Posts Tagged “Tips Menulis”

i-can-not-has-fish-dont-know-how-to-use-chopstixOke, menyambung beberapa tulisan sebelumnya—terutama yang terkait dengan karakter dan plot—berikut adalah sedikit catatan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘cerita’. Mungkin ini sudah basi, mungkin juga belum. Heheh… Tapi apapun, semoga ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan (terutama yang memang berminat untuk membuat sebuah cerita).

Read the rest of this entry »

Comments 15 Comments »

iz-it-be-caturday-yet-i-iz-still-waytinSetiap cerita punya sejumlah informasi yang harus diberikan kepada pembaca agar mereka mengerti  latar sebuah kisah atau kejadian yang terjadi. Ada yang disampaikan melalui narasi, ada pula yang lewat dialog. Dialog biasanya sering dipakai melalui metode pembicaraan antara ‘si pintar’ dan ‘si bodoh’. Namun di sini kita harus hati-hati agar pembaca tidak merasa seperti sedang digurui.

Nah, tips sederhana untuk memeriksa apakah dialog yang kita buat terasa menggurui atau tidak adalah dengan cara menyelipkan kata-kata, “Tentu saja seperti yang kamu tahu, Villam (atau nama lain juga boleh… heheh…) …” di awal setiap ucapan tokoh-tokohnya itu.

Read the rest of this entry »

Comments 16 Comments »

thumb_knightf47Ya, bagaimana membuat karakter-karakter ciptaan kita menjadi lebih hidup? Apakah dengan membuat detil penampilan fisik tokoh-tokohnya? Wajahnya, tubuhnya, pakaiannya, pedangnya?

Ternyata bukan hal-hal itu yang paling penting.

Nah, berikut ada 40 pertanyaan yang mudah-mudahan bisa membantu. Jawablah, dan tampilkan melalui tindakan, ucapan, dan pikiran mereka. Niscaya tokoh-tokoh kita akan menjadi lebih hidup. Apakah semuanya perlu dijawab? Hahahah… mungkin tidak. Tapi selamat mencoba. :-)

Read the rest of this entry »

Comments 38 Comments »

dancingMana yang lebih bagus: cerita bertempo cepat atau lambat?

Lepas dari masalah selera terhadap genre tertentu (roman dan thriller  punya tempo berbeda), jawabannya bisa beragam dan penuh perdebatan.

Read the rest of this entry »

Comments 22 Comments »

thumb_knightm166Barusan iseng-iseng berkunjung ke situs-situs yang menawarkan resep atau kiat untuk menjadi penulis sukses (atau apapun namanya), yang ujung-ujungnya adalah menawarkan e-book seharga ratusan ribu, yang menjamin kita bakal sukses dan kaya raya dari menulis dalam sekejap, dan tiba-tiba saya tertawa, sambil berurai air mata (halah…).

Memangnya apa sih resep jitu untuk menjadi penulis sukses? Dimana saya bisa mendapat peti harta karun itu, atau lampu jin itu, atau buku silat pusaka itu, yang dalam sekejap mata bisa membuat saya jadi penulis sukses? Kalau memang ada, saya–seperti juga semua writer wannabe–pasti juga mau.  Tidak perlulah saya kerja keras macam-macam.

Read the rest of this entry »

Comments 67 Comments »

thumb_knightf33Pemilihan sudut pandang (Point of View / POV) adalah langkah paling strategis sebelum memulai bercerita. Sudut pandang yang berbeda dapat membuat sebuah cerita terasa berbeda juga efeknya pada pembaca, walaupun dengan plot yang sebenarnya sama.

Ada banyak jenis sudut pandang (tergantung bagaimana cara melihatnya, ada First Person/Third Person, ada Limited/Omniscient, ada Intrusive/Unobtrusive, ada Single/Multiple), dan pembahasan mengenai hal itu semua bisa sangat panjang, melebar dan argumentatif. Jadi di sini–anggap saja ini sebagai awal–saya hanya akan membahas sedikit mengenai mengapa kita menggunakan Sudut Pandang Orang Pertama (First Person Point of View / FP POV), dan apa saja jenisnya.

Read the rest of this entry »

Comments 50 Comments »

Barusan saya berkunjung ke blog seorang penulis fantasi, yang novel pertamanya baru saja masuk dalam nominasi ajang penghargaan literatur di Indonesia. Terlepas dari apakah kualitasnya memang baik atau tidak, tetap saja keberhasilan tersebut patut diapresiasi. Dengan ini, diharapkan genre fiksi fantasi bakal tetap eksis, diakui keberadaannya.

Read the rest of this entry »

Comments 34 Comments »

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

Dari sekian banyak tips mengenai tips tulis-menulis yang dapat dibaca melalui internet, tips yang satu ini jarang disebut, padahal sebenarnya penting sekali, terlebih bagi para penulis novel pemula (ya seperti saya ini). Biasanya para penulis pemula setelah menyelesaikan naskah novelnya, dengan bangganya (mungkin juga malu-malu) akan meminta keluarga atau teman-teman dekatnya untuk membaca. Bahkan ada yang langsung nekat mengirim ke penerbit. Read the rest of this entry »

Comments 21 Comments »

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

  • Biarkan penulis tahu jika memang ceritanya bukanlah jenis favorit kita. Hal ini akan membuat mereka lebih memahami sudut pandang kita. Hal-hal yang tidak kita sukai di ceritanya bisa jadi justru hal yang menarik buat para pembaca di genrenya, yang pastinya akan menjadi pasar utamanya nanti. Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

A. Pembukaan

  • Apakah kalimat dan paragraf pertama cerita bisa membuat kita tertarik, untuk terus membaca ke bagian berikutnya? Apakah sudah menggambarkan masalah utama sang protagonis, ataukah hanya sekadar pemanis untuk memikat pembaca dengan kata-kata indah atau adegan-adegan seru?

Comments No Comments »

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

Jangan membaca hasil kritikan orang lain sebelum kita membaca dan mengkritik naskah tersebut. Jika tidak hasilnya akan bias dan basi.

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi

Jujur. Pendapat jujur adalah yang paling dibutuhkan penulis untuk memperbaiki karyanya. Sebaliknya pendapat bohong dan basa-basi—apakah itu pujian ataupun hujatan semata—hanya akan menyesatkan penulis. Dia tidak menyadari apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan karyanya, dan kalau dia tetap meneruskan kesalahannya itu ujung-ujungnya akan berakhir pada penolakan dan kekecewaan di ajang kompetisi yang sesungguhnya.

Read the rest of this entry »

Comments 15 Comments »

Bayangkan, kita menghabiskan hampir seluruh waktu, energi dan perasaan kita untuk menulis sebuah karya fiksi, siang dan malam bagai tanpa henti. Setelah berbulan-bulan akhirnya … selesailah! Gugup, kita lalu memberanikan diri maju ke langkah berikutnya: memberikan naskah kita itu kepada orang lain, untuk dikritik. Mereka itu bisa teman biasa, rekan penulis, atau bahkan editor, dan membacalah mereka, halaman demi halaman.

Read the rest of this entry »

Comments 2 Comments »

[tab: Hal 1]Sesi II (23 Nov 2007 – 15 Des 2008)

  • Tips Dan Brown: 7 hal untuk menarik perhatian editor, oleh rd_Villam
  • Fakta Seputar Kehidupan Penulis, oleh Midu Khullar
  • Informasi alamat penerbit
  • Tentang fantasi modern
  • Tentang kritik pembaca
  • Tentang novel fantasi lokal

[tab: Hal 2]

________________________________________
Post by: rd_Villam on November 23, 2007, 10:19:27 am
________________________________________
Friends,
Di bawah ini adalah 7 karakter novel yang menurut om Dan Brown bisa menarik perhatian editor, tidak peduli apapun genrenya: thriller, fantasy, romance atau yang lainnya.
Tapi ya mohon dimaklumi, ini kan menurut editor di amrik sono.
Editor sini pastinya punya penilaian lain (terutama yang berkaitan dengan ‘market’ di indonesia). Pastinya juga, bisa jadi penulis lain punya tips yang berbeda, yang mungkin bertentangan dengan pendapat si om.
Buat yang belon kenal si om, beliau adalah penulis Da Vinci Code, Angels & Demons, dan juga Digital Fortress. Mau kenalan lebih lanjut, hubungi beliau di www.danbrown.com
Begini nih 7 hal tersebut, yang gua tambahin juga sedikit komen gua (yang bisa salah lho… hihihi…):

1. Sole dramatic question
Naskah-naskah bagus katanya selalu punya satu buah ide utama, gak peduli mau serumit apa plotnya, yang bisa dinyatakan dalam satu buah kalimat atau pertanyaan, seperti:
Apakah Frodo mampu menunaikan tugasnya menghancurkan ‘the Ring of Power’?
Apakah Harry berhasil mengalahkan musuh besarnya, Voldemort?
Apakah Cinderella bakal nikah sama pangerannya (or live happily ever after. heheh…)?
Coba kita liat naskah kita, bisa gak kita simpulkan dalam satu buah kalimat. Kalo gak, artinya cerita kita kurang kuat.

2. Setting, setting, setting
Bikin pembaca tertarik dengan mengenalkan sebuah ‘dunia’ yang baru, yang belon mereka kenal, seperti: kehidupan di peternakan, kantor agen rahasia, tambang batubara, kantor dpr, sekolah luar biasa, penjara nusakambangan, batavia tempo doeloe, pantai ujungkulon, dll.
Boleh-boleh aja sih kita beranggapan bahwa beberapa pembaca lebih suka setting kehidupan sehari-hari di rumah, sekolah, mal, cafe. Tapi barangkali kita bisa mencari sesuatu yang baru dan gak membosankan.
Kalo ceritanya bergenre fantasi, kita bisa lebih bebas sih. tapi hati-hati juga, sekalipun fantasi, settingnya tetap harus bisa diterima pembaca. Setting Lord of the Rings atau Harry Potter bisa diterima karena pengarangnya punya bejibun cerita sejarah di belakangnya, sehingga punya jawaban logis atas setiap pertanyaan-pertanyaan yang timbul.

3. In and Out Scene building
Buat cerita yang terus mengalir cepat tanpa berhenti. Potong, bahkan kalau perlu buang adegan-adegan yang sebenarnya gak perlu dan bikin lambat cerita. Biasanya masalah ini berbentuk narasi berkepanjangan atau dialog basa-basi yang gak perlu di awal atau di akhir adegan.
Jadi emang mesti pinter-pinter nih masuk (in) ke sebuah adegan, jangan terlalu cepat tapi juga jangan terlalu lambat. Dan juga saat keluar (out) adegan, jangan terlalu lama. Kalau perlu adegannya digantung, biar pembaca penasaran.
Tapi kata beberapa penulis lain, sebaiknya hati-hati menggunakan teknik ‘scene cutting’ yang menggantung begini, soalnya bisa memutus emosi pembaca yang udah kita bangun dengan susah payah. Kata seorang teman, ini ibarat nonton film action, tiba-tiba dipotong iklan saat adegan puncak.
Hmmm, gak sedep kan…

4. Creating tension – the 3 C’s (the clock, the crucible, the contract)
Beberapa teknik buat bikin tegang pembaca:
The clock : masukin protagonis kita dalam tekanan waktu, entah itu dalam detik, jam, hari. yang membuat si tokoh ini harus bertindak segera, kalo nggak doi bakalan kehilangan segalanya. Boleh yang berbentuk eksplisit seperti bom waktu kayak film Speed, atau boleh juga yang model mesti dapet pacar dalam 30 hari.
The crucible : masukin protagonis dalam ‘mobil panas’. Si om ngasih contoh film Jaws, dimana tokohnya dimasukin ke kapal bocor, radio mati, jauh dari pantai, ditemenin ikan hiu. Pokoknya dia gak bisa lari kemana-mana, dan akhirnya harus berjuang. Jangan perlakukan protagonis kita terlalu manis, kasih masalah terus-menerus.
The contract : bikin janji buat para pembaca, lalu ditepati. Istilah terkenalnya Chekov’s Gun, maksudnya kalo di awal cerita kita nyeritain ada sebuah senapan yang tergantung di dinding, berarti itu adalah janji kita buat pembaca bahwa nanti senjata itu bakalan ditembakkan.
Kalo misalnya kita baca novelnya Agatha Christie, kita berusaha tidak melewatkan detilnya sedikitpun, kita terus berpikir apakah detil ini penting atau gak, apakah tokoh ini penting atau gak. Dan itu yang bikin tegang.

5. Specifics
Ceritanya jangan terlalu ‘polos’. Kasih detil-detil deskripsi yang bisa membuat pembaca terpesona. (duh duh duh…)
Bisa tentang flora fauna, bangunan, kota, ilmu-ilmu kedokteran, atau bahkan yang sederhana seperti cara membuat minuman atau masakan. Kuncinya ada di riset, jadi beriset-riset ria lah sebanyak-banyaknya… heheh…
Dengan melakukan riset sendiri kita bakalan terhindar dari deskripsi-deskripsi yang stereotip dan basi. Nantinya novel kita juga bisa keliatan lebih ‘kredibel’.
Huh, repot ya.

6. Information weaving
Terkait sama nomor 5, setelah mati-matian melakukan riset, jangan informasi lalu dijejalkan begitu saja ke dalam novel kita.
Kasian novel kita yang jadi keberatan info, kasian juga pembacanya. Deskripsi panjang lebar sepanjang setengah halaman udah cukup tuh buat pembaca males ngebacanya.
Jadinya sedapat mungkin masukkan informasi ke dalam dialog (tapi mesti wajar lho), atau ke dalam action, jadinya deskripsinya bisa keliatan dinamis, gak statis.
Sedapat mungkin gunakan indera si tokoh pencerita (Point of View) buat merasakan suasana atau berpikir mengenai soal-soal spesifik tersebut.
Hah, susah ya.

7. Revision
Revisi la la la…
Banyak dibenci, tapi justru paling penting. kalo menurut si om: paling mengasyikkan.
Ide ceritanya udah masuk semua? Struktur plotnya udah cukup ‘berpuncak-puncak’? Masing-masing scene/adegannya sudah dipilih dan diceritakan dengan baik, mana yang penting dipoles dan yang gak penting dibuang? Dan lain-lain.
Dibuang sayang? Ya jangan dibuang ke tong sampah, simpen aja buat cerita lainnya nanti.
Hmm, asik kan…

Hihihi… udah cukup pusing?
Jangan dong.
Kalo emang masih pusing, pikirin nanti aja ya gak papa.
Yang penting kita nulis aja dulu semua yang ada di kepala…
Kebut ajah…
Ngetik aja kok repot ya?

[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 23, 2007, 01:43:00 pm
________________________________________
ngg.. soal tips neh… yah aku ada suatu artikel yang aku terima dari milis entah apa itu, aku lupa namanya. siapa tau bisa menginspirasikan sesuatu buat teman-teman.
upss… mungkin ada teman yang pernah tak kirimin, tapi nggak apa-apa kan kalu dibaca lagi.

Fakta Seputar Kehidupan Penulis
Oleh: Mridu Khullar
Diterjemahkan secara bebas oleh Syam Asinar Radjam

Jadi, anda bermimpi menjadi penulis terkenal? Anda ingin menyelesaikan sebuah artikel di selembar kertas
secepat mungkin dan melihatnya dimuat di suatu media cetak. Anda memiliki ide yang luar biasa untuk sebuah buku dan anda akan memulainya sekarang. Tapi tahukah anda bagaimana sebenarnya kehidupan riil seorang penulis? Bacalah untuk menemukan jawabannya?

1. Penolakan adalah bagian dari hidup. (Tulisan) anda bakal ditolak. Tak peduli seberapa bagus (tulisan) anda, seberapa ciamiknya teknik (menulis) anda, atau sedetil apapun tulisan anda. Suatu hari, anda bangun dari tidur dan menemukan penolakan (dari penerbit) melalui surat. Janganlah patah arang. Hal ini terjadi ada setiap penulis.

2. Penulisan ulang (rewriting) pasti terjadi. Tanpa peduli sebagus apapun kosakata yang anda pakai, sebagus apapun materi tulisan anda, pasti akan datang suatu ketika, manakala seorang editor meminta anda menulis ulang naskah anda. Sebenarnya, itu berarti sang editor menyukai karya anda, namun butuh anda memoles kembali sejumlah detail yang ia butuhkan.

3. Deadline pasti anda jumpai. Taat deadline merupakan bagian penting dalam karir (menulis) anda. Luput satu deadline, dapat dipastikan bahwa anda kehilangan kesempatan untuk menulis di penerbit tersebut. Waspadalah, jangan mengambil terlalu banyak (pesanan tulisan) yang tidak mampu anda rampungkan.
Ini akan menurunkan reputasi anda dan membuat anda tampak tidak profesional.

4. Kebuntuan Penulis (Writer’s Block) bukan mitos. Writer’s block adalah realitas. Suatu hari anda terbangun dari tidur dan mendapati bahwa diri anda sedang tak mampu lagi menulis. Santai. Itu cuma sebuah fase. Tingkatkan motivasi anda, dan anda akan kembali pulih tanpa memakan waktu lama.

5. Lakukan selingan, lakukan selingan, lakukan selingan. Jika anda bekerja di rumah, anda memiliki
kemudahan untuk melakukan kegiatan selingan. Anak anda butuh makanan, pakaian kotor perlu dicuci, anda butuh secangkir kopi. Dan ketika semua telah dirampungkan, telepon berbunyi. Itu mungkin telepon dari suami atau istri anda, yang mengingatkan anda agar tak lupa hal-hal yang perlu dikerjakan.

6. Tak dapat dilakukan tanpa “thesaurus” atau kamus. Tak peduli sebetapa bagus daftar kosakata yang anda kuasai atau betapa kocaknya gaya penulisan anda. Faktanya dalam kehidupan menulis anda membutuhkan “thesaurus”. Bakal ada saatnya anda terlalu sering menggunakan kata yang sama, atau sulit menemukan ungkapan yang lebih baik. Saat itulah anda memerlukan thesaurus.

7. Anda tak mungkin dapat menyenangkan semua orang. Setiap orang berbeda. Lusinan orang yang akan
mengapresiasi pekerjaan anda. Ada juga orang yang akan merobek karya anda dengan kritik pedas mereka.
Belajarlah mengambil hal-hal baik dari hal-hal buruk.

8. Perlu kesabaran yang luar biasa. Banyak editor yang aneh. Para editor membutuhkan waktu mereka, dan
kita butuh kesabaran kita. Jangan meminta jawaban sehari setelah kita mengirimkan pengajuan. Kesempatan
membutuhkan waktu.

9. Uang tidak datang dengan mudah. Dalam dunia penulisan, uang tak datang semudah di dunia kerja yang
lain. Anda mungkin menulis lusinan artikel setiap minggu, dan berharap banyak akan sejumlah uang akan
datang darinya. Atau, anda mungkin berharap buku andaakan melampaui target yang anda perkirakan. Anda tidak pernah tahu, ini cuma dalam angan-angan, namun tidaksetiap orang bisa menjadi Stephen King. Dan anda berpeluang untuk belajar menjalaninya bersama fakta bahwa tak akan ada film (movie) dibuat berdasarkan novel pertama anda.

10. Jalan Penulis itu panjang dan keras. Jalannya bergelombang, dan bakal ada saatnya dimana anda merasa
ingin menyerah. Tapi tujuan akhir merupakan sebuah kepuasan. Jangan biarkan jalan itu menghalangi anda
dari mimpi yang anda bangun. Dan, jangan pernah menyerah.

maaf kalu ada yang tersinggung karena aku asal comot artikel orang. mahap ya Om/Mas

[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 23, 2007, 03:35:54 pm
________________________________________
friends,
di bawah ini adalah jenis informasi yang lain: alamat penerbit.
ini daftar yang gua punya. kalo ada yang tau alamat lainnya, tambahin ya, terutama yang cukup ‘prospektif’ buat dikirimin naskah novel bergenre fantasi (atau yang umum juga boleh deh).
haha… genre yang umum aja susah, apalagi fantasi…
tapi maju terus pantang mundur wow nekat aja dah… ;D
——————–

Penerbit Gramedia Pustaka Utama
up. Redaksi Fiksi
Gedung Gramedia lantai 3
Jl. Palmerah Barat 33-37
Jakarta 10270

Penerbit Matahati
up. Redaksi Novel
Plaza Karinda B1.17
Jln. Karang Tengah
Jakarta Selatan

Penerbit GagasMedia
up. Redaksi Novel (FantasyLit)
Jl. H. Montong No. 57
Ciganjur – Jagakarsa
Jakarta Selatan 12630

Penerbit Serambi
up. Redaksi Novel
Jl. Kemang Timur Raya no. 16
Jakarta 12730

Penerbit Grasindo
Up. Redaksi Fiksi
Jl. Palmerah Selatan 22-28
Jakarta 10270

Penerbit AKOER
up. Redaksi Novel
Jl. Kemang Raya No. 1
Jakarta 12730

Penerbit Hikmah (Mizan)
up. Redaksi Novel
Gedung MP Book Point
Jl. Puri Mutiara Raya No. 72
Jakarta 12410

Penerbit Dastan Books
up. Redaksi Novel
Jl. Batu Ampar III No. 14
Condet, Jakarta Timur 13520

Penerbit Ufuk Press
up. Redaksi Novel
Jl. Warga No. 23 A Pejaten Barat
Ps. Minggu – Jakarta Selatan 12510

Pustaka Alvabet
up. Redaksi Novel
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl.Ir.H.Juanda No 5A
Ciputat Jakarta Selatan 15411

Pustaka Primatama
up. Redaksi Novel
Jl. Beruang Raya 28A
Kampung Peladen Pondok Bintaro
Ciputat 15225

[tab: Hal 5]

________________________________________
Post by: rd_Villam on December 01, 2007, 03:28:57 pm
________________________________________
barusan mampir ke toko buku, gua nemuin tuh novel Reinhart yang rey ceritain. Iya betul fantasi dengan gaya bahasa remaja.
ini penerbitnya (buat nambahin daftar sebelumnya):

Pustaka Populer Obor
Jl. Plaju No. 10
Jakarta 10230
www.obor.co.id

hmm, kayaknya daftar sebelumnya mesti ditambahin websitenya juga ya…
________________________________________
Post by: eniyorda on December 03, 2007, 11:06:50 am
________________________________________
Btw, di sini ada yang suka baca/nulis fantasi modern (?) ngga? Tipe-tipenya macam Sarah Singleton, Neil Gaiman. Soalnya sepintas kayaknya orang-orang pada senang yang epik.
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 03, 2007, 11:52:44 am
________________________________________
pasti banyak yang suka. apalagi kalo udah yang ngetop kayak neil gaiman. lumayan menginspirasi.
dari cover stardust-nya aja aku bisa dapet inspirasi cerita tuh. walaupun belon baca novelnya. ;D
________________________________________
Post by: clickdian on December 03, 2007, 12:32:34 pm
________________________________________
Epik? nggak juga.. kita mah macem2 fantasi dilalap dah. Stardust bagus.
Btw mksdnya fantasi modern gimana? yg futuristik? hege udah punya satu tuh, Hozzo.. aq lagi revisi satu yg kyk gini.. coba, yg lain gimana.. ada komen?
________________________________________
Post by: eniyorda on December 03, 2007, 02:26:28 pm
________________________________________
@villam, clickdian: O iya hozzo bisa juga, bagian awalnya, cuma di belakang2 sudah jd dunia bikinan semua. Yg dimaksud fantasi modern itu yang dunianya masih kayak sehari2, tp ada unsur ajaib/fantasinya. Ngga tau juga istilah yg benar apa. Contoh yang paling terkenal harry potter. Kalo stardust mungkin nggak ya, tapi karya neil gaiman yang lain termasuk.
________________________________________
Post by: hege on December 03, 2007, 05:20:53 pm
________________________________________
hello mb Fatma, mb ini yg bikin resensi pertama utk hozzo, hehehe…. mari2 sini mampir.

[tab: Hal 6]
________________________________________
Post by: clickdian on December 04, 2007, 09:51:38 am
________________________________________
Hmm.. klo gitu kali kyk Magical Seira-nya Sitta Karina ya? Blom pernah baca sih, tapi denger2 ceritanya dunia nyata nyampur fantasi.
________________________________________
Post by: eniyorda on December 04, 2007, 05:28:14 pm
________________________________________
@dian: ya betul, seperti magical seira. Udah baca yg pertama, dan masih mikir2 beli buku ke2. Gw pernah komen di goodreads dgn tanggapan yg agak terlalu negatif (pdhl ga maksud begitu). Dan gw rasa kejeduk, karna dlm hitungan jam mbak sitta sendiri yg menanggapi, dgn besar hati pula. *serasa bersalah* Gw gak ngira beliau ada di sana. Inti komplainku sih dunia Madriva-nya kurang berasa, terlalu “tipis”.
@hege, dian + semua yg dah bikin buku: adakah kalian pernah dpt surat pembaca yg isinya kritik semua?
________________________________________
Post by: clickdian on December 05, 2007, 08:43:51 am
________________________________________
Surat pembaca sih belum ya. Rata2 pada suka. Malah temenku yg ngomong langsung, itu pun nggak kritik semua. Dia bilang ceritanya bagus, dia sebenernya suka, cuman keberatan sama endingnya. Sebegitu pentingnyakah hubungan antara Dios dan Regia, sampe aq bikin satu bab khusus tentang mereka?
Temenku ini ga tau klo sebenernya Zauri itu love story ;D
________________________________________
Post by: hege on December 05, 2007, 12:18:10 pm
________________________________________
btw, mb fatma, hege pernah mempir ke forum tertentu dan nemu satu review hozzo yg isinya kritik pedas panjang. Meski rada sotoy gitu review-nya, tapi sangat kuhargai. Revisi naskahnya jadi lancar.
________________________________________
Post by: clickdian on December 05, 2007, 12:20:15 pm
________________________________________
Sebetulnya kritik itu bagus buat kita. Semakin banyak yang muji aq malah curiga.. masa sih se-perfect itu, kyknya ga mungkin deh hehehe..

[tab: Hal 7]
________________________________________
Post by: eniyorda on December 05, 2007, 06:00:29 pm
________________________________________
Pengen tau juga kritik pedas hozzo ;p Hozzo edisi baru udah naik cetak belum? mau nambahin kritik soalnya, tp kalo udah final, ga jd deh.
mb dian, td nyari bukumu. blm ketemu, jadi penasaran…
Buku fantasy-related yg dibeli 2 mg ke blkg:
- The Bookaholic Club, Poppy D C, GPU, fantasy teenlit
- Ratu Callista, Vinca R., Gagas, fantasy teenlit
- Catatan Harian Alien, Vinda S, Liliput, fantasy anak
- Janda dari Jirah, Cok Sawitri, GPU, historical fantasy/folklore retelling
Baru baca 2 sih. Ada yg diminati?
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 11, 2007, 11:50:56 am
________________________________________
hege, saya mau nunjukkin kalo Hozzo ngga separah as he makes out. Tunggu aja, soalnya sekarang pikiranku lagi kusut.

to semua,
Baru bikin list ebooks beserta sedikit komentarku. Format file-nya macam-macam, ada doc, pdf, dan lit. Mayoritas judul di sini adalah yang populer, klasik, atau award-winning. Jadi bukan yang langka-langka, atau yang hardcore. Disclaimer: Ada kemungkinan menderita sakit mata ;)

Douglas Adams – Hitchhiker’s Guide to the Universe Series (Book 1 – 5)
Sebaiknya nonton filmnya dulu. Ini salah satu seri buku yang kusarankan nonton film sebelum baca. Filmnya berasal dari buku 1, ditambah sedikit unsur dari buku-buku lain. Bukunya British banget, dan biasanya banyak yang nggak suka humornya. Tapi aku suka hehehe.
Clive Barker – Abarat Book 1
Sudah diterjemahkan oleh Gramedia. Belum baca.
Orson Scott Card – Ender Series (specific titles: Ender’s Game/Speaker for the Dead/Xenocide/Ender’s Shadow)
Recommended!
Eoin Colfer – Artemis Fowl (Book 4-5)
Eoin Colfer – The Supernaturalist
Kalo suka Artemis Fowl, recommended.
Cornelia Funke – Inkheart
Fantasy anak. Pengarangnya yang nulis Thief Lord/Pangeran Pencuri.
William Gibson – Neuromancer
Belum baca
William Goldman – The Princess Bride
Kemasan unik–ngerti deh, kalo udah baca. Gaya ceritanya mirip cerita heroik di dongeng-dongeng.
Ursula K Le Guin – Earthsea Cycle (Book 2 – 6)
Recommended book 1-3 ajah. Le Guin hebat dalam membangun suasana, dan saya suka gaya bahasanya. Plot dan idenya biasa aja sih.
Frank Herbert – Dune (Book 1)
Belum baca.
Diana Wynne Jones – Howl’s Moving Castle
Yang dijadikan film oleh Hayao Miyazaki. Nggak sama persis. Both film and book GREAT in their own right.
Robert Jordan – Wheel of Time Series (Book 1 – 11)
Buat yang suka epic macam LOTR. Lagi stuck di book 2.
Mercedes Lackey – Heralds of Valdemar/Last Herald Mage (Book 1 – 3)
Belum baca
George RR Martin – Song of Ice and Fire (Book 1 – 3)
Epic juga, baru baca yang no 1. Nggak ada good guys-nya di sini. Semua tokohnya mengerikan dah.
Larry Niven – Ringworld (Book 1 – 3)
Belum baca
Terry Pratchett – Discworld Series (first 27 books + Wee Free Men + Hat Full of Sky)
British banget. Tapi aku suka juga. Nggak mesti baca urut, karena tiap ceritanya berdiri sendiri. Baru 10 bukuan yang kubaca.
Philip Pullman – His Dark Materials Trilogy (Book 1 – 3)
Ada terjemahannya.
Jonathan Stroud – Bartimaeus Trilogy (Book 1 – 3)
Ada terjemahannya juga. I love you, Genie!
Asterix Book 1 – 24 (English version) – ini humourous fantasy ataw historical fantasy kali, hehehe
________________________________________
Post by: rd_Villam on December 11, 2007, 12:22:33 pm
________________________________________
eniyorda,
dari daftarmu itu, aku punya novel aslinya Robert Jordan, Wheel of Time yang Crown of Swords.
pendapatku, si jordan ini mungkin lebih gila daripada tolkien. dia bikin dunianya bener-bener detil, dengan latar sejarah yang panjang juga. bukunya tebel bener lagi, bacanya mesti sepenuh hati tuh… ;D
________________________________________
Post by: eniyorda on December 11, 2007, 12:54:28 pm
________________________________________
villam,
iya tuh, harus kuat konsentrasi. Mestinya jangan baca lewat komputer kali. ya, saya cuma nyebutin LOTR karena wheel of time ini epik, sehingga kontras dengan buku-buku lain yang ada di daftar tadi.
Betul juga, WoT sangat detil dan kompleks dari segi pembangunan dunia. banyak fantasi epik sering dituduh LOTR wannabe. Berdasarkan review, WoT adalah yang menonjol dibanding seri-seri lain itu. Buktinya, plot dan dunianya solid (dan laku) sampai jadi buku 11 biji.

[tab: Hal 8]
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: eniyorda on December 12, 2007, 04:08:52 pm
________________________________________
Oh ya ini yang dijanjikan:

Card, Orson Scott – Enderverse.rar
hxxp://www.mediafire.com/?6gmywyjswnf

Colfer, Eoin – The Supernaturalist.zip
hxxp://www.mediafire.com/?6t0ml6fmwxd

Jones, Diana Wynne – Howl’s Moving Castle.rar
hxxp://www.mediafire.com/?dnqdll9gczz

Le Guin, Ursula K – Earthsea Cycle.rar
hxxp://www.mediafire.com/?9hydvywq4ls

Pullman, Philip – His Dark Materials Trilogy.rar
hxxp://www.mediafire.com/?71nibmz1zmg

Stroud, Jonathan – Bartimaeus Trilogy.rar
hxxp://www.mediafire.com/?2mmmm6kxtzm

file lit buka dengan Microsoft Reader di sini: http://www.microsoft.com/Reader/
________________________________________
Post by: BloodSin on December 14, 2007, 10:25:52 am
________________________________________
@enyorda,
just for my curiousity,
novel fantasi lokal apa aja yg pernah ente baca?
ane: hozzo, narend, janos, ledgard, pinissi, sang penandai, zauri, nightfall.. huaaaa..baru dikid. :-[
penasaran nih ma coruption, skinheald, phoenix, dll..
________________________________________
Post by: eniyorda on December 14, 2007, 11:16:54 am
________________________________________
@bloodsin, saya juga baru dikit kok. yang pernah: semua buku lokal liliput selain cincin odeleodeo (gak nemu), ledgard, skinheald (buku no 1 doang), phoenix, sama yang terakhir ratu callista. pengen baca yang lain, cuma kadang pas lihat diriku nggak ngeh itu buku fantasi, atau kadang nggak ketemu. biasanya juga gw mikiiir laaamaaa dulu kalo lihat harganya >50ribu.
________________________________________
Post by: eniyorda on December 15, 2007, 09:07:56 am
________________________________________
@bloodsin:
dari buku lokal yang dah dibaca dan menurutku lumayan cuma Hozzo dan Ledgard. ‘Lumayan’ dalam definisiku adalah mempunyai daya tarik untuk kalangan pembaca luas, nggak khusus ‘anak-anak’ atau terlalu ‘teenlit’. Selain itu dari segi teknik penulisan dan penceritaan nggak parah-parah amat, atau setidaknya ada kelebihan yang bisa dinikmati. :D Aku nggak menuntut tingkat orisinalitas yang terlalu tinggi, atau ide baru yang heboh. Terus ini juga nggak termasuk dongeng yang dinovelkan, karena ada satu yang bagus menurutku, yaitu “Panah Patah Sangkuriang” oleh mbak femmy syahrani.
Kalau menurutmu yang mana? Terus dari buku yang udah kamu baca tapi aku belum–Janos, Sang Penandai, Nightfall, Zauri–adakah yang sama atau lebih bagus dari kedua buku itu? Kalau dilihat dari judulnya, nampaknya seru-seru tuh. :D

Comments 2 Comments »

[tab: Hal 1]Sesi I (8 Nov 2007 – 20 Nov 2007)

  • Tentang forum ini
  • Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award
  • Perbedaan Fans Fiction dan Fantasy Fiction
  • Character-Mix Technique: let the characters lead the story, oleh rd_Villam
  • Tentang Cardan, terbitan Gagasmedia
  • Zauri menjadi juara II Adikarya IKAPI 2007
  • Writer’s Obstacle: The Beast Inside My Head, oleh rd_Villam
  • Soal perbedaan novel dan film

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on November 08, 2007, 07:10:09 pm
________________________________________
hmmm.. admin.. jangan dipindah ke sub-topik fanfic (fan-fiction–yang berarti istilah yg ditujukan untuk fans fiksi-fiksi tertentu) lagi yah.. soalnya thread ini sudah berada pada tempat yg benar. ;)
Salam hangat
Rey L,
penguasa thread fantasi Indosiar yang baru naik tahta.. :-* :-* :-*
________________________________________
Post by: clickdian! on November 09, 2007, 08:30:17 am
________________________________________
Yo Guys! Glad to be back!
Mumpung udah bisa masuk, aq mo minta doa nih..
Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award..
Wish me luck, Guys!
Link:

http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2007/11/05/pengumuman-hasil-seleksi-tahap-1-longlist-khatulistiwa-literary-award-2007/

________________________________________
Post by: rd_Villam on November 12, 2007, 02:05:39 pm
________________________________________
fanfic berasal dari kata fans fiction, yaitu cerita yang dibuat oleh para penggemar fanatik kisah-kisah yang sudah ada (entah macam harry potter, cerita anime, ataw drama2 asia), dengan alternatif cerita yang dibuat berbeda walaupun menggunakan tokoh2 yang sama.
fantasy fiction, seperti dalam thread ini, adalah cerita fiksi bergenre fantasi (dunia imajinatif dimana hal2 yang tidak mungkin jadi biasa, walau ada banyak sih alirannya) yang tokoh2 dan latarnya diciptakan oleh para penulis (dalam hal ini ya kita-kita ini) sendiri… tidak berdasarkan tokoh-tokoh dalam cerita lain.
kalo soal karya asli atau enggak, terus terang sebenarnya rada bingung juga sih gua… cerita2 fanfic tersebut kadang2 sangat berbeda juga dengan cerita aslinya, sehingga layak juga mestinya disebut karya ‘asli’ si pengarang baru tersebut (cukup asli deh…).
oleh karenanya, tentang asli atau tidak asli mungkin perlu lebih dicermati lagi maksudnya. (halah… basa belibet… bikin pusing…)
ini adalah thread tentang para penulis yang nekat menceburkan diri masuk ke dunia fantasi, mungkin itu udah cukup.
kalo ada yang tambah pusing, ya begitulah…
ini tempatnya para pemimpi… heheheh…

[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 13, 2007, 07:42:53 am
________________________________________
wah jadi kepengen juga buat fiksi fantasi. tapi apa ya temanya…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 13, 2007, 10:00:06 am
________________________________________
usul nih, daripada pusing nyari tema buat cerita, usulku coba bikin empat karakter2 yang aneh dan unik terlebih dulu. nanti tema cerita bakal muncul dengan sendirinya…
let the characters lead the story…
ini… barangkali tertarik menggunakan teknik character-mix…
(kukopi corat-coret gak jelas dari blogku ini)
—————————–

Yakin mau bikin tema cerita dulu baru bikin karakternya?
A : Mau bikin cerita baru nih!
B : Boleh. Mau mulai dari mana: bikin tema dulu atau karakter dulu?
A : Ya dari tema dulu dong! Gimana sih? Biasanya kan begitu.
B : Yakin? Ya udah, mau bikin tema apa?
A : Biasa, fantasi. Perang melawan penyihir jahat. Jagoannya cowok, punya emak di desa tukang bikin kue, dan punya temen cewek pencopet cilik.
B : Jadi inget sama…. Ya udah, jadi ada empat karakter nih: Panglima, Penyihir, Tukang Kue, sama Pencopet. Sok atuh… dibikin gambaran karakternya.
A : Lihat nih…

Panglima Cowok 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cowok 50 tahun Licik
Tukang kue Cewek 40 tahun Pemarah
Pencopet Cewek 10 tahun Periang

B : Terlalu biasa nih! Boleh gua utak-atik, gak?
A: Mmm, boleh deh.
B Begini nih…

Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 50 tahun Licik
Tukang kue Cowok 40 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 10 tahun Periang

A : He he, boleh juga sih. Jadi sekarang tokoh utamanya cewek nih, trus lawan cewek juga? Terus si tukang kue jadi bokapnya? Pencopet cowok kecil, itu sih udah biasa juga.
B : Eh, emang gua bilang tokoh utamanya si panglima cewek ini? Bisa aja kan si tukang roti yang jadi tokoh utama, atau si pencopet kecil itu.
A : Si tukang roti? Ya bisa juga.
B : Atau mau diutak-atik lagi?
A : Ntar dulu! Gua suka juga tuh sama tokoh panglima cewek. Yang itu jangan diubah.
B : Boleh. Jadi tinggal tiga terakhir nih…

Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 10 tahun Licik
Tukang kue Cowok 50 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 40 tahun Periang

A : Heheh, jadi penjahatnya sekarang anak kecil 10 tahun nih? Menarik juga. Tapi tukang kue sama pencopet tua, apa menariknya?
B : Ya si tukang kue jadi babe yang pemarah. Trus si pencopet cowok itu, dijadiin pacarnya si panglima cewek aja…
A : Ketuaan ah…
B : Soal umur mah gampang atuh… Tinggal dikurangin. Mau jadi umur berapa? 25 tahun? Boleh. Tapi udah puas belon nih?
A : Sifatnya belon diutak-atik kan?
B : Yoi. Nih coba liat…

Panglima Cewek 20 tahun Periang
Penyihir Cewek 10 tahun Pemarah
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Bijaksana

A : Wah! Tambah aneh nih! Penjahatnya tukang kue?
B : Iya! Si bokap yang tukang kue ini ternyata jahat, dan berhasil merebut kekuasaan. Si panglima cewek terpaksa kabur dari negerinya, dibantu kabur sama si pencopet bijaksana.
A : Terus si penyihir kecil jadi apaan?
B : Boleh juga kalo mau dijadiin partner in crime-nya si tukang roti.
A : Heheh. Boleh juga.
B : Atau bisa juga begini…

Panglima Cewek 20 tahun Pemarah
Penyihir Cewek 10 tahun Bijaksana
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Periang

A : Artinya?
B : Si panglima cewek sering ngamuk. Si pencopet cowok jahil. Nah sih penyihir cilik nih jadi orang bijaksana, mesti dicari dulu di tengah hutan, karena ternyata dia yang menyimpan kunci untuk melawan senjata rahasia milik si tukang kue.
A : Wah bagus nih ! Yang ini aja deh.
B : Jangan puas dulu. Coba elu utak-atik sendiri deh. Gua cuma pengen kasih tau nih, ada 4 kali 4 alias 16 kemungkinan cerita di sini. Bisa nambah lagi kalo elu masukin juga variabel-variabel lainnya.
A : Eh, iya yah… kok temanya berubah dari tema awal gua?
B : Hehe, emang itu tujuan gua. Daripada bikin tema dulu baru karakter, yang hasilnya terlalu stereotip, mendingan elu bikin dulu karakternya, baru masuk ke tema.
A : Ah, belagu lu. Tapi boleh juga sih cara ini.

catetan :
Hitungan si B salah tuh. Mestinya ada 9216 kemungkinan cerita.
Angka dari mana? Nanti aja deh dibahas di kelas matematika. heheh…
———————-

[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 09:48:24 am
________________________________________
eh…
ada fantasi lokal baru terbit agustus kemaren ya?
judulnya Cardan, terbitan gagas (haha… ternyata mereka nerbitin fantasi juga…)
pengen baca, tapi belon nemu di toko buku…
ada yang udah baca?
________________________________________
Post by: BloodSin on November 14, 2007, 03:31:00 pm
________________________________________
hmmm.. ente ktinggalan info ne.. ;D
gagas udah nerbitin 2 fantasi sebelomnya: nightfall (yg ini gw udah baca) ma satu lg.. lupa judulnya pokonya nyinggung2 time machine gitu deh.. hmm.. yg unik, kayanya gagas udah ngebagi divisi genre untuk novel2na: ada fantasy-lit, teenlit, dan lain sebagainya.. :)
kalo yg novel cardan itu, malah kayanya gw yg ketinggalan info.. baru denger ne.. ente denger dr mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 04:59:35 pm
________________________________________
rey, gua tau cardan pas buka site tokobuku online.
maksud gua tuh… gua pikir gagas cuma tertarik sama fantasi dengan tema yang ringan dan tipis,
sementara cardan ini kayaknya bertipe epik dengan tebal sampe 330 halaman.
jadi… apa kita harus mengarahkan senjata ke sana? hehehe…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:36:24 am
________________________________________
Guys,
Alhamdulillah Zauri dapet juara 2 Adikarya IKAPI, makasih untuk doa dan dukungannya yaaa.. :D
To all:
Fiksi fantasi lokal sudah diterima di negeri sendiri nih, jadi jangan ragu berkarya ya!
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 15, 2007, 08:52:17 am
________________________________________
hoho…
selamat, dian!
wah… hebat bener ya…
ayo deh, mari kita tetap bersemangat menulis fantasi!
ah… gua bermimpi suatu hari nanti fantasi-fantasi buatan anak negerilah yang merajai toko-toko buku,
dan ada penghargaan semacam hugo award setiap tahunnya (dian award mungkin, heheheh…, khusus untuk buku-buku fantasi tersebut (mulai dari novel, novelet, hingga short stories).
jalan yang panjang, tapi bukannya gak mungkin…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:58:12 am
________________________________________
Tq, Villam :D
Aq juga surprise banget, satu2nya fiksi fantasi yg masuk nominasi. Sempet jiper juga, ga pede soalnya yg lain dari genre yg lebih banyak penggemarnya. Tapi kyknya juri2 juga suka berimajinasi, jadinya zauri kepilih deh.
Tinggal Khatulistiwa nih T_T
Ini mah kayaknya ga mungkin abisss… saingannya super ketat.
Tapi yah, harapan walopun cuma 1% tetep harapan kan? ;)
Minta doanya ya, guys..
________________________________________
Post by: BloodSin on November 15, 2007, 10:01:40 am
________________________________________
@ sis,
whwhwwh.. juara 2.. keren banged.. congrats ya.. ;D jadi makan2 duank.. ;D ;D
@villam,
gagas bukannya udah ngasi limit halaman naskah.. pokonya setau gw limit halamannya tipis banged deh.. cuman 125/150 halaman spasi 1.5.. ato berapalah.. kok tuh novel lumayan tebel bs terbit ya? ??? ???
@aree,
tertarik nulis fantasy?

[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 16, 2007, 10:53:37 am
________________________________________
mmm…
buat iphrite alias kokonoka yang meminta gua membagi tips lagi.
hahaha… kayaknya yang di bawah ini mungkin bukan tips, cuma corat-coret gak jelas dari penulis yang baru bisa bermimpi…
kukopi juga dari blogku.
yah, walau gak jelas, semoga bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat…
ciao.
—————————-

Writer’s Obstacle : The Beast Inside My Head

Ouch! You killed my brother!
It’s time for revenge,
but what is the main obstacle to become a real writer?
Dari sekian banyak tahapan yang dilalui penulis, mana yang paling menantang?

A. Aktivitas menulis
(proses ngebikin novel impian itu maksudnya)

A1. Persiapan (atau perencanaan)
Macem-macemlah, mulai dari ngimpi, corat-coret tokoh, plot, dunia impian, action outline (sebelon jadi scene outline), dll.
Sampe minimal kita tau 70% dari keseluruhan cerita yang kita buat. Pokoknya jangan sampe blank, kita gak tau cerita yang kita tulis ujungnya ada di mana.
Oy! Jangan lupa risetnya. Mau bikin cerita detektif/pembunuhan coba dateng ke kantor polisi ataw ke rumah sakit (/jiwa?). Mau bikin cerita luar angkasa, coba ke bulan. Mau tau kayak apa Eiffel di bulan Februari, ya coba dateng ke Paris, biar gak bingung ini musim dingin apa musim panas.
Gak punya duit, surfing internet ajah di wikipedia.
Oke? Udah siap semua pedang dan armor kita?
Siap, boss!
It’s time to go to the dungeon and kill the beast!

A2. Menulis
Kerjaan utama yang paling berat nih, ngeluarin the beast dari dalem kepala.
Gaya dan kecepatan para penulis beda-beda. Ada yang bisa ngebut ngetik selesai dalam seminggu (mereka-mereka yang ngetop sebagai prolific authors nih), ada juga yang bisa berbulan-bulan.
Barangkali ada yang berminat kayak Tolkien, bikin LOTR dalam 13 tahun?
Biar gak keliatan menakutkan, maju aja sedikit-sedikit. Ya sebulan satu bab deh…
Kan kita mesti sekolah, ke kantor, jalan-jalan ke mal, chatting, surfing, ngurus anak, dll dsb. Ya gitu deeh…

A3. Rehat

Udah selesai semua 30 babnya? Weh, jadi hampir tiga tahun nih nulisnya?
Luar biasa, dan selamat! Iya. Pokoknya selamat!
Kita udah lolos tahap kualifikasi yang paling berat buat jadi penulis!
Konon katanya, dari 100 orang yang bermimpi jadi penulis, cuma 50 orang yang berani mencoba menulis. Dari 50, cuma 25 yang menulis sampe selesai novelnya. Dari 25, cuma 12 yang berani ngirim ke penerbit. Dari 12, cuma 6 yang mau memperbaiki setelah ditolak. Dari 6, cuma 3 yang berani mengirim ulang. Dari 3, cuma 1 yang akhirnya berhasil diterbitin.
Kalo gak salah sih.
Eh, tapi ngapain dibahas sekarang? Udah deeh…
Saran para penulis top: print draft pertama tersebut, masukin ke kulkas selama sebulan, jangan pernah disentuh-sentuh. Biar semuanya hilang dari otak kita buat sementara.
Simpan dulu pedang kita. Waktunya pergi ke tavern.
Sementara nganggur, kita bisa mulai ngelayap kemana-mana (lihat bagian B. Aktivitas lain-lain), atau coba bikin konsep buat novel berikutnya.

A4. Kritik sendiri
Asumsinya udah belajar banyak dong dari proses belajar kita.
Sekarang ambil lagi tuh naskah dari dalem kulkas. Senjata yang mesti disiapkan: pulpen/pinsil dan notes (ya pedang yang itu maksudnya).
Hiaat! Dengan ganasnya kita bantai tulisan kita sendiri dari awal.
Kill the goblin! Kill the goblin!
Hoaahh! Apaan nih?
Kenapa kok plotnya jadi keliatan gak masuk akal sekarang?
Lho, ini tokoh ngapain muncul di cerita ini? Gak ada gunanya!
Ini apaan nih narasi panjang lebar gak jelas?
Waduh, kok lambat banget sih ceritanya? Bikin ngantuk!
Catet dulu di notes, jangan buang sekarang, jalan terus dulu.
Yang ini, deskripsinya kok ngambang? Ya catet juga, nanti ditambahin.
Nyantai, man… nyantai…

A5. Kritik dari orang lain
Puas dengan kritikan sendiri?
Jangan.
Beranikan diri, kasih tuh draft naskah ke orang laen.
Semakin expert orang tsb tentu semakin bagus. Tapi kalo gak ada, ya papi, mami, kakak, adek, pacar, temen juga bisa. Minimal mereka bisa ngasih tau di halaman berapa mereka tertidur karena bosennya.
Pembaca/kritikus yang expert bisa ngasih tau poin-poin lemah mana ajah yang sebelumnya gak kita pikirkan.
Tentang ini ntar kita bahas khusus deh.

A6. Rewrite (tulis ulang)
Udah dapet semua kritiknya?
Bagus? Jelek? Perlu diterima? Atau ditolak ajah?
Ya terserah kita.
Yang jelas kalo kita berani rewrite alias tulis ulang (bukan sekedar potong kiri potong kanan, tambah atas tambah bawah), berarti kita udah selangkah lebih maju.
Gak usah takut, rewrite dan edit selalu membuat tulisan kita menjadi lebih bagus, gak pernah jadi lebih jelek.

A7. Ulang lagi dari A3
Hah? Muter lagi?
Hehe, terserah sih. Ini saran ajah.
Ok deee…
Balik lagi ke gua, bang! Ada harta karun yang belon sempet diambil di sana!

A8. Ulang lagi dari A3
Maksud loh?!
Ya itu maksud saya. Pokoknya periksa ulang dan periksa terus!
Hmm, editing is a never ending process. Setiap kita tengok lagi tuh naskah, pasti selalu ada aja yang cacat.
Gak percaya, coba liat lagi sekarang. Pasti masih ada yang salah. Berani taruhan? (hus, haram!)

A9. Kirim ke penerbit dan tunggu
Udah deh, capek nih ngedit. Udah gak sabar nih…
Sip! Selamat karena kita udah berani nekat naik ke Arena.
Face the minotaur and its great axe!
Itu lebih bagus daripada gak pernah berani mencoba.
Tentu saja ada syaratnya: naskah yang kita kirim sudah kita edit sedemikian rupa, sehingga kita yakin itu adalah yang terbaik bisa kita buat, setidaknya sampai saat ini.
Jangan lupa perhatikan tatacara pengiriman naskah. Editor dan penerbit banyak maunya lho…
Setelah itu, tunggu dengan sabar ya.
Bisa seminggu, tiga bulan, atau setaon. Seumur hidup?
Sementara nunggu, coba deh ngelayap lagi, atau bikin novel lainnya.

A10. Ditolak
Hore! Ditolak buat yang pertama kali!
Toast! With the minotaur.
Sambutlah dengan senyum, simpan baik-baik surat penolakannya.
Itu bakalan jadi kenangan indah buat kita nanti, suatu saat.
Inilah saatnya naik level.
Ketemu naga, bukan lagi minotaur, apalagi goblin kroco.

A11. Ditolak lagi dan ditolak lagi
Ouch! You killed my brother!
Hooo. Keep smiling, man…
Baca baik-baik surat-surat penolakan tersebut, dan kita akan menemukan apa yang membuat naskah kita ditolak.
Kita akan belajar menerima kenyataan pahit ini: tidak penting sebagus apa naskah kita, kalau tidak sesuai dengan selera atau standar editor dan penerbit, ya tetep aja ditolak.
Tapi minimal ada yang bisa kita pelajarin.
Sesuatu yang bisa menjadi senjata pamungkas kita.

A12. Moment of Truth
Saatnya penentuan, apakah kita bener-bener seorang penulis atau bukan.
It’s the main obstacle.
Face the dragon in the final battle.
Mereka pikir kita akan menyerah setelah ditolak sepuluh kali?
Duapuluh? Limapuluh?
No, Master! Wait for my revenge!
Ada 3 jalan di depan kita:
1. Perbaiki lagi tuh novel yang ditolak, dan coba kirim lagi. Teruus dan teruuuss…
2. Bikin cerita yang laen. Kita penulis kok, kita bisa bikin satu, kenapa gak bisa bikin yang kedua, ketiga, dst? Ditolak juga? So what? It’s my life.
3. Simply Quit. Goodbye, brother. Don’t worry, you’re still my friend. Maybe we’ll meet again, someday, etc, etc.
The dragon is in our mind.
Make your decision.

A13. Revenge
The sweetest time.
The evil dragon is dead.
Saat ketika semua pengorbanan terbayar lunas. Duh duh duh…
Perlu dibahas?
No, just dream it.

B. Aktivitas lain-lain
(nangkring & nongkrong)

B1. Belajar
Ya macem-macem juga deh yang dipelajari.
Paling penting adalah belajar tatacara penulisan yang baik. Mesti rajin-rajin dong buka buku EYD, tatacara Editing, Pelajari Tips n Trick dari internet.
Apa aja sih yang biasanya jadi topik pembunuhan naskah, favoritnya para kritikus?
Jangan malu nanya para penulis top yang pinter-pinter itu. Cari tau seperti apa novel yang bagus, dan yang gak bagus. Ya mesti banyak baca-baca novel laen buat benchmarking (ceile…), impor maupun ekspor (hah?).
Tapi jangan nangkring di depan komputer doang (kayak saya).
Nongkrong juga dimana kek. Liatin juga tuh kelakuan orang-orang di pasar, di stasiun, di stadion, di bank, di ruang tunggu dokter.
Lumayan buat database tingkah laku orang.

B2. Survey pasar dan penerbit
Jalan-jalan yuk, ke toko buku.
Liat majalah Trubus, hmm… bisa gak ya kirim cerita fantasi ke sini?
Dimana alamatnya? Lihat di cover belakang, atau ada di halaman dalam?
Oke deee… beli.
Huh? Isinya kok pohon semua? Mau bikin cerita Wood Elves? Walah…
Cari lagi deh yang laen…
Oke, nih ada novel fantasi yang keren, terbitan penerbit ABC (bukan kecap itu tapinya). Laris juga kabarnya.
Dimana alamat penerbitnya? Catet. Coba cari info tentang penerbit ini di internet. Cukup bonafid dan bisa dipercaya? Mana alamat emailnya?
Oke, kenalan dulu via email.
Mau terima fantasi gak? Gimana cara ngirimnya? Begini begitu.
Mereka mungkin bilang: sori belon minat. Tapi mungkin ada juga yang jawab: coba kirim sinopsis dan 10 halaman pertama.
Voila! Jalan sudah terbuka.
Mungkin ada juga yang jawab: kirim hardcopy langsung aja semuanya. Syaratnya ini dan itu. Oke. Meluncur.
Tapi kalo ada yang minta diemail semuanya pake ms word, mending tahan dulu deh.

B3. Gaul di forum penulis.
Ya, namanya juga pemula, tau dirilah.
Belajar dari penulis-penulis lain yang lebih paham. Kenalan juga dengan sesama penulis pemula yang senasib sepenanggungan.
Banyak kok forum semacam ini di internet.
Dengan mereka-mereka ini kita nanti bisa minta masukan mengenai draft naskah kita. Banyaklah informasi yang berguna dari mereka.

B4. Kegiatan lain
Hmm, banyak sih.
Ketemu penggemar di mal dan universitas, bedah buku, tanda tangan.
Heheh…
Woy, bangun! Udah siang!
Kerja, kerja!
Just face that beast, okay?

B5. Belajar lagi, sampe akhir hayat
At last, everything we do is about learning.

[tab: Hal 6]

________________________________________
Post by: rd_Villam on November 19, 2007, 02:46:25 pm
________________________________________
rey,
cardan belon selesai juga nih bacanya. ada satu hal penting yang kurang di novel ini, seperti halnya numeric uno, yaitu kurang ‘pressure’ awalnya. tapi sampe separo jalan, gua rasa masih lebih bagus daripada numeric uno kok. gua saranin elu tetap beli deh. heheh…
soal reviewnya, ntar deh, mudah2an bisa dibedah secepatnya. ada kesulitan tersendiri. gua gak bisa konsen bacanya, soalnya kemudian malah mikirin cerita gua yang gak selesai-selesai. payah dah…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 11:37:15 am
________________________________________
soal perbedaan antara novel dan film,
dalam beberapa kasus memang jadi lebih berkualitas filmnya.
seperti LOTR dulu, peter jackson juga bisa bikin interpretasi yang lebih mantap, seperti karakter yang lebih ‘believable’, walaupun tentu saja banyak cerita yang hilang.
tapi banyak dalam kasus lainnya, biasanya timbul kekecewaan karena filmnya ‘dirasakan’ menjadi lebih buruk.
________________________________________
Post by: BloodSin on November 20, 2007, 11:48:33 am
________________________________________
@villam,
bah, tapi kalo udah dari bukunya jelek mah kayana udah gak mungkin bisa bagus ya kalo dipelemin.. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 02:50:57 pm
________________________________________
u know what? bagi gua, seringkali nonton film selalu mendatangkan lebih banyak ide daripada membaca bukunya.
kita bisa belajar tentang gaya atau teknis penulisan dari membaca buku, tapi cara penyusunan plot dalam film (pembukaan, konflik, klimaks, penutup), dan cara visualisasinya, yang justru sebenarnya sangat berguna buat para penulis yang hendak membuat novel.
sepertinya para sutradara itu tau betul bagaimana harus membuat penonton tertarik dari awal, dan meringkas dalam film yang padat dalam 2 atau 3 jam.
yah, tentu saja cuma film-film yang bagus ajah…
heheh…

Comments No Comments »

[tab:Hal 1]Sekali lagi ada pembahasan mengenai prolog di forum Pulau Penulis Fiksi Fantasi. Saya kutip jawaban-jawaban saya di sana mengenai soal yang satu ini. Mau gimana lagi? ‘Pembukaan’ memang bagian paling penting dalam penulisan novel. Setiap penulis harus meluangkan waktu paling banyak di sini, untuk membuat kalimat pertama, paragraf pertama, adegan pertama, yang terbaik, yang mampu membuat pembaca mau membaca terus dan terus.

[tab:Hal 2]Adakah batasan-batasan dalam membuat prolog?

pelajaran terbaru yang gue dapet: fleksibel dan inovatif-lah. writing is an art, and there are no certain rules.
‘prolog’ itu hanya sekedar nama; tidak ada bedanya dengan ‘bab 1′. penulis menggunakan ‘prolog’ untuk meyakinkan pembaca bahwa cerita dimulai dari dua arah.

Apakah prolog harus selalu berpace cepat?

tidak harus. bukan ‘pace cepat’ yang penting dalam prolog, tapi seberapa cepat pembaca bisa tertarik untuk membaca terus dan terus.

Apakah prolog tidak boleh lebih dari dua halaman?

tidak harus. jawaban ini terkait dengan dua jawaban sebelumnya. yang penting adalah penulis bisa menyampaikan pesannya dengan jelas, dan bisa membuat pembaca penasaran. jangan membatasi diri dengan jumlah halaman.

[tab:Hal 3]Apakah isi prolog harus mudah dipahami seutuhnya?

harus mudah dipahami iya. tapi gue gak ngerti maksud ‘seutuhnya’. justru prolog harus meninggalkan pertanyaan buat pembaca, yang bikin dia penasaran.

Apakah prolog harus mewakilkan gambaran keseluruhan isi buku?

prolog harus bisa memberi petunjuk pada pembaca bahwa cerita ini adalah mengenai sesuatu (entah melalui sebuah peristiwa atau sebuah pesan), tapi bukan gambaran keseluruhan isi buku. emangnya sinopsis atau daftar isi?

Ayoo Villam, Om Pur, gw tauk kalian juga belum begitu yakin dengan definisi prolog yg sesungguhnya, gw bisa liat sendiri kayak gimana prolog dalam karya ente orang (ada yg mabok nyampur ke isi bab2 awal segala, malah Cheesy) Pertanyaan gw, apa alasan kalian bikin prolog kayak begitu? Cheesy

tentu saja setiap penulis punya alasan. gue gak terlalu mikirin definisi. yang gue pikirin adalah bagaimana bisa membuat pembaca tertarik (dengan sesuatu yang berbeda), penasaran (dengan membuat pertanyaan2 yang menggantung), dan mengerti (tentang cerita apa yang akan dia baca, dan tidak akan merasa tertipu nanti). jika tujuan tersebut belum berhasil, ya sederhana saja, format prolognya kudu diubah. dan gue juga gak masalah jika harus melakukan itu. tapi seperti yang gue bilang di awal, jangan terlalu terpaku pada yg standar2. beranilah mencoba hal yang baru. buatlah cerita kita menjadi berbeda.Thumbs Up

Comments 14 Comments »

[tab:Hal 1]Setahun yang lalu saya membuat beberapa tulisan mengenai tulis-menulis di Multiply, dan rasanya tak ada salahnya sekarang saya muat lagi di sini, buat mengingatkan betapa ternyata saya masih sering membuat kesalahan-kesalahan yang sama.

[tab:Hal 2]10 kesalahan saya yang pertama (masih banyak yang lain sih) adalah :

  • Tidak mulai menulis. Ya ini masalah niat sih. Sebenarnya kita mau jadi penulis atau tidak? Padahal sudah banyak ide-ide yang muncul di kepala, yang lalu saya sia-siakan semua dan akhirnya hilang begitu saja.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari lima tahun saya tidak mencoba menulis apa yang saya pikirkan, baru tahun inilah saya mencoba meluruskan niat saya lagi. Untungnya dulu saya sudah sempat membuat konsepnya, jadi memulainya lagi juga tidak susah. Tapi coba bayangkan, berapa banyak waktu yang sudah terbuang?
  • Tidak menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Nah! ini lebih buruk lagi dari yang pertama. Saya sudah membuat cukup banyak, tapi berhenti di tengah jalan. Terus apa artinya waktu yang sudah saya habiskan jika tidak diteruskan sampai selesai. Hmm, balik lagi, niatnya belum lurus sih.
  • Tidak membuat karakter dan plot yang menarik. Sekarang masuk ke isi cerita nih. Terkadang karena bernafsunya kita membuat novel, kita menulis saja apa yang kita mau. Setelah setengah jalan, baru kelihatan bahwa karakter yang saya buat ternyata tidak menarik karena terlalu lurus, demikian juga plotnya, akhir ceritanya tidak jelas dan mengambang, dan  konfliknya kurang greget. Mubazir deh kalau diteruskan. Jadi lebih baik memang kita membuat konsep tokoh dan cerita yang bagus sejak awal. Minimal 70% kita harus sudah tahu akan seperti apa keseluruhan  novel kita. Satu hal yang pasti adalah karakter dan plot itu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak perlu pusing-pusing menambahkan karakter yang tidak sesuai dengan plot. Dan juga  konflik sebenarnya hanyalah akhir dari sebuah proses, akan muncul dengan sendirinya seiring dengan berjalannya karakter yang kita buat.

[tab:Hal 3]

  • Tidak memberikan yang terbaik sejak awal. Banyak yang bilang ‘save the best for last’. Sama, awalnya saya juga berpendapat demikian. Saya terlalu terfokus pada membuat plot akhir cerita yang bagus, tidak memikirkan konflik atau adegan kecil yang menarik untuk diceritakan di awal cerita. Jadinya pembaca keburu bosan di awal, dan malas untuk terus membaca. Jadi yang lebih baik adalah ‘give the best since the beginning’. Sejak awal cerita, setiap kalimat, setiap paragraf, setiap dialog, harus dibuat sebaik-baiknya. Ada prinsip yang bagus nih : Beri api sejak awal, masukkan kayu bakar sedikit demi sedikit selama cerita berjalan, sehingga api makin membesar dan menjadi ledakan di akhir cerita.
  • Tidak fokus pada hal yang menarik buat pembaca. Dalam bercerita di setiap adegannya kadang saya telalu kronologis, maksudnya bercerita secara runtut dari awal sampai akhir, tapi karena saya tidak tahu apa yang sebenarnya menarik dari adegan tersebut, akhirnya jadi kelihatan monoton. Misalnya: si A datang, si A melakukan sesuatu, terjadilah kejadiannya. Memang alurnya sudah benar sih, walaupun bisa juga dibalik supaya lebih menarik, tapi kadang kita tidak fokus pada hal yang paling menarik buat pembaca. Mana yang menarik, apakah kedatangannya, kelakuannya, atau kejadiannya? Nah yang paling menarik itulah yang harus jadi fokus kita, untuk dibuatkan detil, deskripsi atau emosi.
  • Tidak membuat detil atau deskripsi. Berhubung dulu wawasan saya masih terbatas, maka detil atau deskripsi yang saya buat memang tidak menggigit. Padahal cerita bisa menjadi lebih menarik jika bisa kita tambahkan detil tentang tempat, waktu, tokoh, alat, atau latar belakang sejarah. Hanya saja, terkait juga dengan poin no.5, kadang kita terlalu berlebihan dalam membuat deskripsi tentang hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Selain itu biasanya kita juga terburu-buru memberikan banyak informasi atau deskripsi sejak awal, sedetil-detilnya. Padahal kalau memang informasi itu penting, biarkanlah muncul secara perlahan-lahan dalam cerita atau melalui dialog antar tokoh yang wajar.

[tab:Hal 4]

  • Tidak membangun emosi. Pertama kali membuat novel, karakter-karakter saya yang ada sedemikian hambarnya, tidak ada emosi, tidak ada visualisasi gerak tubuh yang dinamis, tidak ada penggunaan panca indra tokoh-tokohnya. Tidak menarik deh.  Sebenarnya emosi bukan hanya bisa dibangun melalui penggambaran tokohnya sih, melalui konflik juga bisa. Tapi konflik yang bagus biasanya adalah yang dapat menggambarkan konflik di dalam diri tokoh-tokohnya (inner conflict). Tapi bukan berarti outer conflict tidak bagus lho.
  • Tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Awalnya saya juga menulis dengan gaya bahasa gaul atau slang. Mungkin para penulis teenlit bisa tidak sependapat dengan saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, kalau saya tidak bisa membuat karya yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya (genre apapun), lima tahun atau lebih dari sekarang, hanya gara-gara bahasa yang saya pakai sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, buat apa? Ini prinsip nih. Hanya bahasa Indonesia yang baik dan benarlah yang akan tahan sampai kapanpun, bukan bahasa gaul atau slang.
  • Tidak mau mengoreksi. Biasa nih. Karena terlalu pede-nya berhasil membuat novel pertama, dengan semangatnya saya langsung kirim ke penerbit. Hasilnya pasti dong, ditolak. Setelah saya baca-baca lagi, ya pasti dong ditolak, soalnya banyak sekali kesalahan-kesalahan yang saya buat di naskah tersebut.  Sejak itu saya tidak pernah bosan untuk meng-edit sendiri. Mungkin tips ini bisa membantu : setelah novel kita selesai, print dan simpan dulu di kulkas selama satu bulan jangan disentuh-sentuh. Setelah itu barulah kita coba buka lagi dan kita baca. Ikatan batin kita dengan novel itu sudah berkurang, dan kita akan bisa menjadi editor yang obyektif.
  • Tidak mau meminta pendapat orang lain. Hampir sama dengan poin no.9. Sebagai penulis pemula, saya selalu menganggap karya pertama saya adalah masterpiece. Alhasil, saya menjadi tidak obyektif, dan sulit menerima pendapat orang lain. Kuncinya cuma satu kok, banyak membaca dan menimba ilmu, maka kita akan tahu ternyata masih banyak kekurangan yang kita miliki.

Comments 26 Comments »