggrin]
Dan inilah komen resmi gw (gw akan menyamarkan bbrp poin supaya gak jadi spoiler tapi masih bisa ditangkep lu ):
Pertama-tama, lemme nyembah-nyembah you dulu (haduh, kok browser gw gak bisa buka page icon yak, sialllll [hammer])
Thanks a lot karena lu udah mengijinkan gw baca masterpiece lu, heheh.
Secara keseluruhan, tulisan lu, walaupun gak secanggih si Ewing, gak secakep sang Penandai, dan gak sememikat tulisan si Hege, tetap masih punya pesona tersendiri di mata gw, mungkin karena kesahajaannya. Lu gak terlalu berpusing-pusing mikiran metafora keren buat ditarok dalam tulisan, lu cuma fokus ingin menyampaikan cerita ke pembaca sebaik mungkin dengan bahasa yang jelas dan enak, dan itu bisa dibilang berhasil. Dan dari karya lu gw bisa belajar, kalo ternyata karya fantasi pun bisa dibuat elegan dengan gaya bahasa ‘biasa’. Salud.
Kedua, This is it! Kayak beginilah sebuah karya baru layak disebut kolosal! Kavaleri Elniri, konsep ‘pasukan perintis’, yel-yel perang yang keren, buah tuluk, dan lain-lainnya, buat gw elu udah berhasil menunjukkan wawasan kolosal yang mumpuni, terutama tentang aspek-aspek perang (ada seni diplomasi, penaklukan, strategi pemenuhan pangan, ect). Keren. Lu juga udah berhasil mendeskripsikan keperkasaan Antharavai dengan wajar, gak berlebihan. Setiap adegan kemenangan, penyergapan, perang, sudah tergambarkan dengan wajar. Masalah belasan bisa mengalahkan ratusan seperti yg dibilang om pur, itu gak terlalu fatal, masih bisa dimaklumi mengingat yg terjadi disitu adalah penyergapan, dan oleh pendekar-pendekar terkuat pula.
Gw suka tiap kali ada orang mati, elu menyebutkan umurnya. Itu kolosal banged heuheu, tapi ada satu karakter penting yg gak lu sebut umur koidnya tuh.. ???
Gw menemukan ada dua tema dominan di TFH: kolosal & romance.
Kalo menurut gw kekuatan utama TFH itu ada di romance alih-alih kolosal, secara elu belum menyajikan sesuatu yang benar-benar ‘brilian’ buat tema kolosalnya. Namun begitu, TFH menjadi buku pertama yang berhasil ngebikin mata gw berkaca-kaca merasa terharu, getir, & sedih, sebelumnya belum pernah ada buku yg ampe segitunya. Banyak orang nangis baca LasPeng & AAC, gw sih masih biasa-biasa aja, karena buat gw tema struggle/romance di kedua karya itu masih terhitung standar, atau malah picis (khusus romance AAc huehue). Tapi untuk TFH, gw takluk seutuhnya :-[ gila keren banged!
Ini di luar kebiasaan gw, biasanya sebanter-banternya buku maenin emosi gw itu gw cuma sampe sebatas ngakak gila aja, gak pernah sampe bikin terharu/mata berkaca-kaca. Ini luar biasa.
TFH gw masukin ke jajaran novel fantasi terbaik yg pernah gw baca, entah itu novel lokal atau luar. Ketebelan bukunya dan penggarapan selama bertahun-tahun sama sekali gak sia-sia. Oh yap, buku ini pun menjadi yang terbaik dari segi plotting, untuk ukuran fantasi lokal yg pernah kubaca, well-done
Sekarang, kita masuk ke pertanyaan dan pernyataan gw untuk bbrp hal:
1. Haston, ini kan nama orang (seorang jenderal). Gw agak bingung dengan 'negeri' ini, kok lu gak ngasih nama buat wilayahnya? Di bukunya lu Cuma nyebut wilayah/negeri Haston, well ini gak gitu jadi masalah sih..
2. Tentang adegan final protagonis utama ngelawan antagonis utama, gw rada kurang puas dengan cara elu mengeksekusi adegan itu buat muncul. Terlalu biasa, padahal bisa dibuat lebih dramatis lagi. Kalo gw yg bikin
TFH, gw akan menceritakan si protagonis membangun Tirevr dan menempatinya sedemikian lama, sampe akhirnya keberadaannya diendus oleh si antagonis yg (ceritanya) sedang mengadakan suatu ekspedisi perjalanan menuju suatu tempat yg gak jauh dari Tirevr. Nah di situ si antagonis seperti biasa, menantang seseorang dari desa untuk duel one by one, dan keluarlah si protagonis dengan gagah berani dalam rangka membela desanya heuheu. Jadi effort si protagonis buat melawan si antagonis akan kerasa lebih mengesankan, karena disitu ia melindungi orang-orang yg
dicintainya, terutama Amelia. Well, itu versi imajinasi gw sih
3. Naming! Fabian is way too pretty for a warrior name. Serge dan Helmut, itu dua nama super-keren buat ukuran pendekar, bahkan mengalahkan image Kain dan Seth gw heuheu. Gw langsung bisa membayangkan keperkasaan mereka sekali denger namanya. Tapi Fabian? Agak-agak gimanaaa gitu, apalagi dalam bukunya lu bikin dia sebagai penerus Serge dan Helmut, dan sekaligus sebagai si 'penantang' antagonis utama. Tak bisakah mencari nama lain yg berkesan lebih jantan dan perkasa? ^-^
4. Peta, ini mutlak kudu ada kalo bukunya terbit. Lu udah bikin kan? Gw pusing nyimak strategi Anthravai & Thorsti di bab 24, tapi untung strategi itu pada akhirnya mubazir, heuheu 
(eniwei, daripada Serge dan Helmut, gw lebih suka Anthravai & Thorsti)
5. Ada beberapa kalimat yang salah/kurang kata tuh... tapi ini kayaknya udah dikoreksi si Fred kan?
6. Kritik utama: masalah pendeksripsian adegan perang yg berulang-ulang sama, yg dulu gw nyatakan terlalu standar karena cuma ngomongin jumlah pasukan dan emosi sang pemimpin pasukan, ternyata ke belakangnya masih
tetap begitu heuheu. Waktu awal-awal baca gw liat daftar isi ada judul bab kayak 'Perangkap Helmut', gw udah ngebayangin bakal seru banged tuh disitu, pasti ada strategi perang keren khas villam, eh tauknya itu pun masih strategi standar-_-"
Tapi oke lha, setelah baca keseluruhan buku, adegan-adegan standar ini tertolong dengan plottingnya yang terencana sangat matang, sehingga naskah ini menjadi sama sekali tidak membosankan. Ada banyak adegan mengharukan dan mengesankan dalam naskah ini, kayak 'Bunga di Atas Perahu', 'Kenangan Terakhir', 'Quazar dan Ksatria', dan subplot-subplot menarik kayak Kuil Ksatria, pembangunan desa Tirevr. Gw nyembah-nyembah salut dah, sekali lagi.
Adegan Fabian pertama kali yang jaman dulu gw bilang membosankan, sekarang udah lu modif jadi menarik, salut itu ide Bunga di Atas Perahu-nya, bener-bener mengesankan heuheu.
Beres baca TFH, gw percaya naskah ini akan (harus!) terbit suatu saat nanti, bagaimanapun dan apapun caranya [biggrin]
Gw malah jadi gregetan dengan selera penerbit sini, mereka terus berkoar-koar belum ada dan gak bakalan pernah ada naskah sini yang setara LOTR, atau tentang keburukan/kepayahan penulis lokal yang cenderung mengadopsi setting luar bukannya milih setting lokal, namun ketika ada naskah anak bangsa yang kualitasnya sedikit-banyak mengimbangi panutan mereka–LOTR (TFH, dengan segala kelebihannya, gw berani bilang setara dengan buku pertama LOTR), dengan tololnya mereka menolak naskah itu dengan penilaian dangkal mereka, dan malah
menerbitkan naskah-naskah sampah yang gak layak baca. Gw udah baca 2 naskah kolosal ‘pilihan’ para penerbit sini yang ‘konon’ mirip LOTR, tapi apa yang gw dapat? Membosankan dan bikin ilpil. Sial, apakah standar dan selera gw sedemikian spesifiknya di sini sampe-sampe cuma gw sebagai pembaca yg ngerasa gregetan ginih TFH gak diapprove penerbit, sementara Ledgard yang ke-kolosal-annya konyol begitu bisa terbit dan sampe diagungkan oleh banyak pembacanya? ???
Ini bener-bener suatu kesalahan, sangat salah dan sangat bodoh. Menyedihkan [ranting]
Dari sini gw jadi sepakat dengan omongan si Jeff dulu, Tolkien, kalo idup di indonesia dan mengirimkan LOTR-nya hari gini ke penerbit sini, bisa jadi gak bakalan pernah terbit, boro-boro meledak. ;D
Masih pantas lha kalo mereka menolak naskah gw yg emang punya segudang cacat, tapi TFH? Ini ketololan yg tak bisa dimaafkan, dan kayaknya Cuma elu sendiri yang bisa menghadapinya, bro. Kalau memang udah gak ada
jalan buat TFH, self publishing patut dicoba, setidaknya lu udah punya nama di k.com & pulpen, tinggal merambah ke komunitas-komunitas penulis lainnya aja buat promosi. Tapi ketebelan naskah juga bakal jadi kendala utama, sih.
Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed), silakan gunakan thread ini untuk promosi kalau nanti diterbitkan, dan jangan ragu buat minta bantuan dari gw ke depannya nanti, selama gw bisa membantu, i’ll be here to support you always, villam my good friend ^-^
Salam Pedang!
Note: TFH kalo di word, dengan patokan jenis huruf news roman spasi 1,5 ukuran 12, itu brp halaman sih? Jangan jawab pake jumlah kata pliss, itu sama sekali tidak menunjukkan jawaban jelas >_<
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 12:02:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed)
Kalau gw, terkesan dengan effort rey dalam menggarap review-nya TFH selama berjam-jam (yg hasilnya–yaitu versi yg dikirim ke tret–bener-bener rapi & jelas kalimat maupun idenya).
Wkwkwk! Peace ya, bro! ;D
Salam pedang juga, ah!
[tab::Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 12:48:28 pm
________________________________________
Gw bikin repiu itu cepet kok fred, secara gw nulisnya dalam keadaan bersemangat abis baca novelnya heuheu..
Kalo menurut lu, Ledgard ama TFH bagusan mana?
Kalo kudu dikasi nilai dari skala 1-10, ledgard brp TFH brp? [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:08:28 pm
________________________________________
Susaaah… :-\
Ledgard, meski banyak kelemahannya, buat gw ada keunggulannya pula. TFH juga gitu.
Kalau secara overall (seluruh aspek novel), kayaknya emang TFH nilainya lebih baik.
Tapi, secara aspek komersil (“menjual”), Ledgard yang menang.
Harus minta pendapat orang ketiga (om pur) nih. ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
iyahhh setuju, kemasan Ledgard memang jauh lebih komersil daripada TFH, dan ini yg bikin gw sebel.
Kualitas harus selalu dikorbankan dan kalah dengan komersialitas (eh emang ada kata ini ).
Itulah kenapa hari gini sinetron indo kian menjamur, dan serial barat jadi makin sedikit tayang di indo :-\
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:21:47 pm
________________________________________
Kalau gw boleh menduga-duga (ya boleh lah!), TFH belum dapat penerbit karena sisi komersialitasnya itu.
Buat para penerbit, ada sesuatu di TFH yang membuat novel itu gak bakalan laku kalau dilempar ke pasar.
Apaan tuh?
Kalau komen gw ke villam sih, itu dari segi plotnya. Plot TFH terlalu lurus dan kurang intrik.
Kalau villam berani ngasih twist sedikit aja (khususnya di bagian2 ending), pasti nilainya langsung berubah. [bigwink]
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 01:47:29 pm
________________________________________
heheheh…
akhirnya lengkap juga tiga orang dah ngasih repiew TFH. (sebenarnya ada satu orang lagi nih yang udah dikasih draftnya: si serpentwitch. Sayang dia dah gak pernah nongol lagi .
dan ada juga satu orang lagi sebenarnya…
but eniwei, om pur, fred, dan rey, thank you very much!
gue udah catet semua masukan-masukannya. ide-ide baru udah menari-nari di kepala, dan dalam waktu dekat bakal gue mulai proses revisi berikutnya. bakal ada penambahan dan perubahan muatan sebanyak kira2 20%.
seperti usulan fred contohnya, gue emang mau kasih beberapa twist tambahan di tengah dan terutama akhir cerita. ada subplot yang rencananya baru kebuka di buku selanjutnya, tapi memang lebih baik dibuka lebih cepat di buku pertama. ini emang bener2 kesalahan gue, yang kurang memberikan teaser yang sebenarnya sudah ada tapi belon digali.
masih belon yakin sih apakah itu berarti ceritanya bisa jadi lebih ‘menjual’ sesuai dengan selera penerbit atau kebanyakan pembaca (ini bener-bener ukuran yang sangat sangat sangat sulit bagi gue, secara selera gue emang banyak bedanya dibanding mereka), tapi paling gak gue berusaha agar ceritanya jadi kelihatan lebih baik.
sebenernya selain beberapa kelemahan itu, ada satu hal sih, yang terutama bikin penerbit ketakutan. yaitu panjang cerita, dan karena ceritanya adalah bagian dari cerita panjang yang belon selesai. Coba bayangin aja, jika penerbit harus memilih dua cerita: satu pendek dan satu panjang, tentunya dia merasa lebih aman buat nerbitin cerita yang
pendek. apalgi kalo penulisnya masih pemula dan belon dikenal.
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
ntar di cover depan ditulis: Go Green. biar kesannya kita lagi ngehemat kertas (halah…).
tapi emang gitu kok kenyataannya: lebih hemat kertas, cuma 100 lembar dibanding 400 lembar. hahaha… buat ngetes…
yeah, intinya… buat terus ngebakar semangat agar tidak padam.
yuk terus menulis.
salam pedang!
(buset. gue mesti siapin bahasa elniri buat istilah ini!)
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 02:10:22 pm
________________________________________
Tentang tebel naskah, kalau villam emang yakin TFH punya “sesuatu yang lain”, rasanya 400 hlm masih bisa dimaklumi deh sama penerbit. (*sotoy mode: on*)
“Sesuatu yang lain” inilah yang harus digali dan ditonjolkan jelas2, biar para penerbit itu bisa langsung ngeliat.
Eniwei, selamat merevisi ria! [thumbsup]
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
________________________________________
Plot TFH yg berkesan lurus tanpa intrik buat gw gak ada masalah, dan bukan kekurangan. Waktu tauk gaya kolosal TFH, terus terang aja gw jadi inget The Hobbit, salah satu buku fantasi yg berplot lurus dan mirip-mirip plot TFH. Tapi tunggu… kita liat juga plot buku pertama LOTR, bisa dibilang gak ada intrik juga kan? Plot twist-nya ada dimana
coba? Pengkhianatan Boromir? Penyergapan Orc? Gak ada kali ye, tapi cukup enjoyable plotnya buat gw tuh [biggrin]
Ledgard emang sarat intrik, tapi buat gw intrik-intriknya gak napsuin, somehow Gw lebih suka model plot ‘ngalir’ kayak TFH ginih buat fantasi mah. Well kalo mau bikin intrik, idealnya jangan setengah-setengah memang, ini yg susah gw penuhin di novel fantasi gw sendiri pun. TFH membuka mata gw kalo novel tanpa intrik pun bisa jadi
memikat.
Kalo menurut gw kenapa penerbit takut buku ini gak laku, itu yg pertama dan terutama karena ketebalannya. Ledgard bisa terbit karena dia beruntung dikirim beberapa tahun lalu, waktu naskah fantasi belum terlalu familir di mata penerbit lokal, jadi bisa dianggap cukup langka, dan udah gitu isinya gak jelek-jelek amat pulak. Kalo sekarang mah,
nanti dulu deh [biggrin]
Kedua, setting & naming yg gak user friendly/kurang ‘universal’. Buat gw sih, Anthravai, Elniri, Hadjuk, Hotas, itu nama-nama keren yang amat orisinil. Tapi buat orang laen? Bisa jadi aneh, terlalu ajaib dan gak enak dibaca.
Ketiga, penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak.
Quote
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
ga bisa diukur gitu juga ah, kata ‘di’ dan kata ‘dipertanggung-jawabkannya’ sama-sama terhitung 1 kata, tapi bobotnya
beda bangedd
Quote
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
jangan dah, kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish.
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: clickdian on August 19, 2008, 03:50:47 pm
________________________________________
#Mas Pur,
Thank you so much buat review Zaurinya!! m-_-m
Udah kubaca bbrp hari yg lalu, tapi belum kukomen, gak sempet.. kerjaan kantor lagi numpuk, maaf ya.. [biggrin]
sekalian ntar sama pertanyaan fred dulu deh.
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 05:22:41 pm
________________________________________
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak.
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
tapi betul, pertimbangan utama gue tetep bertahan dengan alur begitu adalah timelinenya. gue gak mau banyak-banyak bikin adegan flashback. lebih menyenangkan alur maju. konsekuensinya harus ada trik supaya bab
awal sekarang bisa lebih menarik. hmm…
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish.
betul. cobain nembus lewat cerita laen dulu. tapi revisi TFH juga tetep jalan, sebelum ide-idenya menghilang.
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 19, 2008, 07:08:31 pm
________________________________________
@ juunishi master, piethitam & Fr3d
Hm.. mungkin kita harus menyepakati dulu apa yang dimaksud dengan cerita *fantasy*. Memang dalam wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Fantasy) disebutkan bahwa:
/Fantasy is a genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element of plot, theme, and/or setting. Fantasy is generally distinguished from science fiction and horror by the expectation that it steers clear of technological and macabre themes, respectively, though there is a great deal of overlap between the three (collectively known as speculative fiction).
/yang artinya:
/Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
/
Berdasarkan pengertian di atas, gwe rasa, cerita fantasi nggak harus secara penuh mengandung unsur sihir, tapi bisa bentuk kekuatan supernatural lain. Selain itu unsur fantasi nggak harus ada di plot, tema, serta setting secara kesuluruhan, tapi pada elemen tertentu saja.
Kalo Juunishi nganggep kemampuan Elektra nyetrum orang agak mirip ama fenomena manusia magnet yg bisa bkn sendok dll nempel di badannya sih boleh-boleh aja. Tapi apa semua orang bisa ngelakuin hal itu? Enggak kan? Jadi baik kemampuan/abilty nyetrum orang atau nempelin logam ke badan, menurut gwe adalah salah satu bentuk kekutan supernatural, gak harus sihir doang.
Kemudian, apabila apa yang kita rencanakan, tulis, atau impikan terjadi di dunia nyata, gw rasa itu bukan “kebetulan” tapi “takdir”. Dan “takdir” atau seolah-olah “kebetulan” itu seringkali menjadi elemen penting dalam cerita fantasy. Di HEROES, satu karakter dengan karakter lainnya bertemu dan saling terkait karena mereka di-”takdir”-kan oleh
sang penulis, sebagai Tuhan dalam cerita, untuk begitu.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: bjvadis on August 19, 2008, 08:36:22 pm
________________________________________
review untuk the forgotten heroes (tfh): jangan sampai ini menjadi ‘the forgotten novel’ seperti nasib novel2 fantasi indonesia di rak2 toko buku gramedia… sebel juga waktu nggak dapat zauri pas mau beli. Sang penandaipun sudah menghilang (untung sudah beli pas setelah launching). kebagian cardan tapi kehabisan enthirea.
soal naskah:
contoh: naskah fireheart buku 1 yang diketik pakai times new roman uk.12, 1 1/2 spasi dan kertas a4 jadinya 303 halaman (bhs indonesia).
soal naming:
dalam beberapa hal justru g pernah dikritik oleh para kritikus maniak fantasi dari amrik karena pakai nama-nama yang terlalu ‘umum’ macam robert, carolyn, christopher dsb. tapi perlu diinget juga walaupun bikin nama2 yang unik, harus konsisten sesuai dengan wilayah negara yang dimaksud, jadi berikan ‘karakter’ bagi negara2 tersebut lewat nama-nama
orang di sana. kalau fireheart saya memang jiplakan dari benua eropa di dimensi berbeda, jadi nggak heran kalau yang dari escudia (spanyol) nama2nya hernan y parvaez, arcadia (perancis) carolyn deveraux atau talbot dubois, valanis (italia) pakai andreas marvellini, parthenia (yunani) pakai eidos crydias atau nikanomikos paliades etc.
soal jalan cerita:
dari prolognya nggak jauh beda dengan cerita-cerita fantasi yang diposting di kemudian.com lainnya. mungkin kalau mau saya review lebih detail bisa kirimkan sinopsis (rancangan cerita) dari awal sampai akhir supaya saya dapat gambaran lebih jelas. biasa, di andrychang-at-gmail-dot-com
kesimpulan:
just go on, rd! pe-de aja, kirimkan segera naskah kamu ke penerbit kalau memang sudah selesai 1 buku. gak usah terlalu tanya kiri-kanan, toh nantinya juga pada akhirnya editorlah yang akan menilai (dari sudut komersialnya). nanti kan kalau sudah terbit yang saya baca tinggal yang matengnya aja. membanggakan juga kalau ada 1-2 orang lagi ‘alumni’ dari kemudian.com dan pulau penulis yang karyanya diterbitkan. just go on and – seperti kata naruto – never give up, that’s my way of the ninja!
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:28:13 pm
________________________________________
Quote
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!
hmmmm ‘sesuatu yang lain’ di lemures gw apa yah? Palingan gaya bahasa mautnya ;D
Quote
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
Yang sekarang sih emang udah rada mendingan daripada yg dulu. Tapi tetap aja bagian awal-awalnya itu bakal jadi ‘anti-tema’ buat psikologi orang indo kebanyakan, apalagi di mata penerbit. Penerbit itu biasanya gak sabaran, baru baca beberapa bab awal, udah langsung mengecap keseluruhan novel itu kayak gimana. Gw kira penerbit yg dulu nerima kiriman TFH Cuma baca beberapa bab awal TFH aja (taroan deh, pasti gak bakalan ada yg baca ampe tamat), dan langsung ngecap isinya murni tentang gerakan invasi bangsa barbar dengan penggambaran yg barbar pulak, begitu terus sampe tamat.
Padahal TFH kan gak gitu, dan ternyata kehidupan biadab itu cuma terjadi di pihak antagonis. Terkait materi novel, gw kira setiap penerbit punya alarm warning yang jauh lebih sensitif daripada alarm para penulis: dan warning ini biasanya mencakup tema-tema tabu semacam SARA, politik, kekerasan, sampe seks. Di TFH, alarmnya berbunyi nyaring pas Anthravai sebagai tokoh sentral (sejauh cerita bergulir) ngebelah kepala Yergai ;D
Quote
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…
Gw bener-bener sirik dengan orang-orang yg kepalanya selalu dipenuhi berbagai ide, secara gw ini penulis yg miskin ide! Payah dah, padahal gw rajin baca novel, baca artikel wikipedia, nyimak berita di TV/koran, knp masih mentok ide?
Itulah kenapa revisi gw gak kelar-kelar, sekalipun udah dibantu om pur, sejauh ini baru 10% yang tergarap, ini menyedihkan sekali dan benar-benar nohope
Quote
Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
Astaga, kalo gitu berarti Lemures gw sama sekali bukan fantasi 
Soalnya gw gak ada sedikitpun pake magic, dan elemen supernatural lainnya dalam plot/tema/settingnya. Lha kalo gitu kenapa gw ada di sini? Kenapa gw bisa jadi TS untuk thread penulis fantasi?
________________________________________
Post by: clickdian on August 20, 2008, 09:35:44 am
________________________________________
To: Villam
Kalo kasusnya kayak begini, tiap kirim ke penerbit, lampirkan rangkuman cerita keseluruhan dari sudut pandang penulis. Kasih tau kalo tokoh utamanya bukan si A, tapi si B. Review juga aspek2 lain selain battle, misalnya romans, ato (kalo ada) filosofinya. Everything, lah! Tapi bukan sinopsis singkat ya, bener2 rangkuman kayak dulu jaman kita
sekolah dulu disuruh guru Bahasa Indonesia baca novel dan bikin rangkumannya. Ini sebagai tindakan jaga2 kalo editor keburu males baca bab2 awal dan berniat ngelempar ke tong sampah, ada sisipan yg menceritakan isi keseluruhan novel. Siapa tau aja dia jadi berubah pikiran. ;D
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 20, 2008, 10:26:08 am
________________________________________
Definisi yg lebih workable untuk fantasy adalah: penggunaan setting alternatif (alias bukan setting yang kita hidupi sehari-hari ini) untuk mendeliver cerita. Istilah kerennya, alternate reality.
Kenapa alternate reality ini menjadi suatu daya tarik? Karena kita selalu punya keinginan untuk ‘hidup’ dalam kehidupan yang berbeda dengan yg kita jalani sekarang ini. Dan setting Fantasy membuat keberbedaan itu
menjadi lebih kuat/ nyata/ kontras.
Pada alternate reality, menjadi sebuah spekulasi yang ‘menggairahkan’ untuk tahu bagaimana manusia bertindak, bagaimana bereaksi terhadap situasi-situasi unik. Misalnya aku bayangin diri menjadi Bima (nya Mak-mak), apa reaksiku jika tiba-tiba saja Malioboro menjadi ‘senyap’? Woow, gile banget konsepnya etc-etc. 
Jadi bukan sihir atau teknologinya yang ‘matters’, melainkan bagaimana
‘alternate reality’ itu kemudian mendrive cerita.
So, dalam setiap novel fantasy, setting alternate reality itulah yang menjadi panggung utama. Dan tentunya yg namanya panggung ya harus kuat dan kokoh. Kalo ringkih, baru buat goyang ngebor sekali aja langsung roboh.
Kita sering banget kejebak pemahaman yg salah kaprah tentang Fantasy (atau Sci-Fi), bahwa sebuah karya sudah dikatakan Fantasy kalau mengandung elemen yg ‘khayal’i.
Jadi kalo masih memakai setting kehidupan yang here and now, sebuah novel hardly dikatakan sebagai Fantasy sekalipun mengandung seorang tokoh yg mampu ‘menyihir’, misalnya. Karena belum tentu kemampuan sihir
itu menjadi setting, bisa-bisa aja cuma tempelan sebab sang penyihir ternyata (masih) bereaksi sebagaimana orang-orang kebanyakan, dan cerita mengalir dengan interaksi antar tokoh sebagaimana kehidupan sehari-hari kita aja.
Juga kalo alternate realitynya masih ngga terlalu jauh dengan kehidupan nyata (masih memungkinkan terjadi di dunia nyata), maka nilai fantasy-nya menjadi turun. Sebagai contoh novel lanang, (bukan mo ngajak berantem orang tapi mumpung bagus dijadikan contoh aja ). Adanya burung babi hutan, menghadirkan elemen fantasy (soalnya gak mungkin ada binatang kayak gitu). Tapi setting rekayasa genetik yang menimbulkan penyakit sapi, atau setting karakter para tokoh yang ga hitam putih bahkan psikopat, pengembangan konflik dalam cerita, semuanya masih bisa
terjadi di dunia nyata, sehingga dalam hal itu novel ini tidak tergolong cerita fantasy. Nah, kita bisa lihat bahwa dalam kondisi ini, keberadaan satu elemen fantasy tidak membuat novel tersebut menjadi Fantasy.
Nah menurut gue sih, Lemures termasuk dalam Fantasy karena mengandung setting alternatif yg bukan di setting kita sekarang ini. Kenapa PG gak gue anggap fantasy, sebab PG berlangsung dalam setting kita sekarang, walaupun ada sedikit-sedikit bagian yang menyentuh alternate reality, tapi gak dominan.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 11:30:05 am
________________________________________
sedikit komen tentang yang ini.
mungkin dengan adanya burung babi hutan, Lanang bisa dimasukkan kedalam
genre fantasy, tapi fantasi ngawur, asal-asalan n tidak logis.
kenapa? karena untuk dapat terbang, selain membutuhkan sayap yang lebar,
bentuk fisiologi mahluk itu harus segitiga dengan bagian runcing didepan
(entah sudut yang mana terserah, pokoknya bukan bagian sisi). fungsinya
adalah untuk membelah udara. pada burung yang berfugsi demikian adalah
paruhnya, sedangkan pada pesawat, adalah hidungnya. memangnya moncong
babi hutan bisa membelah udara? lha wong bentuk tubuhnya bundar bukan
segitiga.
trus ekor, ekor disini harus lebar karena digunakan untuk mengatur
tekanan udara diatas tubuh dan dibawah tubuh, sehingga bisa membuat
burung atau pesawat menambah atau menurunkan ketinggian. ekor ikal babi
hutan bisa begitu?
anehkan? jelas aneh! mungkin si pengarang tidak tahu teori-teori yang
berhubungan dengan terbang.
________________________________________
Post by: fr3d on August 20, 2008, 11:59:38 am
________________________________________
Tambahan lagi, secara biologis burung juga punya kantong udara.
Rupanya makmak juga udah keseret dalam arus lanang-melanang… ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:06:25 pm
________________________________________
@amru,
ane kirim draftnya via email, bos…
@vadis,
tentang novel2 fantasi indonesia yang menghilang, itu bukan karena habis, tapi sudah lewat masa tayangnya di toko buku. gue yakin masih ada tuh stoknya di penerbit (yang memang menganaktirikan buku2 fantasi lokal dan malas mempromosikannya lagi).
tentang TFH, setelah melewati masa perenungan (halah), penting bagi gue untuk tanya kiri kanan dan gak sekedar maen kirim doang. Alhamdulillah kalo ternyata bisa langsung terbit memang, tetapi hanya sekedar ‘diterbitkan’ bukanlah tujuan utama gue. gue pengen itu bisa jadi karya yang baik dengan tetap berciri gue (ini penting buat gue), dihargai banyak orang walau mungkin tidak semuanya suka, juga tidak sekedar memenuhi selera ‘layak jual’ dari sang
editor/penerbit sesaat. terlalu idealis? untuk TFH, iya. tapi kalo untuk cerita2 gue yang lain, gue bakal lebih fleksibel.
@rey n dian,
gue dulu udah bikinin juga kok sinopsis buku dan sinopsis per bab. Tapi memang, kudu belajar lagi buat bikin itu supaya jadi lebih menarik. mesti ditambahin gambar-gambar juga kayaknya. hahahah…
@all,
kalo boleh ada kuda terbang semacam pegasus (yang gendut dan gak punya kantong terbang pulak), kenapa tidak boleh ada babi terbang?
jawabannya mungkin ada di setting cerita. apakah sang penulis bisa membuat percaya pembaca atau tidak, terserah apakah melalui setting negeri dongeng, setting teknis-teknis science fiction, atau setting dunia alternatif yang surealis.
(aku gak ikutan lanang-melanang karena aku gak nyebut-nyebut la–ups!)
________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 01:24:26 pm
________________________________________
pegasus, Sphinx, naga versi asia timur sebenarnya adalah mahluk yang secara fisiologi tidak mungkin bisa terbang. masalahnya, mahluk-mahluk itu sudah terlanjur melegenda, jadi apa mau dikata? mau protes juga kepada siapa?
sedangkan burung babi hutan itu sepertinya kreasi original. dengan ilmu kedokteran hewan dan ilmu penerbangan yang sudah semaju ini, masak ga bisa bikin mahluk fantasi yang lebih logis? ingat setting Lanang adalah di Bumi, bukan alternate universe jadi paling enggak harus sedikit mengikuti rules dan hukum-hukum alam yang ada di bumi (kalau mau dibuat melenceng, harus disertai penjelasan khusus). kalo setting-nya di alternate universe, mau bikin mahluk yang seperti apa saja silahkan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:44:59 pm
________________________________________
lha justru itu kita gak akan protes (walaupun gak dilarang juga buat protes) karena di belakang makhluk2 ajaib itu ada setting legenda yang telah dibangun dengan sedemikian rupa, dan bukan hanya mereka makhluk2 aneh di dalam legenda tersebut. yang bikin pembaca atau masyarakat jadi percaya betapapun anehnya itu.
6 Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]
________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]
________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur
Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ )
Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan.
Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.
Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?
Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.
Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih ). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.
Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)
Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.
Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^
note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2
Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP
Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)
Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.
@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]
Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?
Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.
@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin
________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?
Hah?! Beneran?! 
[gossip]
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru
Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.
Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that 
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[
Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! 
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa.
yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:
http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/
silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… 
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.
thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…
________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm
kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?
Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.
Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
^-^
________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.
________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?
tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. )
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.
Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???
Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. 
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.
Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.
Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan, ), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?
Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. 
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.
Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).
Begitu deh kira2… 
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?
________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)
Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]
Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.
Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.
Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.
Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi?
Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.
Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:
1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.
2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.
Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.
Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.
Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.
Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya 
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am
Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”
Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… 
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\
________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.
________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini
Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius 
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D
@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.
@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.
Cardan, hal. 1 – 2:
Langit malam ini sangat indah,…… dst
Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….
Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..
Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.
Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————
Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.
Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.
Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.
OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).
Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…
Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:
/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.
/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:
/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:
/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!
So, the whole paragraf is a mess!!
Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:
/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)
/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?
Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)
So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos . Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.
Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.
Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…
________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________
Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo 
Salam
________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money.
Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]
________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya
Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.
Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.
apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)
________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(
Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN )
Gawat nih.. :-\
@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)
Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]
Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)
Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal ), quite cliche.
next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas
@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXIV (20 Jul 2008 – 22 Jul 2008)
- Tentang budaya luar yang berpengaruh ke setting lokal
- Buku fantasi lokal memang dianaktirikan di toko buku?
- Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh FA Purawan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 20, 2008, 07:29:25 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 20, 2008, 11:29:54 am
@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama ‘fantasi2 indo’ kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?
Serial Candi Murca, dan Gajah Mada, ya?
Kalo gajah Mada kurang begitu masuk ke genre Fantasi, lebih tepat roman sejarah.
Kalo Candi Murca, memang kuanggap Fantasi, makanya gue masukin review. Sejauh ini kuanggap sebagai sebuah karya bagus. Tapi kalo mo bicara memuaskan atau enggak, sangat tergantung pada selera.
Gue sendiri biarpun bisa mengapresiasi ceritanya, masih kurang puas dalam menikmati bacaannya. Semata-mata gaya berceritanya buat gue agak ke arah jadul punya (terutama dari aspek penamaan tokoh dan dialog). Selain itu, kalo di Fantasi mungkin ada unsur ‘wisata imajinasi’ dimana pembaca diajak melanglang buana dalam universenya pengarang, menikmati isi dunia itu sendiri tanpa terlalu harus terikat pada menikmati isi cerita. Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
Untuk aspek wisata ini, kurasa dari yang pernah saya baca, baru Hozzo yang udah memasukkannya, serta satu lagi yang kulihat sudah right on the mark: Dream of Utopia. Frankly, gue belum selesai baca, tapi penjabaran-penjabaran akan dunia fantasy Dream Utopia sudah bisa dinikmati pada bab-bab depan, jadi cukup udah bisa gue omongin, deh
Sekarang bicara tentang blantika (halah istilahnya, Prambors taun 80-an banget ;D) Literasi Fantasy di Indonesia.
Menurut gue sih, memang benar bahwa ‘standar’ kualitas karya Fantasy ditentukan dari Barat (atau Jepang ), bukan dari referensi yang bersifat lokal. Sudah sewajarnya, sebab ‘trigger’ yang menghidupkan minat terhadap genre itu datang dari karya-karya Barat dan Jepang. Pada generasi pendahulu negeri kita (let’s say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,…
Dan ga ada yang salah dengan itu. Kurasa problem utama kita (para penulis) jika memang ingin mengembangkan genre ini di tanah air, adalah banyak diantara penulis yang belum menguasai betul teknik kepengarangan. Memang itu merupakan proses belajar seumur hidup, tapi at least ada teknik-teknik dasar yang bisa dipelajari sendiri, serta teknik lanjutan yang bisa didiskusikan dan dipelajari bersama. Ibarat mau main jurus, lha kuda-kuda ada belum kuat, tapi kan bisa dipelajari (secara serius).
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung ‘jump’ into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya Isn’t that right? Jawab aja sendiri, hehehe,….
nah, problem selanjutnya adalah semata buah dari situ. Tanpa ilmu kepengarangan yang kuat, karya yang dihasilkan menjadi miskin kualitas. karya yang rendah kualitas membuat penerbit jadi gak percaya diri. Dan pengarang+penerbit pun makin minder ditengah serbuan karya-karya Fantasy dari Barat yang notabene ditulis oleh ‘professional writer’ (liat aja term-nya, sudah begitu mengerikan, karena mengandung adanya kekuatan ilmu dan kekuatan pengolahan sebuah team di belakangnya, if you get what I mean )
Sekarang, kita musti ngapain?
Well, kalo di Barat sana para pengarang merupakan subyek-subyek pembelajar yang terus mengolah wawasan dan kemampuan teknisnya, kenapa kita gak tiru kiat tersebut? Di Barat sono, sampe ada majalah khusus SciFi. Di kita, gak perlu sampe majalah deh, forum kayak gini aja udah cukup, yang penting kita sama-sama bisa belajar.
Selain itu, perlu juga ditingkatkan kemampuan dan peran serta para Editor, sebab mereka lah yang sejatinya mendefinisikan kualitas Fantasy hasil terbitan lokal. Kalo bisa digagas sebuah forum khusus para Editor Fantasy, boleh jadi kemajuan penulisan Fantasy di negeri kita bisa mengalami sebuah quantum leap!
Soal segmen pasar terbatas, aku nggak terlalu setuju, sebab sudah dibuktikan melalui terbitan Fantasy terjemahan yang cukup laku di pasar, menandakan bahwa pasar menyukai genre Fantasy. Tinggal pengarang lokal (dengan arahan editor) yang menjawabnya dengan karya-karya yang memenuhi standar kualitas.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 20, 2008, 11:46:55 pm
________________________________________
Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you’re a fantasy writer already. [thumbsup]
nah kan, ternyata ente sudah mendukung pernyataan ane di atas dengan statement ini:
Quote
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung ‘jump’ into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya Isn’t that right? Jawab aja sendiri, hehehe,….
Candi Murca (thanks koreksinya jun ;D), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya.
Quote
Pada generasi pendahulu negeri kita (let’s say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,…
Lho? 
berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo ‘budaya leluhur’ itu sendiri originnya dari tanah india, kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.
di sinetron-sinetron silat indo contohnya, pada pake setting jawa kuno & agama Islam (persis PG-nya om Pur), kalo dipikir-pikir kan Islam masuk indo dari saudagar-saudagar Arab, coba elu bayangin kalo seandainya saudagar-Saudagar Arab itu gak pernah dateng ke indonesia, indonesia bakal masih didominasi sama pengaruh hindu & Buddha. Atau mungkin Nasrani yg dateng dari Belanda & Portugis.
hari gini, giliran literasi barat & jepang yang masuk indo. dan banyak pengarang fantasi yg terpengaruh. kalo ngeliat kronologis di atas, seharusnya ini emang bisa diwajarkan, dan gak sepatutnya ada orang yang mencela generasi sekarang ini udah lupa sama akar budayanya dengan menulis fantasi bersetting barat. (gyahahahah ketauan banged gw lagi membela diri sendiri di sini ;D)
karena itu emang udah jadi ‘budaya’ kita sejak jaman primitif! menyerap, dan beradaptasi terhadap segala perubahan. sesungguhnya kita gak pernah ada niat buat sok kebarat-baratan kok.
(well lagipula yang gw liat terjadi di PG, dengan setting ‘lokal’nya yg kental, malah jadi banyak pembaca yang kurang berkenan dan gak masuk selera, si hege dan si serpent aja udah ngomong terang-terangan, daku pun menyatakan hal yg sama waktu awal-awal baca PG –jadi selain urusan beradaptasi, ini emang masuk urusan selera juga sih, dan selera gak pernah bisa dibohongin)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 10:30:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 20, 2008, 11:46:55 pm
Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you’re a fantasy writer already. [thumbsup]
Dan, aspek WOW itu ternyata gagal, atau kurang WOW, semata-mata karena bangunan settingnya goyang . Dan memang harus dibedain antara aspek WOW ini dengan plot & karakterisasi. Aspek WOW cuma bicara masalah setting, kayak lo bangun rumah dengan arsitektur keren, dengan segala isinya yg hi-tech yang bikin elo terkagum-kagum selama satu jam dua jam pertama (tergantung besarnya rumah,… hehehe).
Tapi Plot dan Karakterisasi adalah apa yg bisa elo kerjain di rumah itu, yang dapat membuat elo betah berhari-hari, bertahun-tahun di dalamnya, dengan sejumlah alasan ‘kenapa’.
Quote
Candi Murca (thanks koreksinya jun ;D), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya.
Bener sih, plot dan karakterisasi memang mumpuni, koq. Hiya ya, saat ini belum ada the ultimate Fantasy, mari kita tunggu
Quote
berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo ‘budaya leluhur’ itu sendiri originnya dari tanah india,
He he, kenapa pukul rata, gitu? Namanya kebudayaan, pastilah merupakan suatu kulminasi dari berbagai pengaruh. Literasi orisinil, rasanya banyak. Budaya bertutur Indonesia melahirkan banyak sekali kisah legenda yang bersumber dari peristiwa-peristiwa di tanah air yang diolah menurut kadar kemampuan fantasi rakyat saat itu. Contohnya legenda Tangkuban Perahu (Sangkuriang), Candi Prambanan, La Galigo.
Kemampuan kita menyerap cerita epos dari India dan merevitalisasi kembali sehingga muncul berbagai format (wayang kulit, wayang golek, wayang tari), yang bahkan menjadikan seolah-olah kejadian Bharata Yudha itu berlangsung di tanah Jawa sendiri , itu justru merupakan hasil karya budaya yang levelnya tinggi. Bayangin dari cerita, muncul tarian yang format dan filosofinya jauh lebih dalem & rumit. Di India sendiri malah gak terbentuk sejauh itu.
Quote
kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.
Ini dua masalah yang jawabannya berbeda 
Dalam hal influence dari India, yang sudah terbukti adalah terjadinya transformasi cerita asal menjadi bentuk kreativitas baru, baik berupa seni, maupun fiksi-fiksi baru berupa lakon carangan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Transformasi ini sangat jauh berbeda sifatnya dengan apa yang kita lakukan sekarang. Pada jaman dulu, mah, istilah kata budaya kita nggak ‘ngalah’ sama budaya luar, melainkan terjadi proses penyerapan, budaya asli kita jadi diperkaya, dan diperkuat. Ciri khasnya, ada nilai tambah dari penyerapan itu, misalnya menyusupnya nilai-nilai kehidupan tradisi lokal dalam fiksi yang diciptakan. Salah satu contoh yang terkenal, kalau terkait pewayangan adalah terciptanya tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong), yang di versi Indianya aja gak ada, tapi begitu diciptakan oleh orang-orang kita, mereka mampu menjadi tokoh dalam Mahabarata versi lokal yang abadi menembus jaman. Atau lakon-lakon yang melibatkan Jimat “Kalimasada”, yang jelas-jelas merupakan pengaruh dari ajaran Islam, yang diintrodusir oleh Sunan Kalijaga dalam seni pewayangan.
Nah, Soal yg katanya warisan budaya, kenapa kita wajib melestarikan? Pertama-tama musti dijabarkan dulu APANYA yg wajib dilestarikan?
Kalo menurut gue sih, kita udah meninggalkan semua aspek budaya lokal kita secara hakiki, sehingga ga ada lagi alasan yang mewajibkan kita melestarikannya. Hehehehe,…. Practically, bangsa Indonesia saat ini adalah sebuah bangsa yang sedang mentrasformasikan dirinya menjadi bangsa Hollywood (bukan otomatis jadi bangsa Amerika), alias bangsa global sesuai yang disefinisikan di media-media dunia.
Ini situasi yang sangat jauh berbeda dengan masa lalu, dimana budaya asinglah yang terserap untuk memperkaya budaya lokal. Situasi kita sekarang, kitalah yang mencair (disolve) untuk bergabung dalam budaya global. Kenapa? Karena kita ‘kalah’ budaya. Kenapa kalah budaya? Karena kita semua sudah meninggalkan budaya lokal kita, tumbuh menjadi bangsa yang ‘a-kultural’ alias gak memiliki budaya lagi (so jangan heran bila dalam aspek kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak sekali anomali dalam masyarakat!)
Jadi salah aja, jika para tetua meminta generasi muda melestarikan warisan budaya Indonesia. Warisan yang mana? Saat ini yg disebut sebagai budaya lokal, practically cuman ‘bahasa daerah’, dan sedikit adat istiadat yang masih dijalankan oleh keluarga (saat kawinan, misalnya . Tapi nilai-nilainya udah nggak diyakini dan dipercayai lagi sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan . So, kehilangan budaya, memang sudah menjadi nasib kita, mo cepat atau lambat. Mungkin kalo mau contoh Indonesia di masa depan, mirip kayak warga Singapura sekarang ini, yang gak punya budaya jelas (karena udah pada ninggalin budaya lokal China, India dan Melayu-nya), kemudian sibuk menganggap diri berbudaya Barat.
Nah, yang menjadi pertanyaan buat kita sekarang ini, kita (Indonesia) mau yang mana?
Saya melihatnya bukan lagi pilihan-pilihan harga mati dari para tetua, yang kalo gak kita laksanakan akan bikin kita kuwalat. Saya ngeliatnya semata aspek strategis buat masa depan kita aja.
Di saat batas antar bangsa menyatu, kita nggak akan punya nilai kalau kita ngga punya keunikan yang bisa kita tawarkan. Apa anehnya ngeliat orang Indonesia ‘meniru’ performance hip-hop sepersis-persisnya? Soalnya remaja Iran, remaja Bangladesh, ato remaja India, semua bisa melakukan peniruan yang sama. Dan kita gak akan mampu masuk status sebagai ‘creator’, paling ‘impersonator’, kenapa? Karena jaringan bisnisnya (blood-nya) akan tetap dikuasai oleh mereka (Ini juga yang ngebedain perluasan Budaya era dulu dengan sekarang).
Nah, pada saat kita menguasai sesuatu yang unik, yg ngga dikuasai oleh bangsa lain (istilahnya, Local Genius, atau Local Ingenuity), kita punya daya jual dan daya tawar yang lebih tinggi. Apa yang unik itu? Ya budaya lokal yang dulu kita punyai. Semakin tinggi penguasaan kita atas budaya lokal, semakin kuat daya saing kita dalam kancah global.
Saat ini kita kan bisa mikir, bila novel-novel Fantasy kita diterjemahkan ke dalam bahasa asing, apakah akan punya appeal yang sama dengan novel asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Apa menariknya setting yang kita tawarkan di mata pembaca asing? Kalo kita cuma ‘niru’, rasanya ngga ada yg menarik sebab semuanya udah pernah ada di sana (been there, done that [rolleyes]). Dan lagi, gue rasakan sih dalam setiap peniruan, selalu ketara ada ‘soul’ yang gak dapet.
Tapi kalo kita padukan kreativitas dengan setting yang ‘beyond’ their knowledge, kita akan muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam khasanah Fantasy global (keren gak pidato gue? heheh)
Kira-kira gitu deh pendapat gue atas topik ‘berat’ ini,… 
Yg penting sekarang, mah: ayo, belajar menulis lagi terus!
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 21, 2008, 12:12:23 pm
________________________________________
Emm, sekalian ngungkit dikit, masalah keterbelakangan fantasy indonesia yang sering gw bicarakan.
Ga seluruhnya karena pembaca ga mau baca sih, juga bukan karena penulis sini sepenuhnya engga kompeten. Wong para pembaca aja ga dikasi kesempatan untuk membaca karya lokal. Karena buku lokal, khususnya fantasi, di toko buku itu dianak tirikan, diselipin di tempet yang engga keliatan dalam jumlah yang sangat sedikit. Serius, bulan ini gw dah bolak balik di gramed dan TGA di 3 mal di Jakarta,khusus utk nyari,(yang artinya radar ON) tapi ga melihat satu pun judul buku yang di review disini -__- Coba, yang emang niat nyari aja ga ketemu, gmn yang cuma lewat?? Main area di bookstore di penuhi buku luar semua. Coba kalau ada satu main area toko buku yang mencolok, berisi kumpulan buku lokal seperti Zauri, D.O.Utopia, dan lain2. Gw optimis penjualan akan meningkat jauh seiring dengan awareness pembaca yang meningkat.
Tak kenal maka tak sayang. Ini boro2 di kenal, terlihat ujung bukunya aja kaga >.< gimana orang mau suka? Jadi bukan karena pembaca ga mau membeli, tapi pembaca bahkan ga dikasi kesempatan untuk membeli. Awareness tentang keberadaan buku lokal hanya ada di sesama komunitas penulis aja. Selama pembaca ga dikasi kesempatan untuk ‘aware’, selamanya mereka akan jadi orang yang ‘awam’ terhadap buku lokal.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 01:29:49 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 21, 2008, 12:12:23 pm
Kl aku sih baca novel Ramayana karya orang Bali. Jujur sih terpaksa gara2 tema tugas akhir gw ngangkat cerita ramayana. Bagian depannya bagai baca silsilah keluarga -__- gile, mulai setengah buku ke atas baru mulai berasa bagus. Bab2 awal ngantuk abis bacanya. [refuse]
Pernah ada diterbitkan satu buku (karya orang Indonesia) yang judulnya kalo gak salah Ravana Tatwa.
Ini buku punya premis yang cukup menarik, yaitu Rahwana (tokoh antagonis di dalam Ramayana), yang justru diposisikan sebagai pahlawan yang menentang hegemoni ras Arya pemuja Wisnu di daratan India yang saat itu dominan pemuja Syiwa.
Kita bisa melihat Ramayana dari sisi yang berbeda, seolah kisah Ramayana itu sejatinya merupakan propaganda satu ras terhadap ras lainnya yang dijajah. Menariknya, memang fakta kultural di daerah Sri Lanka (Alengka Dirja?) bahwa masyarakat di sana lebih pro Rahwana dibanding Rama. Dan bukankah Sri Lanka dan India sampai saat ini pun tidak pernah benar-benar ‘akur’?
Nah, bicara setting Fantasy, sebenernya setting yang dibangun pengarang sungguh realistis dan mencengangkan, walaupun begitu banyak aspek mistis melingkupinya, tapi tetep terasa wajar-wajar saja, sambil membayangkan bahwa jaman dahulu situasinya memang benar-benar demikian.
Hanya saja penceritaannya lemah banget, pengarang terlampau banyak menggunakan cara bertutur ala mendongeng, dengan dialog yang nggak natural. Akibatnya novel ga enak untuk dinikmati. Yg ini malah cuma asyik di depan, waktu ngebabar konsep, ke belakangnya makin boring.
________________________________________
Post by: BloodSin on July 21, 2008, 01:57:51 pm
________________________________________
sekarang nih HUT-nya si Villam lho, potong kue dulu yak ^-^
Happy B’day buat lu bro, semoga di umur yg sekarang ini ada satu judul novel lu yg terbit, gw tunggu momen itu. [thumbsup]
(Sebagai sesama penulis yang sama-sama ber’pengalaman’ menerima berbagai bentuk penolakan penerbit, gw kira wish ini cukup powerful dan menggugah hati )
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 21, 2008, 05:29:11 pm
________________________________________
Mumpung RD lagi ulang tahun, sekalian inget kalo udah kelar TFH dari dua hari kemarin ^-^
Sekarang hadiah ultahnya,… hehehe komen dari gue.
Setelah gue baca, TFH memang kuletakkan dalam jajaran karya yang sudah lancar dan enak dibaca, artinya udah nggak mengalami masalah dengan teknik penulisan, penyusunan plot, karakterisasi, sehingga sekalipun ada beberapa kelemahan (yg sifatnya lebih pada pertanyaan bukan penilaian), TFH sudah kuanggap merupakan sebuah karya polished yang siap dibaca oleh konsumen akhir.
However, memang ada beberapa pertanyaan.
Yg pertama mengenai deskripsi dunia Elniri. Gue sempat lost di sini, antara mengaitkan alam Elniri dengan referensi yg gue kenal, atau sepenuhnya memfantasikan sebuah setting yang bener-bener baru. Masyarakat padang rumput Elniri sendiri mengingatkan saya pada masyarakat Mongol, dan ekspansinya ke seberang lautan konsisten dengan sifat ekspansi bangsa Mongol. Tapi pengarang nggak memberikan detail yang memuaskan terhadap bangsa ini, sehingga saya ngga berani bener-bener membayangkan mereka serupa dengan bangsa mongol. Padahal, kurasa itu akan sangat membantu imajinasi saya, terutama terhadap pakaian dan pernik-pernik budaya asli Elniri.
Demikian juga mengenai kerajaan2 yang ditaklukkan oleh Anthravai, gue sempat bingung akan memilih imaji mana untuk nama-nama seperti Newton, Terran, Melhaus, Minerva, dll. Apakah akan kubayangkan sebagai imaji Eropa Tengah/ Barat? Gue pikir mendingan langsung aja pengarang memberi deskripsi yang rinci untuk gambaran-gambaran locale ini, supaya kisah yang panjang itu dapat lebih mudah dikunyah.
Pertanyaan selanjutnya adalah dalam hal naming. Kurasa biarpun sudah ada naming conventions, gue tetap merasa lost. Terutama di saat gue nggak pasti apakah harus mengaitkan nama-nama yang ada dengan suatu budaya tertentu, atau feel free aja. Ada nama Helmut & Serge, yg langsung kupikir sebagai orang Jerman Nama-nama kaum penyihir Hajduk, ampun susah banget dibacanya dan membuat pikiran kusut tanpa perlu [bomb]
Ketiga, mengenai prolog yang tiga lapis . Terus terang kepala gue langsung penuh di awal-awal bacaan Ada Kuga, ada Hajduk, kemudian ada Wyndassi. Emang sih nantinya semua akan terjalin (BTW, Kuga belum muncul di buku 1? Trus ngapain bikin bingung pembaca?). Tapi kalo udah kebanyakan, akan jadi let down factor.
Sebenernya pengkisahan Wyndassi di depan juga membuat gue kecele, sebab ternyata yang menjadi tokoh sentral dari novel ini adalah si Fabian. Pembaca kan perlu mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Repotnya saat gue telah terlanjur berjangkar pada Wyndassi (setelah dibingungkan oleh Kuga dan Hadjuk), gue harus memindahkan jangkar gue seterusnya ke kubu Fabian. Gue tahu sih, kisah Wyndassi juga merupakan elemen plot yang cukup penting, secara Wyndassi merupakan salah satu tokoh sentral yang akan mempengaruhi jalan cerita, sehingga latar belakangnya penting untuk dikenal pembaca. Dan ternyata, I love Wyndassi more than Fabian!
Efek minus dari perpindahan tokoh sentral di tengah novel ini antara lain jadi memberi kesan bangunan ceritanya mengulur, sebab pembaca harus mulai dari awal lagi (saat pindah tokoh).
Nah, bangunan yang mengulur inilah yang kupersoalkan, dalam bentuk missi cerita yang buat saya jadi kurang jelas. Saya merasa terlalu jauh berjalan-jalan tanpa punya tujuan yg kuat. Walaupun saya tahu bahwa ada missi utama berupa kemerdekaan rakyat Newton dari Elniri, saya harus mengikuti Fabian yang sempat mengasingkan diri untuk membangun kampung baru (gue jadi inget plotting cerita-cerita lama pada jaman cerita silat populer di Indonesia), Helmut bikin temple segala dll. Well, emang sih, berkat itulah novel ini jadi terasa epik-nya. Tapi kurasa, kemuluran itu ditambah dengan banyaknya adegan perang yang ‘pointless’ (seperti telah diutarakan oleh temen-temen), membuat fokus dari novel ini melebar ketika sampai di pertengahan novel.
Kalo model plotting lo seperti ini, kayaknya format yang tepat bagi TFH buku 1 adalah sebagai Cerbung di Majalah
Beberapa konsep kurasa juga masih sedikit perlu di make sense, seperti apa itu pendekar dan kemudian koq tiba-tiba muncul konsep ksatria, yg sebelumnya belum pernah ada dalam bangunan masyarakat Newton (terbukti knighthood bukanlah produk dari Raja Edouin, sebagaiman lazimnya knighthood adalah produk dari raja-raja Eropa). kemampuan para pendekar aku rasa juga sedikit overstatement, belasan bisa mengalahkan ratusan
Lalu mengenai kekuasan Anthravai di negeri Newton itu, koq kayaknya rada kurang terasa impact-nya, ya? Bagaimana nasib tanah air Wyndassi sendiri setelah ditinggal oleh Rajanya ke tempat jauh? Bagaimana impact keberadaan penjajah baru ini terhadap kehidupan di Newton? Mestinya ada pengaruh, entah dalam bentuk budaya (bahasa) atau pemandangan (bangunan baru atau aneh yg seleranya ga klop), atau paling sedikit: nama-nama tempat (kayak pemimpin orde baru yang kemudian mengganti seluruh nama jalan protokol di kota-kota Indonesia dengan nama Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto) . Buat gue itu hal kecil tapi bisa membuat cerita elo lebih meresap.
Terus terang saja, membaca buku 1 sampai habis, saya belum menemukan missi utuh dari novel ini kecuali sekedar perjuangan Fabian, yg menurut saya sangat insignificant. Judging from your expertise, aku rasa ente sebener-benernya memang sudah punya missi yang akan disampaikan pada pembaca. Cuma kulihat ada strategi untuk menghadirkan semuanya tuntas hanya pada buku ke empat. Kalau buat gue sih, itu agak beresiko, mengingat jarak buku ke 1 sampai ke 4 bisa beratus-ratus halaman, dan pembaca bisa ko’it di tengah jalan.
Terakhir, soal judul neh. Kenapa harus ‘Forgotten’ heroes? Kalau terlupakan, berarti perjuangan mereka tak bergema, dong,..??? hehehe.
Anyway, great work! [thumbsup]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 21, 2008, 05:39:38 pm
________________________________________
teman-teman,
terima kasih atas seluruh ucapan selamatnya.
semoga kita semua semakin sukses dan selalu berbahagia. 
________________________________________
Post by: BloodSin on July 21, 2008, 10:46:16 pm
________________________________________
Quote
Hanya saja penceritaannya lemah banget, pengarang terlampau banyak menggunakan cara bertutur ala mendongeng, dengan dialog yang nggak natural. Akibatnya novel ga enak untuk dinikmati. Yg ini malah cuma asyik di depan, waktu ngebabar konsep, ke belakangnya makin boring.
Sebenernya ane kurang ngerti di bagian yg dibold, buat ukuran novel fantasi, bukannya mestinya semakin ‘kuno’ gaya story telling-nya, semakin asik diikutin? Karena sejatinya literasi fantasi itu masuk ke dongeng-dongeng juga, dan akan betapa cucoknya kalo dieksekusi dengan story-telling ala dongeng, seharusnya.
Sejauh ini ada dua novel fantasi luar dengan gaya story-telling ‘kuno’ yg memukau bagiku: The Hobbit & Thief of Baghdad.
Dan gaya komikal di karya ane itu dipengaruhi berat sama dua karya ituh, yang akhirnya berujung kena label ‘pretensius’ dari ente ;D ;D (itu lho, adegan para perampok di bab 2)
@villam,
wah… PG dapet komen positif tuh dari Raja Biawak (tapi tumben gak panjang-panjang amat). Selamat yak, tak sia-sia revisi ente [thumbsup]
Tinggal di-resend ke penerbit lagi tuh 
Kalo masi ditolak jugak, berarti lu punya hak buat nge- [bomb] kantor penerbitnya [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 22, 2008, 08:50:12 am
________________________________________
Elo mesti baca bukunya dulu dah, biar ngerti apa yg gue maksud 
Ini bukan soal kuno atau modern gaya storytelling. Kalo di Ravana Tatwa, banyak sekali kisah dituturkan bukan melalui aksi atau dialog yang membangunkan imajinasi pembaca, melainkan dinarasikan begitu aja oleh pengarang. Contohnya bisa kayak frase seperti ini:
Selama tiga puluh tahun Abvasa mendirikan astana di kaki bukit itu, dan bangunan utama sudah hampir selesai sembilan puluh persen. Druvadi sering mengatakan bahwa rancangan astana ini menyalahi tata aturan pembangunan yang semestinya karena lalai memperhitungkan posisi gunung tang tegak menjulang di sebelah Barat Daya. Sudah dua tahun terakhir ini Abvasa disibukkan oleh pembangunan gapura yang sudah empat kali mengalami perubahan rancangan. Pohon randu kecil di sudut itu yang menjadi penyebabnya, gara-gara pendapat Druvadi yang menjengkelkan.
Druvadi sering mengatakan, “O, suamiku, sang Rsi. Janganlah kau tumpas anak Randu itu,” Selanjutnya Druvadi memberi saran agar Abvasa membiarkannya kelak menjadi batang Randu raksasa yang meneduhkan gapura.
Dalam pembangunan ulang yang ke delapan barulah Abvasa merasa bahwa rancangan gapura kali ini cukup cocok dengan saran Druvadi.
Nah,… baca frasa kayak gitu, capek gak loe??? Padahal dalam buku tersebut satu bab bisa aja hanya berupa narasi tanpa dialog. Jadi bisa dibayangin setelah sekian bab terasa mendera-dera, nggak kayak baca novel tapi kayak baca kitab undang-undang ;D
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 22, 2008, 01:55:03 pm
________________________________________
@mas pur,
thank you berat, bos, atas reviewnya!
berhubung ini pertama kali draft TFH:Q&K dibaca dan direview secara keseluruhan, sudah pasti ini adalah masukan yang sangat berharga dan emang udah ditunggu-tunggu. [thumbsup]
begitu baca reviewnya, langsung deh berkali2 gue menggumam sendiri: ‘iya ya, betul juga…’. hehehe… dan kepala langsung terisi penuh oleh ide-ide baru, semuanya minta langsung ditulis segera.
sementara ini yang udah kepikir adalah cara memperdetil suasana dan budaya seluruh negeri-negeri yang ada, termasuk cara penamaan orang-orang dan kotanya. juga sejarahnya, dan konsep mengenai ksatria. sambil berusaha agar semuanya tetap bisa masuk ke plot dan tidak menjadi infodump.
mengenai efek ekspansi elniri ke utara, mungkin akan lebih kelihatan di buku berikutnya, setelah bertahun-tahun lewat dari kejadiannya. tapi bakal gue coba juga masukin sedikit di buku satu ini.
soal prolog, yang mungkin terasa ganjil bagi kebanyakan pembaca fantasi, memang ada beberapa pilihan, tapi sejauh ini tipe semacam yang gue pake itu adalah solusi yang menurut gue paling cocok jika dikaitkan dengan tema keseluruhan cerita nanti. sejauh ini lho, jadi bisa aja nanti gue berubah pikiran dan mengubah prolog itu.
soal bangunan cerita yang kemudian banyak melebar dan mengulur, itu juga betul. mungkin memang sudah seperti itu resikonya, karena konsep ceritanya memang ‘cerita-cerita kecil dalam cerita besar’ dengan banyak karakter pencerita (multiple point of view). ada plot utama yang bakal terselesaikan di akhir, dan ada plot terpisah di masing-masing buku. sebuah jenis cerita yang memang ganjil buat pasar fantasi modern, mungkin.
tentu saja, ada resiko, ada konsekuensi, dan harus ada solusi dan aksi. gue udah berusaha memilah mana yang penting untuk diceritakan, dan mana yang gak penting buat dihilangkan. tapi jika kemudian plot tersebut masih terasa kabur seperti yang dirasakan mas pur, tampaknya itu semata-mata karena masih kurang terampilnya gue dalam menunjukkan apa sebenarnya pesan-pesan yang ingin gue sampaikan. dan ini yang mesti gue perbaikin.
ah… segitu dulu balasan komen dari gue. udah cukup kenyang nih… hehehe…
sekali lagi, thanks berat buat reviewnya, mas pur. komen dari yang lain ditunggu. [biggrin]
sekarang…
menulis lagi.
ditambah revisi TFH, berarti ada tiga proyek yang mesti diberesin sekarang. hayyah…
semangat semangat!
tapi prioritasnya udah ada kok.
No Comments »
[tab:Hal 1Sesi XXII (11 Jul 2008 - 15 Jul 2008)
• Sukseskah Tolkien dan Rowling jika mereka tinggal di Indonesia?
• Tips dari Roald Dahl
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 10:20:07 am
________________________________________
Btw, kalian pernah ngebayangin ga sih, kalo misalnya tokien ama J.K Rowling itu tinggelnya di Indonesia, bisa terbit dan laku apa engga tuh buku? Kalo gw bilang sih kegagalan novel fantasy lebih dari 50% karena faktor Indoensianya itu, ya masyarakatnya lah, ya pendidikannya lah, editornya lah, faktor jual murahnya lah…, kejer profitnya lah. Ada banyak sekali faktor disini yang mungkin akan menghancur leburkan penulis selevel Tolkien hingga LOTR mungkin jadi novel sampah yang tergeletak tak terjual jika dia ada di Indonesia ^^.
________________________________________
Post by: MakMak on July 11, 2008, 10:32:26 am
________________________________________
sepertinya akan sama saja. penulis yang bagus, dimanapun dia tinggal, tetap saja penulis yang bagus.
for ex: JKR tinggal di Indonesia, trus bikin nopel, tapi ga laku krn seperti kondisi diatas. mungkin untuk novel-novel selanjutnya, dia akan mengirimkan naskahnya ke penerbit luar negeri. novelnya laku, trus dia jd terkenal. novelnya yang tidak laku di Indonesia mungkin akan di terjemahkan ke bhs Inggris, dan kemudian laku n tidak jadi novel sampah lagi.
sama saja kan?
penulis yang bagus, dimanapun dia tinggal, tetap saja penulis yang bagus.
________________________________________
Post by: fr3d on July 11, 2008, 10:42:35 am
________________________________________
Mungkin catatannya gini, Mak.
Di indonesia, semua elemen yang disebut jeff itu justru bukannya mendukung lahirnya penulis bagus, melainkan malah seringkali menjadi penghalang.
Kalau berdasarkan contoh di atas, berarti sama aja kan yang menelurkan penulis bagus dan sukses adalah penerbit/editor luar negeri, bukan penerbit/editor lokal. 
Ibaratnya gini: seekor elang yang tinggal seumur hidup bersama kumpulan ayam, bisa ngira dirinya ayam, padahal seharusnya dia jadi elang. Syukur2 ada elang lewat, terus dianya sadar, kalau gak ada… payah dong…
Pengandaiannya terlalu jauh ya? 
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 11:10:32 am
________________________________________
hmm… gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
‘penulis berbakat’ hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya. Kalau gw mengandaikan, anda sendirian berkata A, sementara seluruh Indonesia mengatakan B, apakah satu orang individu yang menyuarakan A itu berpengaruh? Jelas tidak, satu orang tidak bisa mengubah dunia tanpa didukung oleh satu golongan yang kuat dan diakui. Dan itulah yang terjadi di Indonesia.
Bahkan jika seorang sekaliber Tolkien lahir di Indonesia, menurut gw tidak akan berhasil di Indonesia, palingan seperti yang mak bilang tadi, suksesnya di luar negeri yang memang mengakui bakatnya. Indo mah cuman ikut2an doang, orang lain bilang bagus, baru mau ikutan baca. Kl contoh nyatanya sih yang gw tau cuma dari dunia komik, krn gw lebih lama berkutat dibidang itu. Ada banyak banget komikus Indonesia yang udah pindah ke luar negeri dan sukses. Jepang sendiri menawarkan jaminan hidup sebagai komikus disana asalkan kita mau pindah kewarganegaraan. Bayangkan, Jepang yang disananya sendiri udah kebanjiran mangaka jenius aja masih mau ngambil komikus sini, yang di negaranya sendiri tidak diperdulikan sama sekali. -__-.
Apa pada akhirnya semua orang berbakat harus memilih:
pergi keluar negeri dan meninggalkan rasa nasionalisnya, atau
tetap di dalam negeri demi rasa nasionalis dan membusuk disini tanpa menghasilkan satu pencapaian pun?
Well? :-\ 10 tahun kedepan, sisa berapa yah SDM Indo yang berbakat yang masih tersisa disini? Negara maju dengan gencarnya merekrut orang berbakat, sementara Indo tanpa sadar terus menghancurkan ribuan orang berbakat, yang gw istilahkan sebagai ‘korban kondisi’.
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: fr3d on July 11, 2008, 11:39:12 am
________________________________________
Terlepas dari membicarakan profesi penulis atau bukan, kalau soal di luar negeri yang lebih menghargai orang berbakat sih gw setuju sama jeff. Di negeri kita tercinta ini, apresiasi buat orang2 berbakat emang kurang. Misalnya aja dari segi penghasilan. Jadi, gak aneh lah kalau pada “kabur” ke luar negeri, dan kita gak berhak mempertanyakan nasionalisme mereka.
Jadi kenapa bisa begini? Masalahnya apa?
Knapa juga gw jadi OOT gini… [hammer]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 01:01:57 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 11, 2008, 11:10:32 am
hmm… gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
‘penulis berbakat’ hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya.
Sesuai hukum alam. Bibit harus tumbuh di tanah yang cocok.
Tanah Indonesia bukannya tidak cocok. Cuma kurang pupuk, dan lemah dalam manajemen. Di segala aspek, semuanya saling terkait sehingga menciptakan sistem yang ‘mematikan’.
Kalo bicara bibit, sebetulnya Tuhan sudah mengkaruniai negeri kita dengan bibit-bibit terbaik. Kita pernah punya padi yang demikian tinggi kualitasnya, sehingga muncul nama Yawadwipa (Pulau Padi).
Durian Indonesia pernah dikatakan sebagai galur murni, induk semua durian yang ada di Bumi.
Tapi sekarang liat aja, padi,…. bah. Impor.
Durian, kalah kualitas sama durian monthong.
Kita jadi umat yang kufur nikmat, makanya Tuhan mencabut nikmat itu dari kita.
Tapi, berita baiknya, Tuhan memberi kita rahmat tersembunyi.
Di tanah yang tandus, bibit harus bener-bener berjuang keras untuk bisa tumbuh. Maka dia akan menjadi tanaman yang liat, dan tahan gempuran.
Kalau kita tetap berjuang keras untuk tumbuh, against all odds, maka kita akan muncul sebagai pribadi yang tahan gempuran dan teruji dalam situasi tersulit.
Nah, makanya, pilihlah untuk terus berjuang, jangan pilih yang enak-enak aja. Perjuangan akan membesarkan kita, kenikmatan akan mengerdilkan kita.
Salam perjuangan! (Apa sih?)
FA Purawan
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 11, 2008, 01:46:50 pm
________________________________________
haha…
keren nih:
salam perjuangan! [thumbsup]
@rey, fred, mas pur,
udah gue kirim tuh TFH nya…
silakan dibantai. hehehe…
hasil pembantaiannya boleh aja kok dikirim langsung ke tret ini, asal jangan spoiler yak. heheh… supaya nanti lebih mudah jika ada yang bisa didiskusikan bersama.
namun kalau seandainya sangat panjang dan detil, silakan direply langsung saja ke email gue.
@eniyorda,
welcome back!
kamu salah satu reviewer terbaik di sini.
we need you.
hehehe…
________________________________________
Post by: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
________________________________________
Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang….
Kalo menurut gue sih…karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita…dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll….
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita…contohnya
Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!
bener ga sih??/
________________________________________
Post by: MakMak on July 11, 2008, 04:29:17 pm
________________________________________
nggak juga sih. kreatif tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh ras. tapi kualitas seseorang. kalau penulis bagus, mau orang bule, mau orang indonesia, tetep aja penulis bagus.
kayaknya dulu ada sastrawan indonesia yang dapat nominasi nobel sastra. kalo ga salah namanya Pramudya Ananta Toer. (memang ga menang, tapi nominasi nobel lho)
Quote from: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita
bahasa Indonesia adalah bahasa yang luar biasa menurutku. satu-satunya bahasa yang konfrensinya digelar setiap tahun, sehingga selalu terjadi penyempurnaan. hanya kita saja yang kurang mampu menggali potensi bahasa kita.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 04:41:58 pm
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 11, 2008, 04:09:18 pm
Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang….
Kalo menurut gue sih…karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita…dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll….
Gue setuju hanya bila yang elo maksud adalah budaya kita SEKARANG.
Budaya adiluhung kita di masa lalu itu BENER-BENER adiluhung beneran! Gak cuma stempel budaya tinggi aja.
Tahukah kita, bahwa corak kain batik aja memiliki makna yang dalem banget?
Persoalannya, kita sekarang udah terputus obor dengan leluhur, yang kita warisi adalah budaya serba tanggung yang diasah oleh perilaku bejat selama bertahun-tahun. So, ngga ada hal positif yang bisa tumbuh di atas sampah itu.
Open minded-nya budaya barat, itu baru terjadi di dekade belakangan ini aja, setelah mereka terpapar pada budaya-budaya Timur yang naskahnya di boyong ke museum negeri mereka,.. [hammer] [hammer] [hammer]
Quote
dan satu lagi…menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita…contohnya
Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!
bener ga sih??/
Gak, itu karena elo memang ‘live’ in english language (sebagai anak sastra, elo juga pasti paham bahwa ‘live’ di sini bermakna bahwa seluruh program pikiran kita menggunakan software yang ditulis dalam bahasa ‘anglic’. Tidak ada manusia di negri kita (terutama yg ‘terdidik’) yang lepas dari software tersebut.
Perhatikan bahwa contoh elo saja berakar dari dari sikap dan perilaku yang lazim di dalam budaya Amerika, dimana seseorang menyelesaikan masalah dengan ‘otot’ dan ‘darah’, dimana hal tersebut ngga begitu lazim di budaya kita (makanya kita ngga punya istilah yang kena untuk hal-hal tersebut).
Kalau mau yang sesuai budaya kita, nah contohnya seperti ini:
Indonesia: udalah, berapa banyak you sediain buat ngegosok bapak anu?
Inggris: C’mon, how much you have prepared to rub mr. anu? ;D ;D ;D ;D
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: hege on July 11, 2008, 07:19:21 pm
________________________________________
Whoa, hundred pages already, incredible.
yg novelnya baru trebit, selamat yak. yg suka review, hayo lebih keji lagi! yang lagi desperate dan yg berupaya nulis, sip.
Ah akhirnya diriku mampir dan say hi, being abit busy lately, having great times in the new place
anyway, salah satu tulisan yang menginspirasi hege buat nulis adalah ini:
A fiction writer is a person who invents stories. But how does one start out on a job like this? How does one become a full-time professional fiction writer? Charles Dickens found it easy. At the age of twenty-four, he simply sat down and wrote Pickwick Papers, which became an immediate best seller. But Dickens was a genius, and geniuses are different from the rest of us. In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job — a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there¬fore always had to be done in spare time, usually at night. The reason for this is obvious. When you are adult, it is necessary to earn a living. To earn a living, you must get a job. You must if possible get a job that guarantees you so much money a week. But however much you may want to take up fiction writing as a career, it would be pointless to go along to a publisher and say. “I want a job as a fiction writer.” If you did that, he would tell you to buzz off and write the book first. And even if you brought a finished book to him and he liked it well enough to publish it, he still wouldn’t give you a job. He would give you an advance of perhaps five hundred pounds, which he would get back again later by deducting it from your royalties. (A royalty, by the way, is the money that a writer gets from the publisher for each copy of his book that is sold. The average royalty a writer gets is ten percent of the price of the book itself in the bookshop. Thus, for a book selling at four pounds, the writer would get forty pence. For a paperback selling at fifty pence, he would get five pence.) It is very common for a hopeful fiction writer to spend two years of his spare time writing a book which no publisher will publish. For that he gets nothing at all except a sense of frustration. If he is fortunate enough to have a book accepted by a publisher, the odds are that as a first novel it will in the end sell only about three thousand copies. That will earn him maybe a thousand pounds. Most novels take at least one year to write, and one thousand pounds a year is not enough to live on these days. So you can see why a budding fiction writer invariably has to start out in another job first of all. If he doesn’t, he will almost certainly starve.
Here are some of the qualities you should possess or should try to acquire if you wish to become a fiction writer: 1. You should have a lively imagination. 2. You should be able to write well. By that I mean you should be able to make a scene come alive in the reader’s mind. Not everybody has this ability. It is a gift, and you either have it or you don’t. 3. You must have stamina. In other words, you must be able to stick to what you are doing and never give up, for hour after hour, day after day, week after week and month after month. 4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can. 5. You must have strong self-discipline. You are working alone. No one is employing you. No one is around to give you the sack if you don’t turn up for work, or to tick you off if you start slacking. 6. It helps a lot if you have a keen sense of humor. This is not essential when writing for grown-ups, but for children, it’s vital. 7. You must have a degree of humility. The writer who thinks that his work is marvelous is heading for trouble.
- Roald Dahl
(From his book “The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More)
hege akan terus mampir dan baca-baca. sukses buat semuanya.
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 11, 2008, 07:36:25 pm
________________________________________
Quote from: hege on July 11, 2008, 07:19:21 pm
In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job — a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there¬fore always had to be done in spare time, usually at night.
Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 11, 2008, 11:44:08 pm
________________________________________
Quote from: blue_amaranthine on July 11, 2008, 07:36:25 pm
Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah
he…
ada adik sealmamater lagi di sini… heheh…
(sayang si kokonoka dah gak pernah muncul lagi)
tetaplah menulis yak, walau nanti dibantai tugas-tugas kuliah dan praktikum. wakakakak…
@hege,
itu tulisan yang sangat bagus. [thumbsup]
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 10:00:37 am
________________________________________
Btw soal penulis lokal yang ga bisa berkembang, kita engga separah itu kok kualitasnya sebagai penulis, kl yang gw bilang itu tatanan masyarakatnya yang udah terbiasa mengkonsumsi produk luar dan mencap jelek produk lokal. Bule kreatif? Coba aja suru bule kreatif itu berjuang sbg penulis di Indo, setahun juga gulung tikar pulang kampung. Nominasi2 dan penghargaan cuma 1 kelompok kecil yang mengapresiasi dan kl gw mau kejam dikit, gw katakan sbg kelompok kecil yang ‘memaksakan diri’ untuk memperjuangkan novelis lokal yang ada. Sementara itu masyarakat awam di luar organisasi itu dan komunitas penulisnya sendiri, tidak ada yang ‘aware’ sama sekali udah sampai mana perkembangan novel lokal. Yang menang award aja judulnya ga dikenal, 10% populasi jakarta aja ga sampe yang aware tentang adanya award seperti itu. Dan dari segitu dikitnya yang aware dan tahu, ga sampe 50% nya yang mau beli, sekalipun tuh buku dipuji setinggi apapun juga.
Seorang penulis menulis dan ‘terpacu’ untuk menulis karena mengharapkan ada yang mau membaca karyanya kan? Jika masyarakatnya ogah2an dan emang dasarnya menolak membaca buku lokal, gmn caranya supaya bisa maksa mereka baca yah? Apa semua penulis harus menggunakan nama samaran sebagai orang asing? Kl ga ada yang mau baca kan mood jadi ilang dan kinerja serta kreatifitas kita secara keseluruhan akan menurun jauh dari kemampuan kita yang sebenarnya.
Kalau bergantung sama penerbit sini, liat aja hasilnya, nyari novel lokal segitu banyak judul yang udah direview Om Pur aja susah banget >.< Lokasinya diselipin di tempat yang tidak terlihat, tenggelam sama novel2 best seller luar yang bertebaran disekelilingnya. Asli, kalau lay out tokonya seperti itu, siapa yang mau ‘aware’ ada novel lokal disitu??
Diluar negeri jelas enak, animo masyarakatnya terhadap seni dan sastra sangat tinggi. Disini mah animo masyarakat cuma terpicu naik seputar kata duid dan murah. -__-. Atau semua negara berkembang seperti ini yah? saking miskinnya dah ga ada waktu mikirin hal lain selain duid? Brp banyak dan waktu yang dibutuhkan untuk merubah tatanan masyarakat yg udah terlanjur terbentuk dan mendarah daging begini ? ???
Quote
@Hege
4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can.
masalahnya perfeksionis dooesn’t know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus… so…I wonder if it’s a bad thing or a good thing. Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 12, 2008, 11:01:47 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 10:00:37 am
masalahnya perfeksionis dooesn’t know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus… so…I wonder if it’s a bad thing or a good thing. Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^
Perfect Perfectionist, knows when to stop! 
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 12, 2008, 11:13:59 am
________________________________________
emm… there’s no such a thing as perfect. Dalam novel atau apapun, kemampuan nulis kita berkembang tanpa henti setiap harinya dan ketika skill kita berkembang, ngeliat hasil karya kita yang lama lagi, pasti rasanya pengen diedit lagi. So, kita sendiri yang harus membatasi diri kita untuk berhenti mengedit dan berhenti berkembang? atau biarkan aja berkembang lagi di buku2 selanjutnya? Soalnya detik ketika lo merasa puas diri, artinya lo merasa perkembangan lo cukup sampai disini aja ^^ [rolleyes]
________________________________________
Post by: BloodSin on July 12, 2008, 03:42:23 pm
________________________________________
baru donlot TFH-nya villam 
udah buka dan liat2 dikid… ternyata ada 400 halaman, panjang juga yak, tapi hurupnya gede2. jadi sebetulnya itu di word brp halaman sih?
gw baru baca ‘subprolog’-nya yg pertama kali (yg semacam wejangan 2 halaman itu, heheheh), dan kayaknya isinya gak beda jauh sama versi jaman dulu yg gw bacak. kalo dulu gw gak protes di bagian ‘khotbah/kesaksian’ itu, sekarang gw protes deh.. daripada menjabarkan filosopi panjang lebar ttg kehidupan dan kematian kayak begitu di awal cerita, gw pikir bakal lebih ‘kena’ ke pembaca kalo lu langsung kasi contoh kasusnya aja, bisa berupa satu contoh dongeng dunia yg relevan dengan topik itu (ala buku2 paulo coelho), bisa juga lu karang sendiri sebuah adegan perang yg digambarkan secara dramatis, sehingga muncul kesan mendalam bagi pembaca ttg hakikat dari filosopi kematian dan kehidupan itu.
maksudnya, gw lebih mengharapkan penyajian suatu bentuk ‘aplikasi’ cerita–sependek apapun, daripada ‘omongan teoritis’ panjang-lebar kayak begitu.
metafora, yak villam, carilah suatu bentuk cerita/adegan sederhana buat jadi metafora dari omongan filosopis 2 halaman itu.
(sebetulnya sih daripada prolog, mungkin part itu lebih tepat disebut pendahuluan/catatan penulis. nah prolog yg sebenernya baru masuk pas scene hajduk.)
oke deh untuk sementara, komen gw segini dulu. komen buat isi cerita nanti menyusul. ^-^
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 12, 2008, 08:05:14 pm
________________________________________
rey,
buku satu itu berisi 95 ribu kata.
iya emang panjang, apa boleh buat. hahaha…
thanks udah donlot yak.
thanks juga kalo bisa/mau baca sampe selesai, dan kasih kritik. gue emang sangat membutuhkan kritik, membantu gue mencari yang bolong-bolong.
kadar keteoritisan dan filosofis dapat dengan mudah dikurangi, apalagi kalo gue memang berniat menyasar segmen yang lebih luas. tapi gue jelasin nanti saja: alasan, kesulitan, keinginan, pilihan gue kenapa pake model prolog kayak begitu.
dan bisa saja nanti bentuknya gue ubah, sesuai saran ente.
btw, itu memang prolog kok (mungkin memang tipe yang tidak biasa, dan gue punya nafsu bikin yang aneh-aneh. hihi…), bukan catatan penulis. karena tokoh yang ngomong gitu nanti emang muncul dalam cerita, dan kejadian aneh dalam prolognya memang benar terjadi. dan itu adalah pemikiran filosofis sang tokoh, bukan semata-mata catatan gue selaku penulis.
thanks again, rey. [thumbsup]
________________________________________
Post by: fr3d on July 14, 2008, 10:18:08 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 12, 2008, 03:42:23 pm
baru donlot TFH-nya villam 
oke deh untuk sementara, komen gw segini dulu. komen buat isi cerita nanti menyusul. ^-^
Villam, gw belum sempat baca TFH! :-[
Komen Sang Penandai yang gw janjikan ke forum (khususnya ke rey) juga belum bisa di-post karena belum selesai baca bukunya. Baru baca setengahnya aja.
Tapi, TFH pasti bakal dibaca setelah Sang Penandai kelar. [thumbsup]
Goran terpaksa harus menunggu lebih lama lagi…
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 14, 2008, 02:08:14 pm
________________________________________
@fred
Quote
Sang Penandai udah dibaca sekitar 5 bab-an. Komennya ntar gw kasih hari senin aja.
Berhubung ada yang berguru pada Tere Liye soal gaya bahasa (baca: rey), jadi gw sengaja nyatet banyak contoh kalimat cuplikan dari novelnya khusus buat orang itu.
Sejauh ini, komentar gw… ah tunggu hari senin aja lah!
Quote
Komen Sang Penandai yang gw janjikan ke forum (khususnya ke rey) juga belum bisa di-post karena belum selesai baca bukunya. Baru baca setengahnya aja.
guru gw banyak sebetulnya, fred. Ada juga Paulo Coelho (untuk gaya penceritaan biasa dan style dialog), Alexander Romanoff (untuk adegan2 komikal/humor), dan Dan Brown (untuk adegan2 suspense). kalo dari Tere Liye, gw cuman absorp jurus ‘Duhai’ dan ‘Lihatlah!’ punya dia aja kok ;D ;D
kalo permainan bunyi rima dan ‘sensasi’ di prolog (dan adegan2 ‘spesial’ lainnya di novel), itu gw ambil spiritnya dari cerpen-cerpen kompas minggu.
udah lewat seminggu dan elu baru nembus setengah buku? emang sambil rangkap baca novel laen jugak yak? kalo bacaan elu emang cuma sang penandai doank seminggu terakhir ini, kayaknya gw udah bisa mengira2 dah gimana komen lu 
lu gak cocok sama gaya bahasanya. sama kayak temen gw yg maniak novel, eh pas gw pinjemin sang penandai malah gak tamat bacak. (dia bilang gaya bahasanya bikin ‘capek’ ;D ;D)
tapi pas gw pinjemin ledgard dia malah tamat baca dalam 3 hari -.-”
________________________________________
Post by: fr3d on July 14, 2008, 03:50:24 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 14, 2008, 02:08:14 pm
udah lewat seminggu dan elu baru nembus setengah buku? emang sambil rangkap baca novel laen jugak yak? kalo bacaan elu emang cuma sang penandai doank seminggu terakhir ini, kayaknya gw udah bisa mengira2 dah gimana komen lu
Selain baca Sang Penandai, juga lagi baca Harafisy-nya Naguib Mahfouz (terjemahan, keluaran Bentang) dan Wizard of Earthsea-nya Ursula K. LeGuin (e-book). Menyusul adalah TFH.
Tapi, gw kan juga nyambi ngerjain novel sendiri, jalan2, sama nonton DVD pula (rutin tiap minggu, minimal 1 film). ;D
Dan jangan lupa, kerja. 
________________________________________
Post by: piethitam on July 15, 2008, 08:58:19 am
________________________________________
@fr3d
jadwalmu padat banget ya?pacaran ga termasuk?ato seperti kutu buku laen, gaya pacarannya ngebahas buku terbaru? ;D
iya nih udah saatnya ngebahas nopel fantasi laen. kayanya sang penandai masuk itungan gue tuh, soalnya gue pernah baca di kemudian.com cuplikannya alpha serphentwitch, terus terang gue mabok darat.terlalu ajaib dan jenius kali,ya?istilah-istilah hebatnya banyaaaak banget.mungkin ga perlu catatan kaki kaya supernova, glossary kaya sang pemimpi ato ensiklopedia kaya Harry Potter? (sorry nih bang ALpha, ga bermaksud…)

________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 10:46:03 am
________________________________________
Quote
iya nih udah saatnya ngebahas nopel fantasi laen. kayanya sang penandai masuk itungan gue tuh, soalnya gue pernah baca di kemudian.com cuplikannya alpha serphentwitch, terus terang gue mabok darat.terlalu ajaib dan jenius kali,ya?istilah-istilah hebatnya banyaaaak banget.mungkin ga perlu catatan kaki kaya supernova, glossary kaya sang pemimpi ato ensiklopedia kaya Harry Potter? (sorry nih bang ALpha, ga bermaksud…)
Hehe terlalu banyak istilah ya? Ntar coba aku review lagi deh, coba liat ada istilah yang bisa dikurangi apa engga. Gatel sih kl ga bikin istilah aneh2, gw rasa Felgirth/GM emang lebih utk pembaca hardcore tertentu yah -__-. Gw memang udah mulai bikin index istilah dari A-Z. Niatnya sih bikin ky indexnya Silmarillion. Selain itu gw juga berniat menjabarkan constructed language gw, asal katanya, dan artinya. Walau… menurut gw yang demen liat index beginian cuma yang bener2 maniak fantasy aja sih ^^.
@Villam
TFH nya udah wa download. Thanx, gw baca dulu ya ^^
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
________________________________________
@Villam,
baru baca dikit, dan ini cuma kesan pertamanya aja, pendapat bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan hehe…
Kl format final bukunya memang seperti itu, beberapa baris yang spasi antar katanya jadi ketarik melebar karena allignnya justify, mending diperbaikin, aga mengganggu.
cara perbaikinnya ya tinggel potong kata selanjutnya dengan strip. misal kata di baris berikutnya ‘menghancurkan’, bisa dipotong jd menghancur-kan, atau meng-hancurkan sehingga bagian awal kata yang dipotong naik mengisi space berlebih di baris atasnya. Dengan begitu spacenya jadi lebih rapat, konstan dan enak dilihat.
Baru baca dikit, tapi nama Wyndassi mungkin bisa dipertimbangkan untuk dirubah? Aga kurang kena bunyinya. Lagian krn gaya bicaranya, gw j bayangin Wyndassi itu cewe.^^ Yang lainnya sih keren namanya, sekali baca langsung klop sama selera gw.
Trus constructed language kamu basis dasarnya dari bahasa apa yah? Susah ditebak, beberapa dari Inggris, beberapa terdengar sangat asing. Di bagian awal, mungkin supaya imbang William si mata rajawali sekalian dikasi nama versi conlang juga. Mungkin ‘qin ev Cundolerat’ huehue. (COndor melarat) XD. Kavalerat itu dari kata cavalier atau apa yah?
Yowez segini dulu ^^. baca lagi ah… jarang2 ada bacaan yang sesuai selera gw…
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…
________________________________________
Post by: fr3d on July 15, 2008, 01:14:36 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…
Dilarang mencari pembenaran dari karya orang lain untuk karya sendiri! [hammer]
Karya sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri!
(*sok-sok lurus… *)
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: rd_Villam on July 15, 2008, 01:31:39 pm
________________________________________
thanks udah mau baca, jeff. 
soal format, itu emang kerjaan eksperimen untuk membuang-buang waktu. hehehe… emang masih banyak kekurangan.
itu gue emang rencananya suatu hari nanti mau ngeprint sendiri dan kopi beberapa eksemplar buat disebar kemana-mana. sukur2 kalo ada yang mau beli. heheheh…
kekurangan satu lagi, ada peta dunia di rumah yang karena gak ada scanning jadi belon bisa gue masukin. huh.
soal naming, itu juga bisa diubah. secara teknis gampang. secara mental yang repot. karena banyak nama di sana yang sudah tercetak sedemikian rupa di kepala sampe bertahun-tahun. kadang sulit dilepas begitu saja. i love the names too much. but too much love will kill you, yak? [biggrin]
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 02:07:32 pm
________________________________________
Quote
soal format, itu emang kerjaan eksperimen untuk membuang-buang waktu. hehehe… emang masih banyak kekurangan.
oh, kl masih eksperimen ya gpp.
Quote
soal naming, itu juga bisa diubah. secara teknis gampang. secara mental yang repot. karena banyak nama di sana yang sudah tercetak sedemikian rupa di kepala sampe bertahun-tahun. kadang sulit dilepas begitu saja. i love the names too much. but too much love will kill you, yak?
Hehe, iya. Kl gw bilang mungkin termasuk idealisme juga untuk mempertahankan beginian. Write to please the readers, and then write to please the smartest reader of all, yourself.
Btw, ini TFH kesannya masih jaman tribal gt ya? Sebelum masuk ke masa kerajaan?
Quote from: fr3d on July 15, 2008, 01:14:36 pm
Quote from: Alpha_Serpentwitch on July 15, 2008, 01:03:12 pm
Btw, naming dalam TFH nya Villam kynya beberapa lebih ribet dari Felgirth gw deh…
Dilarang mencari pembenaran dari karya orang lain untuk karya sendiri! [hammer]
Karya sendiri adalah tanggung jawab diri sendiri!
(*sok-sok lurus… *)
Wah, tega… Kl gt diterbalikin dikit. Mencari kesalahan dari karya sendiri untuk menyalahkan orang lain. Wkwkwk malah makin parah ;D ;D ;D
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi XXI (10 Jul 2008 – 11 Jul 2008)
- Cerita fantasi layak untuk diterbitkan!
- Tentang draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam
- Tentang para penerbit fantasi lokal
- Kejujuran dalam sebuah tulisan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 09, 2008, 08:36:15 pm
Jadi gini, awalnya sih, ENTHIREA itu buat semua kalangan…nah pas masuk kepenerbit, mereka bilang ini segmen buat remaja ya…dari sd sampe sma gitu…nah jadi nya mereka mulai meng-edit buku saya untuk segmen itu.
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Buat para penerbit di indonesia: Semua orang berfantasi!
Jadi, cerita fantasi layak dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan! [tickedoff]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
________________________________________
ah bener tuh pendapat si fred, tentang penerbit-penerbit novel fantasi kita.
menyebalkan, sekaligus menyedihkan.
kenapa para editornya malah gak bisa bikin naskahnya jadi lebih baik, dan malah jadi lebih jelek sih?
ah capek juga tapi dari dulu gue bisanya cuma ngedumel. hehehe…
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
gue udah pernah ngirim versi lamanya ke sepuluh penerbit, dan gak ada yang lolos! dan sekarang gue gak akan terburu-buru ngirim lagi. kalo emang bolongnya banyak ya mending gue perbaikin dulu. sambil gue menyelesaikan novel2 yang lain, yang mungkin lebih ‘marketable’ di mata penerbit.
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 01:45:24 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
Villam, kalau gw yang ngebaca boleh gak? [rolleyes]
Tapi yang mau dikasih buat repiu itu versi apa ya? Soft copy atau hard copy?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:52:01 pm
________________________________________
boleh, bos.
softcopy pdf.
emang enakan baca hardcopy pasti, tapi belon sempet ngeprint lagi soalnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:14:32 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Well,… gimana ngomentarinnya, yach?
Penerbit ga bisa terlalu disalahkan.
Bagaimana pun juga, di pundak mereka ada resiko yang harus ditanggung. Modal itu kan ada yang punya, dan yang punya pasti minta uangnya kembali berikut profit. Sementara menerbitkan buku adalah usaha yang sangat beresiko. Udah biaya cetak dan sebagainya harus dibayar di depan, uang hasil penjualan baru masuk setelah beberapa bulan. itupun kalo laku. Kalopun laris manis, harus kebat-kebit digerus pembajak.
Dengan resiko demikian tinggi, wajar jika penerbit masih ragu-ragu dengan genre Fantasy, pilih play safe, antara lain menyasar segmen remaja.
Tapi di sisi lain, memang ada masalah, bahwa penerbit Fantasy kita belum begitu mengenal produk; sehingga ngga punya keyakinan atas keberhasilan pemasarannya. Sayang memang, bahwa belum ada penerbit yang ‘dedicated’ dengan genre Fantasy, berani berkonsentrasi dengan genre ini, sehingga menjadi mahir baik dalam visi produk maupun visi pemasaran. Yg gue liat sekarang, kebanyakan pemain Fantasy adalah juga main di genre lain, atau sekedar unit bisnis di bawah suatu kelompok penerbit. Apa pengaruhnya? Kekuatan dia untuk konsentrasi menjadi lemah, sebab juga ikut asyik mikirin genre-genre lain (apalagi yg lebih laku), juga support finansialnya menjadi terbatas karena pemodal juga ingin uangnya diputer di genre lain yang (dipikirnya) lebih gampang dijual.
So kalo gue bilang sih, sementara belum ada penerbit Fantasy yang bener-bener ‘kuat’, ya para penulis aja dulu yang bikin klik yang kuat sehingga kelak bisa membentuk suatu komunitas. Dalam bisnis, komunitas adalah suatu modal yang cukup diperhitungkan sebagai salah satu pendorong pemasaran. Kalau sudah ada komunitas semacam itu, penerbit pun akan merasa lebih aman, dan lebih punya kepastian untuk urusan hitung-hitungan bisnisnya.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:20:14 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
Gue gak dilupakan, dong,…. 8) 
liat PM ya,… 
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
________________________________________
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 03:28:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
Yakin? Apakah benar mereka merupakan penerbit independen yang khusus Fantasy, atau bagian dari suatu group yang juga menerbitkan buku-buku genre lainnya?
(Gue sih gak yakin ada yg berani bener-bener hanya main di Fantasy,… hehehe). Dari outputnya aja udah keliatan, koq.
Intinya, sih, terutama dalam hal resources, atau modal. Sekarang pikirin aja skenario berikut. Ada satu usaha penerbitan yang punya Unit Fantasy dan Unit Chiklit, yang sedang sama-sama punya program menerbitkan 1 buku di bulan Agustus.
Masing-masing editor udah dapat masukan-masukan naskah, katakanlah masing-masing udah dapat satu naskah jagoannya. Terus dalam momen yang menentukan: Rapat Redaksi (atau sejenis), dibahaslah naskah2 itu, dan kemudian diputuskan naskah mana yang akan diterbitkan. Rapat dan debatlah tuh, berjam-jam.
Berhubung modal yang ada hanya ‘cukup’ untuk commit 1 buku, akhirnya,…. Naskah Fantasy dan Naskah Chiklit ga jadi diterbitkan, pemenangnya adalah naskah Blog Konyol tentang kisah ironi seorang guru SD eksentrik di pedalaman Papua: Buaya Makan Buku IPA, sebuah komedi realitas pendidikan Indonesia di Papua.
Why? Katanya itu yang lagi laku,…. heheheh,…
Bedanya dengan penerbit yang bener-bener khusus Fantasy, program penerbitannya tentu akan konsisten. Kalo rapat, tentunya yang dirapatkan dan diperbandingkan adalah sama-sama naskah fantasy, dan naskah yang ‘terbaik’ (berdasarkan pemahaman penerbit yang semakin baik) lah yang akan terpilih.
lihatlah betapa besar perbedaan akan terjadi dalam dunia penulisan Fantasy, bila kita punya penerbit yang demikian?
Salam,
FA Purawan
NB: Coppernicus, rupanya salah spelling, harusnya Copernican
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 04:00:14 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Tapi, emang bener seperti yang dibilang om pur.
Kalau memang ada penerbit yang khusus fantasi, kan jadinya dia sendiri bisa bikin divisi2 khususnya, misalnya ada yang khusus ngurusin naskah fantasi segmentasi anak2-remaja, lalu ada yang segmentasi dewasa dan semua umur, dll. Komplit dan spesifik deh manajemennya.
Aaargh, mimpi di siang bolong!
Eh… sore bolong! 
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
________________________________________
okay…
fred, mas pur dan rey,
besok kukirim…
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati.
dulu pernah nelpon, katanya nyari satu fantasi lokal, tapi sejauh ini yang impor-impor melulu yang keluar. payah dah… atau… ya mungkin emang mereka belon dapet naskah fantasi lokal yang bisa bersaing dengan kesemua impor itu.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:26:34 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
________________________________________
@om pur
liliput itu aseli penerbit fantasi kok. gw punya 3 novel liliput, tiga2nya fantasi, dan sewaktu liat ‘iklan’ buku2 fantasi lain terbitan dia di halaman2 belakangnya (untuk ketiga buku itu), dan juga official website-nya, emang buku fantasi semua. tapi emang masih payah sih, dia fokusnya ke fantasi anak & remaja doank.
holy shit, kenapa banyak penerbit yg memposisikan genre fantasi dengan target pasar utama anak2? cuma karena terhanyut euforia harpotkah? kuper banged sih penerbit2 yg nganggep fantasi itu cuma buat konsumsi bocah! [annoyed]
(eh kayaknya udah ada orang yg protes beginian duluan sebelom gw yak? )
kalo rumah pinus, gw liat di dua contoh novelnya, ada statement dia as ‘penerbit khusus buku2 fantasi yg ditulis penulis lokal muda (baca: bocah)’ emang dua penulis untuk dua bukunya itu gw liat anak2 smp sih, novelnya tipis2 pun
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?
tapi emang kayaknya, editor di penerbit2 itu, pada gak mumpuni semua di bidang fantasi. bukan cuma penguasaan bahasa dan keahlian menganalisisis logika aja yg harus dikuasain editor fantasi menurutku, tapi juga wawasan tentang berbagai mitologi dan literasi fantasi yg ada di dunia. itulah kayaknya yg terjadi pada editor2 fantasi di indo ini, sampe2 gak peduli lagi kalo ada penulis yg mendeskripsikan orc ketuker ama goblin.
(ah alasan karena tidak mau 'mengintervensi kreativitas pengarang' itu cuma bullshit, menurut gw emang dianya aja yg buta sama sekali ttg mitologi dunia [hammer])
syukur2 kalo dulunya dia ex-RPGer, biar lebih berwawasan lagi deh
@fred,
iya kayaknya liliput udah bubar, terakhir gw dapet info sih dia orang ganti manajemen, tp entah kenapa setelah itu gada buku2 terbitannya lagi.
coba itung aja produk fantasi lokal terbitan dia:
-catatan harian alien
-cincin oleodeo
-hozzo
-pinissi
-narend
(dan kayaknya masi ada lagi, tp gw lupa judulnya apa2 aja)
terbukti, liliput cukup konsisten nerbitin fantasi!
tapi rada keji juga cetakan pertamanya cuma 1000 eks(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
ah mungkin juga cetakan 1000 eks itu udah jadi konsekuensi dia karena komitmennya berani nerbitin naskah2 tebel & sekaligus menyertakan gambar2 ilustrasi di setiap bukunya.
yg gak adil itu, kalo ada buku tipis yg kena jatah rata 1000 eks juga, mau brp tuh royalti penulisnya kalo bukunya cuma dibandrol 30rban? cincin oledeo kayaknya tipis tuh
dan sekarang, kita ngintip ke fantasi-lit-nya gagasmedia 
kita liat fantasi terbitan dia:
-nightfall
-transpondex
-cardan
-gemala dan rumah kayu oak
hore! udah nembus 4 bijik, angka yg sama sekali tidak menyedihkan buat penerbit gede yg punya banyak klasifikasi genre ini.
kalo c|publishing, setauk gw baru ledgard ama penunggang petir doank. sama kayak serambi yg baru dua bijik: sang penandai ama goran. eh btw gimana tuh nasib sang penandai di tangan lu? gaya bahasanya ajaib punya, entah bakal dimaki atau disanjung ama lu, mengingat sang penandai itu satu2nya fantasi lokal bergaya bahasa nyastra yg udah terbit.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:58:56 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
@om pur
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?
Gue mengutip dari deskripsi mengenai penerbit di buku Ataka.
Yang gue gak tahu pasti, apakah Copernican murni penerbit yang semata hanya menerbitkan Fantasy, atau merupakan brand-name atau unit bisnis dari sebuah grup penerbit. Apa duit modalnya hanya dipakai untuk nerbitin fantasy, atau sharing juga dengan unit bisnis lainnya yang nerbitin Chiklit, misalnya.
Untuk tau hal-hal ini, ya elo mesti orang dalem di industri penerbitan.
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 10, 2008, 06:23:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 10:44:38 am
Samy, bukunya yang lagi in publishing itu apaan? Fantasi juga? Di penerbit Diwan juga? ???
Lagi libur lulus SMA, asik nih bebas... ;D
(*yang kepengen banget libur!*)
Bukan fantasi banget sih, ceritanya princess and kingdom gitu. Tapi, penerbitnya masih mikir-mikir juga, soalnya endingnya rada garing, n kalo endingnya bagus baru maw diterbitin. Palingan yang next adalah Margana, genrenya Puzzle Misteri gitu, lebih mirip Da Vinci. Lagi coba ngegarap berbagai genre biar bisa ngerasain yang mana yang paling ngena n bisa terus di kembangin lagi (betul Gak?)
________________________________________
Post by: Elyasa on July 10, 2008, 08:38:31 pm
________________________________________
OYYY.....
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
Gue jelasin nih...Copernican itu...anak penerbit dari jagad media, nah copernican itu bergerak di bidang fantasi aja....
Quote
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Nah kalo ini gue nggak tau deh...tapi sih setau gue dia cuman ganti jurusan aje ama ganti pemiliki....
Quote
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati
Nah kalo matahati jangan deh...mereka agak gimana gitu (pengalaman pribadi :p)
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
________________________________________
Quote
Pretensius jugak, kali yee, tapi in a different sense than your’s. Baca gaya bahasanya, gue jadi inget novel-novel Abdullah Harahap taun 80-an, itu novel seribu perakan yang biasanya bertema misteri lokal. Idenya Abdullah harahap itu cukup dahsyat lo jaman taon segitu,… modelnya kera jadi-jadian etc, romance plus actions. Dan adegan bumbunya juga cukup hot,… hehehe.
Nah, Lanang ini sepertinya mengikuti pakem itu, dengan setting agak modern. Tapi bener deh, gaya bahasa jadulnya buat gue terasa banget. Dan nggak enak dibaca. Makanya, biarpun udah ada sebulanan gue beli, gue berhenti belum habis bab 1. (Lebih parah dari ledgard! Hahahaha)
FA Purawan
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
gini aja deh. langganan kompas gak om? tiap minggu selalu ada cerpennya. dan terus terang aja selain dipengaruhi oleh gaya bahasa paulho coelho & dan brown, gaya bahasa ‘pretensius’ lemures sedikit banyak dipengaruhi juga ama cerpen2 kompas minggu itu. kalo ente kebetulan langganan, gimana penilaian ente untuk cerpen2 kompas minggu itu, secara overall? (emang sih tiap minggu penulisnya beda2, tapi kayaknya cerpen sastra di kompas minggu itu udah ada pakem2 spesifiknya deh)
kalo ente gak langganan kompas, anggap aja paragraf di atas batal kusebutkan
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
kalo gitu, sungguh-sungguh malang banged nasib enthirea! dianaktirikan :’(
masak tega mangkas jumlah halamannya sih? sementara novel ataka yg tebelnya bujubuneng dengan nekad dia berani terbitin dan dibandrol cepekceng. [hammer]
tapi mungkin juga, menurut dugaan gw, skinheald II gak laku di pasaran. lagian harganya konyol sih, kayak gak pake pertimbangan market aja. dan karena udah rugi gede di skinheald II, dia jadi paranoid nerbitin novel tebel lagi…. dan berujung dipangkaslah enthirea! ah ini hanya skenario liar yg berkelebatan di otakku saja, belum tentu bener
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya. makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
yah, sekedar input aja.
@blue
gila produktif banged, baru nerbitin novel udah mau nerbitin lagi, keren [thumbsup]
itu yg princess di diwan jugak? hmmm… kalo boleh tauk, cetakan pertama diwan brp eks? ah pertanyaan terakhir ini gak usah dijawab juga gapapa
@villam,
oke deh kutunggu kirimanmu, TQ dah. 
kalo matahati mah emang gak pernah nerbitin fantasi lokal, gak bisa masuk itungan tuh.
oh ya, nanti kan bakalan ada 3 org yg komenin TFH ente, sistemnya mau gimana? kayak grup kritik kemaren? jadi nanti kalo gw mau kirim komen, bakal gw kirim juga ke si om pur ama si fred, gitu?
________________________________________
Post by: eniyorda on July 10, 2008, 10:25:32 pm
________________________________________
:-\
mampir mau ngasih kabar (bagi yang masih ingat, hehe) serta hai untuk yang belum pernah ketemu. Ijin OT sejenak boleh yaaaa…
Lulus maret tadi, terus setelah bingung sana bingung sini mau ngapain, akhirnya saya terdampar –pulang kampung, tepatnya– di pulau kalimantan sebagai tenaga pengajar sementara di PT lokal. Berhubung kurangnya SDM, saya lgsg ditugasi ngajar bahan 1 semester selama 2 bulan saja (dah bulan april gitu lho tapi rupanya ada matakuliah yang belum mulai sama sekali ???). Sibuk, ya, tapi ada asyiknya juga. Aktivitas nulis sangat berkurang. Sedangkan mencari buku bacaan agak sulit. Harganya 10-20% lebih mahal lagi. Di toko Gramedia, ketersediaan yang memadai hanya buku-buku Gramedia Group. Kalau nyari buku penerbit lain, lebih banyak nggak adanya [thumbsdown]. Internet juga susah. Semua komunitas maya yang sering diikuti terputus total, alias nggak sempat bahkan untuk ditengok-tengok, (termasuk di sini) jadi ketinggalan berbagai kabar. Di thread ini aja udah 2 ribu lebih reply-an pula… wah
Yah gitu deh… silakan lanjutkan.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 08:30:53 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
Gimana ya Rey, buat gue di dalam tulisan itu selalu ada ‘kejujuran’. Dan ketika seorang penulis terasa ‘ngga jujur’ (misalnya bikin sesuatu yang nyastra, tapi terasa banget jiwanya ngga kena), gue akan langsung mengatakannya sebagai pretensius. Sebab menurut gue, seharusnya tulisan tersebut dapat lebih bersinar kalau pengarang rela menggunakan ‘dirinya sendiri’ sebagai standar penulisannya.
Emang, gue subyektif,… hehehe,….
Quote
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
Untuk data-data keras, gue usahain masuk deh. Biasanya gue lebih seneng masukin sebagai bagian dari artikel, makanya kadang info itu gak keluar karena gak gue anggep penting, hehehe.
Quote
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya.
Tapi untuk rating,… filosofi review gue adalah untuk pembelajaran. Gue kritik bagian yang gue pikir harus diimprove oleh pengarang. Rasanya style rating bukan tujuan gue, karena gue tetap berharap pembaca (terutama para pembelajar) juga mau membaca bukunya, alih-alih cuma membaca review gue. Proses belajar kan datengnya dari mengalami, dan mengevaluasi.
Kayaknya untuk rating, gue nggak akan terapin dulu, deh.
Quote
makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
That, we have to leave to the real judges: The Readers!
(Lagian, biar kritik gue sepedes apapun, kalo pembaca udah suka sama bukunya, ya suka-suka pembaca, lah! Wong dia yang udah keluarin duit buat beli,… hehehe) 
Salam,
FA Purawan
No Comments »
|