“Di sana, aku duduk di atas batu yang paling tinggi. Tempat tertinggi di seluruh dunia. Di bawah ada awan putih yang tebal bergumpal-gumpal. Halus, lembut. Aku bisa meraihnya dengan tanganku, aku bisa memainkannya dengan jemariku dan aku bisa meniupnya dengan mulutku. Awan kecil itu terbang, menjauhiku. Tetapi tak apa, karena aku bisa mengambil awan yang lain. Jadi kuambil lagi bergumpal-gumpal yang lain, dengan kedua tangan. Kali ini aku akan memeluknya erat-erat.”
Berpuluh-puluh tahun yang lampau (huh?), ketika saya masih SMA, saya pernah menulis cerita berjudul Nomor Sembilan. Itu adalah novel pertama yang saya tulis, panjangnya kurang lebih 200 halaman, dan seluruhnya ditulis tangan di sebuah buku tebal bersampul warna cokelat (yang jika saya lihat tulisan tangan saya saat itu dibandingkan dengan yang sekarang, kok sungguh rapi dan mudah dibaca ya? ). Buku itu kini masih ada dalam lemari baju saya (?), dan mungkin selamanya tetap akan berbentuk seperti itu, tidak akan dikonversikan ceritanya ke dalam dokumen MS Word, kecuali tiba-tiba saya tergerak untuk kembali bernostalgia.
Nah, buat yang belum paham dengan dunia sepakbola, nomor sembilan biasanya (sesuai tradisi) adalah nomor punggung yang diberikan untuk ujung tombak atau striker, seperti halnya nomor sepuluh untuk playmaker atau sang maskot, nomor tujuh atau sebelas untuk winger, nomor dua dan tiga untuk fullback kanan dan kiri, atau nomor satu untuk keeper. Ya, cerita saya dulu itu memang mengenai sepakbola, berkisah tentang seorang pemain berdarah campuran Indonesia-Inggris yang bermain di sebuah klub kecil di Liga Austria (kebetulan adalah juga negeri Om Alfred Riedl, pelatih timnas sekarang), bermain di Piala Champions Eropa dan mengalahkan Bayern Muenchen di final (dulu masih berupa Piala, belum jadi Liga Champions seperti sekarang), ditarik masuk timnas Indonesia, bermain untuk tim Pra-Olimpiade, dan akhirnya membawa Indonesia masuk Piala Dunia.
”Kenapa ia bisa menemukan kita begitu cepat? Maksudku, sinar putih itu memang menerangi puncak gunung; semua orang bisa melihat, tetapi—”
”Semua orang yang tidak tidur di gunung ini.”
”Ya, ya, Teeza. Spesifik, spesifik, kalau berbicara harus spesifik. Maksudku, sebelum malam ini pun Rahzad sepertinya sudah bisa mencium keberadaan kita. Untung dia belum tahu letak kuil ini.”
“Mimpi indahmu?! Itu mimpi indah manusia lain, bukan mimpimu! Mimpi siapa yang kaumasuki sekarang?”
”Tidak tahu. … Kalau aku bisa masuk dan keluar semauku, betapa senangnya. Ah, tetapi tidak juga. Kalau aku ikut masuk ke dalam mimpi buruk, malah jadinya menyebalkan. Seperti tadi, kurasa.”
Gadis itu berlutut dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Cahaya yang jauh lebih terang dan menyilaukan daripada cahaya merah Gada Geledek keluar dari dalam tubuhnya, menembus lapisan-lapisan tebal baju putihnya yang berlumuran darah.
Kepalanya mendongak. Tak sampai sedetik kemudian sinar merah menyambar dari sepasang matanya. Ratusan prajurit yang berada pada lintasan garis lurus dari puncak bukit hingga ke ujung lembah terbelah seketika. Potongan-potongan tubuh mereka hangus dalam jilatan api. Ada kegelapan di dalam diri gadis itu. Sesuatu yang sangat jahat.
Mesopotamia, abad ke-24 Sebelum Masehi.
Pada masa itu Kerajaan Akkadia berhasil menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris. Naia, putri dari Kazalla yang negerinya telah dihancurkan Akkadia, bermaksud menyeberangi sungai dan meminta perlindungan pada bangsa Elam, namun di tengah perjalanan ia diserang dan harus terpisah dari para prajuritnya. Dalam keadaan terdesak Naia terpaksa mengambil keputusan tersulit: memanggil makhluk-makhluk terkutuk dari dunia kegelapan.
Vilnar membawa istri dan anaknya mengarungi Sungai Ordelahr selama berhari-hari. Mereka menerobos hutan gelap melalui sungai berliku, yang untungnya, walaupun tampak menyeramkan dengan pohon-pohon besar dan dedaunan yang menjuntai, sebenarnya tidak banyak binatang buas yang berdiam di sana. Hanya beruang dan ular yang cukup berbahaya, yang lainnya hanyalah kucing hutan dan beberapa jenis kera. Selama binatang-binatang itu tidak merasa terganggu, mereka juga tidak akan menyerang.
Untuk berjaga-jaga, sepanjang perjalanan dua buah obor dinyalakan di depan dan belakang perahu, siang maupun malam, sebagai penerangan sekaligus pengusir binatang buas. Selain itu Vilnar juga tetap mendayung saat malam. Ia hanya beristirahat dan tidur saat siang, kala Ailene terjaga.
Saat musim semi Ailene melahirkan putranya di rumah Vilnar yang terpencil di salah satu anak sungai Ordelahr. Vilnar memberi nama putranya Villam, yang dalam bahasa Hualeg berarti ’batu bercahaya’—batu permata yang terkeras dan terindah—dengan harapan agar kelak ia bisa menjadi lelaki yang tangguh sekaligus menerangi setiap orang di sekitarnya. Nama Vilnar sendiri berarti ’batu hitam’, dan nyatanya batu bercahaya memang hanya bisa diasah dari batu hitam terbaik. Vilnar jelas menginginkan agar putranya kelak bisa menjadi lelaki yang lebih baik daripada dirinya.
Sekarang sudah empat tahun sejak Vilnar pergi dari desanya di Hualeg, dan ia telah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang suami dan ayah. Walau kadang terbersit kerinduan akan kampung halamannya, semakin lama keinginannya untuk kembali semakin meredup. Jika teringat istri dan anaknya, ia tidak ingin lagi hidup sebagai seorang prajurit. Sejak menikah hampir tak pernah lagi ia menyentuh kapak perangnya. Senjata menakutkan itu kini sudah tersimpan di bawah selimut di dalam gudang rumahnya.
Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri tahu, berkat pelajaran kecil tadi, akan ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Anak-anak membubarkan diri lalu berlarian ke sana kemari sesuka hati, mencari buah-buahan yang mereka suka untuk makanan hari ini, dan bermain di tempat favorit masing-masing. Berkejaran di padang rumput, berenang di sungai, bermain bola di lumpur, atau berlompatan di kaki tebing. Dalam sekejap semuanya seolah melupakan dunia mangkok.
Tapi Piri yakin, di sela setiap permainan pasti sempat tercetus celetukan-celetukan kecil. Tak mungkin hal semenarik itu terlupakan begitu saja. Seperti itu jugalah yang terjadi ketika ia dan teman-temannya sedang bergelayutan di dahan pohon allumint.
Vilnar mendayung dengan kewaspadaan penuh. Ia bisa bergerak lebih cepat daripada siapapun di sungai, tapi justru karena itu ia harus berhati-hati pada kawanan Rohgar yang mungkin berkubu di suatu tempat. Rencana Vilnar adalah melewati Rohgar tanpa ketahuan, sekaligus sampai lebih cepat di desa berikutnya dan memperingatkan mereka dari ancaman Rohgar.
Namun sepanjang hari mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Rohgar. Tidak juga desa lain, ataupun para penduduknya. Sepi, hanya ada burung-burung yang berkicau di pucuk-pucuk pepohonan jangkung yang berbaris di sisi kiri maupun kanan sungai. Barulah di hari kedua, perjalanan terasa lebih mendebarkan. Mereka mungkin akan bertemu Rohgar hari ini.
Api masih berkobar membakar reruntuhan setiap rumah yang kini telah menghitam. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas rumput, batu dan pasir di tepi Sungai Ordelahr.
Ini adalah desa kedua yang dilewati Vilnar siang ini, dan sama seperti yang pertama, tak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.
Di samping ini adalah gambar (sebagian) peta dunia kisah The Forgotten Heroes, yang baru saja selesai digores langsung di komputer melalui software Corel Draw 11. Memang masih sangat sederhana, tapi sementara ini cukuplah untuk disisipkan ke hardcopy Buku Satu yang akan coba saya lempar lagi ke penerbit awal tahun depan.
Dengan peta ini semoga para pembaca bisa lebih membayangkan dimana Elniri, negeri asal sang penakluk. Lalu negeri Terran, Melbrond, Haston, dan Maltan. Juga tempat Fabien membangun desanya di utara, letak Kuil Ksatria di Gunung Hohn, dan tanah para penyihir di Lembah Heiszl.
Tapi memang, peta ini belum mencakup lebih jauh lagi ke utara (tempat asal muasal Vilnar dan William), dan jauh ke barat, ke tanah mistis tempat berkeliaran hewan-hewan mitologi, dan juga tempat perang dunia yang sesungguhnya, yang nanti bakal diceritakan di buku-buku selanjutnya.
Aku tak akan bercerita tentang tiga belas tahun pertama kehidupanku yang indah di Belen, atau tiga tahun berikutnya yang gelap—dalam arti kiasan maupun sebenarnya—di tambang batu mulia Narttal. Ceritaku dimulai sepuluh hari setelah aku dipajang di pasar budak Ainthala, kota kecil di perbatasan negeri Madhirian. Ketika aku mendapatkan namaku yang baru.
Namaku Satryo, seorang polisi—sementara ini sebut saja begitu—dan aku harus menginterogasi seorang bocah pagi ini. Seorang gadis berusia tiga belas tahun bernama Tiara. Penyebabnya: ia tiba-tiba meracau di kelasnya kemarin sore. Gadis itu berteriak, “Pak Presiden akan mati ditembak besok malam!”
Terkejut, sudah pasti itulah reaksi pertama guru dan teman-temannya, karena saat itu suasana kelas tengah hening; seluruh siswa sedang sibuk mengerjakan tugas mereka: esai sepanjang satu halaman dengan topik ‘Indonesia 2045: 100 Tahun Setelah Kemerdekaan’. Rencananya, esai yang terbagus nantinya akan dikirim ke Istana Kepresidenan, dan bakal dibacakan langsung oleh Pak Presiden, pada acara khusus malam hari tanggal 16 Agustus 2045.
Malam nanti.
Kalau bocah itu benar, Pak Presiden akan mati malam nanti.
Dunia itu seperti mangkok kayu yang biasa kita pakai untuk makan dan minum. Mereka yang tinggal di lembah seperti hidup di dasarnya, dan deretan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.”
Itulah pelajaran pertama dari Kakek hari ini, dan anak-anak langsung terpana, sebelum kemudian berebutan bertanya, berteriak-teriak seperti biasa. Tapi bukannya menjawab, Kakek malah tertawa. Ia memang selalu lebih suka melihat mereka bertingkah penuh semangat daripada hanya berdiam diri tanpa kata.
Jadi ia membiarkan mereka, sebelum berkata, “Akan Kakek jelaskan sedikit, Anak-anak, dan setelah itu kalian boleh bertanya.”
”Dibanding semua kakakku, aku hanyalah ksatria rendahan. Miskin, bodoh, tak dikenal.” Majikanku menatapku. ”Dan gila, karena hendak menantang manusia paling berbahaya di dunia. Untuk apa? Kau tahu?”
”Dibanding semua kakakku, aku hanyalah ksatria rendahan. Miskin, bodoh, tak dikenal.” Majikanku menatapku. ”Dan gila, karena hendak menantang manusia paling berbahaya di dunia. Untuk apa? Kau tahu?”
Aku diam saja, memandangi dua gundukan tanah di sampingku. Makam kedua orangtua majikanku.
”Kau pikir demi mereka?” Ia menggeleng. ”Aku tak yakin.”
Ia lalu menepuk dadanya. Ada saputangan cinta berwarna putih di balik jubah perangnya. ”Atau demi dia? Aku tak yakin juga.”
Ia tertawa. ”Apapun, aku tetap harus pergi. Ayo, kita temui takdir kita.”
Kubiarkan ia menaiki punggungku. Aku pun meringkik dengan bangga.
Bagi yang berminat membeli buku-buku di atas langsung melalui saya, Anda bisa menghubungi saya di rdvillam@yahoo.com, dengan tak lupa mencantumkan nama dan alamat.