Posts Tagged “villam’s story”

http://www.rdvillam.com/2009/12/akkadia-gerbang-sungai-tigris/

http://www.rdvillam.com/2010/02/akkadia-gerbang-sungai-tigris-clip-3/

”Kenapa ia bisa menemukan kita begitu cepat? Maksudku, sinar putih itu memang menerangi puncak gunung; semua orang bisa melihat, tetapi—”

”Semua orang yang tidak tidur di gunung ini.”

”Ya, ya, Teeza. Spesifik, spesifik, kalau berbicara harus spesifik. Maksudku, sebelum malam ini pun Rahzad sepertinya sudah bisa mencium keberadaan kita. Untung dia belum tahu letak kuil ini.”

”Tetapi Rahzad memang bisa mencium kita.”

”Barion maksudmu?”

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

“Toulip! Kau mengganggu mimpi indahku!”

“Mimpi indahmu?! Itu mimpi indah manusia lain, bukan mimpimu! Mimpi siapa yang kaumasuki sekarang?”

”Tidak tahu. … Kalau aku bisa masuk dan keluar semauku, betapa senangnya. Ah, tetapi tidak juga. Kalau aku ikut masuk ke dalam mimpi buruk, malah jadinya menyebalkan. Seperti tadi, kurasa.”

”Jadi mimpi tadi indah atau buruk?”

Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

”Tuan Putri! Sebaiknya Anda menuju sungai sekarang. Biar Fares menemanimu. Aku dan yang lain akan menahan monster-monster ini.”

”Omong kosong! Aku akan membantu membereskan mereka.”

”Betul. Aku takkan meninggalkan temanku bermain-main sendirian lagi di belakang. Teeza tadi sudah cukup.”

”Kita sedang tidak main-main! Lihat rekan kita yang tewas!”

”Siapa yang main-main?! Gadakulah yang paling menakutkan mereka!”

”Cukup! Mereka datang!”

Comments No Comments »

Kalau film ada trailernya, novel juga ada. Download audio trailer novel Akkadia: Gerbang Sungai Tigris di sini (ukuran file: 949 KB):

Akkadia – Audio Trailer

Comments 2 Comments »

AkkadiaAkkadia: Gerbang Sungai Tigris

Penerbit: Adhika Pustaka

Gadis itu berlutut dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Cahaya yang jauh lebih terang dan menyilaukan daripada cahaya merah Gada Geledek keluar dari dalam tubuhnya, menembus lapisan-lapisan tebal baju putihnya yang berlumuran darah.

Kepalanya mendongak. Tak sampai sedetik kemudian sinar merah menyambar dari sepasang matanya. Ratusan prajurit yang berada pada lintasan garis lurus dari puncak bukit hingga ke ujung lembah terbelah seketika. Potongan-potongan tubuh mereka hangus dalam jilatan api. Ada kegelapan di dalam diri gadis itu. Sesuatu yang sangat jahat.

Mesopotamia, abad ke-24 Sebelum Masehi.

Pada masa itu Kerajaan Akkadia berhasil menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris. Naia, putri dari Kazalla yang negerinya telah dihancurkan Akkadia, bermaksud menyeberangi sungai dan meminta perlindungan pada bangsa Elam, namun di tengah perjalanan ia diserang dan harus terpisah dari para prajuritnya. Dalam keadaan terdesak Naia terpaksa mengambil keputusan tersulit: memanggil makhluk-makhluk terkutuk dari dunia kegelapan.

Comments 32 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini.

Vilnar membawa istri dan anaknya mengarungi Sungai Ordelahr selama berhari-hari. Mereka menerobos hutan gelap melalui sungai berliku, yang untungnya, walaupun tampak menyeramkan dengan pohon-pohon besar dan dedaunan yang menjuntai, sebenarnya tidak banyak binatang buas yang berdiam di sana. Hanya beruang dan ular yang cukup berbahaya, yang lainnya hanyalah kucing hutan dan beberapa jenis kera. Selama binatang-binatang itu tidak merasa terganggu, mereka juga tidak akan menyerang.

Untuk berjaga-jaga, sepanjang perjalanan dua buah obor dinyalakan di depan dan belakang perahu, siang maupun malam, sebagai penerangan sekaligus pengusir binatang buas. Selain itu Vilnar juga tetap mendayung saat malam. Ia hanya beristirahat dan tidur saat siang, kala Ailene terjaga.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

lihat bab sebelumnya di sini.

Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.

Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

tinggi bener tuh pohonlihat bab sebelumnya di sini.

Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.

Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.

Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

image005lihat bab sebelumnya di sini.

Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.

Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.

Read the rest of this entry »

Comments 4 Comments »

mount9Api masih berkobar membakar reruntuhan setiap rumah yang kini telah menghitam. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas rumput, batu dan pasir di tepi Sungai Ordelahr.

Ini adalah desa kedua yang dilewati Vilnar siang ini, dan sama seperti yang pertama, tak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.

Read the rest of this entry »

Comments 6 Comments »