Deleting.
Removing.
New thing.
…
Honing.
Flying.
New sting.
…
Killing.
Posts Tagged “villam’s writing”
Removing. New thing. … Honing. Flying. New sting. … Killing.
Aug
26
2009
About Me & My WritingPosted by: Villam in About Writing, tags: menulis novel, villam's writingSedikit catatan penulisan. Sedikit saja.
Aug
20
2009
Surat Dari PenerbitPosted by: Villam in About Writing, tags: surat penerbit, villam's writing
Jun
25
2009
Wordcount Juni 2009Posted by: Villam in wordcount, tags: Gerbang Sungai Tigris, villam's wordcount, villam's writing
Setelah ini sampai satu atau dua minggu di bulan Juli saya akan melakukan proses edit dan revisi, dan mudah-mudahan di akhir bulan depan itu saya bisa mencoba mengirimkannya ke penerbit, berbarengan dengan naskah Somniterra dan The Forgotten Heroes.
Mar
05
2009
Pesta Darah (Full Version)Posted by: Villam in Cerita, tags: cerita fantasi, Pesta Darah, villam's writing
Feb
26
2009
Bikin Novel Rame-ramePosted by: Villam in Tips Menulis, tags: dian k, menulis novel, novel kolaborasi, Somniterra, villam's writing
—– Tahap pra-penulisan
Feb
17
2009
SomniterraPosted by: Villam in Cerita, tags: dian k, komitmen menulis, Somniterra, villam's writing
Jan
05
2009
Dungeons & Dragons, Here We Come!Posted by: Villam in Lain-lain, tags: cerita fantasi, dungeons dan dragons, profil karakter, villam's writing
I Am A: Lawful Good Human Ranger (4th Level) Ability Scores: Menyambung hasil tes karakter sebelumnya–sesuai masukan ubr, seorang kawan–ini adalah hasil tes lainnya. Selamat mencoba. Lumayan buat lucu-lucuan di awal tahun baru 2009. Semoga sukses, teman-teman! Mari kita songsong tahun baru dengan semangat baru! Make our first step in the first month! Untuk melihat penjelasan mengenai Lawful Good, Human dan Ranger, silakan klik link di bawah ini.
Oct
31
2008
Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 29Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: definisi fantasi, fantasi lokal, The Forgotten Heroes, toko buku, villam's writing
[tab:Hal 2]________________________________________ Kayak Midnight Sun (di vgi nicknya Nataku Yue), ini member cewek yang luar biasa jago dan wise, loe bayangin deh sosok om pur, tapi buang atribut: ‘batangan’, jadul, dan sotoynya heuheuheu ;D, replace dengan atribut: cewek umur 20an, open-minded, berpikiran luas, tapi rada cold-blooded juga sih -_-” Kalo Excel, La Mer, Whiteheaven, ngilang pas peralihan FFDN II ke FFDN III, kayaknya pada males register ulang bikin id baru deh Kalo si Lich, pernah nongol kan di sini? Dia jugak termasuk yg posting di halaman pertama thread FFDN I, wuah udah lama sekali ituh oke, gw ada: Pinissi (Mama Piyo) sebenernya termasuk buku yang mau gw ‘buang’ jugak, tapi gw cinta mati ama gambar-gambar ilustrasinya. Jadi I’ll keep it. Kalo Cardan, walau jumlah halamannya masih utuh, dan bisa dibilang gw benci mati karena gak ada satupun aspek yg positif dari buku ini (selain kovernya gw berminat dengan: sebenernya ada dua judul lagi yg gw penasaran & ngebet banget pengen baca, tapi gak enak hati ama pengarang-pengarangnya yang suka nongol disini heuhueheuheu ;D ________________________________________ ________________________________________ [tab::Hal 3]________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ Dan inilah komen resmi gw (gw akan menyamarkan bbrp poin supaya gak jadi spoiler tapi masih bisa ditangkep lu Pertama-tama, lemme nyembah-nyembah you dulu (haduh, kok browser gw gak bisa buka page icon yak, sialllll [hammer]) Secara keseluruhan, tulisan lu, walaupun gak secanggih si Ewing, gak secakep sang Penandai, dan gak sememikat tulisan si Hege, tetap masih punya pesona tersendiri di mata gw, mungkin karena kesahajaannya. Lu gak terlalu berpusing-pusing mikiran metafora keren buat ditarok dalam tulisan, lu cuma fokus ingin menyampaikan cerita ke pembaca sebaik mungkin dengan bahasa yang jelas dan enak, dan itu bisa dibilang berhasil. Dan dari karya lu gw bisa belajar, kalo ternyata karya fantasi pun bisa dibuat elegan dengan gaya bahasa ‘biasa’. Salud. Kedua, This is it! Kayak beginilah sebuah karya baru layak disebut kolosal! Kavaleri Elniri, konsep ‘pasukan perintis’, yel-yel perang yang keren, buah tuluk, dan lain-lainnya, buat gw elu udah berhasil menunjukkan wawasan kolosal yang mumpuni, terutama tentang aspek-aspek perang (ada seni diplomasi, penaklukan, strategi pemenuhan pangan, ect). Keren. Lu juga udah berhasil mendeskripsikan keperkasaan Antharavai dengan wajar, gak berlebihan. Setiap adegan kemenangan, penyergapan, perang, sudah tergambarkan dengan wajar. Masalah belasan bisa mengalahkan ratusan seperti yg dibilang om pur, itu gak terlalu fatal, masih bisa dimaklumi mengingat yg terjadi disitu adalah penyergapan, dan oleh pendekar-pendekar terkuat pula. Gw suka tiap kali ada orang mati, elu menyebutkan umurnya. Itu kolosal banged heuheu, tapi ada satu karakter penting yg gak lu sebut umur koidnya tuh.. ??? Gw menemukan ada dua tema dominan di TFH: kolosal & romance. Kalo menurut gw kekuatan utama TFH itu ada di romance alih-alih kolosal, secara elu belum menyajikan sesuatu yang benar-benar ‘brilian’ buat tema kolosalnya. Namun begitu, TFH menjadi buku pertama yang berhasil ngebikin mata gw berkaca-kaca merasa terharu, getir, & sedih, sebelumnya belum pernah ada buku yg ampe segitunya. Banyak orang nangis baca LasPeng & AAC, gw sih masih biasa-biasa aja, karena buat gw tema struggle/romance di kedua karya itu masih terhitung standar, atau malah picis (khusus romance AAc huehue). Tapi untuk TFH, gw takluk seutuhnya :-[ gila keren banged! Ini di luar kebiasaan gw, biasanya sebanter-banternya buku maenin emosi gw itu gw cuma sampe sebatas ngakak gila aja, gak pernah sampe bikin terharu/mata berkaca-kaca. Ini luar biasa. TFH gw masukin ke jajaran novel fantasi terbaik yg pernah gw baca, entah itu novel lokal atau luar. Ketebelan bukunya dan penggarapan selama bertahun-tahun sama sekali gak sia-sia. Oh yap, buku ini pun menjadi yang terbaik dari segi plotting, untuk ukuran fantasi lokal yg pernah kubaca, well-done Sekarang, kita masuk ke pertanyaan dan pernyataan gw untuk bbrp hal: 1. Haston, ini kan nama orang (seorang jenderal). Gw agak bingung dengan 'negeri' ini, kok lu gak ngasih nama buat wilayahnya? Di bukunya lu Cuma nyebut wilayah/negeri Haston, well ini gak gitu jadi masalah sih.. 2. Tentang adegan final protagonis utama ngelawan antagonis utama, gw rada kurang puas dengan cara elu mengeksekusi adegan itu buat muncul. Terlalu biasa, padahal bisa dibuat lebih dramatis lagi. Kalo gw yg bikin 3. Naming! Fabian is way too pretty for a warrior name. Serge dan Helmut, itu dua nama super-keren buat ukuran pendekar, bahkan mengalahkan image Kain dan Seth gw heuheu. Gw langsung bisa membayangkan keperkasaan mereka sekali denger namanya. Tapi Fabian? Agak-agak gimanaaa gitu, apalagi dalam bukunya lu bikin dia sebagai penerus Serge dan Helmut, dan sekaligus sebagai si 'penantang' antagonis utama. Tak bisakah mencari nama lain yg berkesan lebih jantan dan perkasa? ^-^ 4. Peta, ini mutlak kudu ada kalo bukunya terbit. Lu udah bikin kan? Gw pusing nyimak strategi Anthravai & Thorsti di bab 24, tapi untung strategi itu pada akhirnya mubazir, heuheu 5. Ada beberapa kalimat yang salah/kurang kata tuh... tapi ini kayaknya udah dikoreksi si Fred kan? 6. Kritik utama: masalah pendeksripsian adegan perang yg berulang-ulang sama, yg dulu gw nyatakan terlalu standar karena cuma ngomongin jumlah pasukan dan emosi sang pemimpin pasukan, ternyata ke belakangnya masih Adegan Fabian pertama kali yang jaman dulu gw bilang membosankan, sekarang udah lu modif jadi menarik, salut itu ide Bunga di Atas Perahu-nya, bener-bener mengesankan heuheu. Beres baca TFH, gw percaya naskah ini akan (harus!) terbit suatu saat nanti, bagaimanapun dan apapun caranya [biggrin] Gw malah jadi gregetan dengan selera penerbit sini, mereka terus berkoar-koar belum ada dan gak bakalan pernah ada naskah sini yang setara LOTR, atau tentang keburukan/kepayahan penulis lokal yang cenderung mengadopsi setting luar bukannya milih setting lokal, namun ketika ada naskah anak bangsa yang kualitasnya sedikit-banyak mengimbangi panutan mereka–LOTR (TFH, dengan segala kelebihannya, gw berani bilang setara dengan buku pertama LOTR), dengan tololnya mereka menolak naskah itu dengan penilaian dangkal mereka, dan malah Ini bener-bener suatu kesalahan, sangat salah dan sangat bodoh. Menyedihkan [ranting] Dari sini gw jadi sepakat dengan omongan si Jeff dulu, Tolkien, kalo idup di indonesia dan mengirimkan LOTR-nya hari gini ke penerbit sini, bisa jadi gak bakalan pernah terbit, boro-boro meledak. ;D Masih pantas lha kalo mereka menolak naskah gw yg emang punya segudang cacat, tapi TFH? Ini ketololan yg tak bisa dimaafkan, dan kayaknya Cuma elu sendiri yang bisa menghadapinya, bro. Kalau memang udah gak ada Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed), silakan gunakan thread ini untuk promosi kalau nanti diterbitkan, dan jangan ragu buat minta bantuan dari gw ke depannya nanti, selama gw bisa membantu, i’ll be here to support you always, villam my good friend ^-^ Salam Pedang! Note: TFH kalo di word, dengan patokan jenis huruf news roman spasi 1,5 ukuran 12, itu brp halaman sih? Jangan jawab pake jumlah kata pliss, itu sama sekali tidak menunjukkan jawaban jelas >_< ________________________________________ Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed) Kalau gw, terkesan dengan effort rey dalam menggarap review-nya TFH selama berjam-jam (yg hasilnya–yaitu versi yg dikirim ke tret–bener-bener rapi & jelas kalimat maupun idenya). [tab::Hal 4]________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ seperti usulan fred contohnya, gue emang mau kasih beberapa twist tambahan di tengah dan terutama akhir cerita. ada subplot yang rencananya baru kebuka di buku selanjutnya, tapi memang lebih baik dibuka lebih cepat di buku pertama. ini emang bener2 kesalahan gue, yang kurang memberikan teaser yang sebenarnya sudah ada tapi belon digali. sebenernya selain beberapa kelemahan itu, ada satu hal sih, yang terutama bikin penerbit ketakutan. yaitu panjang cerita, dan karena ceritanya adalah bagian dari cerita panjang yang belon selesai. Coba bayangin aja, jika penerbit harus memilih dua cerita: satu pendek dan satu panjang, tentunya dia merasa lebih aman buat nerbitin cerita yang dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman. ________________________________________ ________________________________________ Ledgard emang sarat intrik, tapi buat gw intrik-intriknya gak napsuin, somehow Kalo menurut gw kenapa penerbit takut buku ini gak laku, itu yg pertama dan terutama karena ketebalannya. Ledgard bisa terbit karena dia beruntung dikirim beberapa tahun lalu, waktu naskah fantasi belum terlalu familir di mata penerbit lokal, jadi bisa dianggap cukup langka, dan udah gitu isinya gak jelek-jelek amat pulak. Kalo sekarang mah, Kedua, setting & naming yg gak user friendly/kurang ‘universal’. Buat gw sih, Anthravai, Elniri, Hadjuk, Hotas, itu nama-nama keren yang amat orisinil. Tapi buat orang laen? Bisa jadi aneh, terlalu ajaib dan gak enak dibaca. Ketiga, penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak. Quote ga bisa diukur gitu juga ah, kata ‘di’ dan kata ‘dipertanggung-jawabkannya’ sama-sama terhitung 1 kata, tapi bobotnya Quote jangan dah, kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish. [tab:Hal 5]________________________________________ ________________________________________ Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak. huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah… Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish. betul. cobain nembus lewat cerita laen dulu. tapi revisi TFH juga tetep jalan, sebelum ide-idenya menghilang. ________________________________________ /Fantasy is a genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element of plot, theme, and/or setting. Fantasy is generally distinguished from science fiction and horror by the expectation that it steers clear of technological and macabre themes, respectively, though there is a great deal of overlap between the three (collectively known as speculative fiction). /yang artinya: Kalo Juunishi nganggep kemampuan Elektra nyetrum orang agak mirip ama fenomena manusia magnet yg bisa bkn sendok dll nempel di badannya sih boleh-boleh aja. Tapi apa semua orang bisa ngelakuin hal itu? Enggak kan? Jadi baik kemampuan/abilty nyetrum orang atau nempelin logam ke badan, menurut gwe adalah salah satu bentuk kekutan supernatural, gak harus sihir doang. Kemudian, apabila apa yang kita rencanakan, tulis, atau impikan terjadi di dunia nyata, gw rasa itu bukan “kebetulan” tapi “takdir”. Dan “takdir” atau seolah-olah “kebetulan” itu seringkali menjadi elemen penting dalam cerita fantasy. Di HEROES, satu karakter dengan karakter lainnya bertemu dan saling terkait karena mereka di-”takdir”-kan oleh [tab:Hal 6]________________________________________ soal naskah: soal naming: soal jalan cerita: kesimpulan: ________________________________________ hmmmm ‘sesuatu yang lain’ di lemures gw apa yah? Palingan gaya bahasa mautnya ;D Quote Yang sekarang sih emang udah rada mendingan daripada yg dulu. Tapi tetap aja bagian awal-awalnya itu bakal jadi ‘anti-tema’ buat psikologi orang indo kebanyakan, apalagi di mata penerbit. Penerbit itu biasanya gak sabaran, baru baca beberapa bab awal, udah langsung mengecap keseluruhan novel itu kayak gimana. Gw kira penerbit yg dulu nerima kiriman TFH Cuma baca beberapa bab awal TFH aja (taroan deh, pasti gak bakalan ada yg baca ampe tamat), dan langsung ngecap isinya murni tentang gerakan invasi bangsa barbar dengan penggambaran yg barbar pulak, begitu terus sampe tamat. Padahal TFH kan gak gitu, dan ternyata kehidupan biadab itu cuma terjadi di pihak antagonis. Terkait materi novel, gw kira setiap penerbit punya alarm warning yang jauh lebih sensitif daripada alarm para penulis: dan warning ini biasanya mencakup tema-tema tabu semacam SARA, politik, kekerasan, sampe seks. Di TFH, alarmnya berbunyi nyaring pas Anthravai sebagai tokoh sentral (sejauh cerita bergulir) ngebelah kepala Yergai ;D Quote Gw bener-bener sirik dengan orang-orang yg kepalanya selalu dipenuhi berbagai ide, secara gw ini penulis yg miskin ide! Payah dah, padahal gw rajin baca novel, baca artikel wikipedia, nyimak berita di TV/koran, knp masih mentok ide? Quote Astaga, kalo gitu berarti Lemures gw sama sekali bukan fantasi ________________________________________ ________________________________________ Pada alternate reality, menjadi sebuah spekulasi yang ‘menggairahkan’ untuk tahu bagaimana manusia bertindak, bagaimana bereaksi terhadap situasi-situasi unik. Misalnya aku bayangin diri menjadi Bima (nya Mak-mak), apa reaksiku jika tiba-tiba saja Malioboro menjadi ‘senyap’? Woow, gile banget konsepnya etc-etc. So, dalam setiap novel fantasy, setting alternate reality itulah yang menjadi panggung utama. Dan tentunya yg namanya panggung ya harus kuat dan kokoh. Kalo ringkih, baru buat goyang ngebor sekali aja langsung roboh. Jadi kalo masih memakai setting kehidupan yang here and now, sebuah novel hardly dikatakan sebagai Fantasy sekalipun mengandung seorang tokoh yg mampu ‘menyihir’, misalnya. Karena belum tentu kemampuan sihir Juga kalo alternate realitynya masih ngga terlalu jauh dengan kehidupan nyata (masih memungkinkan terjadi di dunia nyata), maka nilai fantasy-nya menjadi turun. Sebagai contoh novel lanang, (bukan mo ngajak berantem orang Nah menurut gue sih, Lemures termasuk dalam Fantasy karena mengandung setting alternatif yg bukan di setting kita sekarang ini. Kenapa PG gak gue anggap fantasy, sebab PG berlangsung dalam setting kita sekarang, walaupun ada sedikit-sedikit bagian yang menyentuh alternate reality, tapi gak dominan. [tab:Hal 7]________________________________________ kenapa? karena untuk dapat terbang, selain membutuhkan sayap yang lebar, trus ekor, ekor disini harus lebar karena digunakan untuk mengatur ________________________________________ ________________________________________ @vadis, tentang TFH, setelah melewati masa perenungan (halah), penting bagi gue untuk tanya kiri kanan dan gak sekedar maen kirim doang. Alhamdulillah kalo ternyata bisa langsung terbit memang, tetapi hanya sekedar ‘diterbitkan’ bukanlah tujuan utama gue. gue pengen itu bisa jadi karya yang baik dengan tetap berciri gue (ini penting buat gue), dihargai banyak orang walau mungkin tidak semuanya suka, juga tidak sekedar memenuhi selera ‘layak jual’ dari sang @rey n dian, @all, ________________________________________ sedangkan burung babi hutan itu sepertinya kreasi original. dengan ilmu kedokteran hewan dan ilmu penerbangan yang sudah semaju ini, masak ga bisa bikin mahluk fantasi yang lebih logis? ingat setting Lanang adalah di Bumi, bukan alternate universe jadi paling enggak harus sedikit mengikuti rules dan hukum-hukum alam yang ada di bumi (kalau mau dibuat melenceng, harus disertai penjelasan khusus). kalo setting-nya di alternate universe, mau bikin mahluk yang seperti apa saja silahkan. ________________________________________
Oct
31
2008
Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 28Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: cardan, fantasi lokal, kastil fantasi, pendekar garuda, The Forgotten Heroes, villam's writing
[tab:Hal 2]________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ ________________________________________ Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha, Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan? Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan) Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen. Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya. note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal [tab:Hal 3]________________________________________ Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah: Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he. @Fred, ________________________________________ ________________________________________ Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak? Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum. ________________________________________ @ Villam ________________________________________ @ Villam Hah?! Beneran?! ________________________________________ Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb. Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile). [tab:Hal 4]________________________________________ Intinya komen gw tentang TFH buku 1: ________________________________________ yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini: http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/ silakan dilihat. thank you so much, fred, atas kritikannya! ________________________________________ ________________________________________ Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud. Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”. ________________________________________ ________________________________________ tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita. Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech) ________________________________________ Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup] [tab:Hal 5]________________________________________ Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif. Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah? Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu. Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita. Begitu deh kira2… ________________________________________ ________________________________________ Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin] Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!). Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu. Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal. Quote Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ??? Quote Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain: 1. Selera 2. Akses Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah. Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya. Quote Tumben lu pinter fred [thumbsup] [tab:Hal 6]________________________________________ ________________________________________ Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D ________________________________________ ________________________________________ Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank. @Ewing, ________________________________________ Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu. @Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini. Cardan, hal. 1 – 2: Langit malam ini sangat indah,…… dst Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,…. Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,….. Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini. Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya. Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud. OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali). Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting) Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut: /Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. /Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. /Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. /Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh. So, the whole paragraf is a mess!! Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi: /Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. /Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich? So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…) Salam, [tab:Hal 7]________________________________________ Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll. Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas… ________________________________________ Ning-nong!!! ________________________________________ Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega. ________________________________________ Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi, Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri. He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya. apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam ________________________________________ Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN @om pur Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin] Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin] Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas @ewing, |