Posts Tagged “villam’s writing”

ebiet g adeDeleting.

Removing.

New thing.

Honing.

Flying.

New sting.

Killing.

Comments 14 Comments »

greeneyescatMe & My Writing

Sedikit catatan penulisan. Sedikit saja. :-)

Comments No Comments »

hahaha-lulzBeberapa hari yang lalu saya menerima kiriman dari penerbit, yang sebulan sebelumnya memang sudah menjadi sasaran tembak dua buah naskah saya. Saya tidak sempat berpikir kenapa jawaban dari mereka bisa datang begitu cepat. Bertentangan dengan slogan ‘lebih cepat lebih baik’, dalam soal ini—konon—yang cepat berarti buruk.

Read the rest of this entry »

Comments 18 Comments »

TigrisProses Wordcount Juni 2009 saya hentikan hari ini, tanggal 25 Juni 2009, pada posisi 25.436 kata. Penyebabnya, karena pada titik itu Gerbang Sungai Tigris (GST) akhirnya berhasil diselesaikan. Heheh…

Setelah ini sampai satu atau dua minggu di bulan Juli saya akan melakukan proses edit dan revisi, dan mudah-mudahan di akhir bulan depan itu saya bisa mencoba mengirimkannya ke penerbit, berbarengan dengan naskah Somniterra dan The Forgotten Heroes.

Read the rest of this entry »

Comments 7 Comments »

bloodKalian tentu tahu, bulan penuh menjelang akhir tahun adalah saat yang paling ditunggu oleh raja. Inilah saatnya berpesta. Pesta khusus sebagai penghargaan untuk kalian, yang tentu saja harus lebih akbar dibanding pesta untuk para bangsawan pada sebelas purnama sebelumnya, apalagi jika disandingkan dengan pesta keluarga kerajaan yang diselenggarakan setiap awal bulan. Dan jika kalian tetap saja mengira pesta yang aku sebutkan terakhir itu hanyalah sebuah pesta kecil, sehingga pesta yang akan kalian datangi nanti pun hanya pesta biasa, maka biar aku katakan di sini: jumlah mereka yang hadir di pesta keluarga kerajaan terakhir mencapai lima ratus orang!

Read the rest of this entry »

Comments 11 Comments »

00028538Di bawah ini adalah tulisan dian k, yang dimuat di salah satu tret Pulau Penulis, mengenai sedikit pengalaman dalam membuat dan menyelesaikan sebuah novel kolaborasi. Semoga bermanfaat.

—–

Tahap pra-penulisan
1. Kenali mitra (skill, gaya tulisan, pribadi, mimpi, motivasinya); kalau bisa sebelum kita memilih seseorang menjadi mitra, kita sudah harus mengenalnya dengan baik. Ini sangat berguna pada saat sharing ide, karena penyampaiannya akan lebih mudah kalau kita sudah mengenal karakter mitra kita.

Read the rest of this entry »

Comments 16 Comments »

padang-rumputZahra tak pernah mengira kalau Reno, tokoh khayalannya sendiri, ternyata menginginkan kematiannya. Ia berusaha lari dari pria itu, tetapi sia-sia. Sampai suatu saat ia masuk ke Somniterra, dan belajar bahwa satu-satunya cara mempertahankan hidupnya adalah dengan melawan. Masalahnya, untuk mengalahkan Reno, ia harus menghadapi dirinya sendiri.

Read the rest of this entry »

Comments 35 Comments »

thumb_roguem118

I Am A: Lawful Good Human Ranger (4th Level)

Ability Scores:
Strength-14
Dexterity-14
Constitution-17
Intelligence-16
Wisdom-14
Charisma-15

Menyambung hasil tes karakter sebelumnya–sesuai masukan ubr, seorang kawan–ini adalah hasil tes lainnya. Selamat mencoba. Lumayan buat lucu-lucuan di awal tahun baru 2009.

Semoga sukses, teman-teman! Mari kita songsong tahun baru dengan semangat baru! Make our first step in the first month!

Untuk melihat penjelasan mengenai Lawful Good, Human dan Ranger, silakan klik link di bawah ini.

Read the rest of this entry »

Comments 81 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXIX (10 Ags 2008 – 20 Ags 2008)
• Tentang koleksi novel-novel fantasi lokal
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh BloodSin
• Definisi kisah Fantasi
• Tentang waktu tampil novel fantasi lokal di toko-toko buku

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 11:05:06 pm
________________________________________
Quote
Rey, member2 lama (yg gw gak kenal) koq gak muncul2 lagi ya?
Diajak maen2 lagi ke sini dong biar bisa kenalan juga sama member2 baru yang keren2 ini!
Kebanyakan keknya udah pada ‘mokad’ deh as writer.

Kayak Midnight Sun (di vgi nicknya Nataku Yue), ini member cewek yang luar biasa jago dan wise, loe bayangin deh sosok om pur, tapi buang atribut: ‘batangan’, jadul, dan sotoynya heuheuheu ;D, replace dengan atribut: cewek umur 20an, open-minded, berpikiran luas, tapi rada cold-blooded juga sih -_-”
Postingan-postingannya enak dibaca, subjektif, mencerahkan kalbu (halah! ;D), dan berbobot [thumbsup]
Beliau kayaknya telah disibukkan dengan pekerjaan, soalnya ngilang pas dia baru aja lulus kuliah dan masuk kerja :(

Kalo Excel, La Mer, Whiteheaven, ngilang pas peralihan FFDN II ke FFDN III, kayaknya pada males register ulang bikin id baru deh :D

Kalo si Lich, pernah nongol kan di sini? Dia jugak termasuk yg posting di halaman pertama thread FFDN I, wuah udah lama sekali ituh

oke, gw ada:
1. Janos–Legend of Arctic Empire, tipe ‘sci-fi’–tanda kutip di sini merepresentasikan banyak hal ;D (Hadiyanto, kalo belum dicopot sekarang beliau ini masih kepala asslab binus lho [thumbsup])
2. Nightfall–The Element Location, tipe RPN (Rizky YS, jebolan Trisakti)
3. Numeric Uno–Legenda Sang Cahaya Zeta, tipe petualangan luar angkasa, mirip hozzoh (DewiS)
4. Ledgard–Musuh dari Balik Kabut, tipe RPN-kolosal (WD Yoga)
5. Negara Kelima, novel sejarah (Es Ito)

Pinissi (Mama Piyo) sebenernya termasuk buku yang mau gw ‘buang’ jugak, tapi gw cinta mati ama gambar-gambar ilustrasinya. Jadi I’ll keep it. :)

Kalo Cardan, walau jumlah halamannya masih utuh, dan bisa dibilang gw benci mati karena gak ada satupun aspek yg positif dari buku ini (selain kovernya :P ), kayaknya gw gak cukup ati buat ngebarter, secara bukunya udah compang-camping, halamannya pada copot (kualitas jilidnya jelek banged!)

gw berminat dengan:
1. Phoenix–Mahkota dalam Negeri Azura
2. Corruption
3. Reinhart
4. Cincin Oleodeo
6. Para Penunggang Petir
7. dan fantasi-fantasi lokal lain dengan setting non-lokal, dan bukan semi teenlit >_<

sebenernya ada dua judul lagi yg gw penasaran & ngebet banget pengen baca, tapi gak enak hati ama pengarang-pengarangnya yang suka nongol disini heuhueheuheu ;D
well, kalo ada yang minat.. ^-^

________________________________________
Post by: fr3d on August 11, 2008, 09:30:44 am
________________________________________
Sang Penandai dibarter (baca: jual murah) aja tuh ke om pur atau si piet! [rolleyes]
Btw, phoenix dan corruption yang gw pernah baca itu punya co-author gw, rey.
Dia sih gak mungkin ngebarter corruption (buku ini kayaknya masih dijual loh di beberapa toko buku gramedia, tapi kudu rajin nyarinya, soalnya ditaruhnya ngasal, kadang di fiksi lokal, kadang di fiksi asing, atau malah di buku impor :D ).
Nah, kalo phoenix, ntar gw coba tanyain deh. Dia kayaknya rela2 aja tuh ngebuang jauh2 buku itu… Wkwkwk! ;D

________________________________________
Post by: BloodSin on August 11, 2008, 09:55:12 am
________________________________________
Yang jelas, buku-buku lokal yg mau gw simpen ampe akhir hayat itu:
goran, sang penandai, hozzo, narend ama zauri [biggrin]
yodah kapan-kapan kalo ada gathering, tinggal dibarter lha tuh phoenix-nya [biggrin]

[tab::Hal 3]________________________________________
Post by: clickdian on August 15, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Guys, ada buku baru nih, Magician Guild. Harganya skitar 70-an, naga2nya sih bagus :D
Ada yg udah pernah denger? Kyknya isinya pure fantasy.

________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 03:48:09 pm
________________________________________
Magician Guild itu novel lokal atau terjemahan, mba dian?

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 15, 2008, 05:10:45 pm
________________________________________
kayaknya terjemahan tuh.
gue belon liat sih, udah lama gak ke gramedia.
belakangan rada depresi kalo ke toko buku soalnya. sebegitu banyak buku, gak ada satupun tulisan gue. ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 05:15:28 pm
________________________________________
Rasanya kepengen banget nyalain korek, trus dilempar deh ke salah satu tumpukan! 8)
Apalagi kalau ngerasa buku2 lain lebih jelek daripada buku kita, ya nggak, villam? ^-^
;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 10:42:15 am
________________________________________
Hmm… kalau Supernova dan komik Tony Wong ada yang menganggap fantasi, jadi sekarang definisi karya fantasi sebenernya apa dong? ???

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
________________________________________
Villam, semalam gw baru beres baca TFH loe, itu terhitung dari tiga hari terakhir ini gw fokus ngabisin TFH heuheu [biggrin]

Dan inilah komen resmi gw (gw akan menyamarkan bbrp poin supaya gak jadi spoiler tapi masih bisa ditangkep lu :D ):

Pertama-tama, lemme nyembah-nyembah you dulu (haduh, kok browser gw gak bisa buka page icon yak, sialllll [hammer])
Thanks a lot karena lu udah mengijinkan gw baca masterpiece lu, heheh.

Secara keseluruhan, tulisan lu, walaupun gak secanggih si Ewing, gak secakep sang Penandai, dan gak sememikat tulisan si Hege, tetap masih punya pesona tersendiri di mata gw, mungkin karena kesahajaannya. Lu gak terlalu berpusing-pusing mikiran metafora keren buat ditarok dalam tulisan, lu cuma fokus ingin menyampaikan cerita ke pembaca sebaik mungkin dengan bahasa yang jelas dan enak, dan itu bisa dibilang berhasil. Dan dari karya lu gw bisa belajar, kalo ternyata karya fantasi pun bisa dibuat elegan dengan gaya bahasa ‘biasa’. Salud.

Kedua, This is it! Kayak beginilah sebuah karya baru layak disebut kolosal! Kavaleri Elniri, konsep ‘pasukan perintis’, yel-yel perang yang keren, buah tuluk, dan lain-lainnya, buat gw elu udah berhasil menunjukkan wawasan kolosal yang mumpuni, terutama tentang aspek-aspek perang (ada seni diplomasi, penaklukan, strategi pemenuhan pangan, ect). Keren. Lu juga udah berhasil mendeskripsikan keperkasaan Antharavai dengan wajar, gak berlebihan. Setiap adegan kemenangan, penyergapan, perang, sudah tergambarkan dengan wajar. Masalah belasan bisa mengalahkan ratusan seperti yg dibilang om pur, itu gak terlalu fatal, masih bisa dimaklumi mengingat yg terjadi disitu adalah penyergapan, dan oleh pendekar-pendekar terkuat pula.

Gw suka tiap kali ada orang mati, elu menyebutkan umurnya. Itu kolosal banged heuheu, tapi ada satu karakter penting yg gak lu sebut umur koidnya tuh.. ???

Gw menemukan ada dua tema dominan di TFH: kolosal & romance.

Kalo menurut gw kekuatan utama TFH itu ada di romance alih-alih kolosal, secara elu belum menyajikan sesuatu yang benar-benar ‘brilian’ buat tema kolosalnya. Namun begitu, TFH menjadi buku pertama yang berhasil ngebikin mata gw berkaca-kaca merasa terharu, getir, & sedih, sebelumnya belum pernah ada buku yg ampe segitunya. Banyak orang nangis baca LasPeng & AAC, gw sih masih biasa-biasa aja, karena buat gw tema struggle/romance di kedua karya itu masih terhitung standar, atau malah picis (khusus romance AAc huehue). Tapi untuk TFH, gw takluk seutuhnya :-[ gila keren banged!

Ini di luar kebiasaan gw, biasanya sebanter-banternya buku maenin emosi gw itu gw cuma sampe sebatas ngakak gila aja, gak pernah sampe bikin terharu/mata berkaca-kaca. Ini luar biasa.

TFH gw masukin ke jajaran novel fantasi terbaik yg pernah gw baca, entah itu novel lokal atau luar. Ketebelan bukunya dan penggarapan selama bertahun-tahun sama sekali gak sia-sia. Oh yap, buku ini pun menjadi yang terbaik dari segi plotting, untuk ukuran fantasi lokal yg pernah kubaca, well-done :)

Sekarang, kita masuk ke pertanyaan dan pernyataan gw untuk bbrp hal:

1. Haston, ini kan nama orang (seorang jenderal). Gw agak bingung dengan 'negeri' ini, kok lu gak ngasih nama buat wilayahnya? Di bukunya lu Cuma nyebut wilayah/negeri Haston, well ini gak gitu jadi masalah sih..

2. Tentang adegan final protagonis utama ngelawan antagonis utama, gw rada kurang puas dengan cara elu mengeksekusi adegan itu buat muncul. Terlalu biasa, padahal bisa dibuat lebih dramatis lagi. Kalo gw yg bikin
TFH, gw akan menceritakan si protagonis membangun Tirevr dan menempatinya sedemikian lama, sampe akhirnya keberadaannya diendus oleh si antagonis yg (ceritanya) sedang mengadakan suatu ekspedisi perjalanan menuju suatu tempat yg gak jauh dari Tirevr. Nah di situ si antagonis seperti biasa, menantang seseorang dari desa untuk duel one by one, dan keluarlah si protagonis dengan gagah berani dalam rangka membela desanya heuheu. Jadi effort si protagonis buat melawan si antagonis akan kerasa lebih mengesankan, karena disitu ia melindungi orang-orang yg
dicintainya, terutama Amelia. Well, itu versi imajinasi gw sih :P

3. Naming! Fabian is way too pretty for a warrior name. Serge dan Helmut, itu dua nama super-keren buat ukuran pendekar, bahkan mengalahkan image Kain dan Seth gw heuheu. Gw langsung bisa membayangkan keperkasaan mereka sekali denger namanya. Tapi Fabian? Agak-agak gimanaaa gitu, apalagi dalam bukunya lu bikin dia sebagai penerus Serge dan Helmut, dan sekaligus sebagai si 'penantang' antagonis utama. Tak bisakah mencari nama lain yg berkesan lebih jantan dan perkasa? ^-^

4. Peta, ini mutlak kudu ada kalo bukunya terbit. Lu udah bikin kan? Gw pusing nyimak strategi Anthravai & Thorsti di bab 24, tapi untung strategi itu pada akhirnya mubazir, heuheu :D
(eniwei, daripada Serge dan Helmut, gw lebih suka Anthravai & Thorsti)

5. Ada beberapa kalimat yang salah/kurang kata tuh... tapi ini kayaknya udah dikoreksi si Fred kan?

6. Kritik utama: masalah pendeksripsian adegan perang yg berulang-ulang sama, yg dulu gw nyatakan terlalu standar karena cuma ngomongin jumlah pasukan dan emosi sang pemimpin pasukan, ternyata ke belakangnya masih
tetap begitu heuheu. Waktu awal-awal baca gw liat daftar isi ada judul bab kayak 'Perangkap Helmut', gw udah ngebayangin bakal seru banged tuh disitu, pasti ada strategi perang keren khas villam, eh tauknya itu pun masih strategi standar-_-"
Tapi oke lha, setelah baca keseluruhan buku, adegan-adegan standar ini tertolong dengan plottingnya yang terencana sangat matang, sehingga naskah ini menjadi sama sekali tidak membosankan. Ada banyak adegan mengharukan dan mengesankan dalam naskah ini, kayak 'Bunga di Atas Perahu', 'Kenangan Terakhir', 'Quazar dan Ksatria', dan subplot-subplot menarik kayak Kuil Ksatria, pembangunan desa Tirevr. Gw nyembah-nyembah salut dah, sekali lagi.

Adegan Fabian pertama kali yang jaman dulu gw bilang membosankan, sekarang udah lu modif jadi menarik, salut itu ide Bunga di Atas Perahu-nya, bener-bener mengesankan heuheu.

Beres baca TFH, gw percaya naskah ini akan (harus!) terbit suatu saat nanti, bagaimanapun dan apapun caranya [biggrin]

Gw malah jadi gregetan dengan selera penerbit sini, mereka terus berkoar-koar belum ada dan gak bakalan pernah ada naskah sini yang setara LOTR, atau tentang keburukan/kepayahan penulis lokal yang cenderung mengadopsi setting luar bukannya milih setting lokal, namun ketika ada naskah anak bangsa yang kualitasnya sedikit-banyak mengimbangi panutan mereka–LOTR (TFH, dengan segala kelebihannya, gw berani bilang setara dengan buku pertama LOTR), dengan tololnya mereka menolak naskah itu dengan penilaian dangkal mereka, dan malah
menerbitkan naskah-naskah sampah yang gak layak baca. Gw udah baca 2 naskah kolosal ‘pilihan’ para penerbit sini yang ‘konon’ mirip LOTR, tapi apa yang gw dapat? Membosankan dan bikin ilpil. Sial, apakah standar dan selera gw sedemikian spesifiknya di sini sampe-sampe cuma gw sebagai pembaca yg ngerasa gregetan ginih TFH gak diapprove penerbit, sementara Ledgard yang ke-kolosal-annya konyol begitu bisa terbit dan sampe diagungkan oleh banyak pembacanya? ???

Ini bener-bener suatu kesalahan, sangat salah dan sangat bodoh. Menyedihkan [ranting]

Dari sini gw jadi sepakat dengan omongan si Jeff dulu, Tolkien, kalo idup di indonesia dan mengirimkan LOTR-nya hari gini ke penerbit sini, bisa jadi gak bakalan pernah terbit, boro-boro meledak. ;D

Masih pantas lha kalo mereka menolak naskah gw yg emang punya segudang cacat, tapi TFH? Ini ketololan yg tak bisa dimaafkan, dan kayaknya Cuma elu sendiri yang bisa menghadapinya, bro. Kalau memang udah gak ada
jalan buat TFH, self publishing patut dicoba, setidaknya lu udah punya nama di k.com & pulpen, tinggal merambah ke komunitas-komunitas penulis lainnya aja buat promosi. Tapi ketebelan naskah juga bakal jadi kendala utama, sih.

Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed), silakan gunakan thread ini untuk promosi kalau nanti diterbitkan, dan jangan ragu buat minta bantuan dari gw ke depannya nanti, selama gw bisa membantu, i’ll be here to support you always, villam my good friend ^-^

Salam Pedang!

Note: TFH kalo di word, dengan patokan jenis huruf news roman spasi 1,5 ukuran 12, itu brp halaman sih? Jangan jawab pake jumlah kata pliss, itu sama sekali tidak menunjukkan jawaban jelas >_<

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 12:02:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am

Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed)

Kalau gw, terkesan dengan effort rey dalam menggarap review-nya TFH selama berjam-jam (yg hasilnya–yaitu versi yg dikirim ke tret–bener-bener rapi & jelas kalimat maupun idenya).
Wkwkwk! Peace ya, bro! ;D
Salam pedang juga, ah! 8)

[tab::Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 12:48:28 pm
________________________________________
Gw bikin repiu itu cepet kok fred, secara gw nulisnya dalam keadaan bersemangat abis baca novelnya heuheu..
Kalo menurut lu, Ledgard ama TFH bagusan mana?
Kalo kudu dikasi nilai dari skala 1-10, ledgard brp TFH brp? [biggrin]

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:08:28 pm
________________________________________
Susaaah… :-\
Ledgard, meski banyak kelemahannya, buat gw ada keunggulannya pula. TFH juga gitu.
Kalau secara overall (seluruh aspek novel), kayaknya emang TFH nilainya lebih baik.
Tapi, secara aspek komersil (“menjual”), Ledgard yang menang.
Harus minta pendapat orang ketiga (om pur) nih. ;D

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
iyahhh setuju, kemasan Ledgard memang jauh lebih komersil daripada TFH, dan ini yg bikin gw sebel.
Kualitas harus selalu dikorbankan dan kalah dengan komersialitas (eh emang ada kata ini :D ).
Itulah kenapa hari gini sinetron indo kian menjamur, dan serial barat jadi makin sedikit tayang di indo :-\

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:21:47 pm
________________________________________
Kalau gw boleh menduga-duga (ya boleh lah!), TFH belum dapat penerbit karena sisi komersialitasnya itu.
Buat para penerbit, ada sesuatu di TFH yang membuat novel itu gak bakalan laku kalau dilempar ke pasar.
Apaan tuh?
Kalau komen gw ke villam sih, itu dari segi plotnya. Plot TFH terlalu lurus dan kurang intrik.
Kalau villam berani ngasih twist sedikit aja (khususnya di bagian2 ending), pasti nilainya langsung berubah. [bigwink]

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 01:47:29 pm
________________________________________
heheheh…
akhirnya lengkap juga tiga orang dah ngasih repiew TFH. (sebenarnya ada satu orang lagi nih yang udah dikasih draftnya: si serpentwitch. Sayang dia dah gak pernah nongol lagi :-( .
dan ada juga satu orang lagi sebenarnya…
but eniwei, om pur, fred, dan rey, thank you very much!
gue udah catet semua masukan-masukannya. ide-ide baru udah menari-nari di kepala, dan dalam waktu dekat bakal gue mulai proses revisi berikutnya. bakal ada penambahan dan perubahan muatan sebanyak kira2 20%.

seperti usulan fred contohnya, gue emang mau kasih beberapa twist tambahan di tengah dan terutama akhir cerita. ada subplot yang rencananya baru kebuka di buku selanjutnya, tapi memang lebih baik dibuka lebih cepat di buku pertama. ini emang bener2 kesalahan gue, yang kurang memberikan teaser yang sebenarnya sudah ada tapi belon digali.
masih belon yakin sih apakah itu berarti ceritanya bisa jadi lebih ‘menjual’ sesuai dengan selera penerbit atau kebanyakan pembaca (ini bener-bener ukuran yang sangat sangat sangat sulit bagi gue, secara selera gue emang banyak bedanya dibanding mereka), tapi paling gak gue berusaha agar ceritanya jadi kelihatan lebih baik.

sebenernya selain beberapa kelemahan itu, ada satu hal sih, yang terutama bikin penerbit ketakutan. yaitu panjang cerita, dan karena ceritanya adalah bagian dari cerita panjang yang belon selesai. Coba bayangin aja, jika penerbit harus memilih dua cerita: satu pendek dan satu panjang, tentunya dia merasa lebih aman buat nerbitin cerita yang
pendek. apalgi kalo penulisnya masih pemula dan belon dikenal.

dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
ntar di cover depan ditulis: Go Green. biar kesannya kita lagi ngehemat kertas (halah…).
tapi emang gitu kok kenyataannya: lebih hemat kertas, cuma 100 lembar dibanding 400 lembar. hahaha… buat ngetes…
yeah, intinya… buat terus ngebakar semangat agar tidak padam.
yuk terus menulis.
salam pedang!
(buset. gue mesti siapin bahasa elniri buat istilah ini!)

________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 02:10:22 pm
________________________________________
Tentang tebel naskah, kalau villam emang yakin TFH punya “sesuatu yang lain”, rasanya 400 hlm masih bisa dimaklumi deh sama penerbit. (*sotoy mode: on*)
“Sesuatu yang lain” inilah yang harus digali dan ditonjolkan jelas2, biar para penerbit itu bisa langsung ngeliat.
Eniwei, selamat merevisi ria! [thumbsup]

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
________________________________________
Plot TFH yg berkesan lurus tanpa intrik buat gw gak ada masalah, dan bukan kekurangan. Waktu tauk gaya kolosal TFH, terus terang aja gw jadi inget The Hobbit, salah satu buku fantasi yg berplot lurus dan mirip-mirip plot TFH. Tapi tunggu… kita liat juga plot buku pertama LOTR, bisa dibilang gak ada intrik juga kan? Plot twist-nya ada dimana
coba? Pengkhianatan Boromir? Penyergapan Orc? Gak ada kali ye, tapi cukup enjoyable plotnya buat gw tuh [biggrin]

Ledgard emang sarat intrik, tapi buat gw intrik-intriknya gak napsuin, somehow :D Gw lebih suka model plot ‘ngalir’ kayak TFH ginih buat fantasi mah. Well kalo mau bikin intrik, idealnya jangan setengah-setengah memang, ini yg susah gw penuhin di novel fantasi gw sendiri pun. TFH membuka mata gw kalo novel tanpa intrik pun bisa jadi
memikat.

Kalo menurut gw kenapa penerbit takut buku ini gak laku, itu yg pertama dan terutama karena ketebalannya. Ledgard bisa terbit karena dia beruntung dikirim beberapa tahun lalu, waktu naskah fantasi belum terlalu familir di mata penerbit lokal, jadi bisa dianggap cukup langka, dan udah gitu isinya gak jelek-jelek amat pulak. Kalo sekarang mah,
nanti dulu deh [biggrin]

Kedua, setting & naming yg gak user friendly/kurang ‘universal’. Buat gw sih, Anthravai, Elniri, Hadjuk, Hotas, itu nama-nama keren yang amat orisinil. Tapi buat orang laen? Bisa jadi aneh, terlalu ajaib dan gak enak dibaca.

Ketiga, penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak. :P

Quote
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.

ga bisa diukur gitu juga ah, kata ‘di’ dan kata ‘dipertanggung-jawabkannya’ sama-sama terhitung 1 kata, tapi bobotnya
beda bangedd :D

Quote
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.

jangan dah, kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish. :)

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: clickdian on August 19, 2008, 03:50:47 pm
________________________________________
#Mas Pur,
Thank you so much buat review Zaurinya!! m-_-m
Udah kubaca bbrp hari yg lalu, tapi belum kukomen, gak sempet.. kerjaan kantor lagi numpuk, maaf ya.. [biggrin]
sekalian ntar sama pertanyaan fred dulu deh.

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 05:22:41 pm
________________________________________
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!

Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm

penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak. :P

huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
tapi betul, pertimbangan utama gue tetep bertahan dengan alur begitu adalah timelinenya. gue gak mau banyak-banyak bikin adegan flashback. lebih menyenangkan alur maju. konsekuensinya harus ada trik supaya bab
awal sekarang bisa lebih menarik. hmm…

Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm

kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish. :)

betul. cobain nembus lewat cerita laen dulu. tapi revisi TFH juga tetep jalan, sebelum ide-idenya menghilang.
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…

________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 19, 2008, 07:08:31 pm
________________________________________
@ juunishi master, piethitam & Fr3d
Hm.. mungkin kita harus menyepakati dulu apa yang dimaksud dengan cerita *fantasy*. Memang dalam wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Fantasy) disebutkan bahwa:

/Fantasy is a genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element of plot, theme, and/or setting. Fantasy is generally distinguished from science fiction and horror by the expectation that it steers clear of technological and macabre themes, respectively, though there is a great deal of overlap between the three (collectively known as speculative fiction).

/yang artinya:
/Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
/
Berdasarkan pengertian di atas, gwe rasa, cerita fantasi nggak harus secara penuh mengandung unsur sihir, tapi bisa bentuk kekuatan supernatural lain. Selain itu unsur fantasi nggak harus ada di plot, tema, serta setting secara kesuluruhan, tapi pada elemen tertentu saja.

Kalo Juunishi nganggep kemampuan Elektra nyetrum orang agak mirip ama fenomena manusia magnet yg bisa bkn sendok dll nempel di badannya sih boleh-boleh aja. Tapi apa semua orang bisa ngelakuin hal itu? Enggak kan? Jadi baik kemampuan/abilty nyetrum orang atau nempelin logam ke badan, menurut gwe adalah salah satu bentuk kekutan supernatural, gak harus sihir doang.

Kemudian, apabila apa yang kita rencanakan, tulis, atau impikan terjadi di dunia nyata, gw rasa itu bukan “kebetulan” tapi “takdir”. Dan “takdir” atau seolah-olah “kebetulan” itu seringkali menjadi elemen penting dalam cerita fantasy. Di HEROES, satu karakter dengan karakter lainnya bertemu dan saling terkait karena mereka di-”takdir”-kan oleh
sang penulis, sebagai Tuhan dalam cerita, untuk begitu.

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: bjvadis on August 19, 2008, 08:36:22 pm
________________________________________
review untuk the forgotten heroes (tfh): jangan sampai ini menjadi ‘the forgotten novel’ seperti nasib novel2 fantasi indonesia di rak2 toko buku gramedia… sebel juga waktu nggak dapat zauri pas mau beli. Sang penandaipun sudah menghilang (untung sudah beli pas setelah launching). kebagian cardan tapi kehabisan enthirea.

soal naskah:
contoh: naskah fireheart buku 1 yang diketik pakai times new roman uk.12, 1 1/2 spasi dan kertas a4 jadinya 303 halaman (bhs indonesia).

soal naming:
dalam beberapa hal justru g pernah dikritik oleh para kritikus maniak fantasi dari amrik karena pakai nama-nama yang terlalu ‘umum’ macam robert, carolyn, christopher dsb. tapi perlu diinget juga walaupun bikin nama2 yang unik, harus konsisten sesuai dengan wilayah negara yang dimaksud, jadi berikan ‘karakter’ bagi negara2 tersebut lewat nama-nama
orang di sana. kalau fireheart saya memang jiplakan dari benua eropa di dimensi berbeda, jadi nggak heran kalau yang dari escudia (spanyol) nama2nya hernan y parvaez, arcadia (perancis) carolyn deveraux atau talbot dubois, valanis (italia) pakai andreas marvellini, parthenia (yunani) pakai eidos crydias atau nikanomikos paliades etc.

soal jalan cerita:
dari prolognya nggak jauh beda dengan cerita-cerita fantasi yang diposting di kemudian.com lainnya. mungkin kalau mau saya review lebih detail bisa kirimkan sinopsis (rancangan cerita) dari awal sampai akhir supaya saya dapat gambaran lebih jelas. biasa, di andrychang-at-gmail-dot-com

kesimpulan:
just go on, rd! pe-de aja, kirimkan segera naskah kamu ke penerbit kalau memang sudah selesai 1 buku. gak usah terlalu tanya kiri-kanan, toh nantinya juga pada akhirnya editorlah yang akan menilai (dari sudut komersialnya). nanti kan kalau sudah terbit yang saya baca tinggal yang matengnya aja. membanggakan juga kalau ada 1-2 orang lagi ‘alumni’ dari kemudian.com dan pulau penulis yang karyanya diterbitkan. just go on and – seperti kata naruto – never give up, that’s my way of the ninja!

________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:28:13 pm
________________________________________
Quote
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!

hmmmm ‘sesuatu yang lain’ di lemures gw apa yah? Palingan gaya bahasa mautnya ;D

Quote
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…

Yang sekarang sih emang udah rada mendingan daripada yg dulu. Tapi tetap aja bagian awal-awalnya itu bakal jadi ‘anti-tema’ buat psikologi orang indo kebanyakan, apalagi di mata penerbit. Penerbit itu biasanya gak sabaran, baru baca beberapa bab awal, udah langsung mengecap keseluruhan novel itu kayak gimana. Gw kira penerbit yg dulu nerima kiriman TFH Cuma baca beberapa bab awal TFH aja (taroan deh, pasti gak bakalan ada yg baca ampe tamat), dan langsung ngecap isinya murni tentang gerakan invasi bangsa barbar dengan penggambaran yg barbar pulak, begitu terus sampe tamat.

Padahal TFH kan gak gitu, dan ternyata kehidupan biadab itu cuma terjadi di pihak antagonis. Terkait materi novel, gw kira setiap penerbit punya alarm warning yang jauh lebih sensitif daripada alarm para penulis: dan warning ini biasanya mencakup tema-tema tabu semacam SARA, politik, kekerasan, sampe seks. Di TFH, alarmnya berbunyi nyaring pas Anthravai sebagai tokoh sentral (sejauh cerita bergulir) ngebelah kepala Yergai ;D

Quote
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…

Gw bener-bener sirik dengan orang-orang yg kepalanya selalu dipenuhi berbagai ide, secara gw ini penulis yg miskin ide! Payah dah, padahal gw rajin baca novel, baca artikel wikipedia, nyimak berita di TV/koran, knp masih mentok ide?
Itulah kenapa revisi gw gak kelar-kelar, sekalipun udah dibantu om pur, sejauh ini baru 10% yang tergarap, ini menyedihkan sekali dan benar-benar nohope :(

Quote
Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)

Astaga, kalo gitu berarti Lemures gw sama sekali bukan fantasi :D
Soalnya gw gak ada sedikitpun pake magic, dan elemen supernatural lainnya dalam plot/tema/settingnya. Lha kalo gitu kenapa gw ada di sini? Kenapa gw bisa jadi TS untuk thread penulis fantasi? :D

________________________________________
Post by: clickdian on August 20, 2008, 09:35:44 am
________________________________________
To: Villam
Kalo kasusnya kayak begini, tiap kirim ke penerbit, lampirkan rangkuman cerita keseluruhan dari sudut pandang penulis. Kasih tau kalo tokoh utamanya bukan si A, tapi si B. Review juga aspek2 lain selain battle, misalnya romans, ato (kalo ada) filosofinya. Everything, lah! Tapi bukan sinopsis singkat ya, bener2 rangkuman kayak dulu jaman kita
sekolah dulu disuruh guru Bahasa Indonesia baca novel dan bikin rangkumannya. Ini sebagai tindakan jaga2 kalo editor keburu males baca bab2 awal dan berniat ngelempar ke tong sampah, ada sisipan yg menceritakan isi keseluruhan novel. Siapa tau aja dia jadi berubah pikiran. ;D

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 20, 2008, 10:26:08 am
________________________________________
Definisi yg lebih workable untuk fantasy adalah: penggunaan setting alternatif (alias bukan setting yang kita hidupi sehari-hari ini) untuk mendeliver cerita. Istilah kerennya, alternate reality.
Kenapa alternate reality ini menjadi suatu daya tarik? Karena kita selalu punya keinginan untuk ‘hidup’ dalam kehidupan yang berbeda dengan yg kita jalani sekarang ini. Dan setting Fantasy membuat keberbedaan itu
menjadi lebih kuat/ nyata/ kontras.

Pada alternate reality, menjadi sebuah spekulasi yang ‘menggairahkan’ untuk tahu bagaimana manusia bertindak, bagaimana bereaksi terhadap situasi-situasi unik. Misalnya aku bayangin diri menjadi Bima (nya Mak-mak), apa reaksiku jika tiba-tiba saja Malioboro menjadi ‘senyap’? Woow, gile banget konsepnya etc-etc. :)
Jadi bukan sihir atau teknologinya yang ‘matters’, melainkan bagaimana
‘alternate reality’ itu kemudian mendrive cerita.

So, dalam setiap novel fantasy, setting alternate reality itulah yang menjadi panggung utama. Dan tentunya yg namanya panggung ya harus kuat dan kokoh. Kalo ringkih, baru buat goyang ngebor sekali aja langsung roboh.
Kita sering banget kejebak pemahaman yg salah kaprah tentang Fantasy (atau Sci-Fi), bahwa sebuah karya sudah dikatakan Fantasy kalau mengandung elemen yg ‘khayal’i.

Jadi kalo masih memakai setting kehidupan yang here and now, sebuah novel hardly dikatakan sebagai Fantasy sekalipun mengandung seorang tokoh yg mampu ‘menyihir’, misalnya. Karena belum tentu kemampuan sihir
itu menjadi setting, bisa-bisa aja cuma tempelan sebab sang penyihir ternyata (masih) bereaksi sebagaimana orang-orang kebanyakan, dan cerita mengalir dengan interaksi antar tokoh sebagaimana kehidupan sehari-hari kita aja.

Juga kalo alternate realitynya masih ngga terlalu jauh dengan kehidupan nyata (masih memungkinkan terjadi di dunia nyata), maka nilai fantasy-nya menjadi turun. Sebagai contoh novel lanang, (bukan mo ngajak berantem orang :) tapi mumpung bagus dijadikan contoh aja :) ). Adanya burung babi hutan, menghadirkan elemen fantasy (soalnya gak mungkin ada binatang kayak gitu). Tapi setting rekayasa genetik yang menimbulkan penyakit sapi, atau setting karakter para tokoh yang ga hitam putih bahkan psikopat, pengembangan konflik dalam cerita, semuanya masih bisa
terjadi di dunia nyata, sehingga dalam hal itu novel ini tidak tergolong cerita fantasy. Nah, kita bisa lihat bahwa dalam kondisi ini, keberadaan satu elemen fantasy tidak membuat novel tersebut menjadi Fantasy.

Nah menurut gue sih, Lemures termasuk dalam Fantasy karena mengandung setting alternatif yg bukan di setting kita sekarang ini. Kenapa PG gak gue anggap fantasy, sebab PG berlangsung dalam setting kita sekarang, walaupun ada sedikit-sedikit bagian yang menyentuh alternate reality, tapi gak dominan.
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 11:30:05 am
________________________________________
sedikit komen tentang yang ini.
mungkin dengan adanya burung babi hutan, Lanang bisa dimasukkan kedalam
genre fantasy, tapi fantasi ngawur, asal-asalan n tidak logis.

kenapa? karena untuk dapat terbang, selain membutuhkan sayap yang lebar,
bentuk fisiologi mahluk itu harus segitiga dengan bagian runcing didepan
(entah sudut yang mana terserah, pokoknya bukan bagian sisi). fungsinya
adalah untuk membelah udara. pada burung yang berfugsi demikian adalah
paruhnya, sedangkan pada pesawat, adalah hidungnya. memangnya moncong
babi hutan bisa membelah udara? lha wong bentuk tubuhnya bundar bukan
segitiga.

trus ekor, ekor disini harus lebar karena digunakan untuk mengatur
tekanan udara diatas tubuh dan dibawah tubuh, sehingga bisa membuat
burung atau pesawat menambah atau menurunkan ketinggian. ekor ikal babi
hutan bisa begitu?
anehkan? jelas aneh! mungkin si pengarang tidak tahu teori-teori yang
berhubungan dengan terbang.

________________________________________
Post by: fr3d on August 20, 2008, 11:59:38 am
________________________________________
Tambahan lagi, secara biologis burung juga punya kantong udara.
Rupanya makmak juga udah keseret dalam arus lanang-melanang… ;D

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:06:25 pm
________________________________________
@amru,
ane kirim draftnya via email, bos…

@vadis,
tentang novel2 fantasi indonesia yang menghilang, itu bukan karena habis, tapi sudah lewat masa tayangnya di toko buku. gue yakin masih ada tuh stoknya di penerbit (yang memang menganaktirikan buku2 fantasi lokal dan malas mempromosikannya lagi).

tentang TFH, setelah melewati masa perenungan (halah), penting bagi gue untuk tanya kiri kanan dan gak sekedar maen kirim doang. Alhamdulillah kalo ternyata bisa langsung terbit memang, tetapi hanya sekedar ‘diterbitkan’ bukanlah tujuan utama gue. gue pengen itu bisa jadi karya yang baik dengan tetap berciri gue (ini penting buat gue), dihargai banyak orang walau mungkin tidak semuanya suka, juga tidak sekedar memenuhi selera ‘layak jual’ dari sang
editor/penerbit sesaat. terlalu idealis? untuk TFH, iya. tapi kalo untuk cerita2 gue yang lain, gue bakal lebih fleksibel.

@rey n dian,
gue dulu udah bikinin juga kok sinopsis buku dan sinopsis per bab. Tapi memang, kudu belajar lagi buat bikin itu supaya jadi lebih menarik. mesti ditambahin gambar-gambar juga kayaknya. hahahah…

@all,
kalo boleh ada kuda terbang semacam pegasus (yang gendut dan gak punya kantong terbang pulak), kenapa tidak boleh ada babi terbang?
jawabannya mungkin ada di setting cerita. apakah sang penulis bisa membuat percaya pembaca atau tidak, terserah apakah melalui setting negeri dongeng, setting teknis-teknis science fiction, atau setting dunia alternatif yang surealis.
(aku gak ikutan lanang-melanang karena aku gak nyebut-nyebut la–ups!)

________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 01:24:26 pm
________________________________________
pegasus, Sphinx, naga versi asia timur sebenarnya adalah mahluk yang secara fisiologi tidak mungkin bisa terbang. masalahnya, mahluk-mahluk itu sudah terlanjur melegenda, jadi apa mau dikata? mau protes juga kepada siapa?

sedangkan burung babi hutan itu sepertinya kreasi original. dengan ilmu kedokteran hewan dan ilmu penerbangan yang sudah semaju ini, masak ga bisa bikin mahluk fantasi yang lebih logis? ingat setting Lanang adalah di Bumi, bukan alternate universe jadi paling enggak harus sedikit mengikuti rules dan hukum-hukum alam yang ada di bumi (kalau mau dibuat melenceng, harus disertai penjelasan khusus). kalo setting-nya di alternate universe, mau bikin mahluk yang seperti apa saja silahkan.

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:44:59 pm
________________________________________
lha justru itu kita gak akan protes (walaupun gak dilarang juga buat protes) karena di belakang makhluk2 ajaib itu ada setting legenda yang telah dibangun dengan sedemikian rupa, dan bukan hanya mereka makhluk2 aneh di dalam legenda tersebut. yang bikin pembaca atau masyarakat jadi percaya betapapun anehnya itu.

Comments 6 Comments »

[tab:Hal 1]Sesi XXVIII (31 Jul 2008 – 10 Ags 2008)
• Tentang Pendekar Garuda karya FA Purawan
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh fr3d
• Tentang situs kastilfantasi.wordpress.com
• Ceritafantasi kita berakar dari mana?
• Lagi, tentang novel Cardan

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: *fr3d* on *July 31, 2008, 04:33:15 pm*
________________________________________
Villam si Raja Perang ke mana ya? Gak keliatan? Sibuk menyusun strategi untuk ekspansi wilayah? ???
TFH: Q & K akhirnya selesai dibaca juga nih…

________________________________________
Post by: rd_Villam on July 31, 2008, 05:09:31 pm
________________________________________
yow, fred, i’m here…
eh betul tuh, gue emang sedang berekspansi ke suatu wilayah tertentu. serius! hehehe…
gue yakin (mudah-mudahan) ini bisa jadi suatu yang berguna pula buat tret FFDN ini, dan semoga begitu pula buat komunitas penulis fantasi indonesia secara keseluruhan.
cuma langkah kecil sih, tapi barangkali bisa jadi awal.
tunggu saja tanggal mainnya. [bigwink]

________________________________________
Post by: clickdian on July 31, 2008, 05:15:09 pm
________________________________________
Raja Perang dan Sang Peramal? ???
Terus aq ngambil peran sebagai apa? dayang2? ;D
hehehe.. iyalah, mending ngikut ajah. biar gak pusing mikir ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 08:39:07 am
________________________________________
Hmm… mencurigakan…
[gossip]

________________________________________
Post by: BloodSin on August 01, 2008, 09:47:59 am
________________________________________
@om Pur

Bos, ini sekedar kritik & masukan tambahan dari ane buat PG ente, gara-gara ngeliat ‘fenomena’ orang-orang yg pada gak tamat baca PG ente cuma dengan bermodalkan alasan: “bukan tipe/selera bacaan gw” lha, “terlalu islami” lha, “settingnya terlalu ngindonesia” lha,
Bahkan sebelum beres baca bab pertama-kedua.
(Eh ini bukannya gara-gara mau bales dendam terhadap komen ente atas gaya bahasa Lemures ane yakkk, sama sekali gak ada maksud ke arah situ :P )

Kemaren sempet buka-buka PG lagi yg formatnya .LIT, ingin menyelami gaya bahasa ideal seorang FA Pur, dan emang yg kutemukan, adalah gaya bahasa yang 180 derajat berlawanan dengan Lanang/prolog Lemures: jauh dari
kesan pretensius, dan benar-benar ‘jujur sejujurnya’ ala bocah ngomong blak-blakan. :)

Well.. dulu ane sempet bilang gaya bahasa PG yang ala teenlit itu emang sama sekali bukan seleraku (karena tipe gaya bahasaku sendiri aja udah ‘sok nyastra’ dan formal abiss), tapi setelah kulihat-lihat ke depannya, ternyata si Serpent yg gaya bahasa ceritanya standar pun (cenderung non-pretensius) juga gak tamat baca. Jadi kurasa, ini bukan lagi
persoalan selera pembaca, tapi udah masuk ke masalah teknis.

Ah, menurutku cuma mengada-ada kalo ada pembaca yang menjadikan setting Islami/Indonesia sebagai alasan utama buat berhenti baca PG, karena sebetulnya, setting ‘lokal’nya itu masih dalam taraf yg wajar—belum sampai pada taraf dakwah/propaganda untuk mengajak memeluk Islam/menjatuhkan agama-agama lain seperti novel ‘religi’ pada umumnya. Lagipula toh tetap ada juga pembaca Muslim yg gak beres baca PG, kan?

Menurutku kelemahan yg paling fatal di PG justru terletak pada gaya bahasa (mencakup narasi, deskripsi, sampe dialog) yang terlalu blak-blakan, terlalu jujur, polos nian apa adanya (khususnya bab awal-awalnya yang mestinya bisa dibuat se-memikat/se-elegan mungkin). Apalagi kalo sasarannya buat dewasa muda ke atas, jatuh-jatuhnya bakalan
serasa baca novel teenlit betulan. Kalo sasarannya ABG pun, jelas salah strategi dengan menempatkan setting Jaka yang bertone serius sebagai prolog.

Kalo si fred bilang gaya bahasa ‘pretensius’ boleh diibaratkan sebagai air gula yang dikasih sirup, maka ane mau ngasih analogi gaya bahasa blak-blakan PG itu kayak sepiring nasi putih polos tanpa sedikitpun bumbu/lauk pauk (ehmm, metaforanya kurang pas nih :P ). Gak bisa juga sih dibilang ‘hambar/steril’, karena emang ada beberapa paragraf/dialog PG yg emosinya kentara dapet/atau malah cenderung ‘keasinan’, hueheheh.

Tapi sebagai pembaca, ane sebetulnya mengharapkan penulis (apalagi yg udah sekaliber ente!) bisa menyusupkan sedikit-banyak teknik-tekniknya dalam bertutur kata di dalam karyanya, metafora-metafora yang manis, gaya bahasa yang sejatinya cocok ditujukan buat dewasa muda. (gaya bahasa Forever Wicked-nya ewing pas tuh buat pembanding idealnya, karena sama-sama bersetting jakarta dan bahkan sama-sama bertema ngelawan iblis!–dengan eliminasi kata-kata vulgar/kasar kalo ente gak berkenan)

Kenapa ane bisa enjoy/’dapet’ (bahkan sampe taraf ‘menantikan!’) baca review-review, postingan-postingan ente, sementara ketika baca PG cenderung tak menikmati? Ane juga tersalut-salut waktu baca deskripsi ‘iseng’ ente buat Fulberr di tret GM lho, dan sebetulnya kagum juga dengan sekian banyak teknik penulisan yg ente share di thread-thread cerita Pulpen.

Kurasa, orang yang terbiasa baca tulisan ente di review/postingan ente di Pulpen, pasti bakalan shock ketika baca PG, karena ‘keluguan’ gaya bahasanya malah gak menggambarkan kualitas seorang FA Pur yang sebenarnya.
Yahh, pokoknya sekarang you get what my point is, semoga bisa membantu ente dalam merevisi PG deh. Yo kita sama-sama saling ngebantu. ^-^

note: oh yep, ini komen ketiga ane buat PG ente yak, kalo mau bakal
kupost nih ke milisnya berturut-turut dari komen pertama, gimana?

[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 01, 2008, 01:38:44 pm
________________________________________
@Rey,
Boleh-boleh, kayaknya masukan yang terakhir ini sangat bergizi, untuk gue pelajari sungguh-sungguh. Jujur aja, gue udah coba merubah beberapa adegan dalam revisi gue yg baru ini, dengan gaya bahasa yang sudah agak beda (iya lah, ada selang beberapa tahun,…). Tapi gue rasa masih akan ada kepolosan yang melekat di situ, secara gak bisa dipungkiri bahwa material dasarnya adalah karya cipta seorang anak yg baru lulus SMA ;D .
Coba gue liat lagi dah.
BTW revisian gue saat ini sudah menginjak Akhir Bagian 2 :)

Untuk gaya bahasa yg lebih ‘dewasa’ gue punya dua rencana naskah:
Jakarta Paralel / JP (ini udah lama gue ciptakan tapi masih belum lanjut), itu lebih darksih dari PG. Dan satu lagi judul sementaranya “Mata Ketiga”, ini (maunya) lebih darkish lagi daripada JP :P

Gue juga punya naskah space novel lain: Hulka. Tapi bener-bener baru bab awal doang, belum ada passion untuk nerusin walaupun ide besarnya udah ada. Kapan2 gue posting di sini, kali ya? Sekalian biar diliatin apakah
gaya bahasanya berbeda ato gak dengan PG (harusnya sih beda [annoyed], ayo bertekad!)

Silakan boss, masukannya di posting aja dimilis! BTW di milis belum pernah ada diskusi panjang, siapa tahu bakal jadi trigger, tuh. he he he.

@Fred,
Silakan boss, bisa join di FAP_novels@yahoogroups.com komentarnya ditunggu banget.
downloadable pdf ada di halaman FILES, berikut passwordnya.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm
________________________________________
Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:05:26 pm
________________________________________
@villam,
komen buat TFH-nya hari senin aja ya! Baru selesai ngetik good news-nya doang, bad news-nya belum, hehehe… [biggrin]

Quote from: clickdian on August 01, 2008, 04:53:47 pm

Guys, ada yang udah baca Nicholas Flemming The Alchemy–ato whateverlah judulnya apa–gak?

Belum. Bagusnya sih seseorang (baca: *clickdian*) beli dan membaca buku itu, terus review-nya di-posting ke forum.
;D ;D ;D

________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm
________________________________________
Halo-halo,
Agen Amru di sini. Muup yah baru nongol skarang, maklum lagi mata2in Otoritas.
Repiu gath na keren Dian! Tapi sori Fr3d, gw belon bisa nerusin. Kalo gw yang nerusin malah jadi norak, hehe…
Oh ya teh Dian, gw udah beli tuh Nicholas Alchemist, tp blon sempet baca. Bakal 2 seri tuh kayakna.

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y? Mau dong karya gw ikut diterbitin :D

________________________________________
Post by: fr3d on August 01, 2008, 05:18:41 pm
________________________________________
Quote from: Amru_Yozar on August 01, 2008, 05:07:42 pm

@ Villam
Hm… mo bikin penerbitan y?

Hah?! Beneran?! :o
[gossip]

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 02, 2008, 05:47:40 am
________________________________________
@Fred & Amru

Boleh aja gue kirim by email, tapi kalo pdf ukurannya gede, loh. Makanya gue bagi 3 files @ kira-kira 900kb.

Gue ada format LIT (Ms reader), satu novel lengkap hanya 600kb, tapi syaratnya ente kudu punya Microsoft Reader, terserah versi PC (buat baca di kompie) atau versi Pocket PC buat baca di PDA (Windows Mobile).
Kalo mo dikirim by email, gue akan kirim yg LIT.
Kalo mo download sendiri, join aja di milis. Gratis koq, dan alamat email kalian ga akan gue salah gunakan. Gue perlu milis buat menampung masukan-masukan pembaca. I’ll appreciate kalo temen-temen bisa bantu gue on that :)
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: fr3d on August 04, 2008, 03:49:43 pm
________________________________________
Tentang TFH: Quazar & Ksatria, komennya udah di-PM langsung ke penulisnya, villam.
Berhubung karyanya belum terbit dan gw takut memberi spoiler, jadi gak di-posting ke tret ini…
(*menunduk-nunduk memohon maaf*) :-[

Intinya komen gw tentang TFH buku 1:
"Villam menunjukkan kebolehannya dalam bercerita di TFH: Q & K. Teknik story-telling-nya sangat apik dan ciamik. Namun, ternyata kelemahannya justru ada pada story-building. Kisah utama dan kisah2 pendukung di dalam novel ini rasanya terlalu hambar dan kurang menjual. Perlu ada penegasan dan "pewarnaan" untuk dapat menyempurnakan karya yang potensial ini."
...
...
Oops! :o
*cepet2 kabur sebelum leher ditebas si Raja Perang!*

________________________________________
Post by: rd_Villam on August 04, 2008, 05:52:47 pm
________________________________________
friends,
daku belon sekaya itu untuk bikin sebuah penerbitan. [biggrin]
tapi jujur, itu memang sebuah pilihan hidup yang menarik nanti. Bikin sebuah penerbitan khusus fiksi fantasi, termasuk juga majalah khusus fiksi fantasi. sapa tau juga bisa bikin penghargaan khusus fiksi fantasi
indonesia. [biggrin]
amin…
anggap aja ini doa. :)

yang gua bikin sebenarnya baru sebatas ini:

http://kastilfantasi.wordpress.com/hall-of-discussion/

silakan dilihat.
jadi, intinya, teman2 tau kan obrolan kita di forum ffdn 3 ini udah sampe skala mega?
nih gua kasih tau, kita udah ngobrol total sebanyak hampir 350 ribu kata. bayangin aja ndiri deh, ini udah seukuran tiga novel masing2 setebal 500 halaman.
nah gua udah coba pilah, mana yang relevan dengan tema penulisan fiksi fantasi, dan membuang sekitar 40% pembicaraan OOT.
mudah-mudahan ini bisa membantu kita menemukan lagi topik2 apa yang udah pernah kita bahas. Dan juga membantu memudahkan orang-orang lain di luar forum ini yang pengen baca-baca dan belajar dari ente-ente… :)
oke sementara itu dulu, ntar gua tambahin.

thank you so much, fred, atas kritikannya!
ah… plot ya…
itu kesalahan yang… memang mestinya udah gue sadari dari awal, dan dengan keras kepalanya gue pertahankan…
hmm… tampaknya pendirian gue emang kudu berubah…

________________________________________
Post by: fr3d on August 05, 2008, 08:59:06 am
________________________________________
Well, kayaknya memang cuma villam deh yang bisa bikin beres2 model beginian! Great! [thumbsup]

________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 08:41:07 am
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 05, 2008, 07:32:57 pm

:D kira-kira fiksi-fiksi fantasi yang sedang kita tulis berakar dari mana?

Kalau gw secara pribadi, menulis berdasarkan suatu tujuan atau maksud.
Karya gw adalah untuk menyampaikan sesuatu.
Akar budaya hanyalah fasilitas atau media yang gw manfaatkan untuk menyampaikan pesan/maksud gw itu.
Kalau ternyata apa yang ingin gw sampaikan akan lebih sesuai atau mudah dipahami dengan menggunakan akar budaya Barat, maka gw akan menggunakan budaya Barat sebagai setting cerita.
Sebaliknya, kalau lebih cocok menggunakan akar budaya Timur, maka gw akan menggunakan setting budaya Timur.

Gw sendiri gak akan men-”diskriminasi” karya2 yang gw hasilkan dengan dikotomi macam “Barat & Timur”.
Yang paling utama adalah tentang pesan yang harus tersampaikan dengan benar, di luar itu, semua hanyalah fasilitas.
Pokoknya, yang penting sebagai penulis, just write what you like, entah itu “Barat” atau “Timur”.
Kita gak akan menghasilkan sesuatu yang bagus dengan mencoba (dan memaksa) menjadi orang lain.
;) ^-^ 8)

________________________________________
Post by: MakMak on August 06, 2008, 09:51:48 am
________________________________________
klo sy menulis karena mengikuti ego saja. ;D ;D
memang sering saya memasukkan politik saya kedalam cerita tersebut, namun tetap saja didominasi oleh ego. ketika sy ingin membuat dengan setting legenda barat, saya buat bersetting legenda barat, ingin berdasarkan legenda lokal, sy buat yang berdasarkan legenda lokal, mau bersetting jepang, sy buat yang seperti itu.
jd tidak ada keterikatan harus dari budaya mana, tetapi saya lebih cenderung ke sy maunya apa.

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm
________________________________________
ya [rolleyes] ya, memang setiap pengarang memiliki otoritas….(Pengarang adalah “tuhan” dalam karangannya)
tentu saja kita tidak bisa menyalahkan imajinasi, ide, ilham atau pun gagasan seseorang yang tertuang
dalam karyanya…
meski pun demikian kita sebagai pengarang memiliki “tanggungjawab” terhadap pembaca baik disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, karangan tersebut pasti mempengaruhi alam pikiran pembacanya…
alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa menggali khazanah yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri,
menurut saya itulah yang membuat karya kita tidak sekadar sebagai “kacang yang laris dijual sesaat” tetapi
bertahan lama dan bisa menjadi sumber inspirasi di dunia, atau pun relevan sepanjang masa….bukankah seperti
tadi dikatakan pengarang memiliki maksud2 tertentu dalam mengarang ceritanya?

tentu saja saya dapat memahami kondisi semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. pengarang2 di Indonesia sebagian besar adalah hasil didikan kurikulum yang meminggirkan sastra dan sejarah: murid-murid SMP dan SMA kita pada umumnya tidak dilatih membaca buku sastra berbobot baik karya dalam negeri maupun dunia – baru-baru ini saja sastrawan seperti Taufik Ismail prihatin dan memberikan perhatian terhadap kelemahan pelajaran sastra kita.
bahkan Ujian Nasional bersifat sangat objektif. tidak ada ujian mengarang maupun soal-soal yang menuntut nalar dan argumentasi kita (misalnya soal-soal sejarah hanya pilihan ganda, tanpa ada soal2 esai).
di samping itu, pelajaran Sejarah kita terus menerus mendiskusikan sejarah politik terutama seputar revolusi kemerdekaan dan G30 S PKI, bahkan sampai di bangku kuliah, mahasiswa-mahasiswa sejarah lebih didorong untuk meneliti sejarah politik dan ekonomi Indonesia saja.
Kalau di Amerika, kita tidak heran kalau sejak di bangku SD pun mereka dilatih menganalisis novel pilihan,
dan belajar mengarang kreatif…He he…menyuruh murid-murid kita berimajinasi saja, yang terpikir adalah
apa yang baru saja mereka tonton dan bukan yang mereka baca…
Tetapi, di Malaysia negara tetangga kita saja, baik siswa SMA IPA, IPS maupun bahasa tetap mempelajari sastra, berlatih mengarang,dan mengerjakan soal-soal esai sejarah…
Saya terkejut ketika salah satu murid SMA dari sekolah swasta mahal mengatakan bahwa dia (mudah2an hanya dia saja) tidak tahu apa-apa tentang renaissance, reformasi Gereja, atau pun zaman pra-sejarah hanya karena menurutnya mungkin tidak dipelajari karena dia adalah murid IPA… Tentu saja saya tidak terkejut
kalau sampai kelas tiga pun nanti dia tidak bisa mengarang sebuah cerita sepanjang 180 kata, bahkan dengan sebuah panduan sekali pun.

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 06, 2008, 12:59:16 pm
________________________________________
Quote from: tangochenchen on August 06, 2008, 12:08:42 pm

Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak
Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

YES, bu Tango! Right on mark! (halah, remarks gue aja dalam bahasa Inggress,.. :( )
Gue sangat setuju dengan pemikiran bu Tango. Ketika kita cenderung memilih setting non-lokal, jangan salahkan pengarang. Tapi kenapa hal itu bisa terjadi. Dan apa yg dituturkan oleh bu Tango itu bener-bener sebuah fakta. Kita memang dididik dan terdidik untuk menjauh dari akar kita sendiri.
Dan khususnya Fantasy, kita memang berkiblat pada budaya non-lokal, dan itu juga tidak salah, secara yang tersedia dalam khasanah perbukuan memang ya hanya itu.

Okelah bu, silakan bermigrasi, tapi jangan lupa tetap bimbing anak-anaknya untuk mencintai budaya ibu pertiwi, ya bu,…. [thumbsup]
Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on August 06, 2008, 02:32:04 pm
________________________________________
Jadi, yang salah sebenarnya sistem dong? (pendidikan, sosial/kemasyarakatan, politik, dsbnya?) ???

Kalau mengingat masa2 SMP/SMA, gw juga merasa prihatin, kenapa dulu pelajaran sejarah (khususnya Indonesia), tidak diajarkan dengan cara yang lebih interaktif.
Akhirnya pelajaran sejarah, yang adalah salah satu media pengakaran budaya yang sangat dominan, malah terasa sebagai topik yang kurang menarik, bahkan membebani. :(
Apalagi yang sering ditanyakan ketika ujian adalah tahun A, tahun B, tahun C, dan tahun2 lainnya. Otak pun dirangsang untuk menghapal aja, bukan berimajinasi ([biggrin]).
Padahal gw sangat suka dengan pelajaran sejarah lho (tokoh sejarah indonesia favorit gw adalah Pangeran Diponegoro ^-^), dan pengetahuan2 sejarah “tambahan” memang akhirnya gw peroleh dengan mencari tau sendiri, bukan dari dalam kelas.
Jadi, gw memang setuju kalau terpinggirkannya budaya lokal sebenarnya adalah suatu proses, dan ini bukan sesuatu yang tak bisa dihindari.

Kalau tadi gw menulis bahwa penulis sebaiknya menuliskan apa yang mereka sukai, berarti yang mungkin harus diperhatikan adalah bagaimana caranya calon penulis di masa depan bisa menyukai khazanah budaya lokal sehingga
mereka tak akan berpikir dua kali untuk menggunakan budaya indonesia sebagai materi tulisan mereka.

Lalu kalau kita? Masih mungkinkah memutar arah?
Ya, memang mungkin2 aja.
Tapi kita pribadi harus memahami pula batas kemampuan kita sendiri dalammenulis.
Misalnya, betapa pun gw sangat menyukai tetralogi-nya Pram danmenghormati almarhum, gw gak sanggup menggunakan khazanah budaya lokal dalam karya tulis seperti apa yang telah beliau lakukan.
Kita bisa mencobanya memang (dan mungkin gw akan melakukannya suatu harinanti kalau ada kesempatan, ;) ), tapi kalau kita tidak cermat, bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan
khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.
Bisakah kita menjamin hal semacam itu tak akan terulang lagi tatkala kita, sebagai penulis, selalu merasa karya kita adalah yang terbaik?

Gw lebih setuju dengan pendapat om pur dulu.
Karya fantasi di Indonesia umurnya masih sebiji jagung.
Ibarat anak-anak, kita masih belajar merangkak, dan cara belajar yang paling mudah adalah dengan meniru.
Jadi, kita harus bisa memahami kenapa hampir semua penulis fantasi yang ada sekarang selalu menggunakan template karya asing (berbudaya asing) untuk karya tulisnya.
Okelah memimpikan bahwa Indonesia nantinya akan dijamuri oleh buku2 fantasi tentang negeri kita sendiri.
Namun, kita tetap harus sadar dengan kemampuan kita sendiri.
Jangankan mencipta sesuatu yang orisinil dengan budaya milik bangsa kita sendiri, yang terinspirasi karya asing saja masih banyak yang gagal kualitasnya. :(
Harapan semacam itu merupakan sebuah proses dan butuh waktu pula.
Dan gw mengatakan ini bukan semata-mata sebagai alasan untuk mengelak dari seorang penulis fantasi.
Well, gw pun berharap, mudah2an kita memang sedang berada di jalur yang benar.

Lalu tentang menghasilkan karya yang bisa menjadi sumber inspirasi dunia, rasanya tidak melulu hal itu harus terkait dengan setting atau sumber materi (budaya) yang kita ambil untuk karya kita.
Itu salah satu faktor, ya benar. Tapi ada hal lain pula yang bisa kita jual sebagai penulis, yaitu ide, dan ide bisa merupakan sesuatu yang universal (tidak terkait faktor budaya).

Begitu deh kira2… :)
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo. ;D ;D ;D

________________________________________
Post by: blue_amaranthine on August 06, 2008, 05:20:23 pm
________________________________________
Buat Om Pur, makasih ya reviewnya, ngebangun banget. Sori baru bales (Udah berapa lama ya) soalnya sibuk bgt ngurusin penerimaan mahasiswa baru mana minggu depan OSPEK lagi (Thanks God, Akhirnya gw kterima di
FMIPA (Chemistry) ITB hehehe siap-siap bikin bom! [bomb] [bomb]
[bomb]). Thanks sudah dinobatkan sebagai The Best Fantasy in your list. [biggrin]
MOga-moga terbitan selanjutnya bisa diperbaiki. ampir 70% yang om pur rasain tentang penerbit n tetek bengek (perubahan Ms. jadi Mrs. juga g taw siapa yang ngerubah) ternyata sama n banyak bagian yang mesti gw perbaiki bwat cetakan kedua, kata penerbitnya sih bisa asal tidak prinsipil. (Masalah titik koma, nama, EYD yang bikin gw sukses SNMPTN, dll). Thank you! Thank you very much……!!! Ini hadiah terbaik bwat gw setelah tu buku terbit. Yang lain mau ikut kasih hadiah?

________________________________________
Post by: BloodSin on August 06, 2008, 09:49:22 pm
________________________________________
Quote
Jadi begitulah, curahan hatiku seorang ibu dari anak-anak Indonesia…(kalau bisa berimigrasi saja dech)

Wah keren, kali ini yang masuk tret dari kalangan ibu-ibu, welcome & selamat gabung ama kita-kita deh makcik tango [biggrin]

Kalo buat gw, harga mati dari sebuah novel itu ya faktor entertaining-nya (wujud ‘entertaining’ ini variatif mengikuti genre), yang syukur-syukur kalo disupport juga dengan riset dan wawasan pengarang untuk memperluas pengetahuan pembaca (secara novel berwujud ‘buku’!).
Pemilihan setting gak masalah mau darimana, asal pengarang bener-bener punya kapasitas buat menggarap setting itu.

Daripada novel fantasi dengan setting indo (laen kasusnya kalo ‘indo kuno’ macam PG om pur yg jelas penggarapan settingnya dibutuhkan usaha riset atau at least wawasan pengarang), gw jauuuh lebih appreciate kalo ada pengarang lokal yg punya kapasitas bikin novel bersetting barat/jepang/rekaan lengkap dengan kultur dan atributnya. Dan kalo gw bilang ‘berkapasitas’, itu harus mencakup semuanya, baik secara roh dan fisik setting, bukan setengah-setengah. Yang jadi masalah di kebanyakan novel lokal yg pake setting non-lokal, ya ‘setengah-setengahnya’ itu.
Biasanya settingnya barat kulturnya timur, gak konsisten.

Tentang kenapa selama ini novel lokal yg meledak itu selalu yg bersetting & berkultur lokal juga, mungkin karena emang belum ada penulis lokal yang bener-bener mumpuni buat menggarap setting non-lokal.

Quote
bisa-bisa karya kita cuma berakhir seperti novel Phoenix, yang memang memanfaatkan khazanah budaya lokal, tapi alih-alih membanggakan, malah merusak citra budaya itu sendiri.

Phoenix mah bukannya bersetting gado-gado? ???
btw merusak citra budaya lokalnya gimana sih fred? jadi penasaran gw [biggrin]
Emangnya mengajarkan kekerasan dan pornoaksi? :P

Quote
Tapi kenapa hal itu bisa terjadi.

Selain jawaban ‘kesalahan sistem’ yang disimpulkan si Fred, gw kira masih ada dua alternatif jawaban lain:

1. Selera
Untuk jawaban ini, silakan menyalahkan budaya video games, gempuran film hollywood & anime jepang, sampe manga & novel-novel barat yg masuk gramed. Judul-judul ngetop kayak LOTR, harpot, final fantasy, jelas mempengaruhi alam bawah sadar pengarang manapun yang pernah ‘mengkonsumsi’nya, dalam meng-create setting novelnya.

2. Akses
Ah jawaban ini datang dari opini om pur dulu waktu gw ngeluh betapa susahnya riset bikin novel sci fi. Well gw pribadi kenapa lebih prefer setting luar alih-alih lokal, karena emang gw non-pribumi, dan gw emang gak ada ‘akses’ sama sekali selain dari sinetron-sinetron silat indo, buku-buku lokal, dan perpustakaan nasional. Gw gak familiar dengan istilah-istilah, budaya dan tradisi lokal. Bahkan setiap kali gw ikut undangan orang kawin, nyaris gak ada yang pake kultur indo, all of them pake kultur barat/tionghoa semuah.

Toh terbukti sekalinya ada fantasi lokal yang pake setting lokal (baca: pinissi), ditulis sama mama piyo yang emang orang makassar aseli dan sering dapet dongeng lokal semasa kecil dari kakeknya… atau kira-kira begitulah.

Well emang gw jugak bukan keturunan bule makanya gw prefer setting barat, tapi kita semua tauk referensi kultur budaya barat jauh lebih bejibun dan gampang pengaksesannya.

Quote
Omong2, bu tango, Anda bukan mama piyo kan?
Entah kenapa, kalau tau ada seorang ibu yang menulis fantasi, pasti kebayangnya langsung ke mama piyo.

Tumben lu pinter fred [thumbsup]
Iya juga yah, tagnya ini: penulis fantasi, ‘seorang ibu’, dan dateng kesini bawa-bawa topik “setting lokal takluk di bawah pengaruh barat” secara Pinissi-nya itu bersetting lokal [biggrin]

[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 07:53:38 am
________________________________________
Selamat pagi, semuanya :)
Udah mulai baca Cardan, nih,….
Baru sampai halaman 7, dan alamak. Ini gaya penulisan paling ancur yang pernah gue baca!
Tunggu kelar, ye. Next for review.
Buat review, saat ini review Zauri lagi disusun.
Salam,
FA Purawan

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 07, 2008, 08:56:47 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 07, 2008, 08:33:30 am

Yap, buat gw sih Cardan kena penyakit bahasa no. 3, gaya bahasa absurd, berputar-putar, gak jelas banged >_<. Dimana indikasi dari gaya bahasa ini adalah, ketika pembaca membalik halaman, ia akan dengan serta merta
tersadar dari lamunannya, lantas berkata-kata tidak mengerti sambil menggaruk kepala, “Eh, udah balik halaman ya? Gw dari tadi baca apaan sih?”

Huahuahuahua (ini niru gaya ketawa siapa?) ;D ;D
Bener banged, tuh. Gue sempat ngebolak-balik halaman, karena kayaknya kalimat lanjutan dari halaman sebelumnya koq ga nyambung banged gitu,… :P
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini :-\

________________________________________
Post by: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am
________________________________________
Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

________________________________________
Post by: BloodSin on August 07, 2008, 09:22:51 am
________________________________________
Quote
Memang bakalan lama neh, kayaknya, untuk menyelesaikan buku ini

Semangaaaad bos! Ane aja bisa ngabisin, cuma sebulan-duabulanan doank.
[biggrin]
Nih buku cara kerjanya sama kek Ledgard kok, masuk ke setengah buku, entah kita yg udah adaptive ama gaya bahasanya atau emang gaya bahasanya jadi membaik, bakalan jadi cepet melaju bacanya, serius :D
Endingnya? Ente pasti mencak-mencak laksana kuda ngamuk ;D

@Ewing,
Cardan emang fantasi lokal yg paling kueren kovernya, bukan ‘rada’ lagi dah kalo buat ukuran fantasi lokal mah :)

________________________________________
Post by: cheppy70 on August 08, 2008, 10:02:29 am
________________________________________
Quote from: ewingerwin on August 07, 2008, 09:18:15 am

Ada contoh kalimat Cardan? Soale gw tertarik pengen beli karena sampulnya kalo kata gw rada keueren sih, heuheuheu.

@Ewing, ini kutipannya,… Sesuai kata Bloodsin, kalo cuma dikutip sepenggal mungkin nggak akan terlalu kelihatan ‘belangnya’. Harus dikutip agak panjang. Maka gue hadirkan aja prolognya sekalian di sini.

Cardan, hal. 1 – 2:

Langit malam ini sangat indah,…… dst

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan bernama Tolan,….

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan,…..

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam
hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh
di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih
saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
—————————————————

Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. yg gue kasih tanda titik-titik, itu maksudnya masih ada terusan yg melengkapi paragraf tersebut sampai usai 1 paragraf. Isinya ga terlalu penting, yg penting pembukaannya.

Setelah 3 paragraf awal, gue kutipin lengkap untuk memberi gambaran mengenai kehancuran gaya penulisan yang gue maksud.

OK, sekarang kita akan mulai review kecil ini,… (nanti juga bakal gue masukin ke fikfanindo, kali).

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting)
yg menghiasi langit malam. (2) Sebuah negeri bernama Tolan, (3) Situasi politik Tolan,…

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

/Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.
/
ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

/Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.
/
kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek “Jendral”, sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke “pasukan yang begitu membabi buta”. Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

/Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.
/
yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

/Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.
/
Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri!

So, the whole paragraf is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

/Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.
/
(Kena busur aja luka? cemen banget,….. iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?)

/Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat
yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.
/
Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg “BABI PERGI,… BABI PULANG” itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,…?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich?
Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? He he he,.. gue terusin baca dulu aja, kali yee,…. siapa tahu di akhir buku ada perbaikan (cross fingers,…)

Salam,
FA Purawan

[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: ewingerwin on August 08, 2008, 12:15:08 pm
________________________________________
@Om Pur: Makasih banyak, bos :) . Sekarang dah keliatan ‘belangnya’ kayak gimana ;D.

Oke, harus gw akui. Kalimat per kalimatnya memang nggak terlalu bermasalah kalo dibaca sendiri-sendiri, tapi memang alur dan komposisi paragrafnya terasa berantakan banget dan pemilihan kata/diksinya seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Di beberapa bagian ada yang ambigu/nggak jelas abis, dll, dll.

Yep, secara keseluruhan, gw hanya bisa mengamini Om Pur aja deh, yang gw baca ini emang berantakan abis. Beli nggak ya? Hmm… dana terbatas…

________________________________________
Post by: cheppy70 on *August 09, 2008, 10:30:28 pm
________________________________________

Ning-nong!!!
@all,
Zauri sudah hadir di fikfanindo :)
Salam

________________________________________
Post by: bjvadis on August 10, 2008, 10:38:19 am
________________________________________
Oh, gpp, beli aja tuh Cardan. Gue sih udah baca abis, dan ceritanya cukup seru walaupun makhluk2 ciptaannya ada yg 100% baru dan bingung ngingetin ciri2nya. Taktik perangnya juga mantap, apalagi penokohan Raja Links yg adalah varian baru, inspiratif [thumbsup]. Hanya soal penamaan saja yang kelihatannya campur aduk dan nggak konsisten – but, what’s in the name? -
It’s worth your money. :D

Tapi waktu lihat cover Cardan pertama kali itu g sempet deg-degan karena desainnya persis dengan desain cover manuskrip yang gue kirim ke GagasMedia (lambang burung elang mirip garuda), konsep definisi Cardan mirip dengan Paladin dari karya gue, trus ada unsur: Musuh Besar yang dianggap sudah mati tapi ternyata masih hidup. Tapi setelah dilihat2 dalamnya, ternyata 100% beda – dan g setidaknya agak bernapas lega.
[hammer]

________________________________________
Post by: tangochenchen on August 10, 2008, 01:21:20 pm
________________________________________
Mungkin kalau diedit dr segi bahasa begini ya…(ini pengalaman jadi asisten pribadi juri lomba karya fiksi…tahu sendiri kalo juri itu hanya manusia biasa yg punya waktu cuma 24 jam sehari) tapi novel ini kan sudah terbit ya

Seorang jendral Tolan (seorang Jendral dalam Perang Tolan?) sudah banyak memenangkan perang. Namun, ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya, bagi pasukan (musuh Tolan?) membunuh
seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup mereka. Membunuh seorang/para Tolan (he he kedengaran seperti handai tolan) sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka. Pedang sang jendral Tolan sudah berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak nyawa yang ia cabut dengan pedang itu. (Saat ini, lalu, kemarin? Kapan perangnya?) banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk (nya) lalu membaringkan tubuh kawannya (itu) di atas tanah. Dia berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar
sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal Tolan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya (yang) terluka. Bagaimana (seorang) Cardan bisa begitu lemah, sedangkan aku…, pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu. Meskipun pangkatnya cukup tinggi,
ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya, ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

He he…sepertinya om Pur benar, dari segi bahasa saya sebagai pembaca langsung bingung di halaman pertama…kalau saya ditunjuk jadi asisten lagi, sepertinya bos juri saya itu akan mengizinkan saya untuk tidak meneruskan membacanya.

apakah ini pengaruh bahasa karya2 terjemahan fiksi fantasi ? (terus terang saya lebih menikmati harry potter dll dalam
bahasa aslinya)

________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 07:31:36 pm
________________________________________
Susah nian merevisi adegan-adegan penting dalam naskah itu, terutama prolog! Gw udah menggarap prolog lemures selama 4 mingguan, tapi gak jadi-jadi euy :’(

Padahal gw udah keburu bikin janji ama orang VGI buat posting lemures gw (huahua penasaran ama POV & komen para penulis RPN untuk naskah lemures gw yg originnya dari RPN :D )
Gawat nih.. :-\

@om pur
Udah baca repiu zauri-nya di: fikfanindo.blogspot.com
(kasih link atuh bos, biar yg anak baru jadi pada bisa baca ^-^)

Well, kali ini kita bisa sepakat zauri emang salah satu novel fantasi indo yg bergaya bahasa ciamik (yang jauh dari kesan membosankan—dan emang pengarangnya bener-bener punya skill gaya bahasa selayaknya ‘penulis’ novel), yang berujung novel ini mudah dikonsumsi oleh berbagai kalangan pembaca [biggrin]

Mengenai font Kover yg ‘gak jelas’, itu sama sekali gak masalah buat gw, malah zauri gw posisikan sebagai fantasi lokal yg kovernya terkeren setelah Cardan, desainernya (bene) jauh lebih berselera daripada windutampan (desainer kover ledgard, hozzo, narend). [biggrin]
(tapi kok kayaknya lakuan ledgard yak? padahal jauh lebih muahal ???)

Kalo kritik utama sih, justru gw gak puas ama penyelesaian konflik (ttg sang amigdalus yang bisa dikalahin dios begitu aja tanpa greget) & endingnya yg terlalu happy (dan gombal :P ), quite cliche.

next review berarti cardan donk? wuah bakal rame nih, setelah sekian lama gak ada yang panas-panas :D

@ewing,
yap, beli aja bos, bagus tuh buat dipelajari anomali gaya bahasanya, gaya bahasa tak kasat mata ;D

Comments No Comments »