change ya? iya iya.
hmm… kata sakti tuh. tapi seringkali orang bingung mau dimulai dari mana dan siapa?
dalam hal dunia perbukuan di indonesia, yang paling gue pengen adalah bagaimana caranya membuat genre fiksi fantasi berdiri kuat. penulisnya kuat, penerbitnya kuat, editornya kuat, pembacanya kuat, pasarnya kuat.
dan sejauh yang gue bisa sekarang, adalah mulai dari diri sendiri dan dengan cara yang sederhana seperti tulisan-tulisan gue ini.
heheheh…
kalau menurut gw, dari diri sendiri, ga usah pusing kalau kita berbeda. kalau mereka ga mau berubah, tinggal aja. Merubah diri sendiri dulu… lalu mungkin bisa merubah orang lain bahkan negara, itu sih yang gw pikirkan, karena kalau merubah orang lain yang ada juga frustasi.
ah dalam hal novel fantasi, mungkin karena pada dasarnya kita adalah niche market, kita adalah pasar kecil, tapi belum digarap secara serius. Gw yakin sebenarnya pasar kita ini lumayan besar, secara penggemar LOTR dan harpot di indonesia cukup banyak. Yah, semoga saja penerbit-penerbit di indonesia melihat peluang pasar ini, jadi kita tidak dijadikan anak bawang.
oh iya, pasarnya gue yakin memang cukup gede kok. lha buktinya gramedia dan matahati juga terus rutin ngeluarin novel-novel fantasi. tapi ya itu, semuanya impor. penerbit punya alasan kuat, secara kualitas fiksi fantasi lokal emang masih lemah, dan pasar juga masih menganggap remeh.
hmmm bingung mau ngomong apa… gw bahas masalah yg dulu aja de.
mengubah indonesia itu hal yg susah. Mau ngubah orang lain atau diri sendiri aja susah? Sejauh ini kl gw mau nyalahin sih, gw akan menyalahkan bagian pemasaran dr pihak penerbit. Mereka ga melakukan tugas mereka dengan baik padahal makan 90% profit. Mereka nyalahin bukunya ga berkualitas maka ga laku pdhl sebagian besar salah mereka ga berusaha memperjuangkan memasarkan buku itu dgn lebih baik. Well basically, penerbit sama skali blom percaya dgn kemampuan penulis lokal, krn itu menolak memperjaungkannya.
Ky yg gw bilang dulu, buku yg menang award aja susah nyarinya. Berarti masalahnya ada di bagian pemasaran dan toko bukunya. Kl mau diteliti, coba pikirkan urutan kita kl membeli buku.
Hal pertama yg paling penting dulu adalah melihat bukunya. Kalau bukunya aja ga keliatan di toko buku, atau ditaronya nyasar2 di bagian lain, atau pojokan yg ga menarik perhatian, sapa yg beli??? Solusinya, kita mesti kontrol pemasaran di toko buku itu, pasang banner atau kl perlu bookstand sendiri dengan desain yg mencolok. Sehingga menarik traffic ke sana.
Hal kedua, setelah ketemu bukunya, kita akan menilai dari kovernya. Maka inilah hal paling penting. Sewalah illustrator proffesional jika tidak bisa gambar sendiri. Yang pasti masih lebih bagus dr kover novel lokal yg digambar illustrator inhouse penerbit sini yg terkesan amatiran banget. Visual describe everything, dari mood cerita ampe keseriusan kita sbg pengarang, so make the best of it. people do judge by the cover.
Hal ketiga, kadang walau kover bagus, pembaca masih blom percaya, apalagi kalau dicek nama pengarangnya nama Indo. So as pathetic as it sounds, gunakan nama samaran org barat. People do judge racistly.
hal terakhir, yg paling terakhir, barulah datang kemampuan kita dalam menulis. Setelah mereka memutuskan untuk membeli buku kita, brlah mereka mulai membaca. Disini skill kita berperan penting. Kalau buku kita bagus, dgn mult ke mulut, org akan membicarakanbuku kita dan dgn sendirinya pembaca kita akan berlipat ganda.
Disini kita bisa melihat, angka penjualan buku, sangat kecil dipengaruhi oleh kemampuan menulis kita. Asalkan kovernya bagus, dan dipasarkan dgn benar, gw berani bilang 5000 copy atau mungkin 10000 copy bisa terjual. Sisanya, jika buku kita jelek, akan berhenti sampai angka segitu aja, tp kl buku kita bagus, angka itu akan berkali lipat. dr 10000 yg baca, jika setengahnya saja puas, 5000 orang akan membicarakan buku ini dr mulut ke mulut, minimal ke satu org sahabatnya, dan dgn segera bertambah penjualan 5000 copy lagi. Easy right? Bagian yg nomor satu harus di rombak adalah pemasaran ke toko buku dan desain kover buku kita. Fokus di 2 itu. Remember that management skill is much more important than technical skill when it comes to selling a product.
Great opinion you have, Jeff.
Pada dasarnya gue sangat setuju. Gue dulu juga pernah bilang, pemasaran dan distribusi adalah faktor yang paling penting. Walau tetap saja, kualitas dan teknis menulis juga bukannya gak penting, karena justru faktor yang inilah yang menentukan kelanggengan karir sang penulis dalam jangka panjang.
Buat apa kita menjual banyak sekarang, tapi menyebarkan nama buruk, gara-gara kualitas dan teknis penulisan kita yang jauh di bawah standar? Kita jual banyak sekarang, tapi tapi buku2 berikutnya gak bakal ada yang mau beli. Walau bisa juga, kelemahan tersebut kembali ditutupi oleh pemasaran dan distribusi yang kuat. tapi percayalah, itu juga gak akan bertahan lama. Kualitas tetaplah penting, dan gak bisa diabaikan.
Dan terkait soal itu juga, maka di dalam pemasaran ada faktor lain yang gak kalah penting, yaitu reputasi dan brand image penulis. Seorang penulis baru bisa saja langsung mempunyai pasar potensial yang sangat besar, jika memang dia sudah punya jaringan sebelumnya. Laskar Pelangi bisa berkembang dari mulut ke mulut, tapi Ayat-ayat Cinta berkembang karena awalnya sang penulis udah punya jaringan via komunitas Lingkar Pena.
Nah, aku pikir, selain pemasaran oleh penerbit, distribusi via toko buku dan online, dan kover yang bagus, pembangunan reputasi ini adalah hal yang seharusnya sangat bisa kita lakukan.
tentu aja skill kita ngaruh, terutama dalam jangka panjang seperti yg villam bilang. Karena itu kita seengganya harus punya modal naskah yg oke dulu sebelum maju ke pemasaran dan lain2. Intinya skill yg cukup hingga kamu bisa dengan bangga bilang ke dunia; ” I’m a full fledged writer!” Kalau diri sendiri aja blum yakin dgn karyanya, gimana bisa meyakinkan org lain utk membaca karyanya?
Yang gw pengen bilang adalah, jika pemasarannya aja masih kacau balau, apalagi kalau kovernya ngasal, sebagus apa pun isinya, kemungkinan terjual sangat kecil. Hanya bisa berharap keajaiban datang untuk bisa terjual banyak apalagi bestseller. Karena walau isinya secanggih apapun, kalau bukunya dilirik atau ditemukan pun tidak, sapa yang ngeliat isinya? Ga akan ada yg tau sebagus apa buku itu krn memang isinya ga pernah sampai ke pembaca. Menang award? Di Indonesia ini, sekedar menang reward ga langsung membuat kita pengen mencoba menjajal buku itu. Beda dgn kl sebuah film menang Oscar. Kalau disamakan, anime2 jepang yg menang award semuanya malah judul yg ga pernah terdengar di telinga kita. Seperti itulah keadaannya.
Basically I just want to say, no matter if you’re a writer or a carpenter, when it comes to selling your product, everyone is a merchant, and how good the products are sold, is purely based on merchant’s marketing skill. A beautiful singer with superb voice but without a good manager is as good as a street performer. It’s the manager’s skill that make a singer become world wide artist.
Kalau udah menjalankan strategi pemasaran dan punya kover yg benar2 menarik, gw ga percaya 3000 copy aja ga sanggup kejual.
Soal reputasi, brand image penulis… Gw agak meragukan hal ini sih. I mean, seluas apa kita bisa ‘memberitakan’ reputasi kita? dan bagaimana? Dengan posting sembarang full story kita dimana2? Yang ada ketika kita akhirnya terkenal, tulisan itu sudah dicuri orang berduid dan diterbitkan tanpa sepengetahuan kita. Great reputation itu pedang bermata dua, bisa mengundang hal baik, tapi sekaligus mengundang org lain yg berniat jahat ke kita. jd kynya kita jg harus hati2 dgn reputasi kita, terutama Villam dan cc Dian yg menurut gw udah punya reputasi sangat baik hehe.
@jeff aka serpentwitch,
memang sangat betul sih…
sebagus apapun bukunya, kalo tidak ditampilkan secara layak, ya seperti sebuah toko yang nyempil di sebuah jalan sepi. gak ada traffic, dan gak ada yang sadar kalo toko tersebut ada. you have the point here.
tapi, semua itu ujung-ujungnya lari ke biaya juga. seperti yang gue tulis di artikel gue yang lain di sini: http://www.rdvillam.com/2008/11/ada-duit-ada-hasil/. bahwa untuk promosi, distribusi, dan penampilan fisik, ya berarti harus ada biaya lebih yang harus kita keluarkan. problemnya adalah jika kita gak punya duit banyak untuk melakukan itu semua secara layak, nah lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, selain berupaya menjadi penulis yang lebih baik, dan membuat karya yang lebih baik juga?
kalo kita berjiwa entrepreneur, ya mungkin bisa dicoba sih, dengan meminjam modal, dengan keyakinan bahwa modal itu bakal balik nanti. terus terang dengan kondisi ekonomi sekarang dimana kucuran kredit seret, cara ini relatif lebih sulit sekarang.
nah akhirnya seperti yang gue bilang sebelumnya itu, sepertinya cara yang paling mungkin dilakukan adalah dengan membangun reputasi penulis. yang gue maksud membangun reputasi ini bukan berarti mengobral karya kita kemana-mana–tentu saja ini resikonya besar seperti yang elu bilang. tapi yang penting adalah bagaimana keberadaan kita bisa diketahui oleh orang-orang yang nantinya bakal menjadi pasar potensial kita. bagaimana kita bisa membangun jaringan dengan para calon pembeli.
bisa melalui penampilan contoh-contoh karya kita yang lain, atau melalui sumbangan expertise kita. dan yang paling powerful adalah membangun jaringan pertemanan. contoh sederhana adalah antara elu dan gue sekarang. jika misalnya elu nerbitin novel fantasi lu, gak peduli seperti apapun isinya, gue pasti akan beli. nah bayangkan jika hubungan semacam ini bisa terjalin dengan ratusan orang, betapa besar pasar potensial yang kita punya.
jadi maksud gue, di dalam memasarkan sebuah buku, sebenarnya ada dua hal yang sedang dipasarkan, yaitu buku itu sendiri (melalui kualitas, tema, dan penampilan fisiknya), dan satu lagi adalah citra sang penulis (melalui kualitas, popularitas, nama dan jaringan pertemanannya). banyak sekali orang yang tertarik membeli sebuah buku bukan karena bukunya, melainkan karena penulisnya. contoh paling nyata ya kayak contoh yang elu sebutkan, orang kita tertarik beli buku karena penulisnya orang barat atau bernama barat. hahahahh…
apa boleh buat, ternyata citra dan nama memang sangat penting kok. dan itu gak salah, melainkan memang salah satu faktor yang harus dieksploitasi juga di dalam pemasaran sebuah buku.
Nama besar emang berpengaruh. Kudu sering keliling2 memperbanyak teman. Kalau bisa sih minimal punya teman di bagian2 yg strategis. Basically istilahnya ‘koneksi’ yah? Selain punya koneksi teman sebagai pasar calon pembeli, kita juga perlu punya koneksi di bagian industri yg berkaitan dgn job kita.
Seandainya punya koneksi di bidang pemasaran, di toko buku, atau bahkan sapa tau bisa temenan ama bos Gramed/ TGA bisa mantep tuh (sapa tau harga raknya diturunin dan dikasi masang berbagai display khusus). Bos nya Alfa/Indomaret… (memperlancar pemasaran) bosnya Indonesia printing… (dapet diskon cetak hehe). Tapi gimana caranya bisa temenan ama bos2 yah wkwwk… kudu jadi bos juga dulu.
Sigh… ini bagian yg paling suram buat gw. Lantaran gw orang yang seneng kerja di balik layar, dan anti sosial. chatting/forum di internet sih ga masalah, tp kl ngomong verbal scr langsung biasanya gw mati kutu lantaran gw pendiam Aih2… kynya gw lebih memilih jalur entrepreneur. (tapi sama aja sih, yg amanya self publish harus keliling2 sana sini bikin deal kontrak dll.
Btw kl mau self publish, kita perlu siapin kas bon segala gak yah? Dan berarti juga kudu perlu nama perusahaan (fiktif) dan sebagainya. hehe padahal perusahaannya aja ga berwujud, fiktif semua, bos sekaligus merangkap karyawan XD A one man corporation
gyahahahah… sebagian besar penulis adalah introvert, yang lebih pandai berkomunikasi lewat tulisan dibandingkan lewat mulut. fakta ini–walaupun belum pernah disurvei–tapi sudah sering terungkap lewat perbincangan2 pribadi gue dan beberapa teman. tapi ada juga sih yang berhasil masuk sini masuk sana, dan kenalan dengan banyak orang penting.
tapi gini aja deh. untuk melakukan apapun, jika memang kita berniat dan berusaha, pasti ada jalan. gak perlu terburu2 melakukan semuanya dengan cepat, tapi yang penting kita bisa bangun pelan-pelan dari sekarang: jaringan maupun reputasi kita, dan juga mengumpulkan berbagai informasi penting terkait dg rencana kita nanti (misal: self publishing). lakukan karena gembira, bukan karena terpaksa.
tapi buset, gue sama sekali belon kepikiran tuh bikin perusahaan segala. hahahah… gue pikir sih belon perlu. toh ngedaftar hak cipta juga bisa perorangan. hehehe… tapi mungkin keren juga yak jika nama penerbit yang tercantum di buku adalah nama perusahaan, betapapun fiktifnya itu. hahaha…
btw, kalo gak salah dulu lu udah pernah survei harga percetakan dan detil-detilnya? dan juga bagaimana jika dibandingkan dengan printing biasa? bagi-bagi dong infonya, buat benchmarking dengan toko-toko percetakan deket rumah gue. heheheheh…
soalnya di rumah udah ada TFH yang udah gue format ke A5, dan layoutnya juga udah gue atur, so far tebalnya 387 halaman. tinggal entar gue bikin ilustrasi peta dan beberapa gambar tokohnya mungkin. gue pengen tau biaya cetak (baru biaya cetak) kira2 gedenya seberapa. walau kalo dipikir-pikir, sebenernya gue mau coba bergeraknya taun depan aja sih, soalnya sekarang mau konsen nyelesaiin dua draft novel yang lain.
Iyak diriku masih di GuangZhou ^^ heheh, sudah jadi mahasiswi nih…
Baek2 yak villam XD
Trus si serpen juga nih ^^ Lama ga ngobrol2 yak. pa kabar dirimuuu?
ah serius republikbabi.com ini pake hosting gratisan?
bisa bandwidth 100 gb per bulan jugak?!
hahahahah… oke coba aku cari deh 000webhost ini!
thank you, calvin.
eh tapi selama ini ada kendala2nya gak?
soalnya jaman sekarang, masak sih sesuatu yang bagus bisa bener2 didapat secara gratis?
iya calvin, gue dah liat blognya. dan tadi gue udah coba 000webhost, dan copy file ip_confirm buat dapetin kode aktivasinya itu, tapi ternyata gagal jalan di komputer gue, gak tau kenapa. hahah…
mungkin coba yang free-webhosts.
side barnya berubah posisi ya, kurasa aku mulai nyaman disini. hehe.
sering seringlah posting hal-hal yang menarik, kutanggapi untuk didiskusikan panjang lebar hehee.
jujur, sebenernya sampe sekarang aku juga belum tau gimana tampilan website yang paling enak dilihat. dan akhirnya, ya sudahlah begini aja. heheh…
soal topik, hmm… ada usul topik apa yang menarik untuk diangkat?
dikorting aja menu2 yg ga perlu seperti Meta,, search, translate the website (di bagian kiri atas), trus community cloud di kanan atas. Mungkin bisa bikin jd lebih rapi dikit.
Atau mungkin pake sistem parent dan sub menu. Jd normalnya hanya ada parent menu macem writing tips, books review, trus kl di klik baru nongol sub menunya, menggeser menu berikutnya ke bawah secara lgsg tanpa harus reload page lagi.
aq malah jadi kebayang kopaja di jam pergi ke kantor. atau deretan ikan asin yang dijemur di atas tampah. atau KRL yang isinya tumpah ruah sampai ke atap. atau–yang walaupun hembusan AC tersedia tapi tetap saja luar biasa rasanya–antrian di halte busway harmoni di siang bolong.
jadi, villam, berdesak-desakan seperti apakah yang terasa enak itu?
wah… angin bete lu berhembus sampai kemari… hahahah…
yeah, memang mengesalkan kejadian seperti itu. makanya untuk menghindari kejadian semacam, selama ini gue selalu bikin backup di tiga tempat. tentu saja semua berpassword juga, supaya lebih aman.
tapi ya, seringkali memang kita terlambat. kalo udah ada kejadian, ya apa boleh buat. paling menenangkan diri dulu, tapi saran dari kakek sok bijak, jangan terlalu lama dinginnya. coba kuatkan lagi baca cerita lu dari awal, dan dapetin lagi moodnya. supaya kita gak ancur dua kali: satu saat kehilangan file, dua saat kita kehilangan semangat selamanya.
jadi target selesai akhir tahun ini bisa tercapai dong.
udah tinggal dua minggu lagi nih. ayo kebut! heheheheh…
mmm… kalo nanti aku juga udah kelar, trus yang lain juga udah pada kelar dalam waktu dekat, aku mungkin mau buka pendaftaran untuk … mmm … nanti aja deh diomonginnya. heheheh…
Face/Off (1997) Sean Archer: Any word from the LAPD intelligence? If there IS such a thing? Loomis: Not yet, sir. Sean Archer: Of course not, because we're a covert anti-terrorist team that is so secret, that when we snap our fingers NOTHING HAPPENS! The Movie Quotes
November 9th, 2008 at 12:49 am
Waduh, maaf, kemarin lupa ngisi formulir pendaftaran
November 10th, 2008 at 11:32 am
hahahah… silakan, ubr…
November 11th, 2008 at 9:51 am
salam kenal ya, blognya bagus
November 11th, 2008 at 10:01 am
thank you, calvin.
btw, gue pas masuk blog elu, yang keliatan duluan adalah tampang obama.
hahaha… let’s spread the spirit then…
November 11th, 2008 at 10:08 am
yes we can! hahaha
November 11th, 2008 at 10:20 am
change ya? iya iya.
hmm… kata sakti tuh. tapi seringkali orang bingung mau dimulai dari mana dan siapa?
dalam hal dunia perbukuan di indonesia, yang paling gue pengen adalah bagaimana caranya membuat genre fiksi fantasi berdiri kuat. penulisnya kuat, penerbitnya kuat, editornya kuat, pembacanya kuat, pasarnya kuat.
dan sejauh yang gue bisa sekarang, adalah mulai dari diri sendiri dan dengan cara yang sederhana seperti tulisan-tulisan gue ini.
heheheh…
November 11th, 2008 at 11:08 am
kalau menurut gw, dari diri sendiri, ga usah pusing kalau kita berbeda. kalau mereka ga mau berubah, tinggal aja. Merubah diri sendiri dulu… lalu mungkin bisa merubah orang lain bahkan negara, itu sih yang gw pikirkan, karena kalau merubah orang lain yang ada juga frustasi.
ah dalam hal novel fantasi, mungkin karena pada dasarnya kita adalah niche market, kita adalah pasar kecil, tapi belum digarap secara serius. Gw yakin sebenarnya pasar kita ini lumayan besar, secara penggemar LOTR dan harpot di indonesia cukup banyak. Yah, semoga saja penerbit-penerbit di indonesia melihat peluang pasar ini, jadi kita tidak dijadikan anak bawang.
November 11th, 2008 at 11:29 am
oh iya, pasarnya gue yakin memang cukup gede kok. lha buktinya gramedia dan matahati juga terus rutin ngeluarin novel-novel fantasi. tapi ya itu, semuanya impor. penerbit punya alasan kuat, secara kualitas fiksi fantasi lokal emang masih lemah, dan pasar juga masih menganggap remeh.
yeah, ini pernah dibahas sangat dalam di sini:
http://www.rdvillam.com/?p=450
intinya, berubah memang butuh waktu.
November 11th, 2008 at 1:01 pm
villam, i’m coming more.
wkwkkw
November 11th, 2008 at 1:36 pm
silakan arik.
jangan kebanyakan ngumpet.
hehe…
November 11th, 2008 at 2:21 pm
mas, dapet salam dari mba july novita…salam 4×4 ada 16
November 11th, 2008 at 2:25 pm
hahahah… salam balik…
November 17th, 2008 at 3:01 pm
hmmm bingung mau ngomong apa… gw bahas masalah yg dulu aja de.
mengubah indonesia itu hal yg susah. Mau ngubah orang lain atau diri sendiri aja susah? Sejauh ini kl gw mau nyalahin sih, gw akan menyalahkan bagian pemasaran dr pihak penerbit. Mereka ga melakukan tugas mereka dengan baik padahal makan 90% profit. Mereka nyalahin bukunya ga berkualitas maka ga laku pdhl sebagian besar salah mereka ga berusaha memperjuangkan memasarkan buku itu dgn lebih baik. Well basically, penerbit sama skali blom percaya dgn kemampuan penulis lokal, krn itu menolak memperjaungkannya.
Ky yg gw bilang dulu, buku yg menang award aja susah nyarinya. Berarti masalahnya ada di bagian pemasaran dan toko bukunya. Kl mau diteliti, coba pikirkan urutan kita kl membeli buku.
Hal pertama yg paling penting dulu adalah melihat bukunya. Kalau bukunya aja ga keliatan di toko buku, atau ditaronya nyasar2 di bagian lain, atau pojokan yg ga menarik perhatian, sapa yg beli??? Solusinya, kita mesti kontrol pemasaran di toko buku itu, pasang banner atau kl perlu bookstand sendiri dengan desain yg mencolok. Sehingga menarik traffic ke sana.
Hal kedua, setelah ketemu bukunya, kita akan menilai dari kovernya. Maka inilah hal paling penting. Sewalah illustrator proffesional jika tidak bisa gambar sendiri. Yang pasti masih lebih bagus dr kover novel lokal yg digambar illustrator inhouse penerbit sini yg terkesan amatiran banget. Visual describe everything, dari mood cerita ampe keseriusan kita sbg pengarang, so make the best of it. people do judge by the cover.
Hal ketiga, kadang walau kover bagus, pembaca masih blom percaya, apalagi kalau dicek nama pengarangnya nama Indo. So as pathetic as it sounds, gunakan nama samaran org barat. People do judge racistly.
hal terakhir, yg paling terakhir, barulah datang kemampuan kita dalam menulis. Setelah mereka memutuskan untuk membeli buku kita, brlah mereka mulai membaca. Disini skill kita berperan penting. Kalau buku kita bagus, dgn mult ke mulut, org akan membicarakanbuku kita dan dgn sendirinya pembaca kita akan berlipat ganda.
Disini kita bisa melihat, angka penjualan buku, sangat kecil dipengaruhi oleh kemampuan menulis kita. Asalkan kovernya bagus, dan dipasarkan dgn benar, gw berani bilang 5000 copy atau mungkin 10000 copy bisa terjual. Sisanya, jika buku kita jelek, akan berhenti sampai angka segitu aja, tp kl buku kita bagus, angka itu akan berkali lipat. dr 10000 yg baca, jika setengahnya saja puas, 5000 orang akan membicarakan buku ini dr mulut ke mulut, minimal ke satu org sahabatnya, dan dgn segera bertambah penjualan 5000 copy lagi. Easy right?
Bagian yg nomor satu harus di rombak adalah pemasaran ke toko buku dan desain kover buku kita. Fokus di 2 itu. Remember that management skill is much more important than technical skill when it comes to selling a product.
November 17th, 2008 at 3:40 pm
Great opinion you have, Jeff.
Pada dasarnya gue sangat setuju. Gue dulu juga pernah bilang, pemasaran dan distribusi adalah faktor yang paling penting. Walau tetap saja, kualitas dan teknis menulis juga bukannya gak penting, karena justru faktor yang inilah yang menentukan kelanggengan karir sang penulis dalam jangka panjang.
Buat apa kita menjual banyak sekarang, tapi menyebarkan nama buruk, gara-gara kualitas dan teknis penulisan kita yang jauh di bawah standar? Kita jual banyak sekarang, tapi tapi buku2 berikutnya gak bakal ada yang mau beli. Walau bisa juga, kelemahan tersebut kembali ditutupi oleh pemasaran dan distribusi yang kuat. tapi percayalah, itu juga gak akan bertahan lama. Kualitas tetaplah penting, dan gak bisa diabaikan.
Dan terkait soal itu juga, maka di dalam pemasaran ada faktor lain yang gak kalah penting, yaitu reputasi dan brand image penulis. Seorang penulis baru bisa saja langsung mempunyai pasar potensial yang sangat besar, jika memang dia sudah punya jaringan sebelumnya. Laskar Pelangi bisa berkembang dari mulut ke mulut, tapi Ayat-ayat Cinta berkembang karena awalnya sang penulis udah punya jaringan via komunitas Lingkar Pena.
Nah, aku pikir, selain pemasaran oleh penerbit, distribusi via toko buku dan online, dan kover yang bagus, pembangunan reputasi ini adalah hal yang seharusnya sangat bisa kita lakukan.
November 17th, 2008 at 5:43 pm
tentu aja skill kita ngaruh, terutama dalam jangka panjang seperti yg villam bilang. Karena itu kita seengganya harus punya modal naskah yg oke dulu sebelum maju ke pemasaran dan lain2. Intinya skill yg cukup hingga kamu bisa dengan bangga bilang ke dunia; ” I’m a full fledged writer!” Kalau diri sendiri aja blum yakin dgn karyanya, gimana bisa meyakinkan org lain utk membaca karyanya?
Yang gw pengen bilang adalah, jika pemasarannya aja masih kacau balau, apalagi kalau kovernya ngasal, sebagus apa pun isinya, kemungkinan terjual sangat kecil. Hanya bisa berharap keajaiban datang untuk bisa terjual banyak apalagi bestseller. Karena walau isinya secanggih apapun, kalau bukunya dilirik atau ditemukan pun tidak, sapa yang ngeliat isinya? Ga akan ada yg tau sebagus apa buku itu krn memang isinya ga pernah sampai ke pembaca. Menang award? Di Indonesia ini, sekedar menang reward ga langsung membuat kita pengen mencoba menjajal buku itu. Beda dgn kl sebuah film menang Oscar. Kalau disamakan, anime2 jepang yg menang award semuanya malah judul yg ga pernah terdengar di telinga kita. Seperti itulah keadaannya.
Basically I just want to say, no matter if you’re a writer or a carpenter, when it comes to selling your product, everyone is a merchant, and how good the products are sold, is purely based on merchant’s marketing skill. A beautiful singer with superb voice but without a good manager is as good as a street performer. It’s the manager’s skill that make a singer become world wide artist.
Kalau udah menjalankan strategi pemasaran dan punya kover yg benar2 menarik, gw ga percaya 3000 copy aja ga sanggup kejual.
Soal reputasi, brand image penulis… Gw agak meragukan hal ini sih. I mean, seluas apa kita bisa ‘memberitakan’ reputasi kita? dan bagaimana? Dengan posting sembarang full story kita dimana2? Yang ada ketika kita akhirnya terkenal, tulisan itu sudah dicuri orang berduid dan diterbitkan tanpa sepengetahuan kita. Great reputation itu pedang bermata dua, bisa mengundang hal baik, tapi sekaligus mengundang org lain yg berniat jahat ke kita. jd kynya kita jg harus hati2 dgn reputasi kita, terutama Villam dan cc Dian yg menurut gw udah punya reputasi sangat baik hehe.
November 18th, 2008 at 8:02 am
@jeff aka serpentwitch,
memang sangat betul sih…
sebagus apapun bukunya, kalo tidak ditampilkan secara layak, ya seperti sebuah toko yang nyempil di sebuah jalan sepi. gak ada traffic, dan gak ada yang sadar kalo toko tersebut ada. you have the point here.
tapi, semua itu ujung-ujungnya lari ke biaya juga. seperti yang gue tulis di artikel gue yang lain di sini: http://www.rdvillam.com/2008/11/ada-duit-ada-hasil/. bahwa untuk promosi, distribusi, dan penampilan fisik, ya berarti harus ada biaya lebih yang harus kita keluarkan. problemnya adalah jika kita gak punya duit banyak untuk melakukan itu semua secara layak, nah lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, selain berupaya menjadi penulis yang lebih baik, dan membuat karya yang lebih baik juga?
kalo kita berjiwa entrepreneur, ya mungkin bisa dicoba sih, dengan meminjam modal, dengan keyakinan bahwa modal itu bakal balik nanti. terus terang dengan kondisi ekonomi sekarang dimana kucuran kredit seret, cara ini relatif lebih sulit sekarang.
nah akhirnya seperti yang gue bilang sebelumnya itu, sepertinya cara yang paling mungkin dilakukan adalah dengan membangun reputasi penulis. yang gue maksud membangun reputasi ini bukan berarti mengobral karya kita kemana-mana–tentu saja ini resikonya besar seperti yang elu bilang. tapi yang penting adalah bagaimana keberadaan kita bisa diketahui oleh orang-orang yang nantinya bakal menjadi pasar potensial kita. bagaimana kita bisa membangun jaringan dengan para calon pembeli.
bisa melalui penampilan contoh-contoh karya kita yang lain, atau melalui sumbangan expertise kita. dan yang paling powerful adalah membangun jaringan pertemanan. contoh sederhana adalah antara elu dan gue sekarang. jika misalnya elu nerbitin novel fantasi lu, gak peduli seperti apapun isinya, gue pasti akan beli. nah bayangkan jika hubungan semacam ini bisa terjalin dengan ratusan orang, betapa besar pasar potensial yang kita punya.
jadi maksud gue, di dalam memasarkan sebuah buku, sebenarnya ada dua hal yang sedang dipasarkan, yaitu buku itu sendiri (melalui kualitas, tema, dan penampilan fisiknya), dan satu lagi adalah citra sang penulis (melalui kualitas, popularitas, nama dan jaringan pertemanannya). banyak sekali orang yang tertarik membeli sebuah buku bukan karena bukunya, melainkan karena penulisnya. contoh paling nyata ya kayak contoh yang elu sebutkan, orang kita tertarik beli buku karena penulisnya orang barat atau bernama barat. hahahahh…
apa boleh buat, ternyata citra dan nama memang sangat penting kok. dan itu gak salah, melainkan memang salah satu faktor yang harus dieksploitasi juga di dalam pemasaran sebuah buku.
November 18th, 2008 at 12:16 pm
hmmm… you have a point there…
Nama besar emang berpengaruh. Kudu sering keliling2 memperbanyak teman. Kalau bisa sih minimal punya teman di bagian2 yg strategis. Basically istilahnya ‘koneksi’ yah? Selain punya koneksi teman sebagai pasar calon pembeli, kita juga perlu punya koneksi di bagian industri yg berkaitan dgn job kita.
Seandainya punya koneksi di bidang pemasaran, di toko buku, atau bahkan sapa tau bisa temenan ama bos Gramed/ TGA bisa mantep tuh (sapa tau harga raknya diturunin dan dikasi masang berbagai display khusus). Bos nya Alfa/Indomaret… (memperlancar pemasaran) bosnya Indonesia printing… (dapet diskon cetak hehe). Tapi gimana caranya bisa temenan ama bos2 yah wkwwk… kudu jadi bos juga dulu.
Sigh… ini bagian yg paling suram buat gw. Lantaran gw orang yang seneng kerja di balik layar, dan anti sosial. chatting/forum di internet sih ga masalah, tp kl ngomong verbal scr langsung biasanya gw mati kutu lantaran gw pendiam
Aih2… kynya gw lebih memilih jalur entrepreneur. (tapi sama aja sih, yg amanya self publish harus keliling2 sana sini bikin deal kontrak dll.
Btw kl mau self publish, kita perlu siapin kas bon segala gak yah? Dan berarti juga kudu perlu nama perusahaan (fiktif) dan sebagainya. hehe padahal perusahaannya aja ga berwujud, fiktif semua, bos sekaligus merangkap karyawan XD A one man corporation
November 18th, 2008 at 1:33 pm
gyahahahah… sebagian besar penulis adalah introvert, yang lebih pandai berkomunikasi lewat tulisan dibandingkan lewat mulut. fakta ini–walaupun belum pernah disurvei–tapi sudah sering terungkap lewat perbincangan2 pribadi gue dan beberapa teman. tapi ada juga sih yang berhasil masuk sini masuk sana, dan kenalan dengan banyak orang penting.
tapi gini aja deh. untuk melakukan apapun, jika memang kita berniat dan berusaha, pasti ada jalan. gak perlu terburu2 melakukan semuanya dengan cepat, tapi yang penting kita bisa bangun pelan-pelan dari sekarang: jaringan maupun reputasi kita, dan juga mengumpulkan berbagai informasi penting terkait dg rencana kita nanti (misal: self publishing). lakukan karena gembira, bukan karena terpaksa.
tapi buset, gue sama sekali belon kepikiran tuh bikin perusahaan segala. hahahah… gue pikir sih belon perlu. toh ngedaftar hak cipta juga bisa perorangan. hehehe… tapi mungkin keren juga yak jika nama penerbit yang tercantum di buku adalah nama perusahaan, betapapun fiktifnya itu. hahaha…
btw, kalo gak salah dulu lu udah pernah survei harga percetakan dan detil-detilnya? dan juga bagaimana jika dibandingkan dengan printing biasa? bagi-bagi dong infonya, buat benchmarking dengan toko-toko percetakan deket rumah gue. heheheheh…
soalnya di rumah udah ada TFH yang udah gue format ke A5, dan layoutnya juga udah gue atur, so far tebalnya 387 halaman. tinggal entar gue bikin ilustrasi peta dan beberapa gambar tokohnya mungkin. gue pengen tau biaya cetak (baru biaya cetak) kira2 gedenya seberapa. walau kalo dipikir-pikir, sebenernya gue mau coba bergeraknya taun depan aja sih, soalnya sekarang mau konsen nyelesaiin dua draft novel yang lain.
tapi obrolannya mending pindah aja kali yak, ke artikel yang lebih pas, misalnya di:
http://www.rdvillam.com/2008/10/magicians-guild-fantasi-karya-penulis-lokal/
atau di:
http://www.rdvillam.com/2008/11/hak-cipta-atas-karya-kita/
November 18th, 2008 at 4:45 pm
Heheheh XD
Ngilang yak? Masi ada kok. Cuma koneksi internetnya lgi bermasalah
Iyak diriku masih di GuangZhou ^^ heheh, sudah jadi mahasiswi nih…
Baek2 yak villam XD
Trus si serpen juga nih ^^ Lama ga ngobrol2 yak. pa kabar dirimuuu?
December 1st, 2008 at 10:48 am
hai lagi, cecil…
baguslah kalo dirimu masih betah di guangzhou.
jangan lupa pulang ke indonesia ya… hahahah…
December 1st, 2008 at 10:21 pm
situsnya akhir kembali… ga kepikiran buat ganti hosting villam? kaya gw, 000webhost, hosting gratisan, bandwidth 100 gb per bulan.
December 2nd, 2008 at 8:05 am
ah serius republikbabi.com ini pake hosting gratisan?
bisa bandwidth 100 gb per bulan jugak?!
hahahahah… oke coba aku cari deh 000webhost ini!
thank you, calvin.
eh tapi selama ini ada kendala2nya gak?
soalnya jaman sekarang, masak sih sesuatu yang bagus bisa bener2 didapat secara gratis?
December 2nd, 2008 at 5:07 pm
yah terkadang down, tapi jarang sekali. coba lihat blog gw yah, plus free web hosting ga cuma 000webhost kok. coba cek ini:
http://www.free-webhosts.com/
kalau mau aman, daftar aja ke webhost yang ratingnya tinggi. coba lihat postingan terbaru di republikbabi, ada panduan buat setting.
December 2nd, 2008 at 5:36 pm
iya calvin, gue dah liat blognya. dan tadi gue udah coba 000webhost, dan copy file ip_confirm buat dapetin kode aktivasinya itu, tapi ternyata gagal jalan di komputer gue, gak tau kenapa. hahah…
mungkin coba yang free-webhosts.
December 10th, 2008 at 2:21 pm
Salam kenaaal
December 10th, 2008 at 3:12 pm
salam kenal, memi.
selamat datang di rumahku.
silakan bongkar2 lemari esnya, ambil saja buah yang kamu suka.
heheheheh…
December 12th, 2008 at 11:47 am
side barnya berubah posisi ya, kurasa aku mulai nyaman disini. hehe.
sering seringlah posting hal-hal yang menarik, kutanggapi untuk didiskusikan panjang lebar hehee.
December 12th, 2008 at 1:48 pm
jujur, sebenernya sampe sekarang aku juga belum tau gimana tampilan website yang paling enak dilihat. dan akhirnya, ya sudahlah begini aja. heheh…
soal topik, hmm… ada usul topik apa yang menarik untuk diangkat?
December 13th, 2008 at 3:30 pm
tampilan sekarang lebih enak dilihat dari sebelumnya.
but still, masih terasa sesak.. sorry..
December 13th, 2008 at 10:14 pm
*lirik mocca_chi*
iya, villam.. tiap hari arik promosi webmu ini padaku..
nggak di dunia maya, nggak di kamar kosnya, nggak di sanur, nggak di toko buku, nggak di atas bom-bom car.. wkwkwkw!!
ingatlah selalu, bahwa webmu ini telah menghasilkan fansnya
tetap dirawat ya, Kak..
December 14th, 2008 at 11:55 am
dikorting aja menu2 yg ga perlu seperti Meta,, search, translate the website (di bagian kiri atas), trus community cloud di kanan atas. Mungkin bisa bikin jd lebih rapi dikit.
Atau mungkin pake sistem parent dan sub menu. Jd normalnya hanya ada parent menu macem writing tips, books review, trus kl di klik baru nongol sub menunya, menggeser menu berikutnya ke bawah secara lgsg tanpa harus reload page lagi.
December 14th, 2008 at 3:04 pm
iya dian, memang masih sesak.
tapi kadang yang sesak-sesak itu bisa enak juga sih… hahahahah…
michel, thanks buat semua yang udah mau promo. hihihi…
setuju jeff. ntar gue coba cari lain supaya tampilan menu-menunya bisa terasa lebih dinamis.
December 16th, 2008 at 4:06 pm
contohnya?
aq malah jadi kebayang kopaja di jam pergi ke kantor. atau deretan ikan asin yang dijemur di atas tampah. atau KRL yang isinya tumpah ruah sampai ke atap. atau–yang walaupun hembusan AC tersedia tapi tetap saja luar biasa rasanya–antrian di halte busway harmoni di siang bolong.
jadi, villam, berdesak-desakan seperti apakah yang terasa enak itu?
December 16th, 2008 at 4:26 pm
ah ada kok, dian…
cari tahu dong… masak mesti dikasih tahu semua? heheheh…
December 16th, 2008 at 4:39 pm
kazitau dunkss.. japri gapapa deh, hihihi
December 16th, 2008 at 4:49 pm
yeah… okay…
heheh…
December 16th, 2008 at 4:51 pm
mana?
December 16th, 2008 at 5:09 pm
gak ditanya ya gak dijawab…
December 16th, 2008 at 5:20 pm
jadi, villam, berdesak-desakan seperti apakah yang terasa enak itu?
nah tuh, kuulang lagi pertanyaanya. mana jawabannya?
December 16th, 2008 at 5:35 pm
kuulang lagi jawabannya: cari tahu sendiri.
December 18th, 2008 at 9:06 am
desak-desakan yang enak?
mmm…. itu tergantung siapa yang didesak, dan siapa yang mendesak….
Ok, hanya kata-kata nglantur. Ga usah diperhatikan ><’
December 18th, 2008 at 9:20 am
oke, pembahasan mengenai desak-mendesak yang itu kita selesaikan di sini. heheheh…
sekarang gue punya pertanyaan mendesak yang lain:
“Hayo udah pada sampe dimana draft novel fantasi Teman-teman?”
hahahahah…
December 18th, 2008 at 10:35 am
GYAAAKH! jangan tanya yang itu!!
gara2 kompie diformat, ilang dah buatanku T_T
masih ada sih, back up di flashdisk, tapi ga se-update yang di kompie.
mood bwat nglanjutin jadi ilang…… >3<
December 18th, 2008 at 10:48 am
wah… angin bete lu berhembus sampai kemari… hahahah…
yeah, memang mengesalkan kejadian seperti itu. makanya untuk menghindari kejadian semacam, selama ini gue selalu bikin backup di tiga tempat. tentu saja semua berpassword juga, supaya lebih aman.
tapi ya, seringkali memang kita terlambat. kalo udah ada kejadian, ya apa boleh buat. paling menenangkan diri dulu, tapi saran dari kakek sok bijak, jangan terlalu lama dinginnya. coba kuatkan lagi baca cerita lu dari awal, dan dapetin lagi moodnya. supaya kita gak ancur dua kali: satu saat kehilangan file, dua saat kita kehilangan semangat selamanya.
December 18th, 2008 at 11:35 am
MaxMax Says:
December 18th, 2008 at 9:06 am
desak-desakan yang enak?
mmm…. itu tergantung siapa yang didesak, dan siapa yang mendesak….
*nyengir*
berhubung udah di-cut villam kyknya supaya keselamatanku lebih terjamin mending nggak komen, deh, max (walopun sumpah, gatel pengen komen!)
draft novel ya?
finishing, villam. alhamdulillah.
December 18th, 2008 at 11:52 am
jadi target selesai akhir tahun ini bisa tercapai dong.
udah tinggal dua minggu lagi nih. ayo kebut! heheheheh…
mmm… kalo nanti aku juga udah kelar, trus yang lain juga udah pada kelar dalam waktu dekat, aku mungkin mau buka pendaftaran untuk … mmm … nanti aja deh diomonginnya. heheheh…
December 18th, 2008 at 3:05 pm
walah telat, desak desakannya uda slese aku baru datang. hehehe
hmm.. keknya tuan rumah kaga boleh ngomong setengah setengah deh,. apaan villam?
December 18th, 2008 at 3:25 pm
kayak kamu ndak tau aku aja, rik…
aku kan gemar ngomong setengah-setengah…
December 18th, 2008 at 3:41 pm
contoh orang ngomong setengah-setengah
kasus: ucapan selamat ketika ada teman yang ultah
Halo fren,
selamat ULANG…
dan semoga PANJANG….
>0<
December 18th, 2008 at 4:02 pm
hahahah…
something like that!
pokoknya ntar gue bilang deh rencana gue. di awal tahun. anggap ajah itu nanti sebagai salah satu resolusi.
btw, udah pada mikirin resolusi/target menulis untuk tahun depan belon?
ah, gue bikin topik tersendiri aja ya…